Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Elvano Anandika Saputra



Siang harinya, Agnes mengeliat pelan. Dia terbangun dan meregangkan otot-ototnya tanpa sadar jika dirinya saat ini tengah telan*ang.


" Awh..Badanku pegal semua, " Gumamnya tanpa membuka mata.


" Mau menggodaku? "


" Eh, "


Sontak Agnes melirik pada sumber suara dan terlihatlah Afgan yang sedang berbaring di sampingnya dan menatapnya seperti hewan kelaparan.


Agnes sedikit menunduk dan menyadari jika tubuh bagian atasnya polos terbuka dengan selimut yang hanya melilit di pinggangnya.


" Oh my god! " Pekik Agnes yang langsung menggulung selimut hingga ke leher.


Afgan tersenyum geli dan menggeser tubuhnya mendekat kepada Agnes. Dia bersandar di kepala ranjang dan menuntun tubuh Agnes supaya berbaring di dadanya.


Agnes hanya diam dan menurut, dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Afgan dengan satu selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.


" Jangan malu, aku sudah melihat dan merasakan semuanya kok. " Goda Afgan sambil terkekeh pelan yang mana dihadiahi cubitan oleh Agnes.


" Nakal, dasar mesum! " Ucap Agnes kesal.


" Loh, siapa yang mesum coba? Bukannya kemarin malam kamu yang lebih mesum dan lebih agresif dari aku? Bahkan tadi malam kamu yang mengambil alih permainannya, " Balas Afgan yang membuat kedua pipi Agnes merah seketika.


" Tau ah, " Ucap Agnes sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Afgan.


Afgan terkekeh pelan dan beberapa kali mencium pucuk kepala Agnes. Mereka sama-sama terdiam menikmati waktu bersama.


Karena hari masih sangat pagi, membuat keduanya memiliki banyak waktu untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur.


Tiba-tiba Agnes mengangkat kepalanya melihat Afgan dan berkata:


" Kak, aku ingin meminta izin untuk menemui- "


" Regata, " Potong Afgan tanpa membuka matanya.


Agnes mendengus malas. Belum juga berbicara, sudah Afgan potong dengan tebakannya yang salah itu.


" Bukan ih, makannya dengerin dulu kalo orang bicara! " Ucap Agnes kesal.


Afgan membuka matanya dan menatap Agnes lembut, " Ya sudah, kamu mau menemui siapa. Eum? " Tanya Afgan lembut.


" Aku ingin ke panti asuhan menemui El, boleh yah? " Tanya Agnes penuh harap.


" Enggak, " Tolak Afgan secepat kilat.


" Loh, kan- "


" Enggak kalo perginya tanpa aku, " Potong Afgan yang membuat Agnes mendelik malas kearahnya.


" Cih, dasar. Tadinya kan emang mau sama kamu, tapi kamunya sibuk terus. Ya sudah, aku pikir lebih baik aku saja yang pergi sendiri! Lah, sekarang kok kamu jadi mau ikut? Kamu kan sibuk kak, " Ucap Agnes tidak habis pikir.


Afgan kembali memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya membuat tubuh Agnes menempel erat padanya.


" Pekerjaan tidak ada apanya dibandingkan dengan keinginanmu, " Ucap Afgan yang membuat Agnes tersenyum malu.


Agnes yang sudah bersemu merah itu langsung saja kembali membenamkan wajahnya pada dada bidang Afgan dengan menggigit satu jarinya.


" Huh, nge-fly aku bang. Gila, kak Afgan sweet banget akhir-akhir ini. Ha... Jadi pengen mutilasi kan aku, " Batin Agnes sambil senyum-senyum sendiri.


" Yank! " Panggil Afgan.


" Apa? " Jawab Agnes sambil mendongak menatap Afgan.


" Mau lagi, " Ucap Afgan sambil memainkan lidahnya mesum.


" Tidak!! "


**


Siang harinya, Agnes dan Afgan berangkat menuju panti asuhan dimana El berada. Agnes begitu antusias dan merasa tidak sabar untuk bertemu dengan anak kecil yang tidak ada hubungan darah dengannya itu.


Meskipun El dan Agnes beda ayah dan beda ibu, tapi Agnes sangat sayang pada anak kecil itu. Apalagi jika mengingat El yang selalu menurut padanya, bahkan sejak bayi.


" Ya ampun, kak cepetan kek nyetirnya. Lambat amat kaya siput, " Protes Agnes saat masih berada di dalam mobil.


" Ini juga cepet, kamunya aja yang gak sabaran. " Ucap Afgan tanpa melihat Agnes.


Agnes melirik sinis ke arah Afgan, " Huh, dasar. Minggir ah! Biar aku yang nyetir. " Titah Agnes namun tidak di kubis oleh Afgan.


" Kak minggir!! " Teriak Agnes kesal. " Mending aku yang nyetir apa kamu yang cepetan nyetirnya? " Tawar Agnes.


" Yey!! " Teriak Agnes girang.


Afgan melirik ke arah Agnes sekilas, kemudian dia kembali fokus pada jalanan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keantusiasan istrinya.


**


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun tiba di salah satu panti asuhan yang bisa tergolong elite.


Panti itu terlihat besar dengan pasilitas yang memadai. Mungkin karena tempatnya yang berada di pelosokan dan terdapat beberapa tempat wisata di sana, membuat panti itu tidak susah mendapatkan donatur sehingga mereka bisa memberikan pasilitas-pasilitas yang baik untuk para anak yang tinggal di sana.


Agnes turun dari dalam mobil dengan Afgan yang sibuk membawakan beberapa keresek besar berisi mainan yang akan mereka berikan pada anak-anak panti.


Sedangkan hadiah untuk El, spesial Agnes yang membawakannya sendiri.


" Ayo masuk, " Ajak Afgan yang sudah selesai membawa semua hadiahnya.


Agnes mengangguk dan ikut melangkah masuk ke dalam panti bersama Afgan yang berjalan beriringan dengannya.


Setelah sampai di dalam, Agnes hanya terduduk dan diam sambil mengedarkan pandangannya melihat-lihat suasana panti sedangkan Afgan sibuk berbicara dengan pengurus panti yang berada di depan mereka.


Agnes tersenyum bahagia melihat anak-anak kecil bermain bahagia bersama yang lainnya di taman bermain.


Dia menurununkan pandangannya dan menatap perut datarnya yang sedang dielusnya.


" Baby, lihat! Bunda berkunjung di tempat kakakmu di besarkan. Tapi kau tenang saja, kak El nanti akan tumbuh besar bersamamu saat semuanya selesai. " Batin Agnes sambil tersenyum.


" Agnes, siapa nama asli El? " Tanya Afgan tiba-tiba.


Agnes langsung mendongak dan menatap Afgan, " Eh. Itu, dia- "


" Elvano Anandika Saputra, " Potong Kevin yang ternaya ikut datang kesana.


" Bang, " Gumam Agnes.


" Baik, sebentar saya panggilkan dulu ya. " Ucap seorang biarawati sopan dan berlalu meninggalkan mereka.


Agnes yang tadinya sedang terduduk langsung terbangun dan memeluk Kevin.


" Bang, kenapa kau kemari? " Tanya Agnes sambil melepaskan pelukannya.


" Tidak kenapa-napa. Aku hanya takut kau dilukai oleh anak sialan itu, " Celetuk Kevin yang langsung membuat kedua bola mata Agnes membulat.


" Hey sadarlah! Dia tidak bersalah, dia itu adik tirimu bang. " Ucap Agnes geram sambil mendorong pelan dada Kevin.


" Adikku hanya kamu, " Jawab Kevin santai.


Agnes menatap Kevin dengan geram. Baru saja dia hendak protes kembali, tiba-tiba terdengar suara pelan dari El.


" Bunda, El tidak mau menemui kakak itu. Kak Kevin jahat, hiks..El takut bunda, El takut! " Rengek bocah kecil itu sambil bersembunyi di kaki biarawati yang mengajaknya tadi.


Agnes yang tadinya berdiri membelakangi El langsung membalik badannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca melihat anak kecil yang berdiri ketakutan karena melihat wajah Kevin yang sedang menatap tajam ke arahnya.


" El! " Panggil Agnes pelan.


Bocah kecil itu sedikit mengintip dari balik kaki biarawati. Seketika senyuman kebahagiaan terpancar di wajahnya tak kala melihat wajah cantik kakak perempuan yang selama ini dia rindukan.


" Kak Nes, " Gumamnya sambil tersenyum.


Agnes berlutut dan merentangkan kedua tangannya sambil mengangguk pelan pada El.


" Kak Nes. Hua!! " Teriak El sambil menangis dan berlari ke dalam pelukan Agnes.


" Iya, ini kakak sayang. " Ucap Agnes sambil memeluk El erat.


" Hiks.. Jangan tinggalkan El lagi kak, hiks.. Kak Kevin sudah berubah menjadi monster setelah kakak pergi, " Adu El tanpa mau melepaskan pelukannya apalagi melihat wajah Kevin yang menurutnya menyeramkan.


" Apa? " Ucap Agnes terkejut dengan pengakuan El.


" Bang, " Ucap Agnes geram sambil menengok ke arah Kevin.


Kevin hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli dan pergi begitu saja dari sana.


" Biar aku susul! " Ucap Afgan yang langsung berlari menyusul Kevin dan memberikan waktu untuk Agnes dan El berduaan.


_-_


Tbc!