
Setelah kepergian Kevin dan Afgan, Agnes memutuskan untuk berbicara empat mata dengan El. Dia menuntun El berjalan menuju taman dan terduduk di salah satu kursi panjang yang terbuat dari kayu.
Agnes menatap El lekat, wajah anak itu sangatlah menggemaskan dan yang pasti sangat tampan.
Meskipun benci, tapi Agnes akui juga jika Dika memang tampan. Dan El mewarisi ketampanan Ayahnya itu.
Wajah El dominan sangat mirip Dika dibandingkan Feby, El hanya mewarisi alis agak tebal dan bibir kecil saja dari Feby.
Meskipun El merupakan anak dari orang yang begitu Agnes benci bahkan sampai sekarang, tapi entah kenapa dia begitu menyayangi adik tiri Kevin ini.
Dan. Agnes harap El hanya mewarisi gen mereka saja, tidak dengan sikapnya.
" Kak Nes, kak Nes kemana aja selama ini? Kok tinggalin El sendiri, " Ucap El sambil menatap Agnes lekat.
Agnes tersenyum kecil, " Maaf sayang, waktu itu memang kakak harus pergi meninggalkanmu. " Ucap Agnes lembut sambil mengusap kepala El.
" Kakak kira kamu gak akan kesepian tanpa kakak. Kan ada Sarah dan bang Kevin yang waktu itu bersamamu, " Lanjutnya berusaha memancing El untuk menceritakan semua yang terjadi ketika dia meninggalkan rumah waktu itu.
El menunduk mendengar ucapan Agnes.
" Kak Sarah pergi tanpa mengajak El. El sudah mohon-mohon supaya ikut tapi kak Sarah malah bilang gak sudi ngajak anak kaya El. Hiks..Padahal El anak baik kan kak? El baik kan? " Ucap El sambil menangis sesegukan.
Agnes tidak tega melihatnya. Dia langsung menarik tubuh mungil El ke dalam pelukannya dan mengusap-usap rambutnya dengan lembut.
" Iya, El anak yang baik kok. El jangan sedih, walaupun kak Sarah gak ajak El, kan masih ada kak Agnes yang akan selalu bersama El. " Ucap Agnes yang membuat anak itu berhenti menangis dan mendongak menatapnya.
" Benarkah? Jadi El akan tinggal bersama kak Nes dan tidak akan tinggal di tempat ini lagi? " Tanya El dengan antusias.
Agnes tersenyum dan kembali mengelus kepala El penuh sayang.
" Iya sayang, El akan tinggal bersama kak Agnes kok. Tapi tidak sekarang ya sayang, kak Agnes harus mengurus beberapa hal dulu supaya El nyaman tinggal bersama kakak nantinya, " Jawab Agnes yang di angguki semangat oleh El.
" Iya kak gak papa. Yang penting nanti El tinggal bersama kakak, " Ucap El yang kembali memeluk Agnes dengan perasaan bahagia.
Agnes ikut tersenyum senang dan balik memeluk El erat.
" Oh iya sayang, saat kak Sarah pergi El masih tinggal di rumah kan? " Tanya Agnes yang masih penasaran.
El melepaskan pelukannya dan menatap Agnes dengan wajah cemberutnya.
" El masih tinggal disana bersama kak Kevin. Tapi makin hari kak Kevin terlihat semakin membenci El, kak Kevin bilang El anak yang tidak seharusnya lahir di dunia ini dan El mengingatkan kak. Kevin pada seseorang yang begitu kak Kevin benci. Waktu itu El hanya bisa menangis tidak bisa melawan karena El tidak tahu apa salah El sehingga kak Kevin begitu membenci El, sejak saat itu juga dia berubah menjadi monster dan sering jahatin El. Hiks.. " Ucap El yang kembali menangis ketika mengingat perbuatan Kevin padanya dulu.
" Hingga suatu hari kak Kevin mengantarkan El kesini dan katanya ini hanya untuk sementara, tapi El gak pernah di jemput kembali oleh kak Kevin. Hiks..Teman El bilang katanya secara tidak langsung El di buang oleh kakak El sendiri, hua..." Lanjutnya yang langsung menangis lebih kencang.
Agnes kembali menarik tubuh mungil El ke dalam pelukannya. Dia tidak menyangka hal semenyedihkan itu akan terjadi pada El, dia kira dengan kepergiananya El akan tetap di urus dengan baik oleh Kevin. Tapi ini?
" Bang Kevin keterlaluan, tidak seharusnya dia menyiksa anak kecil seperti El hanya karena dalam darahnya mengalir darah jal*ang itu. " Batin Agnes.
Agnes melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu El.
" El tenang saja ya, kak Agnes pasti akan membalas perbuatan buruk bang Kevin padamu. Sekarang, ayo kita bermain! Kak Agnes bawa mainan banyak loh buat kamu dan teman-teman panti, " Ajak Agnes sambil menghapus sisa-sisa airmata yang berada di pipi tembem El.
Agnes tersenyum senang melihat dunia El yang tadinya mati perlahan hidup kembali, hal itu terlihat jelas dari pancaran sinar bahagia kedua mata El.
Dia melipat kedua tangannya di dada dan melihat El yang sedang mengantri mendapatkan hadiah yang sedang Afgan bagikan.
Seketika kedua mata Agnes membulat saat melihat Kevin yang menyodorkan satu keresek besar yang berisi mainan khusus untuk El.
Dan El sama sekali tidak menerimanya, dia malah berlari dan berlindung di balik kaki biarawati yang ada di sana.
Hingga Kevin berlutut di hadapan El dan kembali menyodorkan satu kerek itu sambil berbicara serius, barulah setelah itu El menerimanya dan langsung berhambur ke dalam pelukan Kevin.
Agnes tersenyum haru. Meskipun dia tidak bisa mendengar apa yang Kevin ucapkan pada El, tapi dia bisa menebak jika kakak tirinya itu meminta maaf dan El langsung memeluknya tanda memaafkan.
" Entah apa yang kak Afgan bilang padamu sehingga kau dapat berubah bang, tapi yang pasti aku bahagia melihat kau bisa menerimanya tanpa merasa dendam dan benci karena dia anak dari wanita itu. " Gumam Agnes.
Saat sedang melamun menatap Kevin dan El yang sedang bermain bersama, Agnes di kagetkan dengan adanya dua tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
" Eh, " Ucap Agnes kaget yang langsung melihat ke belakang.
" Kak, kau mengagetkanku saja. " Ucap Agnes kesal pada Afgan yang tiba-tiba datang dan memeluknya dari bekakang.
Afgan malah tersenyum tanpa dosa dan menyandarkan dagunya di leher Agnes.
" Aku tahu kau terharu melihat pemandangan itu. Bagaimana? Suamimu ini sangat berjasa kan, karena menyatukan dua saudara yang beda ibu itu? " Tanya Afgan membanggakan diri.
Agnes terkekeh pelan, dia menyentuh tangan Afgan yang masih melingkar di pinggangnya.
" Heum, oke oke. Aku akui tindakanmu itu sungguh terpuji, " Aku Agnes.
Agnes menengok ke arah Afgan dan tersenyum manis.
" Terima kasih, berkatmu aku bisa melihat cahaya kehidupan yang pernah redup dalam diri El. Jika saja hal ini terlabat terjadi, mungkin seumur hidup hanya akan ada rasa benci dan dendam saja dalam diri El. " Ucap Agnes tulus sambil mengelus rahang Afgan dengan sebelah tangannya.
Afgan tersenyum dan mengambil kesempatan dengan mengecup bibir Agnes sekilas.
" Sama-sama sayang, apapun akan ku lakukan untuk membuatmu bahagia. " Ucap Afgan yang membuat Agnes tersenyum senang sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Sejenak Afgan terpesona melihat senyuman manis Agnes. Bila ini bukan di tempat umum, sudah langsung dia sosor itu bibir menggoda istrinya.
Tapi sabar, malam akan segera tiba.
Afgan membalik tubuh Agnes yang masih membelakanginya, dia langsung memeluk Agnes dari depan dengan erat.
" I do it cause I Love You! " Bisik Afgan mesra.
" I Know, " Balas Agnes sambil mengeratkan pelukannya.
_-_
Tbc!