
Satu setengah jam kemudian, terdengar suara tembakan dari luar yang membuat beberapa tamu yang masih berada di sana berhamburan keluar dari hotel lantai atas dimana keluarga Afriansyah mengadakan resepsinya.
Untung saja di sana hanya ada keluarga inti Afgan saja, karena keluarga Agnes yang datang dari Amerika sudah pindah ke hotel lain untuk beristirahat sebelum mereka kembali ke negaranya.
Agnes yang saat itu baru saja berganti pakaian dengan mengenakan gaun malam berwarna biru gelap langsung keluar dari ruang ganti dan berjalan cepat menuju aula.
Di sana terlihat Marcus dan beberapa anak buahnya yang sedang mengepung keluarga Afgan dengan pria itu yang menyodorkan pistolnya ke arah Ryan.
Jennie terlihat bergemetar ketakutan, karena memang ibu mertuanya itu tidak di beri tahu tentang rencana yang mereka buat.
Alfan menyembunyikan tangannya di belakang dan menunjukkan angka empat pada Agnes yang bersembunyi di balik tembok besar.
Agnes mengangguk mengerti, dia memasang earphone bluetooth kecil di telinganya yang menyambung langsung dengan Regata.
" Dimana kau? " Tanya Agnes saat earphone itu sudah tersambung.
" Agnes, aku-Aghkkk!! " Terdengar suara ringisan kesakitan dari mulut Regata.
" Halo, hallo Gata? "
Tidak ada jawaban dari Regata, Agnes yakin pria itu sudah tertangkap oleh anak buah Marcus.
Karena selicik apapun Regata, akan lebih licik Marcus yang memang lebih berpengalaman.
Agnes mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, rupanya saat ini Regata sama dalam bahayanya seperti keluarga Afgan.
" Shit! I hate this situation, "
Agnes melihat ponselnya yang berdering, dia melihat nama Leon yang tertera sebagai pemanggil.
Tut.
" Diaman kau? " Tanya Agnes langsung.
" Queen, King dalam bahaya. Dia-dia ketahuan hendak membantu keluarga Afriansyah dan mengkhianati Marcus, dia di sekap di markas pria tua itu Queen. "
" Sialan, lalu apa kerja kalian? Hah?! " Ucap Agnes marah.
" Maaf Queen, kami benar-benar kewalahan. Rupanya bukan hanya mafia kita yang di mintai bantuan oleh Marcus, tapi banyak mafia yang menjadi musuh kita selama ini yang juga turut campur membantu Marcus, apalagi mereka memiliki dendam pada kita, " Jelas Leon.
Agnes terdiam memikirkan langkahnya selanjutnya.
" Dimana Deon? " Tanya Agnes setelah lama hening.
" Aku di sini! " Terdengar suara Deon yang sepertinya tidak jauh dari Leon.
" Kalian tidak usah datang ke sini, selamatkanlah Regata terlebih dahulu! Pastikan dia selamat jika tidak maka bersialah untuk mati bersamaku! " Titah Agnes penuh penekanan.
" What?! Tapi Queen jangan, kau jangan bodoh! Jika King gugur dan kau malah bunuh diri, akan sia-sia pengorbanannya demi kamu Queen! " Geram Leon.
" I don't care! Maka dari itu, selamatkan dia! Dia dan aku, adalah satu. Satu hidup, maka satu lagi harus hidup. Jika satu mati, maka satunya lagi akan ikut mati. "
Tut..
Agnes langsung mematikan teleponnya serelah berkata demikian pada Leon.
Dia sungguh mengkhawatirkan keadaan Regata, tapi dia juga mengingat pesan Filex yang menyuruhnya untuk mempercayakan semuanya pada Regata.
Tapi jika dia tidak turut serta dalam perang ini, bisa-bisa mereka kalah dan mati semua. Maka dari itu, satu-satunya jalan adalah dengan dia turut serta di dalamnya.
Agnes mengikat rambutnya yang terurai kemudian dia menunduk mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
" Kau percaya pada Bunda baby, hem? Maka kau harus kuat! Ikuti setiap permainan Bunda! Karena Bunda yakin kau pun akan menyukainya, " Ucap Agnes sambil tersenyum manis.
Dor.
Agnes berbalik saat mendengar suara tembakan api, matanya melotot saat melihat Ryan yang sudah tumbang dengan bahu kirinya yang berdarah karena tembakan.
" Sialan, aku tidak bisa terus bersembunyi! " Gumam Agnes.
" Ha ha ha... You lose brother! " Ucap Marcus tertawa senang melihat adiknya yang tidak berdaya.
" Hey siapa kau hah!! Akan aku laporkan kau ke pihak berwajib! " Teriak Afgan marah.
Marcus berhenti tertawa, dia menatap Afgan remeh.
" Benarkah? Panggil saja! Bahkan polisi pun tidak akan bisa masuk ke sini dengan banyaknya anak buahku yang sedang mengelilingi hotel ini, " Ucap Marcus sambil menyeringai puas.
" Sialan kau- "
" Ada apa ini? "
Agnes muncul dengan wajah polosnya, dia berjalan dengan santai seakan tidak ada bahaya yang mengincarnya saat ini.
Mata Afgan langsung melotot melihat istrinya yang malah keluar, dia tahu Agnes bersembunyi tadi dan dia sangat senang jika istrinya bisa melarikan diri.
Tapi sekarang? Untuk apa dia keluar? Agnes bodoh atau apa?
" Oho.. Bidadari dari mana ini? " Tanya Marcus sambil menatap nakal Agnes dari atas hingga bawah.
" Agnes, pergi! " Teriak Afgan panik.
Agnes menatap Afgan, kemudian dia tersenyum kecil melihat kekhawatiran yang jelas terlihat dari kedua mata suaminya.
Kemudian Agnes beralih menatap Marcus, dia menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan.
" Aku akan mengulur waktu di sini Gata, ku harap kau segera datang. Bermain solo tidaklah menyenangkan! " Batin Agnes sambil menyeringai ke arah Marcus.
" Oho.. Jadi kau istri dari Afgan keponakanku ya? Cantik, boleh lah kau menjadi penghangat ranjangku sebelum aku lempar kau ke neraka bersama mereka! " Ucap Marcus dengan santainya.
" Hei!! " Teriak Afgan dan Alfan bersamaan.
" Wow, jangan bilang kakak adik ini mencintai perempuan yang sama? Jika ia, maka akan sangat menyenangkan jika aku menjadi penengah. Ha ha ha...! " Ucap Marcus sambil tertawa jahat.
Afgan menatap Marcus penuh emosi, jika saja kedua tangannya tidak sedang di pegang oleh anak buah Marcus, sudah dia pukul pria tua itu sedari tadi.
" Hiks.. Marcus, apa yang kau inginkan? " Tanya Jennie sambil menangis dengan badan yang bergemetar hebat.
" Yang aku inginkan? Membunuh suamimu dan membawamu bersamaku sebagai budak s*x ku, ha ha ha.. "
Afgan mengepalkan tangannya kuat-kuat, " Beraninya kau mengatakan hal yang menjijikan pada ibuku! " Teriak Afgan marah.
" Hei kau gold prince, apa ingatan mu itu belum kembali juga? Kau sangat bodoh tanpa kemampuanmu yang aku ajarkan dulu, " Ucap Marcus pada Afgan.
" Apa maksudmu? " Tanya Afgan tidak mengerti.
" Kau adalah mafia sepertiku, kau brengsek sepertiku, dan kau bisa di katakan adalah anj*ng peliharaanku. Ha ha ha...! " Marcus kembali tertawa jahat yang mana membuat Agnes sungguh ingin membunuhnya saat ini juga.
" Kau sungguh menjijikan, kau bagaikan pecundang yang tidak bisa melawan tanpa adanya kawan. " Ejek Agnes sambil tersenyum smirk.
" Hey apa maksudmu hah?! " Teriak Marcus marah.
Agnes hanya bersikap santai dengan memainkan jari-jari kukunya.
" Ya, kau hanya seorang sampah yang tidak bisa bermain fair dalam war. " Ucap Agnes sambil menatap jijik Marcus.
" Aku bukan sampah, heh kau tangkap di-
" Kan, aku bilang apa. Kau hanyalah pecundang yang tidak bisa apa-apa tanpa adanya orang-orang mu, benar bukan? Cuih! Banc* kau! " Potong Agnes mengejek.
Marcus mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, rupanya perempuan di depannya itu sedang menenantangnya.
" Apa mau mu? Kau mau mati di tanganku? Baiklah, ayo kita memulai permainan satu lawan satu, " Ucap Marcus sambil melipat-lipatkan tangannya.
" Baik, siapa takut. And, don't forget. Ladies first! "
Bughk..
Bughk..
Bughk..
Tanpa aba-aba Agnes berlari dan menendang Marcus berkali-kali sampai pria paruh baya itu tersungsur di atas lantai.
" Sialan, beraninya kau. "
Bughk.
Marcus terus menyerang Agnes namun dengan mudah Agnes menghindarinya dan membalas setiap pukulan dari Marcus tanpa meleset.
Dor.
" Arghkk!! "
" Agnes!! " Teriak Afgan, Jennie, Alfan, dan Ryan bersamaan saat melihat Agnes yang terduduk di lantai karena tembakan di kakinya.
" Seorang Queen selemah ini? Cih! Kenapa dari dulu tidak aku habisi saja kau sekalian dari pada menjebakmu, " Ucap seseorang yang tidak lain adalah Sarah.
Perempuan itu terlihat membolak-balikkan senjatanya dan menatap Agnes penuh kebencian.
Ya, dia bertemu beberapa bulan yang lalu dengan Marcus saat Sarah berusaha melarikan diri dari orang-orang suruhan istri sah suaminya yang bertujuan untuk membunuhnya.
Hingga akhirnya dia bersedia menjadi wanita malam bagi Marcus dan membantu Marcus membantai keluarga Afriansyah yang kebetukan terdapat Agnes di dalamnya.
Jika kata orang, sekali tangkap dapat dua.
Hanya dengan bergabung demi bertahan hidup dengan Marcus, Sarah juga dapat sekalian membalaskan dendam Feby sang ibu pada Agnes.
Dia ingin Agnes mati! Mati di tangannya.
Agnes mendongak menatap Sarah, kemudian dia meludah tepat di hadapan Sarah.
" Sunggih bit*h yang hebat, jerat itu jerat ini sangatlah muda bagi seorang jal*ng profesional sepertimu. "
" Apa kau bisa kemari karena kau tahu rencana Marcus yang saat ini merupakan pria yang membiayai hidupmu yang murah itu? " Lanjut Agnes sambil tertawa mengejek.
Sarah maju dan menjambak rambut Agnes saking emosinya, Agnes mendongak dan memegang rambutnya karena sakit.
" Meskipun seorang jal*ng, tapi aku tidak akan mati sia-sia seperti yang akan kau alami! " Teriak Sarah sambil menghempas rambut Agnes kasar.
" Siapa yang akan mati sia-sia? "
Agnes yang tadinya memejamkan mata karena sakit di kepalanya seketika membuka matanya dan bergumam:
" Regata, "
_-_
Tbc!
________________
Jangan lupa, pada mampir juga ke * Terjebak Di Antara Dua Saudara *