
Setelah berbicara panjang lebar dengan Ryan dan Alfan di ruangan bawah tanah, akhirnya Agnes pun kembali naik ke atas dan menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Agnes membuka pelan pintu kamarnya, disana tampak gelap dan dapat dia simpulkan jika Afgan sudah tidur. Karena memang kebiasaan suaminya itu selalu mematikan lampu sebelum tidur.
Agnes masuk dan langsung menutup pintunya rapat-rapat. Dia berbalik dan berjalan mengendap-endap menuju ranjang.
Ceklek.
" Darimana kau! "
Deg.
Agnes memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.
Lampu yang seketika menyala dan suara bariton yang terdengar mengalun dingin tentu saja menandakan jika dia ketahuan dan sedang dalam masalah saat ini.
Agnes membuka matanya dan menarik nafas dalam. Dia mengeluarkan nafasnya secara perlahan dan berbalik menatap Afgan yang sedang terduduk dengan kaki menyilang di sofa menghadapnya.
" Hehe,,itu. Aku-aku habis dari kamar Bunda. Yah, dari kamar Bunda. " Alibi Agnes sambil mengengesan.
Afgan mengangkat sebelah alisnya, " Kau berbohong padaku? " Tanya nya sambil menatap Agnes penuh sekidik.
" Ti-tidak. Aku tidak membohongimu kok, hehe..Tidak, mana berani aku. " Jawab Agnes gelapan yang di akhiri dengan menggigit bibir bawahnya.
" Jelas kau berbohong. Sebelumnya aku ke kamar Bunda saja kau sudah tidak ada di sana, lalu kemana kau selama itu. Hem? " Tanya Afgan yang membuat kedua mata Agnes membulat.
" Mati aku! " Batin Agnes.
" Eum, itu- tadi aku, aku- aku tadi- tadi aku pergi ke dapur! " Jawab Agnes sambil memainkan jari-jarinya.
" Pergi ke dapur saja kau harus bicara bertele-tele, sudahlah kau tidak pandai berbohong sayang! " Ucap Afgan yang langsung berdiri dari duduknya.
" Siapa bilang? Aku pandai kok berbo- Akhhh! " Pekik Agnes yang sudah di angkat oleh Afgan.
Agnes dengan segera mengalungkan kedua tangannya di leher Afgan dan menatap garang pada suaminya itu.
" Kak, apa-apaan sih. Kamu- "
" Sudah cukup kamu berbohong untuk hari ini, sekarang waktunya kamu mendapat hukuman dariku. " Potong Afgan yang langsung berjalan dan membaringkan pelan tubuh Agnes di atas kasur.
Dengan segera Afgan menindih Agnes dan menjadikan kedua lengannya sebagai tumpuan.
" Mau kamu yang buka, atau-" Ucap Afgan menggantung sambil menatap nakal dada Agnes yang berada di bawahnya.
Agnes langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, dia menatap Afgan yang sedang menyeringai mesum itu dengan tajam.
" Dasar mesum! Ingat, aku itu sedang hamil loh. Jadi jangan sering- "
" Iya, ayah bakalan sering-sering tengokin baby kok. Ya kan baby, " Potong Afgan dengan tangan yang sudah mengelus pelan perut datar Agnes.
Agnes melotot dan dengan segera menepuk kasar tangan Afgan.
" Sering apaan. Udah, sebulan sekali aja. " Protes Agnes yang malah membuat Afgan tersenyum senang.
" Oke, sekarang waktunya Ayah tengok Baby! " Girang Afgan yang membuat Agnes menatapnya heran.
" Kemarin kan bulan Agustus, nah sekarang sudah masuk bulan September. Jadi ayo! Ayah gak sabar pengen nengok baby, " Potong Afgan sambil tersenyum penuh kemenang.
" Lah, bukan gitu maksudnya. Itu- hmpp....! "
Belum sempat Agnes protes, suaminya itu sudah terlebih dahulu membungkam bibirnya dengan kasar.
Jika sudah begini, ya Agnes pasrah saja. Toh, dia juga memang menyukai setiap sentuhan dan permainan jari Afgan.
Eh, apa katanya tadi?
Maklum lah! Hormon kehamilan membuatnya lebih mudah terbawa nafsu dan eum... sedikit agresif.
Agnes mengalungkan kedua tangannya di leher Afgan, dia mulai membalas setiap permainan lidah yang Afgan mainkan.
Beberapa menit kemudian, Afgan melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Agnes sambil tersenyum.
" Ini hukumannya? " Tanya Agnes dengan tangan yang terus mengelus leher Afgan sensual.
Afgan memejamkan matanya tak kala jari-jemari lentik Agnes mulai turun dan bermain di dadanya.
" Ini baru awal baby, kita nantikan hukumanmu yang selanjutnya. " Ucap Afgan menyeringai mesum.
Bukannya takut, Agnes justru tertawa terbahak-bahak yang membuat Afgan menatapnya bingung.
" Jadi setiap aku bersalah, seperti ini hukuman yang ku dapat? " Celetuk Agnes sambil cekikikan.
" Apa maksudmu? " Tanya Afgan bingung.
" Ya seperti ini, " Ucap Agnes sambil membelai dada Afgan dari dalam.
Agnes mengangkat wajahnya berbisik di telinga Afgan, " Hukuman enak. " Bisiknya sensual yang di akhiri dengan tiupan lembut yang membuat seluruh tubuh Afgan merinding.
" Kau, dasar nakal! " Ucap Afgan sambil menggigit hidung Agnes gemas.
" Ah, lagi. " Ucap Agnes tanpa malu.
" Mulai mesum ya kau sekarang, " Ucap Afgan sambil melotot menatap Agnes.
" Tapi mesum mesum gini kau juga suka kan? " Tanya Agnes sambil menggigit bibir bawahnya dan mengedipkan sebelah matanya genit pada Afgan.
" Oh astaga, kau. Rasakan yah! " Ucap Afgan yang langsung menyerang Agnes dengan ciuman kasarnya.
Agnes terkekeh di balik pangutan bibir mereka. Benar kata orang, jika kita menggoda laki-laki yang menyukai kita barang sedikit saja, mereka akan langsung menyerang kita tanpa ampun.
Buktinya? Ya Afgan buktinya!
Agnes goda sedikit saja sudah langsung gercep tanpa jeda. Bagaimana jadinya jika Agnes menggodanya dengan cara-cara para wanita ma*am menggoda mangsanya ya?
Tidak bisa jalan mungkin dia.
_-_
Tbc!