Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Tidak Pandai Merayu



Agnes menghembuskan nafasnya pelan, dia sedikit agak ragu untuk menjebak Afgan dengan rayuan mautnya supaya membuat suami tampannya itu mengakui segalanya.


Yah, memang saat ini dia sudah berada di kantor Afgan. Dia terduduk di kursi yang sama dengan Afgan yang sedang menatapnya lekat.


" Apa, kau ingin apa? Ayo katakan! " Titah Afgan yang menyadari gelagatan aneh Agnes.


Agnes menggaruk tekuknya sambil cengengesan. Tadinya memang dia hendak merayu, tapi hal itu dia urungkan karena tidak pandai merayu.


Maklumlah! Agnes tidak pernah melakukannya sama sekali.


" Agnes, " Panggil Afgan lagi lembut saat tidak mendapat jawaban.


" E-eh, anu. Aku- " Agnes menggantungkan ucapannya karena bimbang.


Afgan memicinkan matanya menatap Agnes, " Hayo, kamu pasti buat salah kan? " Tebak Afgan yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Agnes.


" Enggak kok kak! Apaan si, tadi itu gini. Aku-aku mau- "


" Mau apa? " Ucap Afgan penasaran karena lagi-lagi Agnes yang menggantung ucapannya.


" Mau ngegoda kam-Eh! " Ucap Agnes keceplosan yang langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


" Duh, kenapa aku bisa keceplosan sih. Auh!! " Kesal Agnes dalam hati.


" Ftt..Kamu mau goda aku sayang? " Tanya Afgan sambil berusaha menahan tawanya.


Dengan polosnya Agnes mengangguk.


" Bwahaha...! " Meledaklah tawa Afgan saat itu juga.


Agnes cemberut menyadari kebodohannya yang ditertawai oleh suaminya.


" Jangan ketawa! " Galak Agnes sambil menatap Afgan kesal.


Afgan terus tertawa tanpa menghiraukan ucapan Agnes. Saat menyadari delikan tajam dari sang istri, dengan segera Afgan menghentikan tawanya dan menarik Agnes ke dalam pelukannya.


" Maaf sayang maaf, " Ucap Afgan sambil mencium pucuk kepala Agnes. " Lagian kamu juga si so soan mau ngegoda aku, emang bisa? " Ledek Afgan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Agnes.


" Kamu remehin aku ya? " Tanya Agnes dengan sorot mata tajam.


Afgan menggeleng dengan cepat karena takut istri cantiknya itu kembali marah padanya.


" Enggak kok enggak! " Elak Afgan.


" Oh iya, emang kamu dalam rangka apa ngegoda aku? Kamu mau aku lakuin kayak yang semalem yah? " Goda Afgan sambil mengedipkan sebelah matanya genit.


Sontak Agnes membelalakkan kedua matanya kerena tebakan Afgan yang melantur kemana-mana.


" Apaan sih, ya enggak lah! Kamu kira aku cewek apaan yang ngegoda cowok agar minta di masukin! " Celetuk Agnes yang di jawab dengan gelak tawa dari Afgan.


" Haha..Dasar kamu, terus kamu mau goda aku supaya apa coba? Kalo agar aku kegoda, kamu percuma! Karena dengan adanya kamu aja sudah membuatku menegang seketika. " Balas Afgan makin ngeres.


" Kak ih! " Teriak Agnes kesal.


Afgan kembali tertawa dan menghadiahi ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.


" Ih...Kamu dari kemarin ngeselin banget sih, awas ah! " Bentak Agnes kesal yang langsung berdiri dari duduknya.


Saat Agnes hendak melangkah pergi, dengan segera Afgan menarik tangannya sehingga dia terjatuh tepat di atas paha Afgan.


Dengan santainya Afgan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Agnes dan menyandarkan dagunya di pundak mulus Agnes.


" Apa sayang, sekarang kamu diem yah! Karena kalo kamu banyak gerak, nanti punya aku makin berontak pengen nengok debay nya. " Ucap Afgan dengan deru nafas panasnya.


Agnes bergidik merinding, dengan terpaksa dia mengangguk dan terdiam dalam pelukan Afgan.


" Good girl! " Puji Afgan dengan tangan nakal nya yang tidak bisa diam.


Plak.


" Kondisiin tuh tangan! " Marah Agnes sambil memukul lengan Afgan.


Afgan cengengesan, " Oke, oke. Aku tampan aku diam, " Balas Afgan narsis.


" Ih, merinding aku. Ceo dingin kaya kamu juga bisa narsis yah? " Tanya Agnes heran.


" Ya bisa lah, ini aku buktinya! " Jawab Afgan santai.


" Udah, sekarang kamu bilang sama aku tujuan kamu mau goda aku kaya gituh? Heum, aku curiga kamu pasti di suruh oleh seseorang untuk melakukan ini. " Ucap Afgan sambil melirik Agnes penuh selidik.


" Eum, itu- Okeh. Aku memang melakukannya atas saran dari Regata, bukan perintah. " Aku Agnes penuh penekanan.


" Regata? Emang kalian punya tujuan apa sampai kamu goda-goda aku segala? " Tanya Afgan semakin penasana.


" Oke, aku jujur yah. Jadi gini, aku sama Regata pernah mengenal seseorang beberapa tahun lalu yang memiliki tato kaya di lengan kamu itu. " Jelas Agnes.


" Terus? "


" Ya aku sama Regata curiga orang itu adalah kamu, maka dari itu aku berusaha goda kamu supaya kamu mau jujur tentang tato itu sama aku. " Jelas Agnes panjang lebar.


Afgan menatap Agnes tidak percaya, " Jadi kamu kira penjelasan aku waktu itu adalah dusta belakang? " Tanya Afgan yang sedikit menaikkan volume bicaranya.


" Eh, bukan seperti itu. Hanya saja penjelasanmu tidak masuk di akal kak, masa iya tato buatan seperti itu kamu bilang alami bawaan dari lahir. Kan aneh, ya pantas lah aku tidak percaya! " Ucap Agnes membela dirinya.


Afgan memikirkan ucapan Agnes, kemudian dia menarik lengan kemejanya sampai ke siku.


" Kamu benar, ini tato buatan. Lalu kenapa Ayah sama Bunda mengatakan jika ini adalah tanda lahirku? " Tanya Afgan bingung.


Agnes berbalik menatap Afgan.


" Apa kamu bilang? Jadi yang bilang ini adalah tanda lahir adalah Ayah sama Bunda? " Tanya Agnes yang di angguki Afgan.


" Terus, apa kamu sama sekali tidak ingat kapan kamu menyadari keberadaan tato itu? " Tanya Agnes lagi.


" Kalau seingatku, sebulan setelah aku koma. " Jawab Afgan.


Agnes membulatkan matanya sempurna, " Ko-koma? Kamu pernah koma? " Pekik Agnes tidak percaya.


" Iya, waktu itu aku menanyakan hal ini pada Ayah. Dan Ayah bilang ini adalah tanda lahir, dan hal itu di iyakan juga oleh Bunda. " Aku Afgan sambil menatap Agnes.


" O-oh, begitu rupanya. " Ucap Agnes sambil menunjukkan senyuman kakunya.


" Jadi benar, gold prince leader adalah kak Afgan. Tapi, kenapa Ayah dan Bunda menyembunyikannya dengan mengatakan jika itu adalah tanda lahir? Hem, aku semakin penasaran dengan semua ini. " Batin Agnes.


_-_


Tbc!