Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
I'm King, I'm Coming!



Agnes menyandar di kepala ranjang dengan tangan yang sibuk memainkan ponselnya. Dia sedang mengabari kakaknya bahwa besok pagi dia akan pulang ke rumah lamanya.


Rasanya Agnes rindu dengan rumah yang menjadi saksi bisu atas segala kejadian yang terjadi di masa kecil dan masa remajanya.


Dan Kevin tentu saja tidak keberatan akan kunjungan Agnes. Bahkan dia menyuruh Fani sang kekasih untuk datang menemani adik cantiknya agar tidak bosan.


Saat Agnes terus sibuk berbalasan pesan dengan Kevin, tiba-tiba pintu terbuka dengan menampakkan wajah segar Afgan karena suaminya itu memang baru saja selesai mandi.


Agnes melihat ke arah suaminya sekilas, kemudian dia kembali menatap layar ponselnya tanpa memperdulikan kehadiran Afgan.


Afgan tidak memperdulikan sikap cuek Agnes. Toh, memang istrinya itu sangat cuek.


Saat Afgan baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa, tiba-tiba Agnes melemparkan ponselnya ke atas lantai sampai ponsel itu hancur tak berbentuk.


Preng...


" Damn it! " Maki Agnes dengan tangan yang terkepal kuat.


" Hei, ada apa? " Tanya Afgan kaget sambil berdiri dan terduduk di atas ranjang bersama Agnes.


Agnes melihat ke arah Afgan. Kemudian dia berhambur memeluk suaminya erat.


Afgan yang di peluk mendadak sontak saja kaget dan hampir kehilangan keseimbangannya. Untungnya dia dengan sigap bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


" Agnes? " Tanya Afgan bingung.


Agnes tidak menghiraukan kebingungan suaminya atas tindakannya barusan. Dia memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Afgan sambil sesekali memukulnya pelan untuk menghilangkan rasa kesal di hatinya.


" Sial, sial, siall!! " Maki Agnes tidak jelas dengan memukul-mukul dada Afgan.


" Hey ada apa denganmu? " Tanya Afgan lagi.


Agnes lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Afgan. Dia malah melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya.


" Aku ingin tidur. " Ucap Agnes singkat.


" Ya sudah sekarang kau tidurlah! " Balas Afgan sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Agnes.


Tapi Agnes malah semakin mengeratkan pelukannya.


" Agnes, kau- "


" Peluk aku. " Ucap Agnes dengan suara seraknya.


Afgan menghela nafas pelan. Kemudian dia pun perlahan membaringkan Agnes di kasur tanpa melepaskan pelukan mereka.


Afgan membenahi posisi nyamannya dan ikut memeluk Agnes sambil sesekali pria itu mengecup kening Agnes.


Agnes sama sekali tidak keberatan. Dia malah semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Afgan.


Karna merasa hangat dengan pelukan suaminya, maka tidak membutuhkan waktu lama untuk Agnes terlelap.


Begitu pun dengan Afgan. Saat melihat istrinya sudah tertidur, dia pun mengecup kembali kening Agnes sambil tersenyum kecil saat menyadari perbuatannya.


Kemudian calon dady tampan itu pun memejamkan matanya dan menyusul Agnes ke dalam dunia mimpinya.


**


Sementara di tempat lain, terlihat Regata yang baru mendarat dengan Afra sang putra yang tertidur dalam gendongan Veyna istrinya.


Saat istri beserta putranya sudah masuk ke dalam mobil yang telah di siapkan oleh anak buahnya, Regata terdiam sesaat dengan pandangan yang terus beredar melihat ke setiap sudut negara yang telah lama di tinggalkannya itu.


Regata mendesah pelan saat mengingat masa-masa gilanya bersama Agnes dalam merebut wilayah-wilayah para mafia lain yang menurut mereka sangat merugikan masyarakat.


" Ha..Aku jadi ingin memulainya kembali, pasti akan sangat seru. " Gumam Regata sambil terkekeh pelan.


Tak lama, pria itu menyeringai saat melihat sebuah komplotan pria bertato yang terus memalak setiap pedagang yang ada di sana.


Sungguh, rasanya Regata sudah tidak sabar untuk membasmi sampah masyarakat seperti mereka. Ya tentunya bersama Agnes. Sang Queen yang di segani banyak orang.


" Dark Night, wait me! I'm King, I'm Coming. " Ucap Regata dengan mata yang terus menatap pria bertato itu tajam. Tak lupa dengan seringai yang terus menghiasi bibir sexynya.


" Re, ayo. Sedang apa kau di sana? "


" Ah, iya. Tidak sayang, tidak ada apa-apa. " Balas Regata sambil tersenyum dan masuk menyusul istri dan anaknya.


Tanpa menunggu waktu lama, sopir Regata pun menjalankan mobilnya menuju apartement lama milik majikannya.


**


Pagi harinya, Agnes membuka kedua matanya perlahan. Hal pertama yang dapat di lihatnya adalah wajah tampan suaminya yang tertidur begitu dekat dengan wajahnya.


Sontak saja Agnes melotot dan mundur seketika.


Saat Agnes hendak bangun, tangan Afgan yang masih melingkar di pinggangnya malah semakin memeluknya erat sehingga dia lagi-lagi bertubrukan dengan dada bidang suaminya.


" Kak, kak lepas ih! " Ucap Agnes jengkel sambil memukul-mukul dada suaminya.


" Hem. " Balas Afgan tanpa membuka matanya.


Agnes menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian wanita itu mencubit kencang pinggang Afgan sehingga si pemiliknya berteriak dan melepaskan pelukannya seketika.


" Aaaaahh!! " Teriak Afgan yang kini sudah membuka matanya karna merasakan kesakitan.


" Agnes, apa yang kau lakukan hah? Apa kau ingin membunuhku? " Tanya Afgan kesal dengan sebelah tangan yang terus memegang pinggannya yang sakit.


Agnes turun dari atas ranjang. Dengan posisi berdiri, wanita itu melihat Afgan sambil memutar bola matanya malas.


" Dasar lemah. Satu cubitan mana bisa membuatmu mati. Dan jika pun aku ingin membunuhmu, akan ku bunuh kau dengan pisau beracun milikku. " Ucap Agnes santai.


Afgan membulatkan kedua matanya.


" Pisau beracun, darimana kau mempunyai benda seperti itu? " Tanya Afgan syok.


" Aku lupa. Entah itu dari pasar senin, selasa, rabu, atau bahkan pasar amal. Yang penting aku punya saja barang itu. " Jawab Agnes asal.


" Kenapa, kau tidak percaya? " Tanya Agnes saat Afgan hanya diam melihatnya. " Baiklah lain kali akan aku bawa dan tunjukkan padamu. Jika perlu, aku akan menggunakannya pada kulitmu supaya kau percaya bahwa pisau andalanku itu memiliki racun yang mematikan. " Lanjut Agnes santai.


" Apa? Tidak tidak usah! Lagian aku tidak percaya kau mempunyai barang seperti itu. Mana coba tunjukkan padaku! " Ucap Afgan sambil menyodorkan telapak tangannya pada Agnes.


" Sayangnya, aku lupa membawanya. "


" Hah! " Beo Afgan dengan mulut terbuka.


" Ck, dasar kau. Jadi kau meninggalkan barang itu di Amerika, begitu? " Tanya Afgan kesal.


" Eum, sepertinya iya. Tapi jika kau tetap ingin melihatnya, aku masih punya banyak di markas. " Ucap Agnes keceplosan.


" Markas? "


" Eum, maksudku- "


" Markas apa? Hah, ayo katakan padaku kau bergabung dengan markas abal-abal mana. " Ucap Afgan sambil menatap Agnes tajam.


" Ck, markas abal-abal kau bilang. Enak saja! " Balas Agnes kesal.


" Sudahlah, aku malas berbicara denganmu. Aku mau mandi saja. " Ucap Agnes sambil berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Afgan yang melongo melihat kepergiannya.


" Markas? Hah. Anakku, sayang sekali kau mempunyai momy yang aneh seperti itu. " Gumam Afgan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Baru saja Afgan hendak melangkah turun dari atas ranjang, tiba-tiba ponsel Agnes berbunyi dengan menampilkan nama ' Regata Spt' sang penelepon.


Karna penasaran, Afgan pun mengangkatnya tanpa se izin Agnes. Toh, dia kan suaminya. Jadi tidak masalah lah jika hanya sekedar mengangkat telepon saja.


" Ha- " Belum sempat Afgan membuka suaranya, Regata sudah langsung memotongnya dengan berkata:


" Aku sampai. Datanglah secepatnya malam ini! Aku tunggu kau di tempat biasa. "


Tut..Tut..Tut..


Tanpa mendengarkan balasan dari Afgan, Regata malah langsung menutup teleponnya.


_-_


Tbc!