
Malam hari pun telah tiba, sekitar pukul 8 malam Afgan baru pulang dari kantornya karena memang dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya dalam waktu satu pekan.
Bukan apa, tapi Afgan ingin semua waktunya setelah resepsi dia habiskan bersama Agnes seorang. Lain kata dia akan mengajak Agnes pergi berlibur alias honeymoon tanpa gangguan yang namanya pekerjaan.
Baru saja dia masuk ke dalam rumah, Jennie sudah menyambutnya dengan senyuman cantik dan menawan yang sering ibunya tunjukkan jika ada maunya.
Afgan menghela nafasnya pelan, " Apa yang Bunda inginkan? " Tanya Afgan to the point.
Jennie yang melihat kepekaan anaknya langsung cengengesan dan mencubit-cubit kecil lengan berotot Afgan.
" Tau banget sih kalo Bunda menginginkan sesuatu, " Ucap Jennie sambil cengengesan.
Afgan memutar bola matanya malas, " Apa? " Ulang Afgan.
" Afgan, Bunda mau resepsi kalian diadakan di rumah saja. " Ucap Jennie to the point.
" Kenapa? Bukannya kita sudah sepakat jika resepsinya akan diadakan di hotel bintang lima yang akan ku sewa? " Tanya Afgan bingung.
Jennie menghela nafasnya pelan, " Kita batalkan saja itu, pokoknya resepsi pernikahan kamu akan di adakan di sini! " Kekeh Jennie.
" Lagian apa bedanya di sini dan di hotel? Rumah kita ini bagus kok, besar lagi. Jadi gak kalah mewah dan luasnya dengan hotel berbintang yang akan kamu sewa. " Lanjut Jennie yang mebuat Afgan mendesah pelan.
" Aku tidak bisa memutuskannya sendiri Bun, aku akan bicarakan hal ini dengan Agnes terlebih dahulu. " Ucap Afgan bijak.
Jennie melirik putranya malas.
" Baiklah baiklah, terserah kamu. Tapi jika Agnes tidak mau, kamu bujuk sampai dia mau. Okay? " Ucap Jennie yang di balas dengan deheman kecil dari Afgan.
" Dimana Agnes? " Tanya Afgan tiba-tiba.
Karena sedari berbicara dengan Jennie tadi, mata Afgan terus berkeliaran mencari keberadaan Agnes.
" Oh Agnes, tapi Bunda menyuruhnya istirahat di kamar. Mungkin saat ini dia sedang tidur, " Ucap Jennie.
" Afgan menurut Bun- Afgan!! " Teriak Jennie saat menyadari ke tidak hadiran putranya lagi.
Jennie berbalik dan menemukan Afgan yang sedang berjalan dengan santainya menuju kamar.
" Afgan, jangan macam-macam kamu. Jangan ganggu Agnes!! " Teriak Jennie yang malah di balas dengan lambaian tangan Afgan dari belakang.
" Apa sih baby, kok teriak-teriak gituh? " Tanya Ryan yang baru datang sambil memeluk istrinya dari belakang.
" Itu mas, si Afgan. Dateng-dateng bunda ajak ngobrol malah nanyain Agnes, udah gitu main nyelono masuk kamar aja tu anak. " Adu Jennie dengan nada kesal.
" Alah, palingan dia mau minta jatah. " Celetuk Ryan yang membuat Jennie seketika melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
" Apa kamu bilang, jatah? " Pekik Jennie sambil berbalik menatap suaminya.
" Iya, jatah. " Ucap Ryan polos.
" Mas, Agnes itu lagi hamil. Dia gak boleh- "
" Justru Agnes lagi hamil, membuatnya sedikit berisi dan membuat anak kita selalu ketagihan baby. Kamu kaya gak pernah mengalaminya saja, " Potong Ryan yang di akhiri dengan menggoda sang istri.
" Apa sih, ngaco kamu. Awas ah, aku mau ke dapur dulu nyiapin makan malam. " Ucap Jennie yang mendorong tubuh Ryan dan pergi dengan terburu-buru karena merasa malu.
Ryan terkikik geli dengan tingkah istrinya yang masih malu-malu tapi mau, secara tidak sengaja pandangannya tertuju pada pintu kamar Afgan yang memang berada di lantai satu, matanya seketika membulat kala mengingat sesuatu.
" Hemm, sepertinya sebentar lagi akan ada perang dunia ke tiga. " Gumam Ryan.
_-_
Tbc!