Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Kejar-kejaran



Agnes mengeliat pelan saat merasakan sebuah tangan yang terasa begitu hangat menyentuh langsung perutnya.


Saat kedua matanya sudah terbuka dengan sempurna, perlahan Agnes membalikkan tubuhnya dan menemukan wajah tampan Afgan yang sudah terlelap dengan tangan nakal milik suaminya yang menyentuh perutnya secara langsung.


Lantas Agnes pun terperanjak kaget. Tapi saat mengingat jika Afgan adalah suaminya, membuat Agnes memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan kembali hatinya yang tidak karuan.


Agnes menyingkirkan tangan Afgan yang berada di perutnya, kemudian wanita itu bringsut pelan untuk mendudukkan dirinya.


Setelah terduduk di samping Afgan yang tertidur, Agnes pun menurunkan kembali baju bagian atasnya yang sepertinya sempat Afgan ke ataskan agar suaminya itu bisa menyentuh perutnya tanpa penghalang.


Saat Agnes hendak turun dari atas ranjang, tiba-tiba tangannya di tarik dan membuat tubuh Agnes langsung terpental pada dada bidang Afgan sang penarik.


" Mau kemana? " Tanya Afgan tanpa membuka matanya.


" Kak, lepaskan! " Ucap Agnes sambil terbangun dari atas tubuh Afgan dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang di genggaman erat oleh Afgan.


" Aku bertanya. "


" Owh baiklah. Aku ingin mangga muda. " Ucap Agnes to the point.


Seketika Afgan membuka kedua matanya dan menatap Agnes lekat.


" Kau ingin mangga? "


Agnes mengangguk.


" Tapi ini sudah hampir malam Agnes, tidak baik jika kau memakan mangga malam-malam. " Ucap Afgan.


" Hah, malam? " Pekik Agnes.


" Kau lihat itu! " Tunjuk Afgan pada jam ding-ding yang berada di samping. " Ini sudah pukul 7 malam Agnes, sebaiknya kita kembali tidur dan cancel makan mangganya sampai besok. " Lanjut Afgan yang mulai kembali memejamkan matanya.


Seketika wajah Agnes masam.


" Lepaskan! " Ucap Agnes ketus.


" Hei ayolah! Agnes, ini sudah malam. Kau mau kemana memangnya hem? " Tanya Afgan yang kembali membuka matanya ketika mendengar ucapan ketus Agnes.


" Aku ingin pergi jauh darimu! " Balas Agnes sambil menatap Afgan kesal.


" Heii!! " Teriak Afgan yang seketika terduduk di atas ranjang dengan menatap Agnes yang memang sudah terduduk itu dengan tatapan tajamnya.


Agnes melihat Afgan malas. Lihatlah! Sebelah tangan pria itu menggenggam pergelangan tangannya erat, dan sebelahnya lagi menunjuknya seenak jidat.


" Sudah hentikan. Cepet lepaskan aku!! " Rengek Agnes sambil berusaha melepaskan tangannya dari Afgan.


" Tidak, sebelum kau- Aaaghhkk!! " Teriak Afgan yang seketika melepaskan genggamannya dari tangan Agnes karna gigitan maut yang istrinya berikan.


Melihat tangannya yang sudah tidak lagi di genggam, membuat Agnes segera berdiri dan berlari dari Afgan yang masih memegangi tangannya yang habis ia gigit barusan.


Sebelum benar-benar pergi dari sana, Agnes sempat berhenti di ambang pintu dan menatap Afgan.


" Sakit? " Tanya Agnes dengan ekspresi khawatirnya.


Afgan mengangguk.


" Rasakan!! " Ucap Agnes jahat.


Dengan segera wanita itu pun mengambil langkah seribu keluar dari kamar singa yang sebentar lagi mengaung karna di ganggu.


" Agnes!!! "


**


Di luar kamar, Agnes berlari sekuat tenaga saat merasakan ada langkah panjang yang mengejarnya. Yah, suaminya itu mengejarnya untuk balas dendam.


Saat Agnes hendak tertangkap oleh Afgan, untungnya dia berpapasan dengan Alfan yang baru saja keluar dari kamarnya.


Tidak ingin tertangkap dan di lahap habis oleh singa lapar itu, akhirnya Agnes pun merarik tangan Alfan dan dengan segera dia bersembunyi di belakang kakak iparnya itu.


" Aaaaahh.. Kak Afan kak Afan!! " Teriak Agnes yang berlari dan berlindung di belakang punggung Alfan.


" Hei, kemari kau! " Titah Afgan marah.


Agnes mengintip sedikit dari bahu Alfan.


" Tidak mau! " Balas Agnes.


" Cepat kemari!! " Ucap Afgan geram.


"No. Wlekk! " Ejek Agnes sambil mengeluarkan lidahnya mengejek.


" Agnes..! " Ucap Afgan dengan menatap Agnes kesal.


Suami tampannya itu terlihat melangkahkan kakinya pelan-pelan untuk menangkap istri nakalnya.


" Oh God No! Kak Afan!! Help me!! " Pekik Agnes saat melihat Afgan yang berjalan mendekat.


" Hei, ada apa ini? " Tanya Alfan bingung sambil melihat Agnes dan Afgan secara bergantian.


" Diam kau, sekarang minggir! " Ucap Afgan pada Alfan.


" Tidak..Tidak jangan! " Panik Agnes sambil memegang lengan Alfan erat.


" Bang minggir! " Ucap Afgan setengah membentak.


" Oh silahkan! " Ucap Alfan yang bodohnya langsung menyingkir dari jalan Afgan.


Agnes melongo melihat Alfan yang bodoh. Dia menatap kakak iparnya itu seperti hendak menerkanmya mentah-mentah karna otak bodohnya itu.


Seketika Agnes menjadi merinding saat melihat seringai yang Afgan tunjukkan padanya. Seolah-olah mengatakan jika dia tidak akan bisa kabur lagi darinya.


" Oh no, kak Afan kau bodoh. Bunda!! " Teriak Agnes yang langsung lari ke ruang keluarga untuk meminta perlindungan dari Jennie sang mamah mertua.


Melihat Agnes yang sudah kembali lari membuat Afgan melotot dan kembali mengejar istrinya sambil berteriak.


" Agnes!! Kau tidak akan bisa lepas dariku!! " Teriak Afgan menggema di seluruh rumah.


" Serasa melihat film india saja. " Gumam Alfan sambil tersenyum kecil dan berlalu menyusul mereka ke ruang keluarga.


**


Sementara di ruangan keluarga..


Tampak Agnes yang tersenyum ke arah Jennie dan lagi-lagi mengulurkan lidahnya pada Afgan.


Yah, dia berhasil mendapat perlindungan dari sang mamah mertua agar terhindar dari singa gila itu.


Afgan yang terduduk di hadapan Agnes itu menjadi geram saat melihat istrinya yang lagi-lagi meledek kegagalannya.


" Kau, kemari kau! " Ucap Afgan sambil menatap Agnes tajam.


" Tidak mau. " Tolak Agnes ketus.


" Agnes!! "


" Hei sudahlah! " Lerai Jennie.


" Sayang, ada apa dengan kalian berdua hem? Kenapa kalian main kejar-kejaran malam-malam seperti ini? " Tanya Jennie sambil mengelus rambut panjang menantunya yang terduduk di sebelahnya itu.


" Eum, tidak apa-apa bunda. Agnes hanya kaget saja saat kak Afgan berlari sambil berteriak pada Agnes. Ya jelas Agnes lari lah! " Alibi Agnes tanpa dosa.


" Hei dia bohong! " Semprot Afgan yang langsung berdiri dari duduknya.


" Apaan. " Ucap Agnes sambil mendelik ke arah Afgan.


" Agnes..Kau mau di hukum apa setelah ini hah! " Bentak Afgan geram.


" Terserah! Tidur di luar pun aku tidak keberatan. " Celetuk Agnes.


" Kau- Akan ku buat kau tidak tidur semalaman karna hukuman dariku!! " Ucap Afgan yang seketika melangkahkan kakinya menuju Agnes.


" Oh shit, bunda!! " Ucap Agnes panik sambil memegang lengan ibu mertuanya.


" Afgan!! " Ucap Jennie sambil menatap putranya tajam.


" Tapi bun- "


" Hei boy. Duduklah! Kau bisa menghukum istrimu sepuasnya nanti. " Celetuk Ryan sambil tertawa.


Afgan menghela nafas panjang, kemudian calon dady tampan itu pun kembali duduk dengan malas.


" Awas saja kau. " Ancamnya pada Agnes.


" Huh! " Balas Agnes cuek yang membuat Afgan lagi-lagi berusaha memendam kekesalannya pada sang istri.


" Hei sekarang serius. Kenapa kalian berlari tadi? " Tanya Jennie yang masih penasaran.


" Bun, Afgan- "


" Dia menggigitku bun, lihatlah! " Potong Afgan segera saat merasa Agnes yang hendak berbogong lagi.


Bahkan pria itu menunjukkan punggung tangannya yang terdapat banyak tato gigi yang Agnes buat secara gratis tadi.


" Oh God. Agnes, rupanya kau suka main gigit-gigitan yah. " Goda Ryan saat melihat punggung tangan putranya.


" A-apa? Bukan begitu Ayah, dia yang- "


" Iya, kau sudah tidak sabar yah? Baiklah, ayo sekarang kita pergi dan memulainya. " Potong Afgan lagi sambil berdiri dari duduknya.


" Apa? Ti-tidak tidak! Aku tidak berminat. " Pekik Agnes panik.


" Tidak perlu malu, aku ini suamimu. " Ucap Afgan sambil tersenyum penuh kemenangan.


" Hei aku bukannya malu, tapi aku tidak mau. Bundaa..!! "Rengek Agnes.


" Hei kau, duduk! " Perintah Jennie sambil menunujuk pada putranya yang hendak berjalan ke arahnya.


" Ck, bunda menyebalkan. " Ucap Afgan yang lagi-lagi harus kembali terduduk.


" Agnes, kau sedang mengandung. Jadi jangan berlari seperti tadi lagi, oke. Karna itu bisa membahayakan bayi yang sedang tumbuh dalam rahimmu. " Ucap Jennie sambil memegang punggung tangan menantunya.


" Iya bunda. "


" Dan kau Afgan, kau jangan membuat menantuku takut dengan tingkah konyolmu yang lari sambil teriak-teriak seperti orang gila itu. Apa kau mau Agnes meninggalkan suami gila sepertimu. " Celetuk Jennie yang mulai menceramahi putra bungsunya.


" Ia bunda. " Balas Afgan malas.


" Aku saja terus yang di salahkan. Iya, wanita memang maha benar. " Gerutu Afgan yang hanya bisa di dengar oleh Ryan dan Alfan yang memang terduduk di samping Afgan.


Ryan dan Alfan cekikikan mendengarnya. Kemudian Ryan beringsut mendekati putranya sambil berbisik:


" Jika di depan orang, pria memang selalu kalah melawan wanita. Tapi jika di kamar, jangan sampai kau terkalahkan! " Bisik Ryan memprovokasi putranya.


Afgan tersenyum penuh arti menarap sang ayah. Kemudian dia beralih menatap Agnes yang sedang tersenyum penuh kemenangan pada Afgan.


Sementara Afgan, dia membalas senyuman Agnes dengan seringaian liciknya seolah mengatakan jika dia tidak akan melepaskan istrinya malam ini.


" Berbahagialah kau saat ini, jangan harap nanti aku akan mengampunimu. Nantikanlah hukumanmu, Agnes. " Batin Afgan menyeringai.


_-_


Tbc!


__________________


**Akhirnya setelah sekian lama. Maaf yahh atas ketidak hadirannya ' Love, My Queen Of Mafia' dalam beberapa hari ini.


Dan insya Allah mulai sekarang mulai Up lagi, walaupun tidak janji bisa setiap hari apa enggaknya.


Thanks buat kalian yang selalu dukung Author ya!!! Makasih bangetttt...


Oke Bye, see you next chapter**!. :)