Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Rencana Gila Regata



" Apa! " Pekik Regata saat mendengar ucapan Agnes.


" Berisik! " Ucap Agnes santai sambil mengambil satu botol wine yang tersedia di mansion mafianya.


Dengan santainya perempuan itu menuangkan wine yang dia bawa ke dalam sebuah gelas dan mengangkatnya hendak di teguk.


" Orang hamil gak boleh minum yang ginian! " Larang Regata sambil merebut wine yang berada di tangan Agnes.


Agnes melongo tak percaya, kemudian dia menatap Regata dengan tatapan membunuhnya.


" Apa? " Tanya Regata tanpa dosa.


" Kembalikan! " Teriak Agnes kesal.


Regata menggeleng. " Tidak. Kau sedang hamil Agnes, jadi kau tidak boleh minum yang ginian. " Ucap Regata santai.


" Aku tahu, kau minum di sini karena di sana suamimu melarangmu bukan? " Tanya Regata sambil menatap Agnes penuh selidik.


Agnes memutar bola matanya malas.


" Yah, dia melarangku karena alasan yang sama. Maka dari itu, cepat berikan minumannya padaku! " Ucap Agnes kesal yang di akhir dengan teriakan di akhir kalimatnya.


Bukannya memberikan apa yang Agnes mau, justru Regata malah teertawa dan kembali menyimpan minuman itu di tempat sebelumnya.


Yang mana membuat Agnes marah dan memilih kembali terduduk di sofa dengan tangan yang melipat di dada.


" Menyebalkan! Tidak dia, tidak Regata, semuanya sama saja. " Gerutu Agnes sebal.


Regata kembali terduduk di samping Agnes. Dia melirik dan terkikik geli melihat Agnes yang cemberut karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.


Seketika Regata memandang Agnes serius saat mengingat ucapan Agnes sebelumnya.


" Agnes, apa kau tidak salah melihat tato itu terdapat di lengan Afgan bukannya Tuan Ryan? " Tanya Regata tidak habis pikir.


Sontak Agnes melepaskan tangannya yang melingkar di dada dan berbalik menatap Regata serius.


" Yah, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Gata! Aku melihatnya, tato itu berukuran sangat kecil. Tapi teksturnya sangat kasar yang mana bisa membuatku menyadari keberadaannya, " Ucap Agnes.


Regata berfikir sejenak.


" Apa kau menanyakannya secara terang-terangan pada Afgan tentang adanya tato itu di lengannya? " Tanya Regata.


Agnes mengangguk, " Ya aku menanyakannya, tapi jawabannya sungguh tidak masuk di akal! " Jawab Agnes kesal.


" Dia bilang, itu merupakan tanda lahir. Tapi Gata, itu jelas-jelas tata permanen buatan. Bukan tanda lahir atau apalah itu yang bersifat alami, benar bukan? " Tanya balik Agnes yang di angguki Regata.


" Kau benar, aku rasa ada seseorang yang menyembunyikan kebenarannya. Entah itu Afgan sendiri yang menyangkalnya, atau pun Tuan Ryan yang mengatakan kebohongan kepadanya mengenai tato itu. " Ucap Regata setelah menerka-nerka.


Agnes menatap Regata serius, " Kalau menurutku, bukan kak Afgan yang berbohong. Karna saat mendengar pertanyaan dariku dia langsung menjawabnya tanpa berpikir dulu. " Ucap Agnes yakin.


" Tapi Agnes, tidak mungkinkan Tuan Ryan yang menghayal mengatakan pada Afgan tentang tato itu. Bukankah Afgan sendiri yang lebih tahu tentang dirinya? " Tanya Regata yang membuat Agnes berpikir keras.


" Aish...situasi ini sungguh sangat rumit! " Pekik Agnes tidak suka.


" Tapi...Sebentar. Gata, bukankah pria yang waktu itu kita tolong sedang terluka? " Tanya Agnes tiba-tiba.


" Yah, dia terluka di bagian kepalanya. Menurutku, itu seperti sebuah pukulan yang sagat keras. " Jawab Regata mengingat-ingat.


" Kepala. Astaga, jangan-jangan- "


" Dia hilang ingatan! " Sambung Regata dengan mata membulat.


Bukan hanya Regata, bahkan Agnes pun menutup mulutnya yang menganga. Dia tidak menyangka jika suaminya yang dia anggap lemah dan tidak bisa apa-apa itu justru lebih hebat darinya.


" Ya ampun, pantas saja aku selalu di buat mati kuku jika mendapatkan seringaian ataupun tatapan tajam darinya. " Batin Agnes.


" Gata, lalu aku harus bagaimana untuk membuktikan kalau pikiran kita tentang kak Afgan itu benar? " Tanya Agnes panik.


" Bukankah kita harus memiliki bukti terlebih dahulu supaya kita tidak mengambil keputusan yang salah nantinya? " Lanjutnya yang membuat Regata berpikir keras.


Saat sedang sibuk memikirkan cara untuk mengungkap semua kebenaran yang sungguh menyulitkan ini, tiba-tiba Regata menjentikkan jarinya ke udara yang membuat Agnes langsung menatapnya heran.


" Aku punya cara memecahkannya! " Seru Regata girang.


" Apa? "


Bukannya menjawab, Regata justru menyeringai licik sambil menaik turunkan alisnya membuat Agnes semakin penasaran.


" Semuanya tergantung kinerjamu Agnes, " Ucap Regata dengan menunjukkan seringaian misteriusnya.


" Tunggu, a-apa? Jangan aneh-aneh kau Regata!! " Pekik Agnes yang paham dengan maksud Regata.


**