
Setelah pulang dari panti asuhan, Agnes memutuskan untuk menemui Regata yang tentunya harus dengan izin dari Afgan.
Agnes yang terduduk di kursi bersebelahan dengan Afgan yang menyetir di sampingnya pun menoleh ke arah suaminya itu yang mana membuat Afgan ikut menoleh padanya.
Agnes dengan cepat memalingkan wajahnya karena malu yang justru membuat Afgan tertawa melihat tingkah lucu istrinya.
" Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja! " Titah Afgan santai tanpa melihat Agnes.
Agnes merenung sebentar, dia memikirkan konsekuensi nantinya.
Bagaimana jika Afgan melarang? Jika pun mengizinkan, tentunya dia yakin pria itu akan memberikan sebuah syarat.
" Ayo katakan, kebetulan mood ku sedang baik hari ini. " Ucap Afgan lagi.
Agnes menarik nafasnya dalam-dalam. Dan akhirnya dia memutuskan untuk meminta izin pada Afgan. Masalah konsekuensi, bisa dia pikirkan nanti.
Karena yang terpenting untuk saat ini adalah bertemu dan menceritakan semua fakta yang baru dia ketahui.
" Kak, aku ingin menemui Regata. " Ucap Agnes cepat.
Cekik.
Seketika Afgan menginjak remnya. Dia mencengkram kemudi kuat-kuat dengan wajah yang tadinya berseri berubah menjadi dingin.
" Lagi-lagi kau ingin menemuinya, memangnya ada urusan apa sehingga kau tiap waktu harus menemuinya? " Tanya Afgan sambil menatap Agnes dingin.
Gluk.
Agnes menelan salivanya susah payah.
Ini nih yang dia takutkan, Afgan menolak dan kekeh tidak mengizinkannya yang mana akan menyulut emosinya dan di akhiri dengan pertengkaran kembali di antara mereka.
Agnes memejamkan matanya sesaat, kemudian dia kembali menatap Afgan dengan wajah sendunya.
" Kak, apa kau tidak percaya padaku? " Tanya Agnes lembut.
" Ayo lah, aku hanya ingin menemui Regata dan. Hah, kau tahu sendiri bukan hubunganku dengan Regata seperti apa? " Lanjut Agnes yang membuat Afgan menatapnya tajam.
" Aku tahu seperti apa hubunganmu dengan Regata. Kau dan dia, adalah mantan tunangan. " Ucap Afgan dingin.
" Dan sekarang kau terus menerus meminta izin padaku untuk menemui Regata? Suami mana yang akan terus-terusan mengizinkan istrinya bertemu dengan mantan tunangannya? " Tanya Afgan.
" Jika aku terus mengizinkanmu, maka itu sama saja dengan aku yang memberikan kalian peluang untuk bersama dan membuat kalian bersatu kembali, " Lanjutnya yang membuat Agnes memanas.
" Aku dan Regata bukan bertemu hanya untuk bersantai bersama. Aku dan Regata bertemu karena memang ada hal penting yang harus kami bicarakan! " Ucap Agnes dengan suara yang meninggi.
" Memangnya hal penting apa yang sering kalian bicarakan ketika bersama, hem? " Tanya Afgan berusaha setenang mungkin.
Agnes gelagapan karena tidak mungkin juga dia memberitahu Afgan alasannya menemui Regata.
Afgan yang melihat gelagapannya langsung tersenyum sinis, " Tidak bisa menjawab bukan? Jadi lebih baik- "
Cup.
Dengan cepat Agnes menarik kerah baju Afgan supaya pria itu menunduk sehingga Agnes bisa dengan mudah menyatukan bibir mereka.
Agnes memejamkan matanya dan mel*mat pelan bibir Afgan dengan penuh perasaan. Dan Afgan yang tadinya marah pun menjadi luluh sekerika. Dia ikut memejamkan mata dan hanyut menikmati penyatuan bibir mereka.
Cukup lama mereka berciuman, akhirnya Agnes melepaskan ciumannya dan menyentuh lembut kedua pipi Afgan dengan wajah mereka yang begitu sangat dekat.
" Dengarkan aku kak, dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan. Kau takut aku dan Regata akan bersama kembali bukan? Maka jawabannya adalah tidak mungkin. Karena aku sudah mempunyai keluargaku sendiri begitu pun dengan Regata. Kami tidak mungkin melakukan hal bodoh dengan berselingkuh dan menghancurkan keluarga kami masing-masing. Jadi, ku harap kau percaya padaku. " Ucap Agnes serius.
Cup.
Dengan langsung Afgan membungkan bibir Agnes dengan ci*mannya. Dia meraih tekuk belakang Agnes dan menekankannya supaya ci*man mereka lebih dalam.
Afgan melum*t dan memberikan gigitan kecil pada bibir atas dan bawah Agnes secara bergantain.
Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi berhasrat. Agnes mendesah kecil saat merasakan tangan Afgan yang sudah bermain liar di dadanya.
Tidak mau jika harus dilahap di dalam mobil oleh Afgan, dengan segera Agnes melepaskan cium*nnya dan mendorong dada Afgan supaya menjauh.
" Jangan di sini, ini masih siang dan di tempat umum. " Ucap Agnes sambil memalingkan wajahnya malu.
Afgan tersenyum gemas dan langsung menarik lengan Agnes sehingga istrinya itu menabrak dada bidang miliknya.
" Baiklah, aku akan mengizinkanmu pergi. Tapi... Dengan satu syarat, " Ucap Afgan sambil menyeringai.
" Sudah ku duga. " Batin Agnes.
Dengan terpaksa Agnes mendongak dan menatap Afgan.
" Apa? " Tanya Agnes malas.
" Nanti malam aku yang bermain dan- "
" Tidak! " Tolak Agnes memotong ucapan Afgan.
" Oh ya sudah. Kalau begitu kau juga tidak boleh bertemu- "
" Baiklah baiklah, kau boleh menengoknya lagi nanti malam, " Potong Agnes lagi mengalah.
Afgan tersenyum penuh kemenangan.
" Good choice! Jadi, nanti malam aku yang bermain dan 5 ronde. " Celetuk Afgan yang membuat kedua bola mata Agnes membulat sempurna.
" What!! Are you crazy? " Pekik Agnes.
" Oh come on! Kak, aku sedang hamil dan kata dokter juga kita tidak boleh sering melakukannya di usia kandunganku yang belum masuk satu bulan. " Protes Agnes kesal.
" Baiklah, 3 ronde saja. " Ucap Afgan mengalah.
" 1. " Protes Agnes.
" 10? " Tawar Afgan.
" 1. " Kekeh Agnes.
" 7? " Tawar Afgan pantang menyerah.
" 2 deal no comment kalo comment gak usah sekalian. " Putus Agnes bulat.
" Okay! " Jawab Afgan senang yang langsung menyalakan mobilnya menuju apartement Regata.
Agnes mendelik sinis ke arah Afgan.
" Menyesal aku melakukan saran dari Regata. Sekali di beri, kak Afgan selalu minta terus. Apalagi setiap ada kesempatan seperti ini, Huh sabarlah sayang. Setelah ini Bunda tidak akan membiarkan ayahmu menyempiti rumahmu kok, " Batin Agnes sambil mengelus perutnya yang masih datar.
_-_
Tbc!