
Mampir Juga ke Novel Baru Author Yang Berjudul 'Cold Women'
_____________________
Afgan tersenyum dan membenahi posisi tidur Agnes yang menurutnya kurang nyaman. Apalagi perjalanan yang akan mereka tempuh masihlah sangat panjang.
Ya, saat ini mereka sedang berada di dalam pesawat yang sudah terbang menuju Indonesia.
Saat memberitahu apa yang Agnes inginkan tadi, Afgan sedikit terkejut. Ingin membunuh? Mana bisa dia membiarkan Agnes membunuh orang! Bisa-bisa anaknya itu lahir dalam penjara.
Tapi dia jadi sedikit aneh. Kenapa anaknya itu selalu saja menginginkan yang aneh-aneh? Mulai dari makanan yang tidak bisa ia beli dengan mudah, ditambah permintaannya untuk membunuh ayahnya sendiri.
Dia jadi sedikit merinding, apa anaknya setelah besar nanti akan menjadi seorang psychopath yang haus akan darah? Ihh...Sungguh ngeri dengan hanya membayangkannya saja.
Agnes tertidur saat baru saja pewasat itu lepas landas. Dan saat itu Afgan sedang disibukkan dengan beberapa berkas yang di bawanya.
Saat merasakan ada benda berat yang menimpa bahunya, dengan segera Afgan menengok dan menemukan wajah cantik Agnes dengan mata yang sudah tertutup.
Karna kasihan jika kelamaan dengan posisi kepala Agnes yang bersandar pada bahunya itu akan membuat leher Agnes sakit, akhirnya Afgan pun beralih meletakkan kepala Agnes pada pahanya dengan perlahan.
Saat merasa Agnes sudah nyaman, barulah dia mengecup pelan dahi sang istri dan kembali sibuk pada berkas yang berada di tangannya.
Tanpa Afgan sadari, bola mata Agnes bergerak kesana kemari dengan gelisah. Padahal matanya masih tertutup rapat.
Keringat dingin dan ekspresi wajah yang tak menentu terdapat pada Agnes sekarang. Dia seperti sedang memimpikan sesuatu yang membuatnya gelisah dan terus bergumam kecil ' jangan pergi! '.
Saat kepalanya bergerak ke kanan ke kiri dengan tak karuan, barulah Afgan menyadarinya dan menemukan wajah pucat dengan keringat dingin yang terus turun membasahi kening Agnes.
" Agnes, agnes bangun! " Ucap Afgan khawatir sambil menepuk-nepuk pipi Agnes.
Afgan sesekali menyeka keringat Agnes dan mengusap kepalanya lembut.
" Agnes, agnes ada apa de-
" Tidak!! " Teriak Agnes yang tiba-tiba membuka matanya dan bangun dari atas paha Afgan.
" Agnes! " Panggil Afgan.
Agnes segera tersadar dan beralih menatap Afgan. Karna teriakannya yang cukup keras tadi, membuatnya menjadi pusat perhatian para penumpang lain saat ini.
Tapi Agnes tidak peduli! Dia malah naik ke atas pangkuan Afgan dan berhambur memeluk suaminya erat.
Afgan yang bingung menjadi kaget dengan apa yang Agnes lakukan. Tapi dia berusaha sesantai mungkin dan membalas pelukan sang istri dengan mengusap-usap lembut rambut belakangnya.
" Hei, tenanglah! Ada apa hem? Apa kau bermimpi buruk? " Tanya Afgan lembut.
Agnes menggeleng pelan dan lebih mengeratkan pelukannya pada Afgan. Dia bahkan sudah menyembunyikan wajahnya di leher belakang suaminya.
Afgan menegang. Dia bisa merasakan nafas hangat Agnes yang menerpa tengkuknya.
Apalagi dengan posisi mereka saat ini, dengan Agnes yang berada dalam pangkuannya dan menempelkan erat tubuhnya pada tubuh Afgan sungguh membuat Afgan hampir gila!
Karna tidak mau lepas kontrol, akhirnya Afgan pun berusaha mendorong pelan pinggang Agnes agar sedikit melonggarkan pelukannya atau bahkan melepaskannya. Karna posisi mereka saat ini sangatlah berbahaya saat sedang berada dalam pesawat.
Tapi Agnes malah semakin mengencangkan pelukannya pada leher Afgan.
" Hei, perbaiki tempat dudukmu! Sudah turun Agnes, apa kau lupa kita ini sedang dalam pesawat hah? "Ucap Afgan kesal.
" Tidak mau! "
" Oh Agnes ayolah! " Ucap Afgan yang mulai frustasi. " Apa kau tahu, dengan posisi kita yang seperti ini kau sudah membangunkan si junior! " Bisik Afgan tepat di telinga Agnes.
Agnes yang tadinya memeluk Afgan erat sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap Afgan bingung. Yang tentunya tanpa melepaskan kedua tangannya yang masih melingkar di leher pria itu.
" Maksudmu si junior itu apa? Anak kita? Mana mungkin dia akan bangun jika aku hanya memeluk ayahnya saja. Kau ini ada-ada saja! " Jawab Agnes Kesal sambil memutar bola matanya malas.
Afgan jadi gemas mendengar jawaban Agnes. Dengan segera pria itu menarik pinggang Agnes sehingga istrinya kembali menempel pada tubuhnya.
Nafas Afgan yang hangat menerpa wajah cantik Agnes yang letaknya hanya beberapa centi dari wajahnya.
Agnes bahkan menahan nafas saat melihat wajah tampan suaminya yang berada dekat dengan wajahnya.
Jantungnya berdetak tidak karuan saat manik matanya menatap manik mata tajam milik suaminya itu.
Afgan tersenyum melihat wajah Agnes yang sedikit agak memerah akibat ulahnya. Dia pun lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Agnes yang membuat wanita itu memejamkan matanya seketika.
" Yang bangun itu bukan junior kita, tapi junior ku! Kau tahu bukan junior ku, dia yang sudah membuat junior kita ada. " Bisik Afgan dengan nada sensual.
Agnes sedikit merinding mendengar ucapan Afgan. Apalagi pria itu meniup telinganya setelah berbicara.
Dengan segera Agnes melepaskan kedua tangannya dari leher Afgan dan beralih turun dari atas pangkuan suaminya.
Dia membenahi posisi duduknya dan kembali memasang pengaman yang sempat di lepaskannya tadi.
" Dasar mesum! " Maki Agnes sambil menepuk pundak Afgan.
Agnes menarik lengan Afgan supaya bergeser mendekat dan dengan segera Agnes pun menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Afgan.
Afgan hanya cekikikan mendengar makian Agnes. Dia bahkan tidak keberatan dengan lengannya yang kini sudah di jadikan bahan sandaran sang istri.
Dia justru bahagia dan mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap lembut kepala Agnes.
Agnes diam-diam tersenyum saat merasakan sentuhan lembut tangan Afgan di kepalanya. Dia pun kembali menutup kedua matanya sambil berbicara dalam hati:
" Bunda, aku akan menjadi istri yang baik seperti yang bunda katakan padaku. Meskipun aku belum mencintainya, tapi aku akan berusaha menerimanya sebagai suamiku. Dan aku juga akan memberikan haknya jika dia memintanya nanti. "
**
Night pOv! Di tempat lain..
" Rere sudah! " Ucap Veyna dengan nafas yang terengah-engah sambil menepuk-nepuk punggung suaminya.
" Sebentar lagi honey. " Balas Regata yang terus saja melanjutkan aksinya.
" Rere aku le-lah, Oh my! Ah- Regata!! " Pekik Veyna yang sudah mengeluarkan sesuatu.
Regata mengatur nafasnya dengan senyuman yang mengembang menghiasi bibirnya ketika melihat wajah kelehanan istrinya.
Regata menunduk dan mencium kening Veyna yang membuat wanita itu memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat bibir Regata di keningnya.
" Terima kasih. " Ucap Regata setelah melepaskan ciumannya dan menatap Veyna lekat.
Veyna tersenyum dengan sebelah tangan yang terangkat mengelus pipi dan rahang suaminya.
" Sama-sama, ini memang sudah tugas ku dan hak mu sebagai suamiku. " Balas Veyna sambil tersenyum manis.
" Oh, jangan tersenyum semanis itu honey! Jika tidak mau aku membuatmu bergadang semalaman. " Goda Regata sambil menggigit bibir bawahnya nakal.
Veyna terkikik geli dan kembali memukul punggung suaminya.
" Mesum, mesum gini kamu suka kan? " Goda Regata lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Veyna seketika memerah akibat ucapan suaminya yang selalu mesum itu.
" Ciee blus-
" Udah ah turun sana! " Potong Veyna sambil mendorong dada Regata.
" Enggak mau. Satu kali lagi yah! " Pinta Regata sambil tersenyum tampan.
" Gak ada! Aku cape re, nanti besok aja ah. " Balas Veyna sambil terus mendorong dada Regata.
" Oke oke! "
Karna kasihan melihat wajah kelelahan istrinya, akhirnya Regata pun bangkit dan berbaring di samping Veyna sambil memeluk istrinya erat.
Veyna balas memeluk Regata dengan sebelah tangan yang sibuk bermain di dada bidang suaminya yang super menggiurkan itu.
Seketika Veyna menghentikan aksinya dan mendongak menatap Regata yang sudah memejamkan kedua matanya dengan tangan nakal suaminya yang terus mengusap punggung polosnya.
" Re! " Panggil Veyna.
" Eum. " Balas Regata tanpa membuka matanya.
" Apa, apa perempuan yang bernama Agnes itu tidak menghubungimu lagi? " Tanya Veyna hati-hati.
Seketika Regata membuka matanya dan menatap Veyna. Veyna yang merasa jika Regata marah karna ucapannya pun langsung kembali menundukkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Regata.
" Hey kenapa kau menunduk? Apa kau tidak mau mendengar jawaban ku? " Tanya Regata sambil mengangkat dagu Veyna.
" Bukan begitu, aku hanya takut jika kau marah padaku karna menanyakan wanita itu. " Balas Veyna yang sudah menatap Regata.
" Untuk apa aku marah, kau ini ada-ada saja! " Ucap Regata sambil menyentil pelan kening Veyna.
" Ih, sakit! " Rengek Veyna sambil mengelus-elus keningnya.
" Haha.. maaf maaf." Ucap Regata sambil menghujani ciuman di kening Veyna.
" Ih, udah ih! " Ucap Veyna kesal.
Regata kembali tertawa dan mencubit sebelah pipi Veyna gemas. Kemudian pria itu kembali memeluk istrinya erat.
" Aku tadi sempat menghubungi Agnes. Aku bilang aku, kau dan Afra akan mengunjunginya ke rumah suaminya. " Ucap Regata.
" Suami? " Tanya Veyna bingung.
" Ya, Agnes sudah menikah. Dia menikah dengan Ceo perusahaan terbesar di Indonesia. " Balas Regata. " Kau tahu kan Af Comopany? " Tanya Regata.
" Ya, aku tahu. Yang direktur utamanya itu Mr. Ryan Afriansyah bukan? " Tanya balik Veyna.
" Heum, Tuan Ryan adalah Ayah dari suami Agnes. Namanya Afgan. " Balas Regata.
" Tapi sayangnya kita tidak bisa mengunjungi Agnes untuk sekarang, karna saat ini Agnes sudah tidak ada lagi di Amerika. " Lanjutnya.
" Afgan? Wah.. Ceo muda dan tampan itu yah? Ha.. beruntungnya jadi Agnes! " Pekik Veyna.
" Apa kau bilang? " Geram Regata.
" Hehe.. Bukan apa-apa. Suamiku tetap yang tertampan kok." Ralat Veyna sambil mengelus-elus dada Regata manja.
" Jelaslah! " Bangga Regata.
" Cih, dasar narsis! " Batin Veyna.
" Tapi kenapa Agnes meninggalkan Amerika? kemana dia pergi? " Tanya Veyna.
" Dia pergi ke Indonesia bersama Afgan. Dia dan Afgan pergi untuk menemui keluarga Afgan yang semuanya berada di Indonesia. " Jawab Regata.
" Oh! "
" Eum, ngomong-ngomong. Kenapa kau tidak jadi menikah dengan Agnes? " Tanya Veyna tiba-tiba
" Ada suatu alasan yang tidak bisa aku katakan pada siapapun, termasuk dirimu. Tapi yang jelas, Agnes lebih memilih Afgan dan menyadarkanku jika perbuatanku dengan meninggalkanmu dan anak kita itu salah. " Jawab Regata.
" Maksudmu, kau kembali padaku karna Agnes? " Tanya Veyna memastikan.
" Heum, dia menceramahi ku panjang lebar. Dan dia juga mengatakan jika aku tidak kembali pada kalian secepatnya, mungkin setelah anakku dewasa nanti aku akan melihat kebencian di matanya untukku. "
Veyna hanya mengangguk dan kembali memeluk suaminya dengan pikiran yang di penuhi oleh Agnes.
" Agnes, jadi kau yang membuat suamiku kembali padaku. Tapi kenapa ucapanmu saat itu membuatku berpikir kalau kau wanita jahat? Aku sangat ingin bertemu dan berbicara padamu untuk mencari jawaban dari semua pertanyaanku. Semoga saja suatu hari nanti kita bisa bertemu, Agnes. " Batin Veyna
" Rere, jika Agnes ikut suaminya ke Indonesia, lalu apakah mereka akan kembali ke Amerika? Keluarga Agnes kan di sini semua. " Tanya Veyna.
" Entahlah! Tapi sepertinya Agnes akan lumayan lama di sana. Karna katanya dia ngidam makanan Indonesia. " Balas Regata keceplosan.
" Ngidam!! " Pekik Veyna. " Jadi Agnes sedang hamil? " Tanya Veyna.
" Eum itu, i-iya. Dia sedang hamil anak Afgan. " Balas Regata.
" Masa udah hamil lagi sih, emang kapan nikahnya? "
" Udah lama kok, tapi ya..Mereka tidak mengungkapkannya ke publik saja. " Alibi Regata.
" Oh. " Ucap Veyna sambil mengangguk mengerti.
" Re, bagaimana kalo kita susul aja mereka ke Indonesia? Asal kamu kan di sana, aku dan Afra juga belum pernah loh ke Indonesia. " Lanjutnya sambil menatap Regata penuh harap.
Regata diam sejenak. Kemudian dia mengelus kepala Veyna dengan sayang sambil berkata:
" Baiklah! "
" Yey!! "
_-_
Tbc!
Ngiklan Dulu Guys!!
___
'Cold Woman', Menceritakan tentang gadis dingin yang tidak suka berinteraksi dengan orang lain bahkan dengan keluarganya sendiri pun dia menjaga jarak.
Suatu hari dia masuk ke dalam sekolah yang sama seperti kembarannya, dan bertemulah dia dengan sosok laki-laki popular yang agak sedikit bad boy dan terus saja mengganggu ketenangannya.
Kisah cinta antara si bad boy anak broken home dengan si Cold Woman pun dimulai di sekolahan itu!