Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Suamiku



" A-apa? " Ucap Agnes yang seketika melemah.


Afgan tersenyum sinis.


" Kenapa? Tidak bisa? " Tanya Afgan yang serasa menyudutkan bagi Agnes.


" Huh, sudah aku duga. Kau tidak mungkin membiarkanku melakukannya, kau hanya- "


" Lakukan! " Ucap Agnes tanpa melihat Afgan.


" A-apa? " Ucap Afgan kaget.


Seketika Agnes mengangkat kepalanya, dia menatap Afgan lekat sambil mengangguk kecil dan berkata:


" Lakukan! Kau menginginkannya bukan, maka lakukan! " Titah Agnes sambil merentangkan tangannya bermaksud untuk menyambut serangan Afgan.


Afgan yang masih merasa emosi langsung saja mendekat dan menerkam Agnes yang berada di atas ranjang.


Dia mencium bibir istrinya dengan rakus, sebelah tangannya memegang kepala Agnes dan sebelahnya lagi memegang wajah Agnes.


Agnes hanya bisa memejamkan mata dan menerima serangan Afgan dengan diam. Dia tidak melawan atau pun membalasnya.


Yang mana membuat Afgan kesal dan menghentikan aksinya.


Dia mengangkat kepalanya menatap Agnes dengan deru nafas berat. Kemudian Afgan mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap sisa salivanya yang masih menempel di bibir tipis Agnes.


" Kau menyuruhku untuk melakukannya bukan? Lalu kenapa kau tidak turut serta dalam permainannya? " Ucap Afgan sambil menatap Agnes lekat.


Agnes balik menatap Afgan dengan nafas yang memburu. Bibirnya sedikit terbuka yang mana membuat Afgan kembali bernafsu dan kembali menyerang Agnes.


Tapi sebelum itu, dia sempat berkata:


" Balas ciumanku jika kau memang mengizinkanku! "


Cup.


Afgan kembali mencium Agnes dengan rakus. Dengan ragu, Agnes membalas ciuman suaminya dan mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Afgan.


Afgan yang merasakan Agnes membalas ciumannya pun menyeringai kecil dan kembali melanjutkan aksinya yang semakin lama semakin memanas.


**


Sementara di kediaman Regata.


" Dady, when aunty beautifull come? " Tanya Afra pada sang ayah yang sedang terduduk dengan ibunya.


" Sebentar lagi boy! Aunty bilang dia akan langsung ke sini untuk menemuimu. " Balas Regata yang sibuk memainkan rambut Veyna tanpa melihat putranya.


Afra yang tadinya ceria menjadi cemberut sambil menundukkan kepalanya karna merasa tidak di pedulikan oleh sang ayah.


Veyna yang melihat perubahan raut wajah putranya langsung saja menarik rambutnya yang sedang asik Regata mainkan.


" Sayang- "


Regata tidak melanjutkan protesnya saat Veyna melirik putranya dengan sudut matanya.


Regata tersenyum, kemudian dia mendatangi putra tampannya dan berjongkok di sana.


" Hei boy, why? "


" Dady jahat! Hiks..Afra ben- "


" Uuu..I'm sorry boy, i'm sorry! " Potong Regata sambil mengangkat putranya.


" Kau tidak marah bukan? " Tanya Regata pada Afra yang sudah berada dalam gendongannya.


" Afra mau aunty cantik. " Balas Afra tanpa melihat Regata.


" Tidak bisa boy. " Balas Regata yang membuat putranya menatapnya seketika.


" Why? " Tanya Afra di sertai ekspresi sedihnya.


" Karna aunty cantik sudah punya suami. " Balas Regata.


" Suami? Apa itu suami? " Tanya Afra polos.


" Suami itu- " Regata berfikir sejenak.


Apa itu suami? Tentu saja Regata tahu. Tapi bagaimana cara menjelaskannya?


Veyna tersenyum saat melihat wajah bingung suaminya. Dengan segera dia bangkit dan merebut Afra dari pangkuan Regata.


" Afra sayang, suami itu adalah pria yang akan menjaga seorang wanita selamanya. Dia akan hidup dan bahagia bersama wanita pilihannya sampai maut memisahkan mereka. " Jelas Veyna sambil mendudukkan Arfa di pangkuannya.


" Oh, jadi aunty cantik juga sudah ada pria yang akan menjaganya selamanya ya. " Ucap Afra.


" Iya sayang. Dan karena sekarang aunty sedang hamil, suaminya itu akan melarang aunty untuk bepergian. Jadi Afra jangan murung jika aunty tidak datang hari ini, okay? " Bujuk Regata yang merasa Agnes tidak akan datang.


" Oh, begitu ya. " Ucap Afra mengerti sambil mengangguk.


Regata dan Veyna saling lirik.


Melihat ayah dan ibunya yang saling lirik membuat Afra menangis seketika.


" Huaa..Afra tidak punya wanita yang harus di jaga, huaa...!! " Tangis Afra semakin menjadi


Veyna yang panik hanya bisa mengelus-elus punggung putranya supaya berhenti menangis. Tapi itu tidaklah berhasil, Afra malah semakin meronta-ronta dengan air mata yang turun sangat deras.


Regata berfikir keras, tidak mau ambil pusing karna mengingat putranya yang masih kecil akhirnya Regata pun berkata:


" Sayang, nanti setelah besar juga Afra akan menjaga seorang wanita yang akan menyebut Afra suamiku. " Ucap Regata yang sudah kehabisan kata-kata.


" Benarkah? " Tanya Afra sambil menghapus air matanya.


" Iya. "


" Kalau begitu Afra akan menyuruh baby aunty beautifull supaya memanggil Afra suamiku. " Celetuk Afra yang membuat kedua mata Regata dan Veyna membulat.


" Afra, tapi babynya aunty belum lahir. Kita juga belum tahu itu laki-laki atau perempuan sayang, jadi jangan bicara begitu. Okay! " Ucap Veyna sambil mengusap sisa air mata di pipi tembem putranya.


" Afra tahu kok mom. Dia itu perempuan, dan Afra akan menjadikan dia istri Afra kelak! " Balas Afra penuh keyakinan.


" I-iya oke lah oke lah! " Ucap Regata yang sudah tidak ingin berdebat dengan putra putranya lagi.


" Tapi Re- "


" Hei sudahlah! Siapa tahu yang di katakan Afra itu memang benar. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan bukan? " Potong Regata pada istinya yang hendak protes.


Veyna hanya bisa menghela nafas pelan, kemudian dia mengangguk ketika putranya menatapnya dengan penuh harap.


" Yey!! Baby akan memanggil Afra suamiku!! " Girang Afra sambil turun dari pangkuan ibunya dan melompat kesana-kemari.


Veyna dan Regata hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol putranya.


" Re, bagaimana jika baby Agnes itu laki-laki, apa Afra akan tetap menyuruhnya memanggil suamiku? "


" Ya tidak apa, kan keren. Yang lain panggil bro, ini suamiku. Langka bukan? "


**


Back to Agnes.


Afgan menghentikan aksinya saat merasakan tubuh Agnes yang bergemetar. Pakaian mereka masih utuh, dan Afgan hanya menyentuh Agnes sebatas leher saja.


Saat Afgan membuka satu persatu kancing baju yang Agnes pakai, tubuh istrinya itu sudah bergemetar.


Afgan mengangkat kepalanya dan menatap Agnes yang sedang memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawah seperti sedang melawan ketakutannya.


Afgan mengusap wajahnya kasar. Mungkin memang tidak seharusnya dia melakukan ini pada Agnes.


Dia percaya dengan Agnes yang berusaha mencintainya dan tidak lagi mencintai Regata. Tapi bukan berarti Afgan juga harus menyentuhnya untuk membuktikan ucapan Agnes bukan?


Afgan menarik nafasnya panjang dan menjatuhkan dirinya di samping Agnes. Dia menarik tubuh terlentang Agnes menjadi miring ke hadapannya.


Cup.


Afgan mengecup mesra kening Agnes.


" Aku tidak akan memaksamu. Aku tahu kau belum siap untuk itu, jadi aku memberimu waktu untuk mempersiapkan diri. " Ucap Afgan yang langsung bangkit dari atas ranjang.


Saat mendengar penuntunan dari Afgan, dengan segera Agnes membuka matanya dan memeluk Afgan yang yang sudah berdiri dari belakang.


" Maaf. Kau bisa melakukannya, aku akan berusaha mengatasi ketakutanku. " Ucap Agnes sambil membenamkan wajahnya pada punggung Afgan.


Afgan tersenyum simpul mendengar ucapan Agnes.


Dia melepaskan tangan Agnes yang melingkar di pinggangnya kemudian berbalik meraup kedua pipi Agnes di tangannya.


" Dengar, aku tahu kau membutuhkan waktu untuk itu, dan aku berbaik hati dengan melepaskanmu kali ini. Ingat, jangan membuatku marah! Karna aku bisa melakukan hal gila seperti tadi jika sedang marah. " Ucap Afgan sambil tersenyum tampan.


Agnes menatap Afgan, kemudian dengan patuh dia pun mengangguk.


" Tapi kau perca- "


" Aku percaya padamu. Aku percaya dengan kau yang sudah tidak kencintai tunanganmu dan berusaha membuka hatimu untukku. " Potong Afgan yang membuat senyuman merekah di bibir Agnes.


Bugh.


" Makasih. " Ucap Agnes sambil memeluk Afgan erat.


Afgan tersenyum dan balik memeluk Agnes erat. Dia mendekap Agnes dengan mencium pucuk kepalanya berulang kali.


_-_


Tbc!