Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Jujur



Regata memeluk Veyna dengan erat.Istrinya itu dari semalam tidak tidur dan terus menangis melihat keadaan putranya.Dia tahu,istrinya itu sangat terpukul dengan keadaan anaknya yang berbaring lemah tak sadarkan diri.


Veyna menangis sejadi-jadi di pelukan Regata.Sesekali perempuan itu memukul dada Regata dan memaki pria itu karna Regatalah putranya menjadi seperti sekarang ini.


"Hiks..Kau jahat! Lebih baik kau pergi baj*ngan! dan jangan kembali jika ujung-ujungnya akan menyakiti putraku.Hiks.." Ucap Veyna lirih sambil memukul Regata.


"Stt..Maafkan aku.Aku tahu aku salah,dan aku akan memperbaiki hubungan kita dengan cara membawamu dan anak kita bersamaku!" Ucap Regata pasti.


"Hiks..tidak,tidak akan! Aku tidak sudi ikut denganmu karna aku-


Veyna membelalak saat bibirnya di bungkam oleh ciuman lembut Regata.Mata Veyna menatap kedua mata Regata yang terpejam menikmati ciuman lembut yang pria itu berikan.Veyna berusaha tenang dan memejamkan matanya ikut menikmati permainan Regata.


Saat sudah merasa Veyna tenang dan kehabisan nafas,Regata pun melepaskan ciumannya dan menatap Veyna yang berada dalam pelukannya dalam-dalam.


"Dengarkan aku! Izinikan aku menebus segala kesalahanku dengan cara memperlakukanmu dan anak kita seperti semestinya.Aku tahu aku salah,aku juga sudah mendapatkan karma yang menyakitkan.Jadi aku mohon,bantu aku dalam menebus dosaku ini." Ucap Regata sambil membelai lembut wajah Veyna.


Veyna memejamkan matanya menikmati belaian lembut jari-jari Regata pada wajahnya.Jujur saja,dia memang sudah mencintai Regata sebelum menandatangani surat kontrak yang menyanyat hatinya.


Dia memang bahagia Regata sadar dan kembali pada dia dan putranya yang sudah Regata campakkan.Tapi dalam hati kecilnya,Veyna masih enggan memaafkan Regata jika bukan karna putranya yang membutuhkan seorang Ayah.


"Jadi,maukah kau menjadi istriku yang akan menemaniku disisa hidupku?dan membesarkan anak-anak kita nantinya?"


Airmata Veyna tak dapat terbendung lagi,dia kembali memeluk Regata erat dengan airmata yang mengalir deras membasahi pipi mulusnya.


"Hiks..aku mau!" Jawabnya tanpa ragu.


Regata tersenyum senang dan membalas pelukan Veyna tak kalah eratnya.Dia terus mencium pucuk kepala sang istri tanpa henti.Dalam hatinya,dia sangat bersyukur karna dipertemukan kembali dengan Veyna yang tentunya atas berkat Agnes.


Jika di suruh memilih antara Veyna dan Agnes? maka maaf,Regata tidak mungkin bisa memilih diantara keduanya.Karna baginya,Veyna dan Agnes adalah dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Veyna adalah sosok wanita yang telah melahirkan anaknya bahkan dengan sabar mengurusnya sendirian tanpa dirinya yang berada di sisi wanita itu.Dan kesabarannya itu merupakan nilai plus bagi Regata.Dan mulai sekarang di berjanji,apapun yang terjadi dia akan selalu menjaga keluarga kecilnya.


Sedangkan Agnes? memang tidak mudah menyingirkan wanita itu dari hatinya.Tapi sebisa mungkin dia akan berusaha membuang hatinya mengingat dia sudah mempunyai tanggung jawab sendiri begitu pun dengan Agnes.Jadi hubungan dengan Agnes,takkan lebih dari teman dekat dan Regata akan melindungi Agnes layaknya saudara.


Regata memejamkan matanya dengan bibir yang sudah ia tempelkan pada kening istrinya.Begitu pun sebaliknya,Veyna memegang kedua tangan Regata yang menyentuh kedua pipinya dengan mata terpejam menikmati hangatnya ciuman yang Regata berikan pada dahinya.


Airmata Veyna kembali menetes.Dia tak menyangka,jika pada akhirnya Regata akan kembali padanya dan menerima dirinya beserta putranya.Ini bagaikan mimpi di siang bolong bagi Veyna,bagaimana mungkin seorang Revix Regata Saputra yang arrogant itu bisa selembut ini?Apa Regata bersikap baik hanya untuk mengambil anaknya?


Jika iya,dia tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi! Regata boleh bersama wanita lain,tapi tidak dengan mengambil anak yang sudah ia besarkan selama 2 tahun dengan susah payah.


Tapi melihat dari sorot matanya,sepertinya Regata sungguh tulus meminta maaf.Dan semoga pikirannya tadi tidak sampai terjadi.


Jika terjadi,maka dia akan pergi sangat jauh sampai pria itu tidak bisa menjumpainya. Apalagi mengambil anaknya.


Sementara Regata,hatinya sudah sangat lega karna Veyna sudah memaafkannya.Sekarang hanya ada satu tahap lagi menuju keluarga bahagia,yaitu putranya!


"Maafkan aku karna telah menyia-nyaiakanmu.Aku bersumpah atas hidupku sendiri,tidak akan ada lagi kata perpisahan seperti yang selalu aku ucapkan padamu saat kita berada di Milan."Batin Regata.


**


Agnes terbangun saat merasakan perutnya tertimpa beban berat.Dia berbalik dan menemukan wajah tampan Afgan yang sedang tertidur pulas sambil memeluknya.


Ya,Agnes tidur satu ranjang dengan suaminya.Eum..ini terdengar sedikit aneh tapi,,memang inilah kenyataannya! Agnes meminta Afgan memeluknya karna semalam ia berada terlalu lama di dalam kamar mandi.Sehingga Agnes menggigil dan meminta Afgan memeluknya dalam keadaan setengah sadar.


Afgan? Tentu saja pria itu mengabulkannya dengan senang hati.Bahkan tangan nakalnya terus saja menyusup masuk ke balik baju Agnes dan mengusap lembut perut datar sang istri yang di dalamnya sedang tumbuh Afgan atau Agnes junior.


Tanpa sadar sebelah tangan Agnes terangkat dan entah dimana pikiran warasanya sehingga wanita itu malah mengusap rahang Afgan.Agnes menelusuri setiap sudut wajah tampan suaminya itu.Mulai dari rahang,naik ke bibir,hidung,mata,semuanya tak lepas dari sentuhan jari-jari lentik miliknya.


Tidur Afgan terganggu ketika merasakan belaian lembut di wajahnya.Dengan sigap dia menangkap tangan Agnes yang tentunya membuat Agnes terperanjak jaget dan malu akan apa yang dia lakukan barusan.


"Damn,apa yang aku lakukan?" Gumam Agnes.


Afgan yang masih menutup mata hanya tersenyum tipis mendengar gumaman Agnes.


Dia membuka matanya dan pandangannya pun beradu dengan kedua mata cantik milik Agnes.Agnes yang tidak biasa di pandang sedekat ini oleh pria hanya bisa membuang pandangannya.Enggan menatap tatapan tajam milik Afgan


Sementara Afgan,pria itu tidak mengalihkan pandangannya dari Agnes sama sekali.Dia nampak begitu menikmati wajah cantik alami Agnes saat bangun tidur yang bahkan tanpa polesan makeUp sedikit pun.


Agnes menatap Afgan sekilas.Pria itu masih saja menatapnya,dan itu membuatnya sungguh risih.


Agnes menarik tangannya yang di genggam oleh Afgan.Tapi saat Agnes berusaha menariknya,Afgan justru lebih mengeratkannya.Dan itu membuatnya kesal bukan main.


"Hei lepaskan tanganku!"


"Tidak."


"Kau-


"Apa kau sudah puas menikmati wajahku,hem?" Potong Afgan sambil menggoda Agnes.


Pipi Agnes memerah dan dia mengalihkan pandangannya dari Afgan karna malu. "A-apa yang ka-kau katakan? Tidak seperti itu!" Elaknya.


"Benarkah? bukankah kau menyentuh rahangku,hidungku,bahkan kau juga menyentuh bi-


Afgan tersenyum jahil. "Reflex yah? Kalau begitu,ayo ulangi! Aku ingin tahu apa gerakan reflek itu bisa diulang kembali atau tidak,karna kau sangat lama refleknya saat menelusuri setiap sudut wajahku tadi." Godanya sambil memajukan wajahnya yang membuat Agnes memundurkan kepalanya seketika.


"A-apa yang kau lakukan?" Pekik Agnes.


"Ayo ulangi,ulangi gerakan reflekmu itu aku-


"Oh God hentikan! Baiklah baiklah aku salah,maafkan aku.Oke fiks selesai bye." Ucap Agnes dan hendak bangkit dari tidurnya tapi tertahan dengan Afgan yang sudah berada di atas tubuhnya.


"Hei..!"


"Tidak semudah itu cantik,karna wajahku ini mahal.Maka dari itu,kau harus membayarnya." Ucap Afgan menyeringai.


"Gila,dia lebih seram dari Regata!" Batin Agnes bergidik ngeri melihat seringaian Afgan yang baru pertama kali ia lihat.


"Berapa yang kau minta?" Balas Agnes dingin.


"Aku tidak butuh uangmu,cukup kau memberikan Morning Kiss saja pada bagian-bagian yang kau sentuh tadi." Otak licik Afgan pun sudah bekerja.


"Apa!!" Pekik Agnes dengan mata membulat.


"Kau gila,mana ada bayaran yang seperti itu.Dasar kau pria licik! Enyahlah kau dari hadapanku." Ucap Agnes kesal.


"Oh yah?" Balas Afgan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Agnes yang berada di bawahnya.


"Hei...hei..hei,apa yang kau lakukan? Jangan berani-berani yah! kalau tidak-


"Kalau tidak?" Potong Afgan.


"Kalau tidak aku akan-


"Akan apa?" Potong Afgan lagi.


"Kalau tidak aku akan membunuhmu!" Bentak Agnes.


"Ffft..Hahahaha..!!"


Afgan bangkit dari atas tubuh Agnes dan terduduk di atas ranjang.Dia tertawa terbahak-bahak bahkan sekarang perutnya sakit saking enaknya tertawa.


Agnes? Membunuh orang? Sungguh lelucon yang lucu! Haha..


Agnes menatap Afgan kesal.Kenapa pria itu tertawa?Apa dia tidak percaya kalau dia bisa membunuh pria itu jika dia berani macam-macam padanya?


"Hei kenapa kau tertawa?"


"Haha..sungguh lucu,kau akan membunuhku? apa kau berani membunuh orang?Haha..sungguh lucu." Ejek Afgan.


"Sialan.Kau tidak tahu siapa aku,makanya kau bisa mengejekku seperti ini! "Ucap Agnes sambil membuang mukanya kesal.


"Memangnya siapa kau?" Tanya Afgan serius sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Agnes yang sudah terduduk di sampingnya.


Agnes menatap Afgan.Mungkin memang ini saatnya dia memberitahukan siapa dirinya pada Afgan.Karna mau bagaimana pun,dengan Afgan yang sudah menjadi suaminya,cepat atau lambat hal ini akan terbongkar juga dengan sendirinya.


Daripada Afgan mengetahuinya dari orang lain,lebih baik dia saja yang memberitahunya sekarang.


Agnes menatap Afgan dalam.Dalam satu kali tarikan nafas,dia pun berkata:


"I'm A Queen Of Mafia World!"


_-_


**Tbc!


Agnes Clallistiana Anfilex**



**Afgan Afriansyah



Revix Regata Saputra



Veyna Stant



**