
Keesokan harinya..⛅
Agnes mengeliat pelan,hal pertama yang dapat ia lihat adalah cahaya matahari yang berusaha masuk kedalam kamarnya.Ralat,kamar Rexi.
Teringat akan Rexi,Agnespun berbalik dan menemukan sang kakak yang masih tertidur dengan sebalah tangan yang memeluk pinggangnya.
Agnes tersenyum.Perlahan dia mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh wajah damai Rexi saat tidur.
Agnes menggerakkan tangannya menyentuh pipi,jidat,dan berakhir dengan menekan-nekan hidung Rexi.Bahkan sesekali wanita itu menarik hidung mancung sang kakak.
Agnes tertawa tanpa suara melihat raut wajah Rexi yang seketika menegang dan panik akibat kehabisan nafas karna hidungnya Agnes jepit.
"Haha,,lucu banget kakak gue yang satu ini.Eh,kalo di liat-liat gantengan kak Rexi yah daripada bang Kevin.Haha,,bisa jadi alat buat gue kerjain bang Kevin nih kalo kakk gue seganteng ini.Ya,kerjain melalui si fani,haha..!"Batin Agnes
Saat Agnes tengah asik dengan pemikirannya,tiba-tiba Rexi membuka kedua matanya lebar-lebar dan menangkap tangan nakal Agnes yang tengah asik pada hidungnya.
Sontak saja hal itu membuat Agnes terperanjak kaget atas bangunnya Rexi yang tanpa aba-aba.
Tak lama,diapun cengengesan saat melihat Rexi yang tengah menatapnya tajam.
"Hehe..Sorry kak,abisnya kakak lucu banget si kalo tidur."Ujar Agnes sambil cengengesan.
Rexi hanya mendengus malas dan balik menyerang hidung Agnes.
"Aaa..udah kak udah ia ampun ampun!"Ucap Agnes kehabisan nafas.
"Rasain nih!"Ucap Rexi sambil melepaskan tangannya dari hidung Agnes."Siapa suruh pagi-pagi gini udah cari masalah sama kakak."Lanjutnya.
"Hehe..udah iya ampun-ampun!"Ujar Agnes.
Rexi tersenyum dan mengacak rambut Agnes.Kemudian pria itu bangkit dari tidurnya.
"Udah sekarang kamu lebih baik bersiap,aku akan mengantarmu ke Apartement pria Asia itu."Titahnya.
"5 minutes again yes,aku masih ngantuk lah!"Rengek Agnes dan beralih menarik kembali selimutnya dan tertidur membelakangi Rexi.
"Sebelum aku berubah pikiran,Agnes."
Seketika Agnes melompat dan ngacir dari kamar Rexi menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Rexi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah adiknya itu.
Kemudiam iapun berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.
**
"Afgan..!!!!"
Teriakan cetar membahana milik Jannie yang membuat penghuni seisi Apartement itu keluar dengan tangan yang menutup telinganya.
"Apasi tan,pagi-pagi gini udah ganggu tidur cantiknya Fani aja.Mana si kak Kevin lagi belum ngabarin apa-apa dari kemarin,kesel kan jadinya.Tante si mau minggat main gusur-gusur Fani aja,yu ah kita balik lagi aja ke Indonesia!Fani kangenlah sama kak Kevin."Cerocos Fani dengan muka suramnya sambil berjalan dengan malas menuju meja makan.Tempat keberadaan sang tante alias Jennie
"Yey,dasar bucin!Baru pisah beberapa hari aja udah rindu-rinduan gitu,cih alay!"Ejek Jennie pada keponakan cantiknya.
Fani mendelik malas."Orang udah berumur kaya tante mana faham yang namanya cinta anak muda."Gerutu Fani sambil mambalikkan piringnya kasar dan beralih mangisinya.
"Apa kamu bilang,orang berumur?Jadi maksud kamu tante udah tua gitu?"Ucap Jennie yang seketika naik pitam karna masih bisa mendengar ucapan Fani walau gadis itu berucap dengan suara pelan.
"Kamu!"Ucap Jennie geram."Awas aja ya Fani,kamu gak bakalan dapet restu dari tante kalo mau nikah sama Ke-
"Apaan si bun,pagi-pagi udah ribut."Ucap Afgan yang baru saja datang.Diekori dengan Alvin dibelakangnya.
"Iya nih tante.Mana pake acara teriak-teriak segala lagi,sakitkan kuping Alvin."Cerocos Alvin yang kini sudah terduduk di samping Afgan yang memang sudah terduduk terlebih dahulu sampai di meja makan.
"Eh,anak bunda udah dateng.Enggak kok gak ada apa-apa.Ayo sarapan!"Ucap Jennie senyam-senyum gak jelas yang membuat Fani mendelik malas.
Afgan hanya diam sambil mengisi piringnya yang kosong saja daripada harus meladeni ibunya yang sudah keliatan ada maunya itu.Begitupun dengan Alvin, yang sudah memakan makanannya dengan santai.
Merekapun sarapan bersama dengan santai tanpa gangguan.
Setelah semuanya selesai makan,Jennie terlihat ingin membicarakan sesuatu pada Afgan.Tapi sepertinya bunda cantik itu agak ragu-ragu untuk membahasnya.Takut anak bungsunya itu menolak
Afgan yang melihat gerak-gerik bundanya hanyaa bisa menghela nafas panjang.Kemudian dia berucap:
"Bunda kalo mau ngomong,ngomong aja sekarang!Waktu Afgan gak banyak!"Ucap Afgan songong.
"Ih kamu,yaudah oke oke.Bunda gak mau bertele-tele yah,bunda cuma mau bilang-"Jennie menggantung ucapannya dan menghela nafas panjag.Kemudian di kembali berucap:
"Segeralah menikah,atau Ayahmu yang akan memilihkanmu pendamping hidup."Ujarnya serius.
Seketika wajah Afgan kembali datar menghadap bundanya.Pria itu pergi berlalu begitu saja tanpa menjawab ia ataupun tidak dalam menanggapi ucapam Jennie barusan.
Jennie yang melihat putranya pergi begitu sajapun hanya bisa memijit pelipisnya bingung.Sampai kapan Afgan hidup sendiri seperti ini?
Bahkan kepergiannya tadipun Jennie sudah tahu jika putranya itu menolak dan tak menghiraukan ucapannya.Lagi!
"Sampai kapan Afgan akan seperti ini,Oh Tuhan...Bagaimana ini."Ucap Jennie bingung dengan wajah yang sudah frustasi dalam menyikapi anak satunya itu.
Alvin yang melihatnya lantas tersenyum.Perlahan diapun mendekat dan berkata:
"Tante tenang aja!Sebentar lagi Afgan akan segera mendapatkan belahan jiwanya kok,hanya perlu tante sedikit turut serta saja dalam menyatukan mereka!"Ucap Alvin meyakinkan dan pergi tanpa mendengar balasan dari Jennie yang kelihatannya sedang mencerna setiap ucapannya.
"Maksud kamu-Eh Alvin tunggu!Maksud kamu apa?"Teriak Jennie karna Alvin sudah jalan menjauh.
"Tante siang pergi ke kafe dekat kantor Afgan aja!Vano akan menjelaskan semuanya secara rinci nanti."Balas Alvin balik berteriak tanpa berbalik menghadap Jennie yang kini tengah memakinya atas tindakannya yang tidak sopan.
"Dasar bocah laknat!Orangtua sedang bicara bukannya berhenti malah terus berjalan pergi.Awas aja kamu Alvin yah,tante kutuk kamu kadi pangeran kodok baru tau rasa kamu!"Maki Jennie kesal.
"Lah,kok pake acara bawa-bawa pangeran segala sih tan?Kalo kutuk ya udah jadi kodok aja,jangan jadi pageran kodok.Pangeran kodok itu ganz parah loh tan,masa tante gak tahu."Komen Fani.
"Diam kamu!"Bentaknya."Udah,lebih baik kamu siap-siap!Kita nanti bakalan ke kafe yang si kutu kupret itu bilang!"Lanjutnya memerintah.
"Dih,kan kak Alvin bilang tante doang yang kesana,ngapain bawa-bawa Fani segala? Lagian kan disana juga bakalan ada Kak Vano yang-"Ucapan Fani menggantung ketika dia berhasil mencerna ucapan Alvin barusan.
"Ada kak Vano?berarti-Oh My God!Apa tadi?kak Vano?Aaa...berarti My Honey Bunny sweety Kevin juga ada dong.Aaa...Oke ices ikut!Wah,mesti dandan yang cantik nih gue.Oke tante tunggu yah,Fani mau dandan yang cetar membahana dulu.Babaii,,,aaa Honey wait me,I Coming!!!"Lanjut Fani sambil melompat-lompat gak jelas dan ngacir pergi begitu saja meninggalkan jennie.
Jennie yang melihat tingkah alay Fani lantas kembali menijit pelipisnya pusing.
"Ya ampun anak Zama now,bucinnya minta di musnahin!"
**
Tbc!