Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
I'm Coming!



Pesawat penerbangan Amerika-Indonesia baru saja mendarat dengan selamat. Para penumpang dengan segera terbangun dari duduk maupun tidurnya dan berjalan sambil berdesak-desakan untuk keluar.


Tapi tidak dengan Afgan. Calon dady tampan itu terlihat masih betah memandangi wajah istri cantiknya yang masih terselap.


Saat merasa hanya mereka yang masih berada dalam pesawat, dengan terpaksa Afgan pun menepuk-nepuk pelan pipi istrinya bermaksud untuk membangunkannya.


" Agnes, hei ayo bangun! " Ucap Afgan lembut.


" Eum, apa kita sudah sampai? " Tanya Agnes yang baru membuka matanya.


Perempuan itu dengan segera memperbaiki posisi duduknya dan mengucek kedua matanya sebentar.


" Kita sudah sampai, kemana semua penumpang? " Tanya Agnes sambil mengedarkan pandangannya.


" Hei! " Seru Agnes kesal sambil menatap suaminya.


Karna bukannya menjawab, Afgan malah sibuk memperhatikan wajah cantik Agnes. Sepertinya dia sudah terhipnotis oleh pesona seorang Agnes Clallistiana Anfilex ketika bangun tidur.


" Kak! " Ucap Agnes agak berteriak.


" Ah, eh iyah? " Balas Afgan seperti orang ling-lung.


Agnes mendengus kesal. Kemudian perempuan itu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Afgan yang masih saja melongo menatapnya.


" Loh, kok- Agnes!! " Panggil Afgan yang sadar di tinggalkan.


Agnes menghentikan langkahnya. Perempuan itu menengok sekilas pada sang suami kemudian kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Afgan.


" Agnes, Oh Shit!! " Umpat Afgan. Dengan tergesa-gesa pria itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan menyusul Agnes.


**


Agnes menatap tempat yang sudah lama di tinggalkannya itu dengan mata berbinar. Perempuan itu terlihat menarik nafasnya dalam-dalam dan tersenyum menatap ke sekeliling.


" Tempat yang indah. " Gumam Agnes.


" Jika indah, maka untuk apa kau tinggalkan? " Tanya Afgan yang tiba-tiba datang dari belakang.


Agnes menengok manatap Afgan yang berada di sampingnya. Kemudian wanita itu tersenyum pada suaminya sambil menarik nafas dalam-dalam.


" Huftt..Demi suatu alasan, terkadang kita harus meninggalkan apa yang enggan untuk kita tinggalkan. " Balas Agnes yang kembali menatap ke depan sambil memasukkan kedua tangannya pada saku jaket yang di kenakannya.


" Tapi aku tidak akan meninggalkanmu apapun alasannya. " Ucap Afgan yang sedaritadi menatap Agnes lekat.


Agnes yang mendengar ucapan Afgan pun lantas menatap Afgan. Dan terjadilah kontak mata antara keduanya.


Sepertinya Agnes maupun Afgan sudah hanyut dalam tatapan mata mereka masing-masing. Tapi saat sebuah bunyi klakson mobil berbunyi, membuat mereka tersadar dari tatapannya masing-masing.


Tut..Tutt..


Agnes terperanjak kaget dan beralih menatap arah lain dengan canggung. Kemudian wanita itu kembali menatap Afgan sambil tersenyum dan berkata:


" Sepertinya sopir keluargamu sudah menunggu, ayo! " Ucap Agnes mengalihkan pembicaraan.


Setelah mengucapkan demikian, Agnes pun menarik kopernya dan pergi mendahului Afgan yang masih mematung menatapnya.


**


Saat di dalam mobil, tidak ada percakapan sama sekali. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sehingga hanya tercipta keheningan di sana.


Driddd..Dridd..


Bunyi ponsel yang berasal dari dalam tas Agnes membuat Afgan maupun sang pemilik langsung menatap arah bunyi itu.


Saat melihat bahwa yang bergemetar tadi adalah ponsel miliknya, dengan segera Agnes pun mengambilnya dan membuka ponselnya.


Tertera nama ' Regata Spt ' di log panggilannya dengan 12 jumlah panggilan tak terjawab.


" Mau apa anak itu menghubungiku? " Gumam Agnes.


Karna penasaran, dengan segera Agnes memanggil balik Regata yang langsung di angkat oleh pria itu.


" Hei, kau susah sekali dihubungi yah? Kenapa handphone mu itu selalu tidak aktif hah? " Cerocos Regata di seberang sana.


Agnes memutar bola matanya malas.


" Hei bodoh! Sejak kapan dalam pesawat bisa telponan? " Tanya Agnes.


" Owh, sorry baby i'm fotget! " Balas Regata sambil cekikilan.


" Stupid! "


" Sekarang katakan, kenapa kau menghubungiku berulang kali, hah? Apa kau sudah merindukan ku eoh? " Goda Agnes.


" Yes baby i miss you muchhhh!! " Balas Regata dramatis dengan terdengar suara kecupan di seberang sana.


" Sungguh menjijikan. Kau mencium ponselmu sendiri? Wuekk! " Ucap Agnes sambil mengeluarkan suara orang yang hendak muntah.


Terdengar Regata tertawa terbahak-bahak di seberang sana. Pria itu memang sangat merindukan teman baiknya itu saat ini.


Ya, dia rindu Agnes sebagai teman. Karna sekarang pria itu sudah sepenuhnya mencintai Veyna sang istri!


Tapi tidak mencintai Agnes bukan berarti dia tidak peduli juga pada Agnes. Baginya, Agnes dan Veyna adalah dua perempuan yang sangat amat penting dalam hidupnya! Dan akan dia lindungi sampai kapan pun.


" Baiklah baiklah! Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa besok aku akan datang ke Indonesia. " Ucap Regata tanpa basa-basi lagi.


" What!! "


" Kenapa kau datang ke Indoneia? Jangan bilang kau meninggalkan mereka demi aku lagi. " Ucap Agnes berapi-api.


" Hei hei slow men jangan nge-gas! Kau jadi orang Gr sekali yah, lagian aku juga akan datang bersama anak dan istriku kok. "


" Hah..Aku kira kau akan mengulangi sikap baj*nganmu lagi gata. Jika kau berani mengulanginya lagi, maka akan ku cincang kau sampai tak tersisa! " Ancam Agnes.


" Hahaha.. Ahsyap Ibu Negara!! "


" Cih, dasar kau. Yasudah aku tutup dulu telponnya. Jika nanti kau sudah sampai, maka hubungilah aku! Dan, sebaiknya kita langsung bertemu di markas saja. " Ucap Agnes.


" Okay. "


" Oke Bye! " Ucap Agnes dan langsung menutup panggilannya.


Agnes menyimpan kembali telponnya dengan senyuman yang mereka di bibirnya.


Dia tersenyum karna mengingat Regata yang akan ke Indonesia dan pastinya mereka akan memulai kembali misi-misi di dunia hitam yang sempat Agnes maupun Regata tinggalkan.


Tapi senyumannya itu di salah artikan oleh Afgan. Dia tahu Agnes menelpon Regata dan berbicara pada pria itu.


Dan saat melihat senyuman Agnes yang timbul setelah berbicara dengan Regata, membuat Afgan berpikir bahwa memang Regata adalah kebahagiaan Agnes dan alasan Agnes bersamanya bukan karna wanita itu mencintainya, tapi karna anak yang sedang di kandung Agnes.


Dia tahu, memang itulah yang sebenarnya. Tapi setidaknya, hargailah dia yang sudah menjadi suaminya. Tapi Agnes, ya sudahlah jangan di bahas!


Afgan lebih memilih kembali membuang pandangannya dari Agnes dan beralih menatap jendela.


Mungkin dia memang egois karna memisahkan Agnes dari Regata. Tapi dia juga menginginkan Agnes, apalagi dengan anaknya yang sedang tumbuh di dalam perut wanita itu.


Jika memang sampai Agnes melahirkan wanita itu belum juga bisa melupakan Regata dan menerimanya, maka baiklah.


Dia akan membiarkan Agnes bersama Regata walaupun hatinya tidak bisa menerimanya.


Tapi tidak dengan anaknya kelak. Biarkan hanya Agnes yang meninggalkannya, tidak dengan darah dagingnya.


**


Tak terasa, mobil yang di tumpangi oleh Afgan dan Agnes pun sudah berhenti tepat di halaman rumah mewah milik keluarga Afriansyah.


Dengan segera Afgan turun dan mengeluarkan barang-barang miliknya dan milik Agnes yang berada di bagasi.


Setelah selesai, dia pun beralih menggenggam tangan Agnes untuk memulai drama yang selalu mereka mainkan jika akan berhadapan dengan orang tua mereka.


Agnes menatap Afgan sambil tersenyum. Sementara yang ditatapnya hanya memasang wajah dingin bahkan tanpa menatap Agnes sedikitpun.


Dan hal itu tentu saja membuat Agnes bingung. Ada apa dengan suaminya? Sikapnya yang sekarang sangat berbeda dengan sikap Afgan waktu di Amerika.


Tapi Agnes berusaha positive thinking dan berjalan mengikuti langkah Afgan tanpa memikirkan apapun.


Saat melihat kedatangan Tuan Mudanya, dengan segera pada pelayan yang sengaja bangun pagi pun membukakan pintunya lebar-lebar sambil membungkuk hormat saat Afgan dan Agnes melangkah masuk.


Terlihat di ujung sana keluarga besar Afgan termasuk Fani sedang menunggu kedatangan Afgan.


Tapi mata mereka membelalak saat melihat siapa wanita yang di gandeng Afgan, Agnes.


" Agnes, bu-bukankah Agnes? " Tanya Ryan sambil menatap putra sulungnya.


" A-aku juga tidak tahu yah. " Balas Alfan yang sama-sama terkejut.


Sementara itu, Jennie dan Fani menyembunyikan rasa terkejutnya dan beralih maju mendekati Afgan dan Agnes yang sedang berjalan menuju mereka.


" Oh My Boy, I Miss You So Much!! " Ucap Jennie sambil memeluk putranya.


Afgan hanya diam sambil tersenyum kecil membalas ucapan Ibunya.


" Agnes, Oh My God! Aku gak nyangka loh, kamu bakalan balik lagi ke Indonesia. " Ucap Fani sambil cipika-cipiki dan berakhir dengan memeluk Agnes.


Agnes melepaskan pelukan mereka dan menatap Fani sambil tersenyum.


" Agnes! " Panggil Alfan.


Agnes yang sedang menatap Fani pun seketika menatap Alfan. Matanya berbinar menunjukkam kebahagiaan saat melihat si ketos yang sering ia manfaatkan itu.


" Kak Afan! " Pekik Agnes bahagia.


Alfan mengangguk sambil tersenyum. Kemudian pria itu membuka kedua tangannya menyuruh agar Agnes mendekat dan memeluknya.


Agnes mengangguk kecil. Tapi saat dia hendak melangkah mendekati Alfan, dengan segera Afgan meraih tangannya dan memeluk pinggangnya erat sambil berkata:


" She Is My Wife! "


" Hah!! "


_-_


Tbc!