
"Biarku antar!"Ucap Afgan kala melihat Agnes yang sudah berdiri hendak pergi.
"Tidak usah,aku bisa sendiri."Tolak Agnes dan pergi begitu saja.
Afgan hendak mengejar,namun langkahnya terhenti kala melihat langkah Agnes yang juga terhenti.
Agnes nampak mematung di ambang pintu.Perempuan itu seperti tengah menatap seseorang di luar sana.
Karna penasaran,Afgan pun melangkah mendekat.
Matanya menyorotkan ketidak sukaan saat melihat orang yang ia lihat itu.Bahkan Afgan terliat mendengus malas dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Sedang apa dia di sini?"Tanya Regata sambil menunjuk Afgan.
Ya,Regata.Pria itu melacak keberadaan Agnes melalui Gps yang ia pasangkan di ponsel milik Agnes.
"Bukan urusanmu!"
Bukan Agnes,tapi Afganlah yang menjawab.
Regata menatap Afgan sinis.Kemudian berucap.
"Sayangnya,tidak ada yang menanyaimu disini!"Sindirnya pedas.
Afgan hanya mengangkat kedua bahunya saja.Menandakan tidak peduli.
"Nes!"Panggil Regata seolah meminta penjelasan.
Agnes menghela nafas panjang.
"Sebaiknya lo ikut gue!"Ucap Agnes dan menarik tangan Regata.
Afgan hanya bisa menyaksikan kepergian mereka saja.
Jujur,ada rasa takut di hatinya saat melihat Agnes bersama pria lain.
Bagaimanapun,dia adalah wanitanya.Wanitanya!
"Apa mereka masih berhubungan?apa Agnes akan mencetitakan segalanya pada Regata?Dan,apakah Regata akan menerimanya ketika tahu kondisinya?"Batin Afgan bertanya-tanya.
Pria itu menarik nafas dalam."Apapun yang terjadi selanjutnya,aku akan berusaha menerimanya dengan lapang dada.Karna bagaimanapun,takdirlah yang berkuasa!"Ucap Afgan.
Pria itupun berlalu menuju mobilnya.
**
Saat ini,Agnes dan Regata tengah berada di salah satu taman indah yang kebetulan sedang sepi.
Keduanya kini terduduk di salah satu kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Jelaskan!"Ucap Regata dingin dengan pandangan yang lurus ke depan.
Keduanya sama-sama tidak saling pandang.Apalagi Agnes.
Gadis itu seperti kehilangan jati diri.Dia terlihat memandang dengan pandangan kosong ke depan sana.
"Aku kehilangan hidupku!"Ucap Agnes pelan namun bisa di dengar oleh Regata.
Lantas Regatapun langsung berbalik menatap Agnes serius.
Tahu akan hal itu,tapi Agnes tetap pada posisinya.Menatap kosong ke depan sana.
"Aku kahilangan hidupku,nyawaku,dan masa depanku."Ucap Agnes lirih."Sekarang,tidak ada gunanya lagi aku hidup!"Lanjutnya.
Deg.
Jantung Regata seakan berhenti berdetak.Matanya melebar seketika.
Bagaimana bisa,sumber kehidupan,Oksigen,dan semangat hidupnya itu berniat untuk tiada?Sama saja dengan dirinya yang juga ikut tiada!
"Apa kau gila!"Bentak Regata marah.
"Aku lelah gata,aku lelah.Sudah cukup semuanya,cukup!Aku tidak mau lagi merasakan apapun sekarang...Hiks...!"Tangisan yang sedaritadi di tahannyapun akhirnya pecah juga.
Agnes menagis dengan terseguk-seguk saat ini.Tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya mengubah posisinya.
Dia tetap mematung di tempat.Tapi butiran air bening di pipinyalah yang menandakan kesakitan hatinya saat ini.
Melihat Agnes yang menangis dengan keadaan mengkhawatirkan seperti itu,dengan langsung Regata meraih pundak gadis itu dan mendekapnya erat.
"Aku lelah gata....Hiks...Aku lelah!!"Keluhnya.
Agnes balas memeluk Regata dengan air mata yang tak henti-hentinya turun dari kedua mata indahnya.
Hati Regata ikut nyilu saat mendengar isakkan Agnes.Pria itu terlihat mengecup pucuk kepala Agnes berkali-kali,dengan tangan yang terus mengusap-usap lembut punggung belakang Agnes.
"Sebenarnya apa yang terjadi?Mengapa kau menjadi seperti ini?"Batin Regata bertanya-tanya.
Saat merasakan Agnes sudah tenang,perlahan Regata melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak wanita itu lembut.
Dia menundukkan kepalanya melihat kedua mata Agnes yang membengkak dan memerah.
Dengan lembut,sebelah tangannya mengusap air mata yang masih tersisa di pipi wanita yang ia cintai itu.
Agnes hanya bisa diam.
Fikiran dan kesadarannya kini entah melayang kemana.Dia tidak tahu,tidak peduli juga.
Karna saat ini.Baginya,hidupnya sudah tidak ada harganya lagi!
Regata meraih kedua pipi Agnes.Dengan lembut pria itu mengangkatnya supaya bisa melihat wajahnya secara langsung.
"Tatap aku!"Titahnya.
Agnespun menurutinya.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi!"Titahnya lagi.
Agnes memejamkan matanya sejnak.Kemudian dia kembali menatap kedua mata Regata serius.
"I'm Not Virgin Anymore! "
Bledag...
Bagaikan di sambar petir di siang bolong,Regata membelalak dengan tangan yang reflex terlepas dari kedua pipi Agnes.
Lelaki itu nampak terbengong dengan mulut yang sedikit terbuka.
Tak lama,terdengar suara tawa hambar dari Regata.
"Hah,apa si Afgan brengsek itu yang melakukannya?"Tanyanya berusaha setenang mungkin.
Agnes hanya diam tanpa menjawab.
"KATAKAN APA MEMANG DIA YANG MELAKUKANNYA!!!"Teriak Regata marah.
Agnes terperanjak kaget."IYA!Memang dia yang melakukannya,dia..memang dia yang merenggut kesucianku semalam.Hiks...dia....Hiks..!"Ucap Agnes dengan air mata yang turun kembali dan tangan yang sudah menjambak rambutnya frustasi.
Regata mengepalkam kedua tangannya kuat-kuat.Sorot matanya terpancar jelas,rasa ingin membunuh yang teramat sangat.
"Akanku bunuh dia."Ucapnya penuh penekanan.
Regata hendak berbalik menemui Afgan.
"Jangan berani menyentuhnya atau aku tidak akan pernah ingin menemuimu lagi REVIX REGATA SAPUTRA!!"Teriak Agnes.
Regata berhenti melangkah tanpa berbalik ke arah Agnes.Pria itu nampak tersenyum miris.
"Huh,jadi kau membelanya.Apa kau juga memang menikmati apa yang kalian lakukan semalam?Hah,sungguh murahan.Aku tidak menyangka kau akan semudah itu di dapatkan oleh laki-laki.Bila tahu,kenapa dari dulu aku tidak memintamu untuk-
Plak!...
Agnes menampar pipi Regata keras.
Hatinya sungguh sakit saat mendengar ucapan rendahan itu keluar dari mulut orang satu-satunya yang ia percaya di dunia setelah keluarganya.
Bisa-bisanya Regata mengatakan jika dirinya Murahan dan bisa dengan mudah di dapatkan oleh laki-laki.
Tidak tahukan dia?
Saat ini dirinya tengah menderita oleh kenyataan bahwa keperawanannya telah direnggut oleh pria yang bukan siapa-siapa baginya.
Bukannya berusaha mengobati,justru dia malah menambah penderitaannya dengan kata-kata kotornya itu.
Sungguh,entah sehancur apa hati Agnes sekarang.
Kehilangan mahkota yang ia jaga selama bertahun-tahun,dan kehilangan kepercayaan lagi terhadap sosok yang di namakan teman.
Inilah hidup!
Pahit manis,harus di telan sendiri.Karna pada kenyataannya,tidak akan ada orang yang rela menelan kepahitan yang di jalaninya di dunia ini.
Mereka hanya akan berjalan bersama kita ketika kita senang saja.
Ketika susah?Jangan tanya mereka kemana!
Agnes menatap Regata penuh kecewa.Airmata terus saja mengalir dari kedua matanya yang kian makin membengkak.
Sementara Regata?dia baru menyadari kebodohannya setelah mendapatkan tamparan keras dari Agnes.
Pria itu menatap Agnes dengan tatapan penuh sesal dan air matapun juga ikut turun dari matanya.
"Agnes,aku tidak-
"Cukup!"Potong Agnes dengan suara lemahnya.
"Aku kecewa padamu.Aku fikir dengan aku menceritakannya padamu,beban dalam hatiku akan berkurang.Tapi-Hah!"Ucap Agnes sambil mengalihkan pandangannya.
Gadis itu terlihat menggigit bibir bawahnya.Menahan airmata dan menahan rasa sakit di hatinya.
Perlahan diapun kembali menatap Regata lagi.
"Kau bilang aku menikmatinya?Tentu saja aku menikmatinya!Karna memang aku yang meminta."Ucap Agnes."Apa kau tahu seperti apa reaksi orang yang sedang dalam pengaruh obat perangsang,heum?"Tanyanya sambil memiringkan kepalanya menatap Regata.
Regata hanya menunduk dengan airmata yang terus mengalir di pipinya.
Ia merutuki dirinya yang bodoh.Bukannya menyemangati,malah makin melukai.Sungguh Tidak Berguna!
"Hah,tapi tak apa.Dengan begini,aku mendapatkan satu lagi pelajaran hidup.Bahwa tidak semua orang mengerti akan keadaan,dan tidak semua orang juga mengerti perasaan."Ucap Agnes."Aku kecewa.Ah...untuk apa aku mengucapkan hal sebodoh itu,Haha..!"Lanjut Agnes tertawa hambar.
"Yang intinya,Terimakasih untuk segalanya.Terimakasih telah menemani perjuanganku hingga detik ini,dan terimakasih juga karna telah menyadarkanku.Jika seseorang yang ada,tidak akan selalu ada.Terimakasih,dan sampai jumpa!"Ucap Agnes dengan nada yang terpotong-potong karna wanita itu terlihat menarik nafasnya berkali-kali.
"Kau temanku.Kau adalah teman terbaikku!Saking baiknya,kau membuatku bisa merasakan arti kehilangan dan kecewa pada orang terdekat dalam hidupku.Haha,,sudah jangan di fikirkan!"Tawa Agnes sambil memegang pundak Regata.
"Terimakasih,dan sampai jumpa.Jangan pernah temui aku lagi!"Ucap Agnes sambil tersenyum tulus.
Agnes melepaskan sebelah tangannya yang berada di pundak Regata.Wanita itu kemudian beranjak pergi dari sana meninggalkan Regata yang diam mematung.
"Seperti inikah kehidupan?Yang dengan mudahnya membolak-balikkan hati dan kepercayaan?Cih,aku muak dengan semua ini.Semua orang sama,palsu.Hanya ada satu yang Asli di dunia ini,yaitu percaya pada diri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.Karna orang lain tidak akan mengerti akan posisi kita,sama halnya dengan dia."Batin Agnes.
Agnes melangkahkan kakinya pergi dengan membawa rasa marah dan kecewa yang begitu besar.
Fikirannya kini tengah kacau.Ia lebih memilih untuk menenangkan diri dulu untuk sekarang. Setelahnya,memberikan pembalasan setimpal kepada orang-orang yang sudah berani bermain-main dengannya.
Saat ini dan kedepannya,hanya akan ada dirinya sendiri.Sendiri dalam melawan para musuhnya.
Tanpa King,Tanpa Teman.
**
"No,No Bukan begitu maksudku,AGNES!!!"Teriak Regata sekuat-kuatnya.
Tapi hal itu tetap tidak membuat Agnes kembali.
Bahkan punggung wanita itu saja kini sudah tak terlihat lagi.
'Jangan pernah temui aku lagi,
Jangan pernah temui aku lagi,
Jangan pernah temui aku lagi.'
'Aku kecewa.Ah,,,untuk apa aku mengucapkan hal sebodoh itu,haha..!'
'Aku kecewa.Ah,,,untuk apa aku mengucapkan hal sebodoh itu,haha..!'
'Aku kecewa.Ah,,,untuk apa aku mengucapkan hal sebodoh itu,haha..!'
Ucapan Agnes barusan terus saja terngiang-ngiang dalam telinganya.
Regata meremas rambutnya kuat-kuat dengan air mata yang masih hadir dalam pipinya.
"Aghkk....Kenapa aku bisa bertindak bodoh seperti itu!KENAPA?Aghk....!!"Teriaknya frustasi.
Regata tersungsur di atas tanah.Pria itu menundukkan kepalanya menyesali apa yang sudah di ucapkannya.
"Kenapa aku mengucapkan hal semenjijikan itu?hah,kenapa?"Ucapnya lirih.
"Apa sekarang dia memang tidak ingin berjuang bersamaku lagi?apa dia membenciku?Jangan jangan,jangan membenciku.Aku tidak akan kuat jika harus melihat tatapan benci di mata indahnya untukku."Lanjutnya seperti orang gila.
"Aku mencintainya.Bagaimanapun kondisinya kini,aku akan tetap mencintainya!"Ucapnya tulus.
Kepalanya yang menunduk terlihat kembali terangkat dengan sorot mata yang mengerikan.
Tangan Regata mengepal kuat.Giginya saling bergesekkan menadakan dirinya sedang merasakan emosi yang memuncak.
"Pria tua,beraninya kau membuat nyawaku menderita.Tunggulah,akan semenderita apa kehidupanmu selanjutnya!Bahkan Untuk matipun,kau harus bersujud dan memohon di kakiku !"
_-_
**Hua.. Aku nangis bang!!!
Abang kok jahat bangeddd si???Haaaaa...
Udah ah jangan Alay!
Oh ya,Author udah penuhi janji pada seseorang ya...Buat Crazy up!
Hari ini up 3 ep dengan kata yang lebih dari 1000 kata...Yuhuu!!!Mana nih dukungannya Barudakkk????
Intinya,
🔁Jangan Lupa like,komen,Vote,and favorite bagi yang belum!!*Dadah babaiiyyyy***