Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Sebelum Resepsi



Beberapa hari kemudian..


Tidak terasa, resepsi Afgan dan Agnes yang sudah di tunggu-tunggu pun akhirnya akan terjadi juga besok lusa.


Sementara pada malam hari yang gelap gulita, terlihat Regata yang terduduk dengan menopang kakinya dengan mata yang menatap tajam pria paruh baya di depannya.


" Ada apa kau memanggilku, King? " Tanya paruh baya itu yang tidak lain adalah Marcus.


Yah, Regata sengaja mengundang pria itu ke markasnya. Dia ingin menanyakan beberapa hal terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menghancurkan musuh dari keluarga Queen nya itu.


" Langsung saja, apa tujuanmu memusnahkan Gold Prince Leader? " Tanya Regata to the point.


" Tujuan? Tentu saja balas dendam. Dia sudah mengambil segalanya dari ku. " Jawab Marcus langsung.


" Benarkah? " Tanya Regata dengan memiringkan sedikit kepalanya.


" Memangnya apa yang dia rebut darimu? "


" Wanitaku. Dia merebut satu-satunya wanita yang berhasil membuatku jatuh hati, " Jawab Marcus dengan tangan yang langsung terkepal kuat mengingat bagaimana Ryan yang berbahagia di atas penderitaannya saat menikah dengan Jennie.


" Wanitamu? Maksudmu, Jennie? " Tebak Regata.


" Yah. "


" Lalu kenapa kau tidak menculiknya dan memilikinya secara paksa saja, dari pada harus repot-repot membunuh Gold Prince Leader yang sudah pasti akan sulit. " Ucap Regata memancing.


Brak.


" Tidak mungkin sulit untuk membunuhnya! Dia hanyalah pria sialan yang hanya bisa berkelahi tanpa menggunakan senjata! " Bentak Marcus sambil menggebrak meja.


Regata tersenyum menyeringai, dan senyumannya itu membuat tangan kanan dari Marcus yang berada di sana juga sedikit curiga padanya.


" Oh ya? Bukankah dia mafia terkejam di masanya, lalu kenapa dia tidak pandai menggunakan senjata? "


Marcus mulai berkeringat dingin mendengar pertanyaan dari Regata, dia mengusap keringat yang keluar dari dahinya dengan gerakan kaku.


" Benar bukan? " Ucap Regata berusaha menyudutkan Marcus.


" Bu-bukan begitu, ma-maksudku- "


" Ah...Lupakan saja! " Potong Regata sambil mengibaskan tangannya di udara.


" Sekarang mari kita bahas rencana untuk menghancurkan musuhmu itu, " Lanjut Regata sambil menatap Marcus serius.


Marcus mengangguk dan kembali terduduk.


" Kau tahu jika putra bungsu dari Mr. Ryan akan melakukan resepsi pernikahan lusa bukan? "


" Ya, aku tahu. Pestanya akan di adakan di hotel bitang 5 lantai paling atas, " Jawab Marcus yang memang sudah memantau semua yang terjadi di sana sejak lama.


Regata menyeringai kecil, " Mari kita lakukan di sana! "


" Di sana? Tentu saja! Karena aku pun sudah menyiapkan kejutan yang tidak akan pernah mereka lupakan selamanya, " Jawab Marcus sambil menyeringai.


Ekspresi Regata sedikit berubah saat mengetahui jika Marcus sudah menyiapkan rencana tersendiri.


" Rupanya kau memang tidak mudah untuk di kelabui, tapi jangan senang dulu! Bahkan permainannya saja belum di mulai, " Batin Regata.


" Wah, jadi kau sudah mempunyai rencana tersendiri? Jahat. Kau sama sekali tidak melibatkanku dalam permainanmu, " Ucap Regata dengan nada kesal.


Marcus tertawa kecil, " Kau tenang saja King! Kita akan tetap membuat rencana cadangan meskipun rencana utamanya aku sendiri yang mengaturnya. " Ucap Marcus santai.


" Jadi maksudmu, aku hanya akan kau libatkan dalam rencana cadangan? "


" Tentu saja, " Jawab Marcus langsung.


" Sungguh licik! " Batin Regata geram.


" Ah baiklah, itu terserah padamu saja! " Ucap Regata pura-pura mengalah.


" So, bisa kita mulai rencananya, king? " Tanya Marcus sambil menyeringai kecil.


" Tentu. " Balas Regata.


Tidak lama setelah mengatakan itu, Regata mulai menyampaikan rencana pada Marcus yang tentunya rencana itu akan berakibat baik padanya.


Marcus sempat menolak, tapi dengan kecerdikan seorang King, tidak ada yang tidak akan berjalan sesuai keinginannya.


" Jadi begitu, bagaimana? " Tanya Regata.


Marcus sedikit berpikir, " Jadi maksudmu, aku akan datang di akhir pesta mereka. Begitu? " Tanya Marcus sedikit ragu.


Tak.


" Benar sekali! " Jawab Regata sambil menjentikkan jarinya.


" Tapi- "


" Ini demi keamanan rencana dan dirimu sendiri! Jika kau kekeh ingin menghancurkan acaranya di tengah-tengah, tentunya di sana akan masih banyak tamu dan akan dengan mudah polisi masuk untuk menangkapmu saat itu juga. " Alibi Regata mengelabuhi Marcus.


" Kau benar, baiklah. Aku akan datang di akhir acara besok, " Ucap Marcus yang membuat Regata menyeringai penuh kemenangan.


" Untuk waktunya, aku akan- "


" Kau tidak perlu memberitahuku! " Potong Marcus.


" Karena aku sudah memasang banyak cctv di sana, jadi akan mudah bagiku untuk mengetahui situasi dan waktu yang tepat untuk aku datang menghencurkan semuanya nanti. " Lanjut Marcus yang hampir membuat Regata tersedak.


" C-cctv? " Ulang Regata.


" Yah, ada masalah? "


" Ah, tentu saja tidak. " Elak Regata. " Aku hanya salut dengan kecerdasanmu Mr. Marcus. " Lanjut Regata yang membuat Marcus tertawa bangga.


" Hah..Tidak ku sangka dia akan bermain satu langkah di depanku, aku harus lebih waspada sekarang. Agnes, sepertinya besok aku tidak bisa menghadiri resepsi pernikahanmu, " Batin Regata.


-----


Siang harinya,


" Dady!! " Teriak Afra menyambut kedatangan sang Ayah.


" Hey boy, come here! " Ucap Regata sambil merentangkan tangannya.


" Dady, darimana saja kau hah? Afa mencarimu dari semalam, " Rengek Afra menja.


Regata tertawa dan mengusap pucuk kepala putranya penuh sayang.


" Maaf boy, dady banyak urusan di luar sana. "


" Oh iya, dimana Mommy mu? " Tanya Regata sambil celengak-celinguk mencari keberadaan Veyna.


" Tadi Mommy- "


" Aku disini! " Potong Veyna yang baru saja datang.


" Oh sayang! " Ucap Regata yang langsung memeluk istrinya itu erat.


" Hey ada apa denganmu? Re, Afra ada disini. " Ingat Veyna sambil melirik putranya yang sedang menatap mereka polos.


" Oops, i'm forget honey. "


Regata cengengesan dan melepaskan pelukannya dari Veyna. Dia berjongkok menyamakan tingginya dengan Afra.


" Boy, kau bermainlah bersama bibi dulu yah! " Titah Regata yang di angguki oleh Afra.


" Okay! " Balas Afra yang langsung pergi dengan di dampingi salah satu pengasuh yang sengaja Regata sewa.


" Ada apa? " Tanya Veyna saat melihat raut wajah khawatir suaminya.


Regata lantas bangun dan menarik Veyna untuk terduduk di kursi.


" Dengar, sebaiknya besok kau tidak usah pergi ke resepsinya Agnes saja. " Ucap Regata to the point.


" Hah, why? " Tanya Veyna bingung.


" Banyak yang mengincar keluarga Afriansyah di sana, aku takut terjadi sesuatu padamu, Afra, dan anak yang berada di kandunganmu. " Ucap Regata lirih.


Veyna yang noteben nya istri pengertian yang patuh pada suami, hanya mengangguk dan mengangkat sebelah tangannya mengelus rahang suaminya.


" Baiklah, aku akan mengucapkan maaf dan selamat melalui video call saja nanti. " Ucap Veyna yang membuat Regata tersenyum bahagia.


" Terima kasih sayang, kau mau mendengarkan perkataanku. Dan maaf dengan sikapku yang sempat menelentarkan istri sebaik dirimu, " Ucap Regata penuh penyesalan.


" Sttt...Jangan di ingat-ingat lagi! " Ucap Veyna sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Regata.


" Semua yang terjadi memang atas kehendak-Nya, jadi kita sebagai manusia hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada. "


Regata tersenyum haru dan langsung menarik istrinya kedalam pelukannya.


" Terima kasih sayang, kau memang wanita terbaik yang hanya tercipta untukku. " Bisik Regata.


-----


Sementara di kediaman Afriansyah, semua orang sibuk kesana-kemari mempersiapkan apa yang akan mereka bawa ke acara Afgan dan Agnes nanti.


Tapi sang pengantin, hanya sibuk saja menikmati waktu bersamanya di atas ranjang tanpa menghiraukan orang-orang di luar sana.


Agnes menyandarkan kepalanya di dada bidang Afgan, dia memeluk pinggang suaminya itu dengan erat.


Sementara Afgan, pria itu memeluk pinggang Agnes menggunakan sebelah tangannya dengan bibir yang terus memberikan kecupan hangat di dahi dan pucuk kepala Agnes.


" Sayang, sampai kapan aku harus puasa? " Celetuk Afgan tiba-tiba.


Memang, setelah kejadian perut Agnes yang tiba-tiba keram setelah berhubungan badan, membuat keduanya memutuskan untuk tidak melakukannya dulu.


Karena mereka takut jika terjadi sesuatu pada bayi nya di dalam sana. Jadi mau tidak mau, Afgan harus berpuasa demi bayi nya sendiri.


Bukannya marah, Agnes justru malah terkikik geli dengan ucapan suaminya.


" Sabar, kau boleh menengoknya saat kita- "


" Honeymoon. Oke titik gak pake koma, " Potong Afgan cepat.


" Honeymoon? " Beo Agnes.


Agnes mengangkat kepalanya menatap sang suami, " Memang kita akan pergi honeymoon? " Tanya Agnes.


" Iya, aku akan membawamu bula madu satu hari setelah pernikahan kita. " Jawab Afgan.


" Owh, baiklah. Tapi kemana? " Tanya Agnes lagi.


" Kau maunya kemana, hem? " Tanya balik Afgan sambil menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.


" Eum, Korea! " Pekik Agnes senang.


" Korea? " Beo Afgan. " Memangnya ada apa di Korea? " Tanya Afgan.


" Entahlah! Tapi Sonya dan Fani pernah bilang, Korea adalah tempat yang indah untuk berbulan madu. " Jawab Agnes.


Saat mendengar nama Fani, barulah Afgan sadar dengan keinginan Agnes yang merekomendasikan negara Korea sebagai tempat mereka berbulan madu.


" Tidak! " Tolak Afgan dramatis.


" Kau pasti akan sibuk dengan konser Oppa-Oppamu di sana, " Sewot Afgan.


" Oppa? Ah..Sepertinya kau salah faham kak, aku sama sekali tidak suka K-pop seperti Sonya dan Fani. "


" Benarkah? "


" Hem, "


" Baguslah! " Ucap Afgan senang.


" Tapi aku suka melihat mereka bernyanyi, menari, dan aku juga suka melihat perut sixpack yang mereka miliki. " Celetuk Agnes.


" Apa!! " Pekik Afgan tidak habis pikir.


_-_


Tbc!


#Ngiklan!