Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Kemarahan Rexi



Mobil yang Afgan kendarai baru saja berhenti tepat di halaman mansion mewah keluarga Drax.


Terlihat terparkir juga mobil yang selalu di kendarai oleh Rexi,yang berarti sang pemilik sedang berada di rumah.


Agnes dan Afgan pun turun dari mobil dan beranjak memasuki rumah mewah itu.


Agnes seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Afgan.Yang reflex membuat pria itupun berhenti dan menatapnya balik.


"Terimasih."Ucap Agnes tulus.Tapi ucapannya itu tidak diiringi senyuman sama sekali.


Ucapan terimakasihnya bukan karna Afgan mengantarnya,tapi itu merupakan subuah perintah agar pria itu pulang dan tidak masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu.


Afgan yang faham hanya mengangguk kecil dan tersenyum ke arah Agnes.Pria itupun membalikkan tubuhnya dan beranjak menuju mobilnya kembali.


Saat hendak masuk kedalam mobil,Afgan sempat berbalik menatap Agnes.Wanita itu masih menatapnya sampai sekarang,seolah ingin menyaksikan kepergiannya dengan kedua matanya sendiri.


Afgan menghembuskan nafas pelan.Pria itu kemudian masuk dan dengan segera melesat pergi dari sana.


Agnes menarik nafas panjang dengan kedua mata yang tertutup rapat saat melihat mobil Afgan yang sudah tidak bisa ia lihat lagi.


Perempuan itu pun berbalik hendak masuk.


Baru saja membalikkan tubuhnya,pandangannya sudah terlebih dahulu bertemu dengan tatapan tajam dari sang kakak yang berada di ambang pintu.


Siapa lagi jika bukan Rexi.Dan,sepertinya pria itu menyaksikan semuanya.


Agnes mengalihkan panadangannya ke arah lain,enggan untuk menatap Rexi lebih lama.


Dia pun berjalan dan melewati Rexi begitu saja.


Namun saat hendak melangkah lebih jauh,lengannya sudah terlebih dahulu di pegang oleh Rexi sambil berkata:


"Kemana saja kau semalaman?"Tanya Rexi dingin tanpa melihat Agnes.


Agnes menghela nafas pelan."Bukan urusanmu!"Ucapnya dan menghempas tangan Rexi.


Dia pun beranjak pergi dari sana.Namun teriakan Rexi kembali menghentikan langkahnya.


"APA KAU BERSENANG-SENANG DAN MENGHABISKAN MALAM BERSAMA PRIA ITU!!!"Teriak Rexi emosi.


Agnes tidak menangis ataupun bersedih dengan apa yang Rexi ucapkan.Dia hanya diam mematung dengan fikiran yang lagi-lagi entah terbang kemana.


"JAWAB!!"Bentak Rexi lagi yang kini sudah menatap ke arah Agnes yang tengah diam mematung membelakanginya.


"JIKA KAU-


"Ini hidupku,kau tidak perlu ikut campur di dalamnya.Urus saja kehidupanmu sendiri!"Ucap Agnes sambil tersenyum sinis.


Perempuan itu nampak mematung lagi.Dia sudah lelah dengan semua ini.Rasanya,dirinya sangat ingin mengalami istirahat yang panjang.


Seperti,tidur untuk selama-lamanya.Mungkin


Rexi mengepalkan kedua tangannya saat mendengar jawaban dari adik yang sialnya ia cintai sebagai wanita dewasa itu.


Memang,seharusnya ini tidak boleh terjadi.


Tapi ia bisa apa?Hatinya bahkan menolak dengan kenyataan yang ada.Bahwa Agnes adalah adiknya,bukan wanitanya!


Rexi melangkahkan kakinya menuju Agnes dengan emosi.Dia menarik lengan Agnes yang seketika membuat wanita itu berbalik menatapnya.


Baru saja hendak mengangkat suara,tatapannya secara tak sengaja tertuju pada leher putih Agnes yang memiliki beberapa warna merah di sekitarnya.


Seperti,sebuah kecupan.Atau mungkin hisapan lebih tepatnya.


Mata Rexi memerah menahan amarah,kemudian matanya kembali menenang kala melihat tatapan lelah dari sorot mata Agnes.


Mata cantik itu seakan memberi penjelasan atas semuanya.


Rexi yang tadinya hendak marah pun menjadi luluh seketika.Dia menarik tubuh kecil Agnes pada dekapannya.


Agnes hanya mematung dengan mata tertutup merasakan pelukan hangat Rexi.Dia sudah lelah untuk menangis.Tangisannya itu sudah habis saat ia buang dengan sia-sia tadi.


Rexi mengusap lembut kepala Agnes.Dia sempat menghirup dalam-dalam aroma rambut Agnes beberapa kali.Sebelum akhirnya pria itu pun melepaskan pelukannya dan menatap Agnes lembut.


"Katakan,apa yang sebenarnya terjadi padamu!"Titah Rexi pelan.


Agnes terdiam.Kemudian matanya menatap Rexi balik.


"Kau ingin mengetahuinya?"


Rexi mengangguk.


"Kenapa kau ingin mengetahuinya?"


"Karna kau adalah segalanya bagiku!"Balas Rexi mantap.


Agnes terdiam.Tak lama,terdengar suara tawa hambar dari bibirnya.


"Hah,kata-kata yang kau ucapkan sama dengan yang dia ucapkan.Tapi sayang,setelah mengetahui segalanya dia membuatku kecewa."Ucap Agnes dengan bibir yang tersenyum paksa.


"Apa maksudmu,siapa dia yang kau maksud?"Tanya Rexi bingung.


"Sudahlah!Aku yakin reaksimu juga akan sama seperti reaksinya,sama-sama membuatku semakin kecewa dan terluka!"Ucap Agnes seakan tak peduli dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.


Rexi terdiam."Tunggu,apa yang kau-Agnes!!"Teriak Rexi yang masih penasaran dan sialnya teriakannya itu tak di tanggapi oleh Agnes sama sekali.


"Ck,gadis ini."Decaknya kesal dan berlari mengikuti Agnes.


**


💥Haley pOv!..


Suara musik yang di mainkan keras sungguh mengasyikkan bagi mereka yang kini tengah berpesta dan menari-nari tak jelas di lantai dansa yang tampak luas itu.


Padahal hari masih sangat pagi untuk mereka melakukannya.Tapi bagi mereka,setiap waktu yang mereka habiskan haruslah dengan menyenangkan diri mereka yaitu dengan berpesta.


Terlihat sosok cantik yang tengah terduduk sendiri di salah satu sofa kosong di pojokkan sana.Siapa lagi jika bukan Haley.


Setelah kegagal totalan rencananya bersama Sarah,ditambah dengan perginya Sarah membuatnya enggan untuk melakukan apa-apa lagi.Dan perempuan itu pun akhirnya memilih menghabiskan waktunya untuk berpesta dan berpoya-poya bersama teman-temannya saja.Sama seperti kehidupannya sebelum kedatangan Agnes.


Tanpa ia sadari,sosok mistrerius tengah tersenyum penuh kemenangan di pojokkan sana.


Dia terlihat menatap Haley yang mulai mabuk dengan seringai yang tak lepas dari bibir sexynya.


Tak lama,gadis itu pun ambruk tak sadarkan diri.Dengan isyarat mata pria misterius itu pun menyuruh anak buahnya yang menyamar sebagai muda-mudi untuk membawa Haley pergi dari sana.


Karna yang lain sibuk dengan dunianya masing-masing,membuatnya tak kesulitan dalam membawa satu wanita ular merepotkan yang membuat wanitanya menderita.


Siapa lagi jika bukan Regata sang pria misterius itu.


Saat mengetahui Haley tengah bersenang-senang di apartemen kecil yang sengaja wanita itu sewa untuk berpesta,dengan segera Regata pun turun tangan sendiri dan mengawasi Haley saat pesta itu dimulai sampai sekarang.


Regata tersenyum puas saat melihat Haley yang kini sudah berada di dalam mobilnya.Dia menatap Haley dengan matanya yang kembali dikuasai oleh iblis.


Pria itu menyeringai.Kemudian dia beralih menatap mafiosonya sambil berkata:


"Kita bawa wanita menjijikan ini ke tempat dimana dia mendapatkan karmanya,jalan!"


**


"Sekarang katakan yang sebenarnya padaku!"Titah Rexi lagi tegas.


Pria itu kini sedang berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di dada dengan memandang Agnes yang sedang terduduk di atas kasur menghadapnya.


Agnes hanya diam seribu bahasa.Wanita itu nampak kembali mematung saat ditanyakan hal seperti itu.Lagi


Dan ekspresi Agnes itu tentunya di sadari oleh Rexi.Yang menjadikan rasa penasarannya semakin besar atas apa yang sebenarnya sudah terjadi pada adik cantiknya itu.


"Katakan Agnes,atau aku sendiri yang akan mencaritahunya."Ancam Rexi.


"Cari tahu saja sendiri!"Ucap Agnes yang akhirnya angkat suara."Kau kan sama sepertiku,seorang Mafia.Jadi akan sangat mudah bagimu mengetahui apa yang ingin kau ketahui!"Lanjutnya seolah menantang.


Agnes berbicara tanpa menatap Rexi.Tatapannya tetap entah menatap ke arah mana,seperti seseorang yang sedang mengalami depresi berat.


Rexi menatap Agnes kesal.Pria itu tampak menarik nafasnya dalam.


"Baiklah.Jika itu yang kau inginian,maka akan aku lakukan!"Ucap Rexi."Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada siapapun nantinya.Terutama pria yang tad-


"Jangan berani menyakitinya!"Potong Agnes cepat.


Agnes menatap Rexi penuh peringatan."Disini akulah yang memaksanya,bukan dia yang memaksaku.Jadi kau,kau tidak boleh melukainya sama sekali!"Lanjutnya penuh penekanan.


Rexi mengerutkan keningnya bingung.Tak lama,diapun berhasil mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir tipis itu.


Mata dan mulutnya membelalak seketika.Dengan pandangangan yang terus menatap Agnes tak percaya.


"Ka-kau me-melakukannya?"Ucap Rexi gagap.


"Ya."


Rexi membuang muka."Kenapa kau melakukannya?"Tanyanya lagi Dingin. Tanpa meliahat Agnes.


"Aku dijebak!"


Jawaban Agnes sontak membuat Rexi kembali menatapnya dengan mata yang sudah membulat dan memerah sempurna.


"Aku akan membu-


"Jangan kau berani menyentuhnya!!"Potong Agnes lagi saat Rexi mengatakan akan membunuh Afgan,sama seperti yang Regata katakan saat ia menceritakannya.


Agnes ingin lihat,seperti apa reaksi orang yang berstatus sebagai kakaknya itu.Apakah akan sama,seperti....Sudahlah!kita lihat nanti.


"Apa kau mencinya?"Tanya Rexi lirih.


Senyuman sinis yang Agnes terapkan dalam bibirnya pupus seketika.


Tadinya,Agnes berfikir bahwa Rexi akan bereaksi sama seperti Regata.Memaki dan mengatainya karna membela Afgan.Tapi ini?-


"Tidak!"Jawab Agnes agak berteriak.


"Lalu kenapa kau-


"Obat perangsang."Potong Agnes lagi sambil menatap Rexi dengan mata lelahnya.


Matanya seolah berbicara ia ingin menangis tapi tidak bisa menangis lagi.


Rexi yang melihatnya lantas menatap Agnes antara kasihan dan marah.Marah pada orang yang sudah berani-beraninya mengganggu keluarga Drax.Apalagi Agnes,sang Nona Drax.


"SIALAN!!"Rexi berteriak dengan tangan yang sudah mengepal dan memerah.


Pria itu berbalik hendak pergi untuk mencari dan membalas perbuatan buruk yang sudah terjadi pada adik sekaligus wanita yang ia cintai itu.


Tapi Agnes dengan gesit berdiri Dan memeluknya erat dari belakang.Yang membuat pria itu menurunkan kembali emosinya dan berbalik menghadap Agnes.


"Jangan fikirkan mereka dulu,aku membutuhkanmu,kakak!"Ucap Agnes pelan.


Rexi memejamkan kedua matanya seketika.'Kakak?dia,ah..memang benar.Ya,kakak.Dia adalah kakanya,kakak Agnes!Dan seorang kakak haruslah ada disaat-saat terpuruk adiknya,seperti sekarang!'


Rexi mengecup pucuk kepala Agnes.Dia pun membuka kedua tangannya dan balas memeluk Agnes erat.


Matanya tertutup meniknati pelukan sang adik.Hingga tak berselang lama,matanya kembali terbuka dengan warna yang sudah berubah menjadi merah.


"Siapapun yang melukai adikku,maka bersiaplah menghadapiku!Aku bersumpah,akanku buat mereka lebih menderita dari penderitaan yang mereka berikan pada cin-adikku!!"


_-_


**Maaf yah jarang Up,Haa.. Authornya sibuk sama school online lagi.Huaaa...Maaf yah sekali lagi😌


Intinya,


🔁Jangan Lupa Like,Komen,Vote and Favorite bagi yang belum*!Bye....!!!!♡*