Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Tidak percaya



"Im A Queen Of Mafia World! " Ucap Agnes sambil menatap Afgan dalam.


Afgan terbengong dengan mata membelalak.Mafia?


"Ftt..Hahahaha...!!"


Tawa Afgan kembali pecah saat mendengar ucapan Agnes.Mafia? Huft..ada-ada saja istrinya ini.Mana ada seorang Agnes adalah mafia? Sungguh lelucon yang patut di acungi jempol!


Agnes kembali mendengus malas melihat Afgan yang sepertinya tidak percaya akan apa yang ia ucapkan.Tapi,ya sudahlah! Dia bukan tipe orang yang akan menjelaskan hal yang tidak penting.Apalagi jika orangnya tidak percaya,To What?


"Huh menyebalkan.Terserahlah! Lebih baik aku mandi daripada berbicara pada orang gila yang hanya bisa tertawa sepertimu." Ucap Agnes kesal dan bangkit berlalu menuju kamar mandi.


Brughk..


"Oh My!" Pekik Afgan kaget saat pintu kamar mandi di banting keras oleh Agnes.


"Mafia? Haha..sungguh,leluconnya itu sangat lucu untuk membuat orang tertawa di pagi hari." Ucap Afgan sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Agnes.


Afgan mungkin sudah melupakan kejadian di mini bar dan saat adanya pemberontak yang masuk rumah Dika saat itu.Jika dia masih mengingatnya,mungkin dia akan langsung mempercayai ucapan Agnes.Kalau istrinya itu seorang mafia


Secara,waktu itu Agnes menghajar sampai habis pria-pria berjubah itu tanpa sisa.Seorang diri pula


Saat masih tertawa mengingat ucapan Agnes,tiba-tiba saja dia ingat.Hari ini dia harus pergi ke kediaman Filex dan meminta restu pada orang yang menghuninya.Tentu saja setelah itu dia harus ke kediaman Drexy pula.Mengingat jika beliaulah sang Ayah mertua yang sebenarnya.


Tanpa menunggu lama,Afgan pun beranjak dari tempat tidur dan membawa baju untuk ia pakai setelah mandi di kamar bawah nanti.


Karna di kamar mandinya ada Agnes,maka dia tidak ingin membuang waktu jika harus menunggu sang istri selesai dan akhirnya dia pun memilih mandi di kamar bawah.


Heum,sebenarnya sih bisa saja dia masuk dan mandi bersama Agnes.Toh,mereka juga sudah sah di mata hukum dan Agama.Tapi jika Afgan menerobos masuk,Boom! Mati berdiri dia oleh Agnes.


**


Regata membuka matanya saat merasa jari kecil yang di genggamnya itu bergerak.Ya,dia sedang menggenggam jemari kecil putra tampannya yang sedang berbaring tak sadarkan diri itu.


Saat Regata mengangkat kepalanya yang tertunduk,pandangannya langsung membulat ketika melihat kedua mata anaknya yang sudah terbuka.Dengan bahagia Regata bangkit dan memeluk putranya erat.


"B-boy. Kau sudah sadar? Syukurlah! Aku sangat bahagia." Ucap Regata senang.Kemudian pria itu melepaskan pelukannya dan mengusap kening putranya berkali-kali.


"Sebentar boy,aku akan memanggil ibu-


"No Uncle thanks." Potong putra Regata sambil membuang muka darinya.


Regata menatap putranya tidak percaya.What? Uncle? Putranya memanggilnya paman? Putranya,memanggil ayahnya sendiri dengan panggilan paman? Really?


"W-what are you said boy? U-Uncle?" Ulang Regata sambil menatap putranya sedih.


"Yes.Sebaiknya Uncle tidak perlu bersikap baik padaku dan sebaiknya kau pergi saja dari sini! Aku tidak membutuhkanmu begitupun ibuku.Pergilah! Pergilah sebelum ibuku kemari! Aku tidak ingin melihat ibuku menangisi pria jahat sepertimu lagi." Ucap putra Regata keras.


"Jika uncle datang hanya untuk pergi,maka jangan datang saja sekalian." Celetuknya yang membuat kedua bolamata Regata membelalak.


Dia,apa bocah kecil yang berbaring ini anaknya? Kenapa anak kecil berumur dua tahun itu bisa berbicara bijak dan jelas? Huh,sungguh anak ajaib!


"Hey dengarkan dady boy! Dady tidak akan lagi meninggalkanmu begitupun ibumu.Okay? You trust me? Trust me yes." Bujuk Regata.


"No."


" Oh shit! Ternyata membujuk anak kecil lebih sulit daripada membujuk orang dewasa." Batin Regata frustasi.


Regata menghembuskan nafasnya pelan dan memutar otak liciknya untuk mencari cara agar dapat membujuk putra pandainya ini.


"Ekhm..Boy! Jika kau mau ikut denganku dan ibumu saat sembuh nanti,dady akan memberikanmu robot loh." Ucap Regata.


"I Haven't that!"


"Eum,bola?"


"No."


"Handphone?"


"No."


Seketika putranya itu menatap Regata kesal. "Kau pikir aku anak perempuan,Uncle? Jika kau mau barbie,maka beli dan bermainlah sendiri! Aku bukan ba*ci yang suka bermain boneka barbie." Ucap Anak itu yang membuat Regata kesal sampai ke ubun-ubun.


"Hey boy! Sebenarnya kau ini anak siapa hah? Kenapa kau sangat keras kepala seperti-" Ucap Regata menggantung dan berbicara pada dirinya sendiri.


"Oh God I'm forget! Aku juga kan keras kepala yah?" Gumamnya sendiri.


"Hahaha...Uncle kau lucu,kau tidak bercermin jadi orang! Haha.." Ejek putra Regata sambil tertawa terbahak-bahak karna tingkah Absurd sang ayah.


Regata yang kesal menjadi luluh seketika.Dia senang melihat anaknya tertawa karenanya.Yah,walaupun putra tampannya itu masih enggan menyebutnya ayah.


Regata tersenyum dan mengusap kepala anaknya itu lembut. "So boy,apa kau akan ikut denganku setelah sembuh nanti?" Tanya Regata lembut.


Anaknya tampak berpikir,tapi seketika dia menarik kepalanya yang di usap Regata.


"No,thanks."


"Hah,why?"


"Aku tidak mau pergi meninggalkan ibuku! Sebelum kau datang,ibukulah yang selalu mengurusku dengan susah payah." Balas anak itu yang membuat Regata menundukkan kepalanya.


Tanpa mereka sadari,Veyna sudah sedari tadi berdiri di ambang pintu mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.Dia sedikit takut saat Regata mengajak anaknya pergi dengan menawarkan kemewahan padanya.Tapi hatinya berubah menjadi lega saat mendengar balasan bijak yang putranya ucapkan.


Regata mengangkat kembali kepalanya menatap sang putra sambil berucap:


"No boy! Don't worry,dady akan mengajak ibumu juga untuk pergi.Dady akan membahagiakan kalian berdua nantinya.Momy saja sudah setuju untuk ikut,sekarang keputusan terakhir ada padamu.Yes or yes?" Nego Regata.


"Pilihan macam apa itu? Yang ada Yes or no,bukan yes or yes uncle." Celetuk putranya.


"Tidak ada yang namanya No! Jadi sekarang,Yes or yes?" Kekeh Regata.


"Yasudah Or saja,karna yes aku-


"Yeah,akhirnya kau mengucapkan yes boy! I'm happy to hear that." Potong Regata sambil kembali memeluk Regata.


"Ingatlah boy! Sepintar-pintarnya kau,kau adalah putraku.Yang berarti akulah yang lebih pintar darimu." Batin Regata tersenyum licik.


"What? Uncle,aku tidak menga-


"Sudahlah!" Potong Regata lagi sambil melepaskan pelukannya dan menatap putranya antusias.


"Boy,lebih baik kau istirahat dan besok kau akan diperbolehkan pulang dan kau akan pulang ke rumah Dady dan kau bisa membeli apapun yang kau mau! Oke." Lanjut Regata sambil mencium dahi putranya berkali-kali


"Tapi momy-


"Dia sudah setuju boy,kau tenang saja!" Potong Regata segera.


"Eum,oke." Balas putra Regata sedikit ragu.


Dengan segera Regata memeluknya kembali dan mengguncangnya ke kanan ke kiri saking bahagianya.Huh,kenapa tidak sedari dulu dia sadar dan merasakan kebahagiaan yang sebesar ini saat memeluk darah dagingnya sendiri? Sungguh bodoh dia.


Veyna menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca.Mungkin ini yang disebut bahagia pada waktunya.Selama dua tahun menerima hinaan dan cibiran orang karna mengatakan putranya anak haram sebab tak berayah,semuanya kini tidak berarti lagi dengan kebahagiaan yang Tuhan berikan atas kembalinya suaminya.


Dia berharap,semoga keluarga kecilnya itu tidak terpisahkan lagi seperti dulu.Dan yang menjadi ke khawatirannya saat ini adalah wanita yang sebelumnya akan menikah dengan suaminya,Agnes.


Karna saat mengingat pertemuannya dengan Agnes,dia jadi agak was-was jika suatu hari nanti perempuan itu akan datang dan merusak kebagaiaan yang baru saja ia rasakan.


Bagaimana tidak khawatir? Agnes saja menantangnya pada saat itu,dia mengatakan-


Flashback on!


**


Tapi nanti! Wkwk..


Sabar ya...sampai sini dulu! Ntar malem kalo bisa up lagi dah.Kalau engga,yah harap tunggu ajah sampai Up.Wk..Bye! Makasih buat yang udah dukung dengan cara MEMBACA,memberi LIKE,KOMEN,VOTE,and RATE☆5 nya ya...Thanks bangettt♥


_-_


Tbc!