
Afgan berjalan dengan tenang menuju kamarnya, rasanya sungguh tidak sabar ingin memeluk dan mencubu tubuh Agnes yang sudah menjadi candu baginya.
Saat sampai di depan pintu, dengan segera Afgan membukanya. Dan betapa terkejutnya dia dengan apa yang pertama kali dia lihat.
" Alfan!! " Teriak Afgan menggema di seluruh ruangan.
Matanya membelalak melihat Agnes dan Alfan sedang terduduk di sofa dengan jarak yang begitu dekat.
Apalagi dengan Alfan yang sedang menyuapi Agnes dengan mesranya, sungguh membuat emosinya meledak seketika.
Uhuk..Uhuk..
Agnes yang sedang asik memakan makanan yang dibawakan oleh Alfan lantas tersedak mendengar teriakan Afgan.
" Agnes, ah ini minum! " Ucap Alfan panik yang langsung menepuk-nepuk pundak Agnes ketika perempuan itu meminum segelas air putih yang dibawakannya.
" Kalian! " Geram Afgan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
" Apa yang kalian berdua lakukan, hah! " Bentak Afgan yang kembali membuat Agnes terkejut.
" Tidak Kak, kami hanya- "
" Diam! " Potong Afgan.
" Beraninya kalian bermesraan di dalam kamarku tanpa sepengetahuanku. Kalian- "
" Ah, kau marah tanpa alasan Afgan. " Ucap Alfan santai.
" Aku hanya menuruti keinginan bayimu, tidak bermaksud untuk merebut ibunya darimu. " Lanjutnya sambil menopang kaki.
" Kau, apa maksudmu?! " Teriak Afgan yang langsung berjalan mendekat.
" Maksudku? Ah sudahlah! Agnes, urus suami laknatmu ini! Aku ogah jika harus berurusan dengannya. Cukup bayinya saja yang merepotkanku, dia jangan. " Ucap Alfan yang langsung berdiri dan kabur dari hadapan Afgan yang seperti orang kesetanan.
Alfan keluar dengan tergesa-gesa. Ketika sampai di luar, dengan segera dia menutup pintu kamar Afgan rapat-rapat dengan menyandarkan punggungnya pada pintu kamar.
" Huh, selamat. " Gumam Alfan sambil mengelus dadanya.
Sementara di dalam kamar, Agnes menunduk tidak berani menatap Afgan yang sedang menatapnya tajam.
" Jelaskan! " Titah Afgan dingin.
" Apa? " Tanya Agnes polos sambil mendongakkan kepalanya menatap Afgan.
Afgan yang sudah emosi sedari tadi lantas maju dan mencengkram kuat dagu Agnes.
" Apa yang kau lakukan dengan kakakku, hah? Apa kalian memang sering berselingkuh ketika aku tidak ada?! " Bentak Afgan.
Agnes memejamkan matanya tidak sanggup menatap iris hitam yang sedang melotot penuh amarah ke arahnya.
" Aku tidak selingkuh, tapi sepertinya bayi kita yang selingkuh darimu. " Cicit Agnes.
" Apa maksudmu? " Tanya Afgan sambil melepaskan cengkramannya di dagu Agnes.
Afgan kembali berdiri dengan tegak yang lagi-lagi membuat Agnes harus mendongakkan kepalanya menatap Afgan.
" Bayi kita menginginkan kak Alfan. Dia ingin di belikan dan di suapi makanan langsung oleh kak Alfan, " Celetuk Agnes yang membuat Afgan semakin marah.
" Apa kau bilang?! " Pekik Afgan.
Agnes menghembuskan nafasnya kasar, sungguh rumit dan akan selalu salah setiap ucapannya di mata Afgan yang sedang di bakar oleh api cemburu buta.
" Ha..Terserah kau mau apa kak, yang intinya aku masih mau makan. " Ucap Agnes yang langsung kembali menyambar makanan yang di belikan oleh Alfan tadi tanpa menghiraukan keberadaan dan kemarahan suaminya.
" Agnes! " Bentak Afgan.
Agnes memejamkan matanya sesaat, kemudian dia bangkit dan melingkarkan kedua tangannya di leher Afgan dengan mulut yang masih di penuhi dengan makanan.
" Cek, cek. Dengar kak, aku cek aku meminta kak Alfan untuk membelikan cek makanan. Cek tapi sepertinya anakmu ini cek ingin dia sendiri yang menyuapi ibunya. Cek maka dari itu aku meminta kak Alfan cek untuk menyuapiku, " Ucap Agnes terpotong-potong karena mulutnya yang sedang mengunyah makanan.
Dan itu sungguh sangat menggoda! Apalagi dengan lidah yang kadang keluar masuk, ah.. Tidak tahan dia!!
Secepat kilat Afgan memajukan wajahnya dan menyambar bibir manis Agnes.Dia mengangkat sebelah tangannya untuk menekan tengkuk belakang Agnes saat istrinya itu hendak menyudahi pangutan bibir mereka.
Afgan memejamkan matanya menikmati ciumannya bersama Agnes yang selalu membuatnya lupa akan segala hal.
Afgan mengigit kecil bibir bawah Agnes supaya terbuka, dengan segera dia memasukkan lidahnya dan merebut makanan yang berada di dalam mulut Agnes saat istrinya itu membuka mulutnya karena gigitannya.
" Hempp..! " Ucap Agnes sambil menepuk-nepuk pundak Afgan.
Afgan yang sadar istrinya kehabisan oksigen dengan segera melepaskan ciumannya dan mengelap air liur yang masih menempel di bibir Agnes menggunakan ibu jarinya.
" Ternyata makanan yang Alfan belikan enak juga. " Ucap Afgan penuh makna.
Agnes memutar bola matanya malas, " Tentu saja enak! Karena kau mengambilnya langsung dari mulutku. " Balas Agnes kesal.
Afgan terkekeh pelan, dengan tidak sabaran dia menarik tangan Agnes dan menindihnya saat istrinya itu sudah terlentang di atas ranjang.
" Kau sudah melakukan kesalahan dengan membawa pria lain ke dalam kamarku. Jadi sekarang, terima konsekuensinya! " Ucap Afgan yang langsung menyerang leher putih Agnes dengan berutal.
Agnes hanya pasrah dengan kelakuan suaminya. Meski ada alasan atau tidak, sudah pasti Afgan akan kembali menyerangnya malam ini.
Apalagi jika mengingat perjanjiannya tadi siang.
" Auwh! Kak, pelan-pelan ih! " Pekik Agnes saat merasakan gigitan yang cukup kuat di lehernya.
Afgan menghentikan aksinya dan menatap Agnes dengan tersenyum puas.
" Kau tahu, ini adalah tanda kepemilikan. Dan ini menandakan jika kau hanya milikku dan hanya aku yang akan melakukannya padamu. " Ucap Afgan sambil mengusap leher Agnes yanga agak membiru karena ulahnya.
" Tanda kepemilikan kau bilang? Jangan buat lagi! Sakit tahu, " Ucap Agnes yang membuat Afgan tertawa dan menciumi wajah istrinya dengan ciuman yang bertubi-tubi.
" Kak! " Teriak Agnes kesal.
Afgan menghentikan aksinya dan kembali mentap Agnes lekat.
" Jangan membuatku marah, kau tahu kan kalau aku mudah cemburu? " Tanya Afgan serius.
" Ya ya ya, aku tahu. Bahkan dengan kakakmu sendiri saja kau cemburu, " Jawab Agnes kesal.
" Hey andai kau tahu saja ya, dia itu pernah menyimpan rasa padamu. " Bela Afgan yang membuat Agnes memutar bola matanya malas.
" Baiklah. Aku tidak akan dekat-dekat lagi dengan kakak ipar, " Ucap Agnes mengalah.
" Good girl! " Ucap Afgan sambil mengacak gemas rambut Agnes.
" Ih! " Ucap Agnes jengkel dengan kelakuan suaminya.
" So, bisa kita mulainya sekarang? " Tanya Afgan dengan seringaian mesumnya.
" Hah, tidak! Kau bau, kau belum mandi. Aku- "
" Aku tetap wangi meskipun tidak mandi satu bulan. Kau tenang saja, bahkan junior ku tidak berbau sama sekali. Jika tidak percaya, maka kau cium saja sendiri! " Ucap Afgan santai yang mana membuat Agnes mengeluarkan lidahnya jijik.
" Jorok! Mana mau aku melakukan hal menjijikan seperti itu, " Ucap Agnes sambil bergidik ngeri.
" Yakin tidak mau? " Goda Afgan.
" Iya lah! " Balas Agnes pasti.
" Ya sudah, jika kau tidak mau tidak apa. Aku saja yang akan mengendus rumah anakku, " Ucap Afgan tanpa dosa yang langsung mengangkat rok pendek yang Agnes kenakan.
" What? Oh No!! " Pekik Agnes.
_-_
Tbc!