
Jennie terkikik geli melihat wajah kesal Agnes. Yang membuat Agnes semakin lucu adalah mulutnya yang komat kamit gak jelas.
Saat ini, Jennie dan Agnes tengah terduduk di atas ranjang yang berada di kamar Jennie. Tentu saja mereka kemari karena Jennie yang menggusur Agnes ke kamarnya untuk berbincang.
" Sayang, sudah jangan ngomel-ngomel gitu dong! Kan Afgan juga melakukan semua ini atas permintaan Ayah sama Bunda, " Ucap Jennie sambil melirik geli ke arah Agnes.
Sontak Agnes menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
" Apa? Jadi ini semua rencana Bunda? " Tanya Agnes tidak habis pikir.
" Hehe...Iya, " Aku Jennie sambil cengengesan.
Agnes berdecak sebal dan beralih menatap ke sembarang arah.
Mengetahui menantunya marah, dengan segera Jennie beringsut mendekat dan mengelus lembut rambut Agnes dari samping.
" Sayang, Bunda lakuin ini juga demi kebaikan kalian kok. Masa iya Tuan Muda Afriansyah menikah tidak ada kabar ini-itu, mana nikahnya sama cucu pengusaha legendaris dari Amerika lagi! " Celetuk Jennie yang membuat Agnes kembali menatapnya.
" Bunda, " Rengek Agnes. " Tapi Agnes tidak suka yang berbau publik, waktu di Amerika aja Agnes susah keluar saat Grandpa mengumumkan Agnes sebagai cucunya pada publik, " Curhat Agnes.
Jennie tersenyum, lalu dia berkata:
" Agnes sayang dengar, apa kamu mau anak kamu itu di sebut anak haram oleh masyarakat luar nanti? " Tanya Jennie yang membuat Agnes syok.
" Enggak lah! " Jawab Agnes cepat.
" Meskipun aku tahu ini memang anak di luar nikah, tapi aku tidak mau jika anakku di cap sebagai anak haram. Karena bagaimana pun juga, seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi Tuhan pun tahu jika anak ini hadir karena sebuah kecelakaan, " Batin Agnes.
" Nah maka dari itu, Bunda berinisiatif untuk membuat resepsi besar-besaran nanti! Dan Bunda pun akan memberitahu seluruh masyarakat jika ini merupakan resepsi saja, karena pernikahannya sudah terjadi beberapa bulan yang lalu di Amerika. Dengan begitu, tidak akan ada pandangan buruk pada keluarga kita dan calon anakmu kelak. " Ucap Jennie sambil tersenyum bahagia.
" Ha..Baiklah, terserah Bunda saja. " Pasrah Agnes.
" Yey! " Teriak Jennie heboh.
Bahkan wanita paruh baya cantik itu sampai berdiri dan melompat-lompat di atas ranjang saking senangnya.
Agnes hanya menghela nafasnya dan terdiam memikirkan sesuatu. Seketika dia menoleh pada Jennie saat menyadari rencana awalnya mengajak Jennie berbincang.
" Eum, Bunda. Agnes mau bicara, " Ucap Agnes.
Jennie terdiam dan kembali duduk saat melihat raut wajah serius dari menantunya.
" Apa sayang, ayo bicara! " Titah Jennie tidak sabar.
" Aku ingin menanyakan hal yang serius, dan eum...Sedikit agak rahasia. " Ucap Agnes yang membuat Jennie sedikit mengerutkan alisnya.
" Aku mohon, Bunda jawab jujur! Itu pun jika Bunda benar menganggapku sebagai menantumu, " Lanjut Agnes dengan ekspresi pura-pura sedihnya untuk memancing Jennie berkata jujur.
Jennie dengan cepat menggenggam kedua tangan Agnes.
" Katakan saja sayang! Serahasia apapun itu, Bunda pasti akan menceritakannya. " Ucap Jennie sambil tersenyum.
Agnes balik tersenyum, " Makasih Bunda, aku ingin menanyakan tentang tato yang berada di lengan kak Afgan. " Ucap Agnes to the point yang membuat Jennie sedikit terperanjak kaget.
" Ta-tato? H-hah, i-itu bukan tato sayang! Itu adalah tanda lahir. Ya, hehe...Tanda lahir, " Jawab Jennie agak gelagapan.
Agnes menundukkan kepalanya dan sedikit terisak meskipun dia tidak menangis.
" Hiks..Bunda memang tidak menganggapku sebagai menantumu, hiks..Untuk apa kalian menghabiskan banyak uang demi resepsi pernikahanku yang bahkan tidak di ang- "
" Sayang, apa yang kau bilang? Ngaco! Bunda menganggapmu sebagai menantu Bunda kok, jangan bilang begitu lagi! " Potong Jennie sambil menarik Agnes ke dalam pelukannya.
" Hiks..Bunda bohong! Jelas-jelas Bunda tidak menganggap Agnes sebagai istri kak Afgan. " Rengek Agnes yang langsung melepaskan pelukannya.
" Hey apa yang kau katakan? Tentu saja Bunda- "
" Hah, memang sepertinya Agnes sangatlah buruk di mata kalian. Sehingga tentang suamiku sendiri saja kalian masih menyembunyikannya dariku yang merupakan istrinya. " Lanjut Agnes sambil tersenyum getir.
Jennie memejamkan matanya, kemudian dia kembali membuka matanya dan menatap Agnes lekat.
" Baiklah, Bunda akan jujur sama kamu. Tapi setelah apa yang Bunda katakan, Bunda harap kamu tidak meninggalkan Afgan. " Ucap Jennie lirih.
" Aku janji! " Semprot Agnes langsung.
Jennie menarik nafasnya kemudian menghembuskannya secara perlaha.
" Itu memang bukan tanda lahir, melainkan tato permanen buatan seperti yang kamu bilang. Bunda dan Ayah sengaja tidak mengatakan kebenarannya pada Afgan. Karena, Karena Bunda takut dia-dia- " Jennie menggantungkan ucapannya sambil menghapus air mata yang sudah mengalir dari kedua matanya.
Sementara Agnes semakin menatap Jennie penasaran.
" Karena apa? " Tanya Agnes.
" Karena Bunda takut Afgan akan kembali ke dalam kehidupannya yang dulu, " Balas Jennie yang sudah terisak.
" Maksud bunda, kehidupan apa? " Tanya Agnes yang semakin memancing Jennie supaya mengakuinya meskipun dia sendiri sudah tahu kebenarannya.
" Mafia, " Balas Jennie dengan suara pelan nyaris tidak terdengar.
" Apa!! " Pekik Agnes dengan mata membulat.
Sebenarnya ia sudah tahu atau lebih tepatnya sudah mendunga jika Afgan adalah mantan mafia. Dan sekarang lihatlah! Tebakannya itu tidak meleset.
" Hiks..Tolong jangan tinggalkan dia! Bunda yakin Afgan akan hancur jika kau meninggalkannya hanya karena masa lalunya. Agnes percayalah! Afgan yang sekarang tidak sekejam yang dulu, karena dia sama sekali tidak mengingat siapa dirinya dulu. " Ucap Jennie sambil menggelengkan kepalanya pada Agnes.
Agnes melamun dengan pandangan kosong.
" Ternyata benar, dia adalah mantan mafia dan dia hilang ingatan. Tapi yang menjadi tanda tanya besar, kenapa kak Afgan bisa hilang ingatan dan kapan kak Afgan menjadi mafia? Tidak mungkin sejak bayi 'kan? " Batin Agnes.
" Ah..Ini sungguh membuatku pusing, " Gumam Agnes sambil memijit pelipisnya.
" Agnes, hiks..Jangan tinggalkan Afgan, Bunda mohon sama kamu. Bunda, - "
" Oh ayolah Bunda, aku juga berpikir jauh kok. Mana mungkin aku meninggalkan kak Afgan sedangkan dalam rahimku sedang tumbuh darah dagingnya. Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa Ayah, " Potong Agnes yang membuat Jennie tersenyum bahagia.
Brug.
" Makasih, terima kasih Agnes. Kamu sudah menerima anak Bunda dengan segela kekurangannya, " Ucap Jennie yang sudah berhambur memeluk Agnes sambil menangis haru.
" Iya Bunda, aku juga mengucapkan terima kasih banyak karena Bunda sudah berbicara jujur padaku. " Ucap Agnes sambil membalas pelukan Jennie.
Tanpa mereka sadari, Ryan sedari tadi mengintip dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan.
Rasanya dia sangat marah pada istrinya yang sudah memberitahukan kebenarannya pada Agnes.
Tapi dia juga merasa sedikit lega mengetahui Agnes yang ternyata tidak keberatan dengan masa lalu Afgan yang kelam.
Ternyata dugaannya tentang Agnes selama ini salah. Dan dia sungguh bahagia mendengar Agnes yang menerima putranya apa adanya.
Tapi di sisi lain, dia juga sedikit was-was dengan Agnes yang hanya berakting menerima Afgan di depan Jennie saja. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menyelesaikan segalanya malam ini juga.
" Aku harus berbicara empat mata dengan Agnes. Aku harus tahu apa tujuannya menetap bersama putraku, karena aku tahu cintanya pada putraku tidak sekuat cinta Afgan padanya. Meskipun kau ratu mafia kejam, tapi aku bisa lebih kejam jika kau hanya mempermainkan putraku, Agnes. " Gumam Ryan.
Ryan melirik Agnes sekilas dengan tatapan tajam, kemudian dia berlalu menelepon seseorang dan memberikannya perintah untuk menjalankan rencana yang melintas dalam otaknya.
_-_
Tbc!