
" Go-gold prince leader? " Batin Agnes tidak percaya.
" Tidak, ini tidak mungkin. Tapi, tapi ini memang kenyataannya! Di sana tergambar jelas dua pedang yang berlumuran darah. Tapi, tapi masa iya kak Afgan mantan mafia. " Batin Agnes tidak habis pikir.
Agnes memejamkan matanya berusaha mengontrol dirinya dengan mencerna semuanya dengan baik.
Mulai dari Regata yang tiba-tiba memberitahunya tentang Ryan yang adalah gold prince leader, di tambah dengan Ryan yang ternyata tidak memiliki tato itu, dan di akhiri dengan hal mengejutkan yang baru saja dia temui.
Yah, Agnes menemukan tato itu di lengan Afgan. Ukurannya sangat kecil, saking kecilnya akan tidak terlihat jika tidak melihatnya dengan teliti.
Tapi yang menjadi kelebihannya, tato itu memiliki tekstur kasar seperti kerikil jika di sentuh. Dan hal itulah yang membuat Agnes bisa melihat keberadaannya.
Agnes membuka matanya setelah otak liciknya mode on. Dia harus menggunakan kecerdasannya jika sudah berada dalam situasi seperti ini.
Perlahan Agnes mendongak dan menatap tajam wajah Afgan yang sedang memejamkan matanya dengan tangan yang memeluk pinggangnya erat.
Agnes mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus rahang Afgan dan menunjukkan fake smile nya saat mata Afgan terbuka dan menatapnya lembut.
" Ada apa? " Tanya Afgan sambil menangkap tangan Agnes yang bermain di rahangnya.
" Tidak ada, aku hanya- " Agnes menggantung ucpannya dan menatap Afgan pura-pura ragu.
" Hanya apa? Katakan saja! " Titah Afgan sambil mencium punggung tangan Agnes.
" Oke. Apa arti diriku bagimu? " Tanya Agnes memulai permainannya.
" Arti dirimu? " Beo Afgan.
" Tentu saja kau berarti segalanya bagiku! Kau duniaku, kau hidupku, kau cintaku, dan kau adalah seseorang yang jika pergi akan membuatku menggila. " Jawab Afgan jujur sambil menatap Agnes lembut.
Agnes tersenyum manis, seketika senyumannya luntur dan pura-pura bersedih.
" Apa kau mengatakan itu karena aku sedang mengandung anakmu? " Tanya Agnes lirih.
Afgan membulatkan matanya, dengan langsung dia memiringkan badannya dan mengangkat kedua pipi Agnes supaya menatapnya.
" Apa yang kau katakan? Dengar, kau adalah segalanya bagiku. Kau tahu bukan, jika aku sudah mencintaimu sejak lama? Maka jangan ditanyakan lagi apa arti dirimu bagiku, karena jawabannya tetap kau segalanya untukku. " Ucap Afgan dengan menatap Agnes lekat penuh kebenaran di semua perkataannya.
Sekilas Agnes lupa dengan tujuannya, dia terbenam jauh oleh tatapan Afgan yang begitu menggeretak di hatinya.
Tapi saat tangannya menyentuh kedua tangan Afgan yang berada di pipinya, lagi-lagi dia tidak sengaja menyentuh tato itu yang membuatnya tersadar dari lamunannya.
" A-ah..Baiklah, aku percaya. " Ucap Agnes sambil tersenyum manis dan melepaskan tangan Afgan dari pipinya dengan lembut.
" Tapi kak, apa kau mau jujur padaku tentang suatu hal? " Tanya Agnes dengan mata yang sudah menatap Afgan penuh keseriusan.
" Katakan saja, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur. " Balas Afgan yang sudah menatap Agnes serius menunggu ucapan Agnes selanjutnya.
" Siapa kau sebenarnya?! ".
**
Tapi tidak untuk Agnes! Dia hanya menunjukkan fake smile nya karena dia masih sedikit ragu dengan jawaban yang Afgan berikan atas pertanyaannya semalam.
Rencananya, dia akan meminta izin pada Afgan untuk menemui Regata dan menceritakan semuanya langsung pada Regata untuk menhambil kesimpulan bersama.
Setelah keduanya mandi dan rapi dengan pakaian mereka masing-masing, Agnes langsung mengutarakan keinginannya pada Afgan yang saat itu hendak pergi ke kantor.
" Kak, aku-aku ingin meminta izin untuk bertemu dengan Regata. " Ucap Agnes to the point.
" Tidak! " Tolak Afgan langsung.
" Ayo lah, boleh yah? " Bujuk Agnes sambil bergelayut manja di lengan Afgan.
Afgan menghempaskan tangan Agnes sedikit kasar.
" Kalau aku bilang tidak ya tidak! " Bentak Afgan marah.
Agnes menatap Afgan datar. Inilah yang dia tidak sukai dari Afgan, terlalu mengekang dan selalu cemburan.
Dan itu sungguh tidak nyaman bagi Agnes. Karna selama ini, baik keluarganya maupun Regata tidak ada yang menolak keinginannya apalagi dengan dia yang meminta izin terlebih dahulu!
" Aku sudah meminta izin padamu baik-baik, tapi kau terus saja menolaknya karena pikiran negatif mu itu. Jika kau tetap begini, aku tidak mungkin tahan berlama-lama denganmu! " Ucap Agnes pelan namun penuh penekanan karena sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
" Soal bertemu dengan Regata, aku pernah mengatakannya padamu. Mau kau izinkan atau tidak, aku akan pergi! Karna tidak ada yang bisa menghalangi jalanku termasuk kau! " Tunjuk Agnes sambil menatap Afgan tajam.
Afgan menghela nafas pelan, dia berjalan dan menurunkan jari telunjuk Agnes yang mengarah padanya. Kemudian dia pun membawa Agnes ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku, aku bersikap demikian karena aku takut kehilanganmu. " Bisik Afgan.
Agnes memejamkan matanya berusaha mengontrol dirinya yang selalu emosian.
" Aku juga minta maaf, karena telah melawan laranganmu hanya demi Regata. Tapi mengertilah! Aku ingin bertemu dengan Regata karena suatu alasan, dan alasan itu tidak sama seperti yang ada dalam pikiranmu. " Ucap Agnes lembut sambil balas memeluk Afgan.
Afgan melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat Agnes.
" Pergilah! Tapi jangan lama-lama yah, setelah urusanmu selesai datanglah ke kantorku dan minta Regata mengantarmu ke sana! " Titah Afgan sambil membelai lembut pipi Agnes.
" Oke, makasih suamiku. "
Cup.
Agnes mencium pipi Afgan sekilas, kemudian perempuan itu beranjak pergi karena malu dengan apa yang dia lakukan barusan.
Sementara Afgan, dia mematung dengan mulut terbuka dan tangan yang menyentuh pipinya yang masih terasa hangat bekas ciuman Agnes.
" Dia menciumku, oh shit! Hanya karena sebuah ciuman darinya membuatku serasa terbang ke awang-awang. " Batin Afgan tersenyum senang.
_-_
Tbc!