Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Pengorbanan



" Regata, " Gumam Agnes sambil mengadahkan kepalanya menatap Regata.


Saat melihat keadaan Agnes yang kacau di tambah sebelah kaki wanita itu yang terluka, membuat darah Regata mendidih seketika.


Siapa yang berani menyakiti wanita yang dia lindungi mati-matian? Berani sekali dia.


Regata menatap Leon dan Deon yang berada di sampingnya.


" Bereskan! " Titah Regata dingin.


" Siap, king! " Balas Leon dan Deon.


Regata beralih menatap Sarah tajam, sudah di pastikan jika wanita itu lah yang menjadi dalangnya.


Dengan dia yang memegang pistol membuat semuanya jelas, tidak mungkin kan jika Marcus paruh baya yang di buat tidak sadarkan diri oleh Agnes itu bisa menembak Agnes.


Sedangkan Leon dan Deon sudah berpencar dengan senjata panjangnya yang siap membunuh 10 orang dalam satu detik.


" Inilah kesenangan yang aku suka dalam dunia hitam, " Ucap Leon dengan tangan yang sibuk mengarahkan senjatanya ke kanan ke kiri memusnahkan habis anak buah Marcus.


" Me too! "


Dredd...


Dred...


Dredd...


Mereka berdua begitu bahagia bisa membunuh banyak orang-orang yang merugikan orang lain.


Bahkan dengan konyolnya, Deon dan Leon menghitung setiap orang yang mati di tangan mereka dan membuat tantangan siapa yang paling banyak membunuh orang, maka dia yang menang.


Dan satu kapal pesiar lah taruhannya!


Sementara itu, kedua tangan Afgan sudah terbebas dari kurungan tiga anak buah Marcus.


Calon dady tampan itu begitu murka saat melihat ketidak berdayaan Agnes. Dia tidak suka melihat Agnes lemah, dia lebih suka melihat Agnes tangguh dengan wajah tanpa dosanya saat mengeluarkan kata-kata pedas.


" Brengsek kau! "


Bughk.


Afgan memukul para anak buah Marcus dengan membabi buta, di susul oleh Alfan yang juga sudah ikut terbebas.


Sementara Jennie yang memang sudah terbebas hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk Ryan yang sedang memegang pundaknya kesakitan.


" Bunda, ambil pistol itu! Bawa Ayah keluar dari sini! " Titah Alfan di tengah-tengah melawan musuhnya.


" Hiks.. Ta-tapi bagaimana de-dengan kali- "


" Bunda pergilah! Ayah membutuhkan penanganan segera, sekarang! " Potong Afgan setengah membentak.


" I-iya. "


Dengan tangan yang sedikit bergemetar Jennie memungut sebuah pistol yang anak buah Marcus jatuhkan dan mulai membantu Ryan berjalan.


" Bertahanlah! Aku pasti akan menyelamatkanmu, " Ucap Jennie.


Jennie membawa Ryan menuju pintu keluar hotel itu dan menembaki siapa saja yang menghalangi jalannya meskipun dia harus memejamkan matanya saat melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan.


Sedangkan Regata, dia mulai melangkah menuju Sarah. Saat Regata semakin dekat dengannya, dengan segera Sarah mengarahkan pistol yang di pegangnya ke kepala Agnes.


" Berhenti mendekat! Atau aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawanya. Ha ha ha..! " Ucap Sarah sambil tertawa.


Agnes menatap Sarah lekat. Satu yang dapat dia simpulkan, sepertinya karena keadaan hidup saudara tirinya yang terus berantakan dan ambisinya kepada ekonomi berlebih membuat otak Sarah sedikit bergesar.


Atau dengan kata lain dia gila.


" Entah gila atau pura-pura gila, yang pasti dia adalah targetku! " Gumam Agnes sambil menyeringai.


Agnes berdiri sekaligus dan menarik tangan Sarah dengan kasar yang membuat wanita itu terhempas menabrak tembok dengan pistol yang sudah terlepas di tangannya.


" Arghkk!! " Ringis Sarah sambil memegangi pundaknya yang sakit.


Sarah berbalik menatap pistolnya yang berjarak lumayan dekat dengannya, dengan susah payah Sarah berusaha menggapainya.


Namun saat pistol itu sudah hampir dia gapai, kaki Agnes sudah terlihat tepat di depan wajahnya dan menggeser pistol itu semakin jauh darinya.


Sarah mendongak menatap Agnes yang sedang menyeringai ke arahnya.


" Apa? Kau mau mengambilnya, hem? " Tanya Agnes sambil tersenyum mengejek.


" Ck, biar aku ambilkan yah. Sudah pasti kau tidak akan mampu mengambilnya, " Lanjut Agnes sambil berjongkok dan mengambil pistolnya.


" Kembalikan padaku! " Pinta Sarah sambil berusaha berdiri.


Dengan santainya Agnes menginjak punggung Sarah yang mana membuat perempuan itu kembali menempel di atas lantai.


" Jangan terlalu terburu-buru, bahkan aku pun belum bermain apa yang tadi kau mainkan. " Ucap Agnes sambil membolak-balikkan pistolnya.


" A-apa maksudmu? " Tanya Sarah mulai takut.


" Maksudku? Eum...Seperti ini- "


Dor.


Dor.


" Arghkk!! Kakiku!! " Teriak Sarah kesakitan.


Agnes melepaskan sebelah kakinya yang masih menempel di punggung Sarah, dia tersenyum senang saat melihat darah yang mengalir dari kedua kaki Sarah.


Yah, Agnes menembak kaki Sarah tepat di mana Sarah menembaknya tadi. Bedanya, Agnes memberikannya diskon dapat satu tambah satu.


" Bunuh dia! " Titah Regata saat Agnes menatapnya.


Agnes mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia tertawa pelan.


" Tidak semudah itu! Hey kau, bawa dia ke markas! " Titah Agnes pada salah satu mafiosonya yang tadi datang bersama Regata.


" Tidak tidak, lepaskan aku!! " Berontak Sarah saat tubuhnya di seret paksa oleh dua orang laki-laki bertubuh kekar.


" Diam! " Bentak salah satu dari mereka.


" Tidak ti- "


Sertt.


Agnes melemparkan sebuah jarum yang sudah di berikan obat tidur tepat di tengkuk Sarah. Yang mana membuat wanita itu tidak berteriak lagi karena tertidur.


" Sungguh merepotkan, tikus kecil berani-beraninya bermain-main denganku. " Ucap Agnes sambil menyeringai menatap kepergian Sarah.


Agnes berbalik menatap Regata, pria itu tersenyum ke arahnya dengan luka yang berada di seluruh tubuhnya.


" Oh astaga, kenapa kau bisa sebodoh ini hah?! Apa otak mu yang selalu cerdik dalam memprediksi pergerakan musuh lenyap seketika? " Lanjut Agnes sambil memukul dada Regata pelan.


" Awh, aku juga tidak menyangka si tua sialan itu berotak pintar. Untungnya kakek dan pamanmu menyelamatkanku waktu itu, " Ucap Regata.


" Apa? Apa maksudmu? "


" Yah, selain memberi aku bantuan mafioso, mereka juga turun tangan sendiri saat aku di sekap. Dan aku berada di sini, ya karena mereka! " Ucap Regata.


Agnes sedikit tersenyum, dia memeluk Regata erat.


" Kau tahu, jika kau gugur maka aku sudah bersumpah akan ikut gugur denganmu. " Celetuk Agnes.


Regata melepaskan pelukannya dan menatap Agnes tajam.


" Jangan bodoh! Itu sama saja dengan kita yang mati sia-sia, "


" I don't care! " Balas Agnes santai.


Regata menggeleng pelan, saat mata Regata tidak sengaja menangkap Afgan yang sedang membantai habis anak buah Marcus yang tersisa, dia mulai mengamati pergerakan Afgan yang bisa di bilang sangat lincah.


Bahkan suami dari temannya itu tidak mendapatkan luka sedikit pun.


" Agnes, apa suamimu sudah mengingat siapa dia? " Tanya Regata dengan mata yang terus menatap Afgan.


Agnes menatap Regata, kemudian dia mengikuti arah pandang Regata.


" Entahlah! Tapi di lihat dari skil bertarungnya, sepertinya dia sudah ingat. " Ucap Agnes menerka-nerka.


" Bagaimana kalau- "


" Agnes awas!! " Teriak Afgan.


Dor.


" Afgan!! " Teriak Agnes dan Regata bersamaan.


Afgan memegangi perutnya yang basah dengan darah, dia ambruk di atas pangkuan Agnes. Namun kesadarannya masih ada dan sempat melihat kesedihan di mata Agnes.


" A-ku, baik-baik saja. Hah, k-kau jangan me-mengangis sayang! " Ucap Afgan sambil menyentuh wajah Agnes lembut.


Agnes terus menangais melihat kondisi suaminya, Afgan menyelamatkan Agnes dari tembakan yang Marcus lesatkan untuknya.


Yah, diam-diam Marcus tersadar dan dengan gerakan lambat dia meraih pistol dan mengarahkannya pada Agnes.


Dan hal itu dapat di lihat oleh Afgan, dengan segera dia berlari dan menarik Agnes hingga dialah yang terkena tembakan itu.


Dengan kata lain, Afgan mengorbankan dirinya sendiri demi Agnes dan anak yang ada dalam kandungan istrinya.


" Hiks... Kau akan baik-baik saja kak, hiks.. kau harus terus ada bersamaku! " Ucap Agnes sambil membelai wajah Afgan dengan tangan bergemetar.


Afgan tertawa pelan dan memegangi lukanya lagi.


" Aku pasti akan selamat, aku tidak mungkin menjadi pria brengsek yang akan meninggalkanmu ketika kau sedang hamil anakku. Tenang saja, aku baik-baik saja. " Ucap Afgan berusaha menenangkan Agnes.


" Ta-tapi, saat ini aku mengantuk. Ingat, jika aku tertidur kau harus tetap membesarkan anak kita. Aku-aku berjanji a-akan kembali, "


" Kak!! " Teriak Agnes histeris saat kedua mata Afgan sudah terpejam.


" Leon, bawa dia ke markas. Panggil dokter khusus dan selamatkan nyawanya! " Titah Regata yang langsung di angguki oleh Leon.


Agnes melepaskan tubuh Afgan yang di angkat oleh Leon dan Deon itu dengan lemas.


Dia tidak bisa jika harus hidup tanpa Afgan, apalagi dengan dia yang sedang mengandung anak pria itu.


Agnes tidak mau anaknya hidup tanpa seorang ayah, cukup dia saja yang di masa kecil tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Anaknya jangan!


Agnes mendongak menatap Marcus yang kedua tangannya sudah terluka karena di tembak Regata, dia menyeringai iblis dan mulai memungut senjata yang Leon tinggalkan.


Agnes berdiri dan berjalan menuju Marcus dengan wajah yang sudah di penuhi oleh emosi.


" Manusia sepertimu hanyalah sampah bagi masyarakat! Maka akan ku musnahkan sampah ini tanpa sisa!! " Teriak Agnes.


"Jangan-ja- "


Dor.


Dor.


Dor.


Dor.


Agnes menembak Marcus berulang kali, meskipun dalam tembakan pertama Marcus telah mati, tapi Agnes merasa tidak puas dan terus menembaki seluruh tubuh Marcus.


Regata yang melihat kegilaan Agnes langsung memeluknya dari belakang dan merebut senjata yang Agnes pegang.


" Sudah, dia sudah mati. Berhentilah menggila Agnes, aku yakin suamimu akan selamat. " Ucap Regata menghibur.


Agnes langsung merosot terduduk di atas lantai saat nama Afgan di sebut.


" Aku-aku tidak mau kehilangannya Gata, " Ucap Agnes lirih dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Regata berjongkok dan memeluk Agnes untuk menguatkan wanita itu.


" Sudahlah! Semuanya sudah berakhir, aku yakin Afgan akan baik-baik saja. " Hibur Regata.


Agnes semakin menangis deras dalam pelukan Regata, kakinya sungguh lemas untuk berdiri saat bayangan Afgan yang tertembak terus menghampirinya.


Tiba-tiba Deon datang dengan wajah yang di tekuknya sambil berkata:


" Queen, suami Anda.. " Deon menggantung ucapannya.


Agnes melepaskan pelukannya dari Regata dan mendongak menatap Deon.


" Apa? Ada apa dengan suamiku? " Tanya Agnes membentak.


Deon hanya diam sambil menunduk, tidak tega mengatakan hal ini pada Agnes. Apalagi saat melihat mata Agnes yang di penuhi dengan air mata.


Sungguh tidak tega dia.


Agnes beerdiri dan menarik kerah baju Deon dan menggoncang-goncangnya.


" Cepat katakan!! " Teriak Agnes marah.


" Di-dia, "


_-_


Tbc!