Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
I'm Not Virgin Anymore



💥Agnes pOv!


Matahari telah naik hampir ke tengah bumi,tapi gadis cantik yang kini berbaring nyaman di atas kasur yang entah milik siapa itu tidak menunjukkan adanya tanda-tanda hendak bangun.


Setelah cahaya matahari full masuk kedalam celah gorden kuning yang tersedia di sana,barulah ia mengeliat pelan.


Agnes mengeliat,sekujur tubuhnya terasa remuk.Bahkan untuk bergeser sedikitpun rasanya ia tidak sanggup.Ditambah dengan kepalanya yang sungguh masih terasa sangat berat,membuatnya malas untuk terbangun dan memilih menutup matanya kembali.


Baru beberapa saat matanya tertutup,mata itu terlihat kembali terbuka sangat lebar.


Agnes merasakan adanya tangan kekar yang menimpa perut rampingnya.Dengan segera ia berbalik dan melihat sang pemilik tangan yang kini tengah memeluknya erat dari belakang.


Dan betapa syoknya dia kala melihat wajah tampan Afgan lah pertama kali ia lihat.


Dia melihat Afgan yang tengah tertidur pulas dengan bertelanjang dada.


Tunggu,tenjang dada?!!!


NO!!


Dengan tangan bergemetar Agnes mencoba mengintip tubuhnya yang terbalut selimut Tebal.Dan yang ia lihat adalah-


Telanjang.


"Hah,tidak mungkin!"Elaknya dengan suara lirih.


Agnes terlihat mencengkram kuat selimut yang ia pakai dengan kepala yang menggeleng-geleng kecil beberapa kali.


Tak terasa,air mata yang tak pernah ia teteskanpun keluar begitu saja.Pandangannya kini terlihat kosong.


Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Dia dan Afgan?


"Tidak tidak...!Ini pasti mimpi."Elak Agnes lagi."Ini mimpikan?Ya,ini mimpi!"Lanjutnya seperti orang gila.


"No,this is only dream.Yes,A bad dream!"Ucapnya kembali sambil menarik selimut sampai ke leher dengan tangan yang sibuk memghapus air matanya pelan.


Agnes berusaha tersenyum.Tak lama dia menyadari kebodohannya yang berusaha merubah keadaan.


Ini benar,ini memang benar.


Kesuciannya telah-


"No!No!Aghk!!!!"Teriak Agnes frustasi dengan tangan yang menjambak kuat rambutnya dan airmata yang lagi-lagi lolos dari kedua mata indahnya.


Teriakannya tentu saja mengganggu tidur seorang pria yang telah merenggut sesuatu yang berharga dalam dirinya.


Afgan membuka matanya dan melihat Agnes yang masih berbaring dengan menangis dan menjambak rambut.


"Sudah kuduga!"Batin Afgan.


Afgan menarik nafas panjang,tak lama diapun berangsur mendekatkan dirinya pada Agnes.


"Tenanglah!aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi."Ucap Afgan sambil memeluk tubuh telanjang Agnes lembut.


"Brengsek!"Teriak Agnes yang dengan langsung menghempas kasar tangan Afgan yang memeluknya.


Dia mengubah posisinya menjadi terduduk sambil menatap Afgan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang kau lakukan padaku hah?kau telah merusak masadepanku!!!"Teriak Agnes marah.


Afgan kembali menghela nafas panjang."Apa kau tidak mengingatnya?bukan aku yang memintanya."Jelas Afgan.


Mendengar ucapan Afgan,lantas Agnespun berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.Dia terlihat memijit-mijit pelipisnya yang masih terasa sakit.


"Apa yang sebenarnya terjadi?Sialan!Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya!"Batin Agnes.


Kemudian dia merenung,berusaha mengingat kejadian semalam.


Semalam itu-...


Flashback on!


"Jangan sentuh aku!"Teriak Agnes saat beberapa bodyguard pria tua itu menyeretnya masuk.


"Diamlah!"Teriak salah satu bodyguard itu sambil mengeraskan cengkramannya pada tangan Agnes.


Agnes hanya diam.Kesadarannya kini mulai mengurang.


"Apa ini,ada apa denganku?Panas,rasanya panas!!Panas?Jangan-jangan- "Batin Agnes gelisah.


Menyadari hal itu kedua mata Agnes membelalak seketika.Terpancar jelas api kemarahan di dalamnya.


Agnes menatap kedua bodyguard yang tengah menyeretnya itu dengan tatapan mengerikan yang selama ini tidak pernah ia keluarkan lagi selama di Amerika.


"Lepaskan atau kulempar kalian ke Neraka!"Ucap Agnes dengan sorot mata tajamnya.


Kedua bodyguard itu merinding seketika.Tapi tak lama kemudin,mereka justru tertawa.


Mereka mengira,dengan kondisi Agnes yang dalam pengaruh obat perangsang,bisa apa gadis itu?tentu saja tidak bisa apa-apa selain meminta untuk dimasuki'Pikir mereka.


Agnes yang melihatnya hanya menyunggingkan sebelah bibirnya berbentuk sebuah seringai mengerikan.


"Jadi,neraka ya?"Ucap Agnes yang masih menatap mereka dengan tatapan iblisnya."Maka bersiaplah untuk menjemput ajalmu!"Lanjutnya yang langsung menyiku keduanya dengan kuat.


Mereka berdua langsung terpental jauh.Untung mereka tengah berada di tempat yang sepi.Hanya mereka bertiga yang ada.Dan hal itu membuat Agnes senang,senang karna bisa dengan mudah menaklukkan mereka tanpa gangguan.


"Kalian yang memilih,maka nikmatilah pilihan kalian!"Ucap Agnes menyeringai.


Wanita itu nampak mengambil dua botol minuman beralkohol yang tersedia disana.Dengan sadis Agnes melemparkannya keras tepat pada kepala keduanya.


Entah mati atau pingsan,yang intinya kedua bodyguard payah itu sudah tergeletak dengan mata terpejam saat ini.


Agnes menyeringai.Sekuat tenaga dia berusaha menahan rasa panas yang kian membara dalam dirinya.


Tak ingin kejadian ini diketahui oleh pria tua itu,dengan segera Agnes lari dan berhasil keluar dari tempat yang hampir merenggut kegadisannya itu.


**


Terlihat pria paruh baya yang berjalan dengan angkuhnya,dia berjalan menuju kamar yang akan memberikannya kenikmatan dunia untuk yang kesekian kalinya.Tapi kini dengan gadis yang berbeda.


Tentu saja itu si pria tua yang hendak menikmati tubuh suci Agnes.Tapi dia tidak tahu,siapa yang akan ia hadapi.


Langkahnya terhenti.Matanya melotot seketika ketika melihat kedua bodyguardnya yang tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan darah yang mengalir di kedua kepalanya.


Dengan segera ia berlari kedalam kamar untuk memastikan jika pemikirannya itu salah.Tapi-


"Sialan.DIMANA WANITA ITU!!!"


**


Obat itu sepertinya mulai mempengaruhi dirinya,tak tahan.


Agnes sudah tidak bisa menahannya lagi.Entah hilang kemana fikiran warasnya sehingga ia hampir saja melepaskan seluruh pakaiannya di depan umum.


Tapi sebuah tangan kekar menyeretnya dan membawanya masuk kedalam sebuah mobil.Yang secara otomatis menghentikan aksi memalukan yang hampir ia lakukan.


Mobil itupun mulai berjalan entah kemana.


Dengan Agnes dan pria yang menariknya terduduk di kursi belakang.


"Apa yang kau lakukan?Apa kau sudah gila?"Tanya orang itu yang tak habis fikir dengan apa yang hampir ia lakukan.


"Panas,tolong...Panas!!"Racau Agnes tak jelas dengan tubuh yang tak bisa diam di tempat.


Kewarasan Agnes hilang,dia menarik dasi pria itu dan langsung mencium bibirnya penuh nafsu.


Sontak pria itupun membelalak dibuatnya.Dia mendorong tubuh Agnes supaya menjauh darinya.


"Agnes,kau gila.Apa yang kau lakukan hah!!"Pekik Orang itu.


"Afgan,sepertinya dia sedang dalam pengaruh obat."Ucap Alvin yang sedang mengemudi dengan menerka-nerka keadaan Agnes.


Ya,dialah Afgan.Pemuda itu sama-sama tengah melakukan rapat di salah satu restaurant yang tempatnya tak jauh dari bar yang Agnes datangi.


Dalam perjalanan pulang,dia melihat Agnes dengan gelagatan aneh.


Matanya membulat ketika melihat gadis yang masih berada dalam hatinya itu hendak melepaskan seluruh pakaiannya di depan umum.


Dengan segera ia menyuruh Alvin untuk mengambil mobil dan menarik wanita itu untuk masuk bersamanya.


Afgan melirik ke arah Agnes yang seperti cacing kepanasan itu.Dia beralih menatap Alvin kembali.


"Maksudmu,perangsang!"Pekik Afgan yang di angguki oleh Alvin.


"Lalu,apa yang harus aku lakukan pa-Aghk...Agnes,kau sungguh gila!"Pekik Afgan yang tak melanjutkan ucapannya akibat gerakan cepat dari Agnes.


Agnes dengan gesit sudah berada di atas pangkuannya,dia mencium paksa bibir sexy afgan dengan tangan yang mulai liar meraba-raba dada bidang Afgan.


Afgan merasakan suhu tubuhnya memanas saat tangan mungil milik Agnes bergerak berusaha menyelusup masuk kedalam bajunya hendak meraba langsung roti sobek miliknya.


Sementara Alvin,dia hanya menahan tawanya melihat temannya yang tengah frustasi sambil merem melek itu.


"Hey bodoh,cepat singkirkan wanita ini dariku!"Teriak Afgan kesal dengan tangan yang terus memegang tangan Agnes yang tidak bisa diam.


"Maaf bos.Untuk itu,aku tidak bisa."Balas Alvin jahat.


Afgan bingung sekaligus frustasi sendiri dibuatnya.


"Ayo kita pergi ke hotel atau penginapan atau apalah itu!yang penting wanita ini bisa diam tanpa menyentuhku!"Perintah Afgan yang sudah kewalahan dengan tangan Agnes.


"Baiklah!"Jawab Alvin dengan santainya.


"Asisten sialan.Aku menderita disini,sementara dia malah bersikap santai seperti itu."


_-_


Flashback Off!!


Agnes terlihat menghentikan aksinya memijit pelipis,dia menatap Afgan dengan mata dan mulut yang membulat.


"Apa kau sudah ingat sekarang?"Tanya Afgan sinis.


Pria itu terlihat santai dengan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.Bahkan dengan keadaan tubuh bagian atas yang terekspor jelas.


Wajah Agnes memanas.Dia hanya bisa metutuki dirinya yang bodoh saat memaksakan kehendaknya kepada Afgan.


Sungguh memalukan!!


Tapi wanita itu hanya mengingat sampai ia dibawa oleh Afgan ke sebuah apartement saja,tidak mengingat apa yang terjadi setelahnya.


"Kau-kau-


"Aku akan bertanggung jawab!"Potong Afgan cepat."Kau tenang saja,aku akan meminta keluargaku untuk datang melamarmu secepatnya!Sebelum benih yang aku keluarkan tumbuh dalam rahimmu!"Lanjutnya tanpa dosa.


Agnes mengepalkan kedua tangannya emosi.


"Sialan!"


"Tidak perlu!"Balas Agnes dingin.


"Apa maksudmu tidak perlu?"Ulang Afgan dengan alis yang mengerut bingung.


"Ini sebuah kecelakaan,jadi kau tidak perlu bertanggung jawab untuk itu."Jelas Agnes."Untuk masalah anak,kau tenang saja!Masih belum 24jam,aku akan memakan obat setelah ini.Dan semuanya akan aman!"Lanjutnya santai.


"Kau-"Ucap Afgan terlihat marah.


"Apa?"


"Jangan berani-beraninya kau menyia-nyiakan benih pertamaku!kau tidak boleh meminum obat apapun!dia tumbuh atau tidak itu urusan nanti.Yang terpenting,jangan meminum obat yang akan menyia-nyiakan benih pertamaku!"Tegas Afgan dengan sotot mata tajamnya.


"Apa kau gila?aku bisa hamil!"Pekik Agnes tak percaya.


"Aku tidak peduli,aku akan bertanggung jawab!"Ucap Afgan yang dengan langsung bangkit dan berlalu menuju kamar mandi.


Hanya bertelanjang dada,karna pria itu memakai celana pendek untuk menutupi bagian bawahnya.


Agnes memijit pelipisnya pusing.Tak habis fikir dengan Afgan yang menyebut 'menyia-nyiakan benih pertama' apa maksudnya coba?


"Sialan!kenapa aku harus menyerahkan diriku pada pria seperti itu?Ahgk...Bodoh!"Ucap Agnes frustasi.


Kemudian wanita itu memilih untuk kembali berbaring diatas kasur.Karna sungguh,badannya terasa remuk semua.


Entah bagaimana Afgan menyerangnya semalam,sayangnya dia tidak ingat.


Tunggu,kok sayangnya?


**


Sementara Afgan di dalam kamar mandi sana tengah tersenyum sendiri.


Afgan mengingat bagaimana gilanya Agnes dalam memaksanya malam tadi,dan kini ia bertekad.Untuk mendapatkan wanita yang telah ia renggut kesuciannya itu.


"Mulai sekarang aku tidak akan berusaha melupakanmu lagi.Karna takdir,lagi-lagi mempermainkanku dengan menyerahkan dirimu padaku.Sekaliku dapatkan,tidak akanku lepaskan!"