
7 bulan kemudian...
Terlihat seorang wanita cantik sedang berjalan dengan sebelah tangan yang memegang pinggang dan sebelahnya lagi memegang perutnya yang sudah membuncit.
Yah, dialah Agnes.
Agnes membuka pintu kamarnya, dia tersenyum getir melihat suaminya yang masih berbaring lemah di atas tempat tidur dengan peralatan medis yang terpasang di seluruh badannya.
Agnes berjalan dengan perlahan dan terduduk di atas ranjang tepat di sisi Afgan.
Setelah kejadian itu, Afgan di nyatakan koma dan dia dengan sabar menunggu dan mengurus suaminya sampai sekarang.
Sementara keluarga suaminya, masih tinggal di rumah Afriansyah. Berbeda dengan dirinya yang lebih memilih tinggal di rumah yang katanya Afgan berikan untuknya dan akan mereka tinggali setelah resepsi pernikahan.
Jennie sering datang dan menjenguk putra dan menantunya, bahkan tak jarang juga dia dan putra serta suaminya menginap di rumah Agnes.
Apalagi mengingat usia kandungan Agnes yang hampir waktunya, membuat dia khawatir jika Agnes akan melahirkan dan tidak ada orang yang bisa membantunya di sana.
Pernah Jennie memaksa Agnes agar kembali tinggal di rumah utama, tapi tetap saja Agnes menolaknya walaupun dia sudah membujuknya berkali-kali.
Agnes menatap Afgan yang masih memejamkan matanya dengan sendu, dia mengusap kepala suaminya dengan lembut.
Tak terasa, air matanya turun mengingat kondisi Afgan yang sekarang adalah karenanya, karena menyelamatkannya.
" Kapan kau bangun? Apa kau tidak ingin menemaniku berjuang saat melahirkan anak kita, sayang. " Ucap Agnes lirih.
Agnes terus menatap Afgan berharap mendapatkan balasan, tapi yang di dapatkannya hanyalah suara alat medis yang terus berbunyi di samping suaminya.
Agnes menunduk dan mengigit bibir bawahnya menahan isak tangis dengan kedua pipi yang sudah di banjiri oleh air mata.
Semua ini gara-gara Marcus dan Sarah! Jika saja mereka dia lenyapkan lebih dulu, mungkin sampai saat ini Afgan masih berada di sisinya.
Tentang Sarah? Tentu saja Sarah sudah mendapatkan ganjarannya dari Regata serta dirinya yang menyiksa Sarah dengan membabi buta hingga tiada.
Sayangnya, saat itu Marcus sudah meninggal di tempat karena kegilaan Agnes. Jika belum, mungkin pria paruh baya sialan itu sudah jadi mainannya dan Regata.
Dring...
Lamunan Agnes buyar saat mendengar suara ponselnya yang berdering, dia menoleh dan mengambil ponselnya.
" Hallo, "
" Agnes, ini aku. Regata, " Ucap Regata di sebrang sana.
" Ya, ada apa? "
" Aku harus terbang ke Australia, Veyna akan melahirkan. " Ucap Regata dengan nada khawatir.
" Benarkah?! Wah, selamat! Tapi, bukankah usia kandungannya bahkan belum 8 bulan? " Tanya Agnes.
" Dia mengalami masalah kandungan, sehingga dokter menyarankan untuk melahirkan secara prematur dan bibiku menyuruhku untuk membawa Veyna ke Australia. Kemungkinan dia akan melahirkan di sana, " Jelas Regata.
" Baiklah, selamat ya Gata. Dan maaf aku tidak bisa menemgok bayi mu, "
" Tidak apa, aku memakluminya. Bagaimana kabarnya? "
Agnes terdiam, dia menoleh menatap Afgan.
" Masih sama, tidak ada perubahan. "
" Tapi meskipun begitu, aku akan tetap berada di sampingnya dan menunggunya sadar dari tidur panjangnya, " Lanjut Agnes.
Terdengar suara tarikan nafas dari Regata.
" Sampai kapan kau akan terus menunggunya Agnes? Ini sudah 7 bulan lamanya, dan kau masih tetap menunggunya. Apa kau- "
" Cukup Gata! Untuk masalah ini aku tidak menerima saran darimu dengan mencari pria lain untuk menggantikannya, dia sumiku dan akan terus menjadi suamiku. " Bentak Agnes emosi.
Regata di sana hanya bisa diam dan memejamkan matanya, ini sudah yang ke sekian kalinya Regata meminta Agnes untuk melanjutkan hidupnya.
Karena dia sunggguh tidak kuat saat melihat teman yang sudah di anggapnya saudara itu menderita dengan kehidupannya yang menyedihkan saat ini.
Bila saja dia masih lajang, sudah dia culik dan paksa Agnes untuk hidup bersamanya.
" Agnes, mau sampai kapan kau menunggunya hah?! Sadarlah Agnes! Kehidupanmu masih- "
" Selamanya. Aku akan terus menungggunya selamanya. Aku tidak bisa jika harus mencari penggantinya, karena aku mencintainya. "
Tut..Tut..Tut..
Setelah berkata demikian, dengan segera Agnes mematikan ponselnya dan melemparkannya di atas sopa.
Agnes menunduk dan menangis sejadi-jadi. Dia pun sudah lelah dengan semua ini, tapi dia tetap tidak akan meninggalkan suaminya.
Agnes mengangkat kepalanya menatap Afgan dengan mata yang sedikit membengkak karena terus menangis.
" Apa kau akan selamanya berbaring di sini tanpa melakukan apapun, hem? Apa kau tidak mendengar setiap panggilanku di alam sana? Dan apakah kau tega melihat anakmu yang lahir tanpa di dampingi seorang Ayah? " Teriak Agnes sambil menanngis.
" Hiks..Kau jahat kak, kau jahat. Kau meninggalkanku saat aku benar-benar membutuhkanmu. Aku benci padamu, aku benci. Hua..Hiks..!! " Tangisan Agnes semakin pecah dengan tangan yang terus memukul Afgan kesal.
Agnes bangkit berdiri dan menghapus air matanya.
" Baiklah, jika kau masih nyaman di tempatmu yang sekarang maka baiklah. Teruslah berada di sana, bahkan jika bisa bawa juga ragamu yang tidak berguna ini sekalian. " Ucap Agnes asal.
" Dan asal kau tahu. Meskipun suatu hari nanti kau sadar, kau tidak akan bisa melihatku lagi apalagi dengan anakku. Karena sudah aku pasti saat itu aku menemukan suami dan ayah baru bagi anakku yang pastinya lebih tampan dan lebih kaya darimu! " Lanjut Agnes mengancam.
Agnes berbalik dan hendak pergi, namun seketika dia menghentikan langkahnya dengan mata yang membulat saat merasakan sebuah tangan yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
Dengan sedikit kaku, Agnes kembali membalikkan badannya dan terbelalak kaget melihat Afgan yang sudah membuka matanya.
" A-agnes, " Panggil Afgan lemah.
Seketika wajah Agnes berubah menjadi bahagia, dia menangis dan dengan segera dia memeluk Afgan dengan erat.
Bahkan Agnes tidak menghiraukan tubuh suaminya yang masih lemas.
" Hiks..Kemana saja kau, hah? Kau meninggalkanku terlalu lama, kau tahu?! " Bentak Agnes kesal.
Afgan tersenyum tipis, perlahan dia mengangkat sebelah tangannya dan mengusap lembut punggung Agnes.
" Ma-maafkan aku, tadinya aku akan selamanya berada di sana karena di sana sangat nyaman. " Celetuk Afgan yang membuat Agnes melepaskan pelukannya.
Agnes berdiri dan berkacak pinggang, dengan mata yang terus menatap suaminya tajam.
" Nyaman ya? Kalau begitu sana, kembalilah ke sana! Atau perlu bantuanku untuk mengirim mu ke sana? " Ucap Agnes kesal.
Afgan tertawa pelan, dia melepaskan semua alat medis yang masih terpasang di tubuhnya.
Meskipun tubuhnya masih lemas dan terasa kaku, tapi dia terus berusaha bangun dan menarik tangan Agnes hingga istri cantiknya itu jatuh di atas pangkuannya.
" Aku hanya bercanda. Percayalah! Tadi aku juga sempat mendengar bentakanmu pada Regata, bahkan aku langsung terbangun saat mendengar ancamanmu yang mengatakan akan mencari Papah baru untuk anakku. " Ucap Afgan dengan suara pelan.
Agnes melepaskan kedua tangan Afgan yang memeluknya, dia kembali berdiri di hadapan suaminya.
" Kau, dasar kau. Sekarang lebih baik tidurlah! Jangan so kuat, sekarang aku gemuk dan kau tidak akan kuat bila aku terduduk di atas mu seperti itu. " Ucap Agnes galak.
Afgan mendongak dan tersenyum menatap Agnes, kemudian pandangannya turun dan air matanya jatuh saat melihat perut istrinya yang sudah nembuncit.
Perlahan Afgan mengangkat tangannya dan mengelus perut buncit Agnes.
" Anakku, " Gumam Afgan lirih.
Agnes ikut menangis, bahkan tangisannya semakin pecah saat Afgan memeluknya dan menempelkan kepalanya di perut buncitnya.
Agnes balik memeluk Afgan dan mengusap lembut rambut suaminya.
Sekarang penderitaannya sudah berakhir, kekhawatirannya akan anaknya yang lahir tanpa seorang ayah sudah berakhir.
Karena sekarang, suaminya sudah kembali dan dia yakin, kehidupannya akan semakin membaik setelah ini.
" Terima kasih Tuhan. Sekarang aku tidak meminta apapun lagi padamu, karena sekarang hidupku sudah lengkap dengan kembalinya suamiku. " Batin Agnes tersenyum bahagia.
_-_
END