
Agnes menatap jendela mobil dengan wajah yang terlihat murung.
Bagaimana tidak, dia baru mengetahui bahwa baby El yang usianya baru 5 tahun itu berada di panti asuhan selama dia di Amerika saat mengobrol bersama Kevin beberapa waktu lalu.
Setelah pulang dari apartement Regata, Agnes beserta suaminya itu langsung berangkat menuju rumah lamanya.
Dan si Kevin bodoh itu memberitahu tentang El dengan santainya saat Agnes bertanya.
Dan yang lebih parahnya, Kevin lah yang membuang adiknya ke panti asuhan. Alasannya sungguh membuat Agnes kesal, dia bilang di rumah tidak ada orang yang bisa menjaga adiknya. Sementara dia sibuk keluar kota bahkan keliling dunia untuk urusan bisnisnya.
Bodoh. Bukankah kakaknya itu bisa saja menyewa baby sister untuk El? Dari pada harus mengirim adik tirinya itu ke panti asuhan?
" Ck, dasar Kevin bodoh. " Maki Agnes sambil membenahi duduknya.
Afgan hanya melirik Agnes sekilas. Dia tahu Agnes sangat menyayangi El. Meskipun Agnes membenci kedua orang tua El, tapi dia juga tidak mungkin ikut membenci El yang tidak berdosa.
" Aku akan mengantarmu beseok, jadi tenanglah! " Ucap Afgan tiba-tiba.
Agnes langsung menengok menatap Afgan. " Kau akan mengantarku ke panti asuhan? " Tanya Agnes memastikan.
" Hem. "
" Benarkah? " Tanya Agnes dengan mata berbinar.
Afgan menoleh ke arah Agnes. Seketika dia tersenyum melihat wajah Agnes yang berubah menjadi ceria.
" Iya, aku akan mengantarmu besok. Jadi sekarang kau tidak perlu marah-marah, oke. Itu tidak baik untuk kandunganmu. " Ucap Afgan sambil mengusap sekilas kepala Agnes.
Agnes tersenyum dan mengangguk. Kemudiam dia kembali menatap ke arah jendela mobil.
" Berkendara di malam hari sangat indah. Aku jadi rindu kebersamaanku bersama Regata saat akan menjalankan misi jika sudah begini. " Gumam Agnes tanpa sadar.
Afgan mengerutkan alisnya. " Misi? "
Agnes terperanjak kaget, dia langsung menengok ke arah suaminya sambil menyengir menunjukkan deretan gigi rapinya.
" Y-yah, misi. Misi kami banyak sebelum aku pindah ke Amerika dulu. Mulai dari misi memenangkan balapan motor, mobil, game, bahkan misi menghancurkan orang yang berani mengganggu jalan kami. " Jawab Agnes santai.
" A-apa? Apa aku tidak salah dengar? Agnes, memang seperti apa kehidupanmu di masa lalu? "
" Haa..Masa-masa itu sangatlah berarti bagiku. Itu masa-masa dimana aku benar-benar Bad Girl garis keras. " Jawab Agnes sambil menghela nafasnya saat mengingat masa-masa indahnya yang dia lewati bersama Regata dulu.
" Kau tahu, selama kami menjalanlan misinya bersama, tidak ada yang tidak bisa kami pecahkan! " Lanjut Agnes bangga.
" Kami? Maksudmu- "
" Aku dan Regata. " Potong Agnes.
" O-oh. " Balas Afgan yang seketika berwajah masam.
Tapi sepertinya Agnes tidak menyadarinya. Dia malah sibuk mengenang kenangannya dulu, tanpa melihat raut wajah Afgan yang sudah tidak enak di pandang.
" Kapan kau mulai membuat kisah bersamanya? "
" Aku sudah bersamanya sejak Smp sampai sekarang. Tidak menyangka, dia masih tetap bersamaku. Bahkan dia menawarkam dirinya menjadi tamengku saat aku kehilangan ke gadisanku. Bila saja Veyna tidak ada, dan anak ini juga tidak ada, mungkin aku akan memilihnya sebagai pendamping hidupku. " Celetuk Agnes.
Cekik..
" Kau bilang apa tadi? " Tanya Afgan santai namun penuh peringatan di dalamnya.
Gluk.
Agnes menelan paksa salivanya, dia tidak mengira jika ucapannya yang spontan itu akan kembali membangunkan sisi gila dalam diri Afgan.
" A-ah, aku hanya berandai-andai kak! Karna nyatanya, kamulah yang aku pilih untuk menemaniku seumur hidup. Hehe.. " Ucap Agnes sambil cengengesan.
Afgan memicinkan matanya melihat Agnes, dan tentunya Agnes merasa risih dengan tatapan penuh selidik dari Afgan.
" Hey berhentilah menatapku seperti itu! Iya aku salah, aku minta maaf. Itu hanyalah reflex semata. " Elak Agnes sambil mendengus kesal.
Afgan kembali memandang ke depan dan mulai mengendarakan mobilnya. Sementara Agnes sudah kembali memalingkan wajahnya pada kaca mobil menatap indahnya kota di malam hari.
" Di sini aku yang hamil, tapi dia yang sensian. Apa jangan-jangan hormon kehamilanku berpindah padanya yah? Tapi, apa bisa? " Batin Agnes bertanya-tanya.
Tak lama, perempuan itu terlihat menghela nafasnya panjang kala mengingat ucapan Regata.
" Huft..Aku akan menyusun rencana untuk mengetahui kebenarannya. Jika memang benar gold prince itu ayah, aku harus bagaimana? " Batin Agnes bingung.
" Jangan banyak pikiran! Itu tidak baik untuk anakku. " Celetuk Afgan.
Agnes menatap Afgan kesal. " Hey, ini juga anakku yah! " Semprot Agnes sewot.
Afgan hanya mengangkat kedua bahunya menandakan tidak peduli. Kemudian dia menambah kecepatan mobilnya.
**
Sementara di tempat lain, terlihat seorang paruh baya sedang terduduk di kursi besarnya dengan seorang pemuda tampan yang berdiri tepat di hadapannya.
" Katakan! " Titahnya tegas.
" Benar, itu memang dia. " Ujar si pemuda sambil menatap pria paruh baya itu.
Paruh baya itu terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. Ternyata pikirannya benar, dialah orang itu. Dan sekarang orang itu sudah berada di dekatnya.
" Ada yang lain? "
" Menurut informasi yang saya dapat, dia bukanlah orang sembarangan Tuan. Dia adalah wanita terkejam yang bahkan melewati sejarah yang Nyonya ciptakan dulu. "
Paruh baya itu memejamkan matanya rapat-rapat. Jika sudah di suguhkan persoalan yang menyangkut keluarganya, pasti dia akan mendadak lemah. Dan dia benci itu!
" Kau boleh pergi. " Ucapnya tanpa membuka mata.
Pemuda tampan itu tersenyum dan membungkuk hormat. Setelahhnya, dia pun pergi dari ruangan sang bos besar.
" Harus bagaimana aku sekarang, dan sebenarnya apa tujuan dia mendekatinya. Apa dia tahu tentang masa laluku dan berniat menghancurkan keluargaku dengan kelemahanku itu? Hah. " Ucapnya sambil tersenyum kecut.
" Siapa yang akan dihancurkan, ayah? "
_-_
Tbc!