
Agnes melangkahkan kakinya ke dalam rumah Afgan untuk pertama kalinya.Ya, pertama kali! Karna saat ini Afgan membawa Agnes ke rumah yang ia beli beberapa bulan yang lalu. Afgan memilih membawa Agnes ke sini karna memang hari yang sudah gelap di tambah tidak mungkin juga mereka langsung terbang ke Indonesia, apalagi tanpa mengunjungi Filex dan Drexy terlebih dahulu.
Saat berada di ruang tengah, mata Agnes tak henti-hentinya menatap setiap sudut rumah tersebut.Tidak terlalu mewah, tapi terkesan elegan dan nyaman untuk dihuni. Dengan letak di pinggir danau dan warna dinding yang memadukan antara hitam dan putih, sungguh cocok dengan Agnes yang notaben-nya suka akan kegelapan dan ketenangan.
Afgan hanya diam menatap Agnes yang terlihat sangat antusias dan mengagumi rumahnya itu.Ya, memang tujuannya membeli rumah ini adalah untuk Agnes. Dia tahu, bahwa wanita itu tidak seperti wanita blainnya yang suka akan warna cerah dan kemewahan. Agnes justru cenderung suka akan kegelapan tapi terdapat kenyamanan disana. Bahkan saat pertama kali Afgan melihat dan berkeliling di rumah ini pun, tanpa pikir panjang dia langsung membelinya karna teringat pada Agnes.
Setelah puas mengagumi setiap sudut rumah yang baru baginya, Agnes berbalik menatap Afgan.
"Kak, dimana kamarku?" Tanya Agnes.
"Kau lelah?" Tanya balik Afgan yang di angguki kepala oleh Agnes. "Baiklah ayo ku antar!" Lanjutnya dan berjalan mendahului Agnes.
Agnes menatap punggung Afgan dengan alis yang berkerut. Dalam pikirannya ia bertanya-tanya, ada apa dengan Afgan yang sekarang?rasanya sungguh sangat berbeda dengan Afgan yang dulu ia kenal.
Agnes mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli lagi akan perubahan Afgan dan langsung saja menyusul Afgan yang mulai menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan pintu yang Agnes yakini itu pintu kamar, dengan segera Afgan pun membukanya dan tampaklah kamar yang lebih terang dengan warna cream ditambah kasur king size yang terdapat di tengah-tengah ruangan.
Tanpa menunggu lama, Agnes pun masuk dengan Afgan yang hanya berdiri di ambang pintu.
Saat memasuki kamar itu, lagi-lagi alis Agnes berkerut dan langsung membalik badannya hendak bertanya kembali pada sang suami.
"Kak, apa ini kamarmu?" Tanya Agnes tiba-tiba dengan ekspresi bingungnya.
Yah, dia aneh saja. Disana banyak terdapat barang-barang Afgan yang berarti ini kamar pria itu. Tapi kenapa dia justru di bawa ke sini? bukan ke kamarnya? jangan bilang-
"Bukankah kau istriku? jadi kamarku, kamarmu juga." Balas Afgan santai yang membuat Agnes menatapnya dengan membelalak.
"Apa kau gila? tidak mau! aku mau tidur di kamarku sendiri." Tolak Agnes cepat.
Afgan mengangkat kedua bahunya tak peduli dan berjalan mendekati Agnes. Saat sudah berada di depan istrinya, Afgan mengangkat kedua tangannya dan di taruhnya pada kedua bahu Agnes.
"Dengarkan aku, kita menikah bukan atas dasar perjodohan. Jadi kau tidak perlu membatasi dirimu dengan suamimu sendiri! Jalanilah hubungan ini seperti rumah tangga pada umumnya, meskipun di sini hanya aku yang memiliki rasa!" Ucap Afgan sambil menatap Agnes dalam.
Agnes balik menatap kedua bola mata Afgan lekat. Dia bisa melihat kebenaran dimata pria itu saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya. Dan itu sungguh membuatnya merasa bersalah, tidakkah dia berdosa karna tidak bisa mencintai suaminya sendiri? tapi Agnes juga bisa apa? cinta itu tidak dapat di paksakan! gara-gara penghianatan yang Ayah tirinya lakukan pada ibu kandungnya, membuat Agnes tidak pernah percaya akan cinta.
Bahkan baginya, cinta hanyalah sebuah rasa yang akan membuatnya lemah dan tidak berdaya. Cinta hanya akan membawanya ke dalam kesedihan yang mendalam.
Entah setelah ini, Afgan akan bisa atau tidak dalam mengubah pandangan Agnes tentang cinta dengan membuat Agnes jatuh cinta padanya.
"Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi istri yang baik. Untukmu, dan untuk anak kita kelak!" Balas Agnes yang membuat sudut bibir Afgan terangkat sedikit.
"Tapi untuk saat ini, aku juga tidak bisa melakukan beberapa hal seperti menjadi istrimu sepenuhnya. Aku ingin kau mengerti akan hal itu dan tidak memaksaku! Dan lagi, aku memiliki banyak urusan di luar sana. Dan aku harap, kau tidak akan ikut campur di dalamnya!" Lanjutnya.
Afgan menatap Agnes lekat. Kemudian pria itu tampak memejamkan matanya dan menarik nafas dalam.
"Untuk memenuhi kewajibanmu sebagai istri, aku tidak akan memaksanya.Tapi untuk urusanmu, aku akan selalu ikut campur karna kau merupakan istriku yang berarti tanggung jawabku!" Balas Afgan dengan penuh penekanan.
"Ikut campur? tidak akanku biarkan! karna jika kau tahu siapa aku sebenarnya, aku yakin.Kau tidak akan mengizinkanku untuk berada di dunia hitamku lagi." Batin Agnes.
"Baiklah, itu terserah padamu saja!" Balas Agnes mengalah.
"Dimana kamar mandi? badanku serasa lengket semua." Lanjutnya bertanya.
Afgan melepaskan kedua tangannya yang berada di bahu Agnes dan melirik pintu yang berada di sudut ruangan.
Agnes mengangguk kecil. Dia meyakini bahwa pintu itu adalah pintu kamar mandi, tanpa menunggu lama dia pun berlalu menuju pintu yang Afgan lirik tadi.
Setelah sampai, Agnes membuka pintunya dan wanita itu pun masuk dengan mengunci pintu dari dalam.Takut jika tiba-tiba Afgan menerobos masuk saat dirinya full tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.Yeah, jaga-jaga lah!
Afgan tersenyum kecil melihat tingkah Agnes. Saat hendak menjatuhkan dirinya di sofa yang ada dalam kamarnya, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka sedikit yang hanya menampakkan kepala Agnes dengan ekspresi wajah ragu-ragunya.
"Ada apa?"
"Eum,bisa kau membantuku?"
"Apa?"
Dengan ragu-ragu Agnes menjawab: "Tolong bukakan ret sleting belakangku, aku tidak sampai dan mungkin juga tersangkut." Ucap Agnes sambil memalingkan wajahnya karna malu.
Afgan merenung sesaat.Kemudian dia beralih menatap Agnes kembali.
"Baiklah!"
**
Agnes memejamkan matanya saat Afgan menyampingkan rambut panjangnya yang sudah tak di gelung lagi ke samping.
Setelah menyingkirkan rambut Agnes yang menghalangi punggung wanita itu, Afgan pun beralih memegang ret sleting gaun belakang yang Agnes kenakan dan mulai menariknya pelan.
Gluk.
Afgan menelan kasar salivanya saat melihat punggung putih nan mulus milik Agnes. Tak mau jika ia khilaf, dengan segera Afgan pun memalingkan wajahnya yang sudah memanas.
"Ekhm, sudah. Sekarang kau mandilah! aku akan mandi di kamar bawah." Ucap Afgan berusaha sesantai mungkin dan pergi dengan tergesa-gesa.
Setelah kepergian Afgan, Agnes dengan sigap berbalik dan kembali mengunci pintu kamar mandi dengan dirinya yang menyandarkan punggungnya pada pintu.
"Huft..kenapa rasanya sungguh malu dan canggung yah?" Gumam Agnes. "Akhk sialan! semua ini gara-gara gaun menyebalkan yang Regata berikan!" Maki Agnes.
Saat menyebut nama Regata, Agnes teringat akan orangnya.
"Bagaimana kabarnya yah? semoga kau bisa memperbaiki hubunganmu dan segeralah kemari gata! aku sangat ingin melihat putramu yang katanya tampan itu." Batin Agnes sambil tersenyum.
**
Ya, istri dan anaknya itu sengaja terbang ke Amerika untuk menyusul Regata ketika video viral Regata yang melamar Agnes itu tersebar luas di sosial media. Dan yang membuat Regata sungguh merasa bersalah, dia bahkan langsung mengusir istrinya saat wanita itu berusaha memohon padanya untuk menemui anaknya yang sedang sakit dan terus bergumam menanyakan keberadaan Ayahnya.
Hati Regata sungguh sakit saat mendengar perkataan Agnes tentang bagaimana jika setelah dewasa anaknya itu malah membencinya karna dia yang tak kunjung datang. Maka dari itu, Regata berfikir sekaranglah waktunya dia meminta maaf dan kembali pada keluarga kecilnya yang sempat ia tinggalkan selama dua tahun lamanya.
Tok tok..
"Sebentar!" Jawab seseorang dari dalam ketika Regata mengetuk salah satu pintu kost-kost-an itu.
Cekrek..
"Re-rere!" Ucap wanita itu sambil mematung di ambang pintu.
Brung.
"Vey, maafkan aku!" Ucap Regata lembut sambil memeluk istrinya yang masih mematung melihat kehadirannya.
Veyna stant, gadis polos asal Milan yang sempat menjadi istri kontrak dari Revix Regata Saputra ketika perjodohan dari sang bibi yang tidak dapat ia hindari.
Veyna mematung. Tak membalas pelukan, atau ucapan Regata.
Kecewa, sakit, tidak menyangka dan senang menjadi satu. Ingin rasanya Veyna memaki dan menyuruh Regata pergi dari hadapannya. Tapi dia juga tidak mau egois, dengan tidak memikirkan keinginan putranya untuk melihat sang Ayah.
Veyna memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya. Kemudian dia melepaskan pelukan Regata dan menatap pria itu datar.
"Masuklah! putraku sakit dan terus memanggil Ayahnya." Ucap Veyna sambil membuka pintu lebar.
Regata mengusap air mata yang sempat mengalir di pipinya dan mengangguk antusias atas perintah Veyna. Tanpa menunggu lama, Regata pun masuk dan mendapatkan putranya yang tengah berbaring di atas kasur dengan badan yang menggigil.
"Dad,where are you? I- I need you so much." Ucap anak kecil itu setengah sadar.
Tes.
Lagi-lagi hati Regata sakit melihat keadaan putranya. Sungguh berdosa ia susah menyiksa anak kandungnya sendiri selama dua tahun ini. Sekarang dia berfikir, masih pantaskah dia di maafkan atas semua yang telah dia lakukan? tapi jika bisa, maka maafkanlah! karna sungguh, setelah ini Regata tidak akan lagi menyia-nyiakan apa yang Tuhan berikan padanya.
Regata mengusap air mata yang lagi-lagi mengalir di pipinya dan berjalan pelan ke arah putranya yang masih tertidur dengan mengumamkan keberadaan Ayahnya. Sesaat dia terdiam dan memandang dalam wajah putranya itu. Ya, dia sangat tampan. Wajahnya sungguh mirip dengannya, bahkan lebih tampan sang anak daripada dirinya sendiri.
Regata tersenyum senang dan langsung memeluk erat tubuh sang putra yang membuat putranya itu terbangun seketika.
"Hiks..Maafkan dady sayang, hiks..dady tidak pernah datang mengunjungimu selama kau hidup. Hiks..!" Ucap Regata yang sudah terisak dengan mengutarakan rasa penyesalannya yang mendalam.
Anak itu terbongong. Secepat kilat dia mendorong tubuh Regata supaya menjauh.
"Kemana saja kau selama ini, hah? Kau tidak pernah memperdulikanku ataupun ibuku dan sekarang kau datang dan dengan mudahnya meminta maaf padaku. Go! GO!!" Ucap si kecil itu sambil menatap Regata penuh kebencian.
"Boy, maafkan dady. Dady sungguh menyesal, hiks..maafkan dady!" Ucap Regata tersedu-sedu.
"Aku tidak ingin melihat Ayah jahat sepertimu. Go! Go!-
Brugh.
"Afra!!" Pekik Veyna saat melihat putranya ambruk tak sadarkan diri.
Dengan sigap Regata menangkap tubuh mungil itu dan membawanya kedalam pelukannya.
"Boy boy, open you'r eyes!" Ucap Regata panik sambil menepuk-nepuk pipi putra tampannya yang menutup mata.
"Hiks..Bawa Afra ke rumah sakir re, hiks..dia sedang sakit." Ucap Veyna yang sudah terisak sambil mengelus lembut rambut Afra yang masih berada dalam pelukan suaminya.
"Oke, aku membawa mobil. Ikutlah denganku! kita akan pergi ke rumah sakit segera." Ucap Regata yang di angguki Veyna.
Dan dengan segera Regata pun menggendong tubuh kecil putranya menuju mobil dengan diikuti Veyna dari belakang.
**
Agnes membuka pintu kamar mandi dan mendapati Afgan yang tengah terduduk di atas ranjang dengan laptop yang berada di pangkuannya.
Mendengar suara pintu yang terbuka, dengan segera Afgan mengalihkan pandangannya pada Agnes yang hanya memakai kimono di tubuhnya.
Wajah Afgan kembali memanas saat melihat penampilan Agnes yang membuat dirinya menegang seketika. Bagaimana tidak? dengan Agnes yang hanya memakai kimono itu dapat memamerkan kaki jenjang putih dan dada yang membusung besar ditambah rambutnya yang basah sungguh membuat penampilannya sangat menggoda di mata Afgan, bahkan mungkin di mata pria lain jika melihatnya. Tapi tentu saja tidak akan Afgan biarkan!
Agnes memalingkan wajahnya yang sama-sama memerah ketika menyadari tatapan Afgan. Afgan dan Agnes sama-sama terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan karna canggung.
"Eum, dimana pakaianku?" Tanya Agnes menghilangkan kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
"A-ada di lemari sebelah kanan. Semua perlengkapanmu sedah aku siapkan di sana." Ucap Afgan sambil pura-pura kembali fokus pada laptop yang berada di pangkuannya.
"Eum, baiklah terima kasih." Ucap Agnes dan dengan segera berjalan dan membawa bajunya dari dalam lemari.
Setelah mendapatkan pakaiannya, Agnes pun berlalu kembali menuju kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Tidak mungkin kan jika dia berganti pakaian di depan Afgan.
Afgan melirik pintu yang sudah kembali tertutup dan terkunci. Dia menghela nafas dalam untuk menetralkan detak jantungnya yang kian menggila ketika melihat Agnes tadi.
"Huft..tenanglah! Argk.. bisa gila aku lama-lama."
_-_
Tbc!