
Agnes turun dari lift dan berjalan dengan langkah cepat. Entah kenapa rasanya hatinya saat ini sedang tidak dalam keadaan baik.
Yah bisa di bilang Agnes cemburu, tapi dia tidak menyadari hal itu. Atau mungkin dia menyangkalnya.
Saat sudah berada di luar kantor Afgan, Agnes segera membuka pintu mobilnya karna memang saat datang tadi dia menyetir sendiri.
Bruk.
Belum sempat Agnes masuk, pintu itu sudah di dorong oleh seseorang sampai tertutup.
Dengan perasaan kesal Agnes menoleh dan seketika dia diam mematung melihat Afgan lah yang sudah menutup pintu mobilnya dengan kasar.
" Mau kemana kau? " Tanya Afgan dengan mata yang melihat Agnes tajam.
Agnes bersikap santai dengan menyandarkan pinggungnya di mobil. Dia tahu Afgan saat ini sedang marah, dan sepertinya sebentar lagi dia akan kena semprot amarahnya.
Tapi yang membuat Agnes bingung, kenapa pria itu marah? Bukannya seharusnya dia yang marah karena memergoki suaminya yang sedang bermain belakang?
" Aku mau pulang, kau pikir aku mau kemana lagi kak? " Tanya Balik Agnes.
" Aku bisa jelaskan. " Ucap Afgan dengan tatapan yang masih di penuhi oleh amarah.
Agnes mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia mendesis sambil memalingkan wajahnya dari Afgan.
" Jelaskan? Memang apa yang akan kau jelaskan? " Tanya Agnes sambil menatap Afgan.
" Dia sekertarisku, kau tidak usah salah paham soal yang tadi. " Jelas Afgan jujur.
" Owh, kau menjelaskan kejadian yang tadi? " Tanya Agnes pura-pura lupa.
" Kau tenang saja kak! Kau bebas melakukan apapun, karna aku tidak akan melarangmu ataupun melaporkan perbuatanmu pada keluargamu. " Lanjut Agnes tenang sambil menepuk pundak Afgan dan tersenyum manis.
Afgan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ternyata benar dugaannya, Agnes tidak peduli akan dirinya dan Agnes juga tidak merasa cemburu jika dia yang merupakan suaminya itu bermain belakang.
Cukup! Sudah cukup wanita itu menguji kesabarannya. Sekarang, waktunya Afgan membuktikan siapa dia bagi Agnes dan siapa Agnes baginya.
" Kau tidak keberatan melihat suamimu bermain di belakangmu hem? " Tanya Afgan geram yang justru di angguki oleh Agnes.
" Maka aku juga tidak keberatan untuk memaksamu melayaniku! " Lanjut Afgan penuh penekanan dan langsung mendorong Agnes ke kursi penumpang yang sempat dia buka tadi.
Bruk.
Agnes terhempas hingga terduduk di kursi belakang, sementara Afgan sudah masuk ke kursi depan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi entah hendak membawa Agnes kemana.
" Kak, apa yang kau lakukan? Berhenti! Turunkan aku! " Bentak Agnes yang tidak di hiraukan oleh Afgan.
" Kak, oh god. Kak pelan-pelan, aku masih ingin hidup! " Ucap Agnes kesal.
" Dia ini, iblisnya selalu muncul jika marah. Huh, dasar pemarah! " Gumam Agnes sambil mendelik malas ke arah Afgan.
Dengan rahang yang masih mengeras, Afgan semakin mempercepat laju mobilnya dan mencengkram stir kemudi kuat.
**
Tidak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai oleh Afgan sudah sampai di sebuah apartement yang sepertinya milikya.
Dengan segera Afgan turun dan membukakan pintu untuk Agnes. Bukannya menunggu Agnes keluar, Afgan justru meraih tangannya dan menggusurnya dengan kasar.
" Argk, kak sakit! " Ringis Agnes karna Afgan mencengkram lengannya terlalu kuat.
Afgan tidak memperdulikannya, dia tetap menarik tangan Agnes dan membawanya ke dalam sebuah kamar.
Bruk.
Afgan melempar tubuh Agnes ke atas ranjang. Dia mengunci pintunya dan berjalan ke arah Agnes dengan tangan yang sudah membuka jas yang dipakainya.
" Ma-mau apa kau? " Tanya Agnes panik dan mulai beringsut mundur.
Afgan melonggarkan dasinya dan melemparnya ke sembarang arah. Dia menyeringai melihat Agnes yang terus mundur ketakutan karna perbuatannya.
" Kenapa? Kau takut, kau takut pada suamimu sendiri, em? " Tanya Afgan sambil memiringkan kepalanya menatap Agnes.
Agnes hanya diam sambil terus beringsut mundur. Dia yang adalah seorang Queen jadi merasa was-was dengan Afgan.
Entah kenapa, dia merasa terintimidasi sekarang. Dan dia juga ingat betul bagaimana gilanya Afgan saat marah.
" De-dengar kak, a-aku sedang mengandung. " Ucap Agnes memperingati.
Agnes menggeleng, dia melirik ke arah samping dan hendak melompat kabur dari atas ranjang.
Tapi terlambat, Afgan sudah lebih dulu naik ke atas ranjang dan menarik kedua kaki Agnes supaya terlentang.
Saat Agnes berontak dan hendak bangun, Afgan dengan segera merangkak naik ke atas tubuh Agnes dengan kedua tangan yang bertumpu di kedua sisi Agnes.
" Mau kemana, hem? Kau mau kabur dariku? " Tanya Afgan menyeringai.
Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Agnes yang membuat perempuan itu menutup matanya seketika.
" Tidak akan semudah itu, baby! " Bisik Afgan sensual tepat di telinga Agnes yang di akhiri dengan menggigit sedikit keras telinga Agnes.
" Stt..Ah! " Ringis Agnes kesakitan.
Afgan menyeringai dan menjauhkan wajahnya dari wajah Agnes. Dia menatap wajah cantik istrinya itu dalam-dalam.
Melihat Agnes yang masih memejamkan matanya seperti takut membuat amarah Afgan reda seketika.
Dia jadi merasa kasihan pada istrinya yang ketakutan, dia tahu Agnes belum siap melakukan hal itu dengannya.
Tapi jika Afgan terus memberinya waktu, Afgan juga tidak bisa!
Karna dia takut Agnes pergi darinya dan kembali ke dalam pelukan Regata jika dia belum juga memilikinya, meskipun dia sudah pernah melakukannya dengan Agnes sebelumnya.
Jadi sekarang, Afgan akan tetap melakukannya dan berusaha tidak menyakiti Agnes.
Dia akan memintanya baik-baik. Yah, dia akan memintanya baik-baik.
Karna mau bagaimana pun, dia suami Agnes yang berarti berhak untuk menyentuhnya.
Afgan mendekatkan wajahnya pada wajah Agnes dan mencium keningnya lembut.
Seketika Agnes membuka matanya saat merasakan kecupan lembut yang Afgan berikan.
Dia mengangkat kepalanya dan menatap Afgan.
" Bisa aku meminta hakku sekarang? " Tanya Afgan sambil tersenyum lembut.
Agnes hanya diam sambil menatap Afgan heran. Bukannya tadi dia marah? Lalu kenapa mendadak suaminya itu bersikap lembut?
Terdapat beberapa pertanyaan yang melintas di kepala Agnes tentang perubahan sikap suaminya yang mendadak.
Sehingga Agnes hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Afgan. Yang mana di artikan sebagai penolakan oleh Afgan.
Afgan memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Mungkin ini belum waktunya membuat Agnes menyerahakn dirinya dengan suka rela pada Afgan.
Afgan tersenyum dan kembali mengecup lembut kening Agnes.
Tanpa berkata apapun, dia bangkit dari atas Agnes dan berniat untuk memberikan Agnes waktu lagi untuk memberikan haknya dengan suka rela.
Agnes mengerjapkan matanya beberapa kali, sekerika dia sadar dengan saran dari Regata. Dengan segera dia bangkit dan menarik Afgan hingga pria itu kembali menindihnya.
Afgan membulatkan matanya saat melihat Agnes yang sudah menyatukan bibir mereka dengan tangan yang melingkar di lehernya.
Agnes menutup matanya dan melu*at lembut bibir Afgan. Perlahan Afgan memejamkan matanya dan mulai membalas setiap lum*tan Agnes meskipun dalam hatinya terheran-heran dengan sikap Agnes.
Ciuman yang tadinya lembut menjadi semakin liar dan menuntut lebih. Saat merasakan oksigen Agnes mulai habis, Afgan melepaskan ciumannya dan menyatukan jidat mereka.
Agnes tersenyum dan mengelus pipi Afgan, dan tentu saja hal itu membuat Afgan heran.
Dengan nafas yang masih memburu, Agnes menatap Afgan lekat sambil berkata:
" Kau menginginkan hakmu? Maka lakukanlah! Ambil hakmu, aku mengizinkannya. " Ucap Agnes sambil tersenyum manis.
Afgan yang sudah mendapatkan lampu hijau tersenyum senang dan langsung menghujani wajah Agnes dengan ciumannya.
" Terima kasih, aku akan melakukannya dengan lembut agar bayi kita tidak kesakitan. " Ucap Afgan senang.
Agnes mengangguk dan kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Afgan saat suaminya itu kembali menyerang bibirnya dengan brutal.
Dalam hati, Agnes berkata:
" Benar kata Regata, aku harus menjadikanmu suamiku sepenuhnya sebelum aku menyadari arti dirimu dalam hidupku saat kau sudah pergi meninggalkanku. "
_-_
Tbc