
Agnes hanya diam sambil menatap ke luar jendela.Saat ini,dia dan Regata sedang berada di dalam mobil dengan Regata yang menyetir.
Setelah Regata mengajaknya menikah secara dadakan tadi,akhirnya Agnes mengalah dengan mengiyakan ajakan Regata saat dia kalah telak dengan perdebatannya bersama Regata waktu itu.
Rencananya,saat ini Agnes dan Regata hanya akan men 'sah' kan hubungannya di gereja saja.Setelah resmi menjadi suami istri,barulah resepsinya akan mereka adakan secara besar-besaran setelah meminta restu dari Drexy dan filex setelah pulang dari gereja nanti.
Ya,saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju gereja.Agnes sudah menghubungi sang kakak Kevin sebagai saksi dan tentunya dengan Rexi yang sama-sama adalah kakaknya.
Awalnya Rexi kaget dan menolak ucapan Agnes yang mengatakan jika dirinya hendak menikah,apalagi dengan Agnes yang menyuruh Rexi untuk tidak memberitahukan hal ini pada sang Ayah.Tapi setelah diyakinkan oleh Agnes,akhirnya Rexi pun mengalah dan mengiyakan ucapan sang adik.
Sepanjang perjalanan,mereka berdua hanya diam bergulat dengan pemikirannya masing-masing.Agnes sibuk memikirkan keputusan yang ia ambil dan Regata sibuk memikirkan cara menyingkirkan orang yang tadi sempat ia temui.
Cekik..
Tak terasa,mereka sudah sampai juga di Gereja.Dengan segera Agnes serta Regata keluar dari dalam mobil dan melihat kehadiran Kevin,Alvin,Vano,Rexi dan tak lupa dengan Afgan yang sedang menunggu kedatangan mereka dengan berdiri di depan Gereja.
Regata menarik nafas panjang dan menyambar tangan Agnes untuk di genggamnya.
"Ayo."Ucapnya yang dibalas anggukan kepala oleh Agnes.
Mereka berdua pun masuk dengan yang lain mengikuti dari belakang.Sebelum masuk,Kevin sempat menepuk pundak Afgan untuk menguatkan temannya yang ia yakini sedang patah hati.
Afgan hanya mengangguk kecil membalasnya,dan berlalu mengikuti mereka ke dalam gereja.Karna memang,sebelum kedatangannya kesini dia sudah menyiapkan hatinya terlebih dahulu.
**
Afgan menatap Agnes yang berada di depannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.Dia masih tidak rela rasanya melepaskan Agnes untuk pria lain.Apalagi dengan dirinya yang sudah sempat memiliki wanita itu.
Tapi apalah dayanya,sepertinya Tuhan memang tidak mengizinkan mereka untuk bersama.Terbukti dengan Agnes yang tak kunjung mengandung anaknya.
Afgan hanya berharap,semoga keajaiban datang padanya.Sebelum semuanya terlambat!
Saat pendeta mulai mengucapkan janji suci yang akan di jawab 'saya bersedia' oleh Regata,tiba-tiba perut Agnes serasa mual dengan kepala yang mulai berkunang-kunang.Saat itu juga,lututnya lemas dan penglihatannya pun sudah gelap semua sehingga menyebabkan Agnes ambruk sebelum Regata mengucapkan janji suci pernikahannya.
"Saya ber-
"Regata!"Panggil Agnes lirih memotong ucapan Regata sebelum akhirnya dia-
Brugk..
"AGNES!!"
Regata dengan sigap membawa Agnes kedalam pelukannya dan menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu.
"Agnes,nes bangun nes!"Panggil Regata panik .
"Bawa dia ke rumah sakit!sepertinya adikku sakit."Usul Rexi tak kalah khawatirnya dengan Regata.
Regata mendongak dan mengangguk."Bantu aku."Ucapnya.
Dengan sigap Afgan maju dan membantu Regata mengangkat Agnes menuju mobil Rexi.
Bukan Regata tak mampu membawa Agnes seorang diri,tapi dengan pakaian Agnes yang memang sudah berganti menjadi pakaian pengantin akan membuatnya sedikit sulit jika menggendong Agnes sendirian.Maka dari itulah dia meminta bantuan.
Regata marah dan cemburu saat melihat Afganlah yang membantunya membopong Agnes.Tapi dia sadar,ini bukan waktu yang tepat untuknya menunjukkan rasa cemburu butanya.
Setelah membaringkan Agnes di kursi belakang,Afgan dengan segera berjalan dan terduduk di samping Rexi dan tanpa menunggu lama Rexi pun melesatkan mobilnya menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaan adik cantiknya.
"Bertahanlah baby,kau akan baik-baik saja!Adikku kuat,kau pasti tidak apa-apa." Batin Rexi yang khawatir akan keadaan fisik dan mental adiknya.
Pasalnya,memang sudah lama dia tidak melihat dan hanya bicara lewat telpon saja dengan Agnes.Dia pikir Agnes sedang depresi berat dan belum bisa menerima kejadian yang ia lewati beberapa minggu lalu.
**
"Bagaimana keadaan adik saya dok?"Tanya Kevin khawatir setelah melihat dokter yang memeriksa Agnes keluar dari ruangannya.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan!Adik anda baik-baik saja,dia hanya kelelahan."Jelas Dokter itu sambil tersenyum simpul.
"Syukurlah!"
Akhirnya mereka bernafas lega disana,apalagi Afgan yang sedaritadi uring-uringan gak jelas saat mendapati Agnes yang berbaring dengan dokter yang memeriksanya.
"Dan-"Dokter itu menggantung ucapannya yang mana membuat semua orang menatapnya penuh tanya.
"Dan apa Dokter katakan!"Bentak Rexi sambil mencengkram kerah baju dokter muda nan tampan itu.
"D-dia dan ba-bayinya baik-baik saja Tuan."Ucap dokter itu gelagapan karna tenggorokannya tercekik oleh Rexi.
Beledag!..
Bayi?Agnes Hamil?
Seketika Rexi mengendorkan bahkan melepaskan cekikannya dan menatap dokter itu tajam.
"Apa katamu,bayi?apa adikku hamil?"Tanya Rexi memastikan.
"I-iya Tuan.Nona hamil 3 minggu dan dia pingsan akibat kekurangan asupan gizi makanan sehingga membuat kandungannya sedikit melemah."Balas dokter itu. "Tapi anda tidak usah khawatir! Saya akan meresepkan vitamin dan obat penguat kandungan supaya nona dan bayinya sehat dan terlindungi sampai persalinan nanti."Lanjutnya sambil tersenyum.
Mereka syok mendengar ucapan dokter tadi.Apa? 3 minggu?.
Regata menatap arah depan dengan tatapan kosong,sementara Afgan menganga tak percaya.Agnes hamil?berarti dia-dia..
"Baik dok,terimakasih."Ucap Kevin mewakili Rexi yang hanya diam mematung. "Apakah kami bisa menjenguknya secara bersamaan dok?"Tanyanya.
"Tentu bisa tuan! Kalau begitu,saya permisi."Lanjutnya sambil tersenyum dan dibalas senyuman paksa dari Kevin dan Rexi.
Sepeninggalan Dokter,mereka kembali mematung dan bergulat dengan pemikirannya masing-masing.Mereka tersadar saat Afgan pergi melangkah menuju ruangan Agnes dengan tampang dinginnya.
Regata pun ikut tersadar.Dengan segera dia pun bangkit dari duduknya dan menyusul Afgan.Yang tentunya di susul masuk oleh yang lainnya.
**
Agnes mengeliat pelan sambil mengerjip-ngerjipkan matanya menyesuaikan cahaya yang dapat di lihat oleh kedua matanya.
Saat dia sudah bisa menyesuaikan cahaya yang ada,perempuan itu pun menoleh dan mendapati beberapa pria tampan yang sedang menundukkan pandangannya dengan pandangan kosong.
"Ada apa?"
Mendengar suara Agnes,sontak saja mereka langsung mendongakkan kepalanya dan beralih menatap Agnes.Saat semua orang mendekat,hanya Regata dan Afganlah yang masih terduduk di sofa sana.Larat!Afgan hanya berdiri sambil menatap Agnes dingin.
"Baby,are you oke?"Tanya Rexi khawatir.
"Y-yes,I'm oke."Balas Agnes sambil melihat mereka aneh."Ada apa?aku hanya pingsan,kenapa wajah kalian pucat seperti itu?"Tanyanya heran.
Mereka kembali menunduk.Dan hal itu membuat Agnes semakin heran dan beralih menatap Kevin.
"Bang!"
"Anu-dek,l-lo-
"Tepati janjimu!"
Sontak semua orang yang tengah mengerumuni Agnes pun menyingkir saat mendengar ucapan Afgan yang sedikit keras.
Agnes menatap Afgan dengan sebelah alis yang terangkat,heran.
"Apa maksudmu?"Tanya Agnes.
Afgan tetap dengan wajah datarnya dan berjalan mendekati Agnes.
"Kau-hamil anakku!"Ucapnya to the point.
"A-apa?"Agnes melongo tak percaya.Dia Reflex memegang perut datarnya dengan airmata yang jatuh tanpa di suruh.
"Apa ini,ha-hamil?Aku hamil,anak dia?Tidak-tapi,apa ini memang jalan untukku agar memberikannya pada wanita itu?"Batin Agnes.
"Are you kiding me?"
"No,it's true!"Balas Afgan. "And then,tepati janjimu dengan menikah denganku."
**
Tbc!
________
Yuhuuu!!!Neneng Comeback!!!
Kalo mau komen,berkomentarlah yang tidak membuat semangat Author hilang lagi!Ini udah susah-susah bagi waktu buat nulis ni Novel demi kaliannn...
Masa hanya dengan ketidak setujuan sama Afgan kalian bikin aku gak semangat,hua...
Kalo gak suka,yaudah tinggal gak usah baca aja! Tapi jangan membuat komentar yang bisa membuat semangat Author hilang seketika ya!! Apalagi ni si Sarah belum mendapatkan balasan dari Agnes.Okayyyy!!
See u gaiysss I lv you♡