
Flashback on!
Terlihat seorang gadis kecil yang sedang berlarian kesana kemari tanpa di dampingi orang tuanya.
Ibunya sibuk mengurus kakak laki-lakinya yang sedang belepotan memakan ice cream sementara sang ayah hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Bocah yang baru berusia 9 tahun itu menengok dan menemukan sebuah toko boneka, matanya berbinar pertanda dia menginginkan barang itu.
Tanpa sadar dan tanpa menengok kanan kiri, gadis itu berlari dan menyebrang menuju toko boneka itu.
Hingga langkahnya terhenti karena sebuah mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya.
" Awas!! " Teriak pengemudi dari dalam yang ternyata remnya blong.
Gadis kecil itu tidak lari karena syok dan terus diam sambil menutup matanya dan-
Brug.
Seorang pria dengan segera berlari dan menarik tangan gadis kecil itu dengan kuat hingga mereka berdua terjatuh di pinggir jalan.
" Kau tidak apa-apa gadis kecil? " Tanya seorang pria yang sudah di bilang berumur.
" Agnes baik, makasih paman. " Ucap gadis kecil yang tidak lain adalah Agnes.
" Arghk! " Ringis pria itu karena lengannya yang terluka tertindih oleh kepala Agnes.
" Ya ampun paman, apa paman baik-baik saja? Maaf, " Ucap Agnes kecil yang langsung berdiri dari atas lengan pria yang membantunya.
Pria itu tersenyum, " Tidak apa gadis kecil, ya sudah paman pergi dulu yah. " Ucap pria itu namun tangannya terlebih dahulu di tahan oleh Agnes.
" Tunggu paman, paman terluka karena menyelamatkan Agnes. Jadi ayo, Agnes obati dulu luka paman baru paman boleh pergi. " Ucap Agnes kecil sambil menarik-narik lengan kemeja pria itu.
" Tapi- "
" Ah..Ayo paman ayo! " Rengek Agnes kecil yang akhirnya di angguki terpaksa oleh pria itu.
Mereka berjalan menuju kursi panjang yang terletak di pinggir jalan, pria itu terduduk dengan Agnes kecil yang sudah membawa obat merah ringan yang sempat ia beli di toko terdekat.
" Paman, kesinikan tangannya! Agnes akan mengobati luka paman, " Ucap Agnes kecil lembut.
Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya, Agnes melipat lengan kemeja pria itu dan tampaklah luka seperti goresan pisau di lengan pria itu yang membuat Agnes menutup mulutnya yang menganga.
" Astaga, apa separah ini lukanya? Jika separah ini, untuk apa paman menyelamatkanku. " Ucap Agnes kecil pelan sambil menunduk merasa bersalah.
" Tidak sayang, ini bukan salah kamu kok. Luka ini paman dapatkan dari orang jahat, bukan karena menyelamatkan Agnes. " Ucap pria itu sambil mengusap rambut Agnes.
Seketika Agnes mengangkat kepala dan menatap pria itu, " Benarkah? " Tanyanya.
" Iya. Agnes mau gak, paman kasih satu rahasia? Tapi Agnes harus janji tidak akan mengatakannya pada siapapun, " Ucap Pria itu yang di angguki antusias oleh Agnes kecil.
" Sebenarnya, paman itu agent rahasia! " Aku pria itu sedikit berbisik.
Agnes menatapnya polos, " Apa itu agent rahasia? "
Pria itu terkikik geli, sudah tahu anak kecil ini tidak akan tahu masih saja dia beritahu.
" Sudahlah sayang, kamu tidak akan mengerti hal ini. " Ucap pria itu yang justru membuat Agnes kecil cemberut.
" Agnes tahu kok, seperti mata-mata kan? Iya kan paman? " Tanya Agnes kecil polos.
Pria itu mengangguk mengiyakan.
" Wow Agnes suka Agnes suka! Mata-mata itu keren! Lebih keren dari pada mafia, " Celetuk Agnes kecil yang membuat pria itu menunduk sedih.
Agnes yang menyadari hal itu langsung mendekati pria itu dan menyentuh tangannya lembut.
" Paman kenapa? Apa Agnes salah bicara ya? " Tanyanya lembut.
" Tidak kok sayang, paman hanya sedih saja. " Ucap pria itu dengan raut wajah sedihnya.
" Kenapa? " Tanya Agnes kecil. " Paman, kata bunda kita tidak boleh sedih. Kalo kita sedih, nanti orang yang ada di langit sana akan ikut sedih! " Lanjut Agnes kecil yang membuat pria itu menatapnya heran.
" Orang di atas langit? Emang di atas langit ada manusia yah? "
" Ada, mereka adalah orang-orang yang menyayangi kita tapi tidak bisa selalu berada di sisi kita. Karena mereka sudah di panggil Tuhan sebelum kita, jadi mereka hanya menyaksikan kita di atas sana! " Ucap Agnes sambil menunjuk ke langit.
Pria itu ikut mengadahkan kepalanya menatap langit, kemudian dia kembali menatap Agnes kecil sambil tersenyum senang.
" Iya sayang, paman tidak akan sedih lagi mulai sekarang. Karena paman juga tidak ingin mereka bersedih karena melihat kesedihan paman, " Ucap pria itu yang langsung di soraki gembira oleh Agnes kecil.
" Eh, memang apa yang membuat paman sedih? " Tanya Agnes kecil tiba-tiba.
Pria itu sedikit menunduk, " Putra ke dua paman di culik oleh kakak paman sendiri, putra paman di manfaatkan dan di cuci otaknya sehingga dia membenci paman dan istri paman. Dan dari informasi yang paman dapat, dia akan di jadikan komplotan mafia bersama kakak paman yang memang seorang mafia, " Ucap pria itu lesu.
" Wah, jahat sekali. " Ucap Agnes kecil pelan.
" Paman, apa putra paman itu sudah besar? " Tanya Agnes kecil.
" Tidak, sepertinya dia seumuran dengan mu. " Jawab pria itu.
" Kasihan sekali, masih kecil sudah harus latihan keras. Jadi mafia kan bukanlah hal yang mudah, " Gumam Agnes kecil yang masih bisa di dengar oleh pria itu.
" Paman, jika putra paman itu bertemu dengan Agnes, Agnes akan kembali mencuci otaknya yang sudah kotor supaya bersih lagi kok. Lalu kita jemur sama-sama di balkon rumah Agnes, yah? " Celetuk Agnes kecil sambil tersenyum senang.
Pria itu tertawa ngakak, kemudian dia mengelus kepala Agnes kecil.
" Siapa nama lengkapmu sayang? " Tanya nya.
" Aku, Agnes. Agnes Clallistiana Anandika, " Ucap Agnes kecil sambil tersenyum.
" Kalo paman? " Tanya balik Agnes.
" Ryanandra Adiso Afrian- "
" Ah..Nama paman terlalu panjang dan rumit, " Potong Agnes kecil.
" Aku panggil saja paman double A, okeh? " Ucap Agnes kecil yang di angguki oleh pria yang tidak lain adalah Ryan.
" Baiklah, baiklah. " Ucap Ryan pasrah.
" Kalau begitu Agnes, apa kamu mau ice cream? " Tawar Ryan saat melihat pedagang ice cream yang lewat.
" Tidak, " Tolak Agnes.
" Kenapa? " Tanya Ryan heran.
" Agnes takut uang paman habis gara-gara Agnes, " Celetuk Agnes kecil yang justru membuat Ryan tertawa ngakak.
" Tidak akan habis sayang, paman itu kaya loh. Paling kaya se- "
" Paman gak boleh sombong dengan apa yang paman miliki! Karena apa yang paman punya, ada juga orang lain yang mempunyainya lebih dari punya paman. " Potong Agnes kecil.
" Ingat paman, di atas langit masih ada langit! " Lanjutnya.
Ryan menggaruk tekuknya sambil cengengesan, ternyata gadis kecil itu lebih pintar dan bijak darinya. Dia jadi malu sendiri sekarang.
" Gadis kecil. Suatu hari nanti aku pasti akan bertemu lagi denganmu, aku yakin itu! " Batin Ryan sambil mengelus lembut rambut pirang Agnes.
Flashback off!
_-_
Tbc!