
Sesampainya di kamar, Agnes hanya bisa terduduk dan melamun memikirkan tentang Ryan.
Sementara suaminya pergi ke dapur untuk membawakan susu hamil yang selalu Agnes minum rutin setiap pagi, siang dan malam.
" Apa ini, dia gold prince leader? Yang berarti dia mafia? Tapi, bagaimana bisa aku tidak mengetahui hal ini sebelumnya? " Gumam Agnes.
" Argh,, sialan. Aku harus menemui Regata dari pada aku gila sendiri memikirkannya. " Ucap Agnes yang langsung berdiri dengan kasar.
" Ya, aku harus menemui Regata malam ini. Tapi- "
Cekrek.
" Ada apa, apa kau menginginkan sesuatu? "
" Itu dia. Bagaimana caraku meminta izin padanya. " Batin Agnes sambil berusaha tersenyum ke arah Afgan yang baru saja masuk.
" Tidak ada. " Balas Agnes sambil menggeleng pelan.
Afgan mengangguk kecil dan berjalan mendekat ke arah istrinya dengan membawa satu gelas susu hamil di tangannya.
" Minumlah! " Titahnya sambil menyodorkan gelas berisikan susu hamil pada Agnes.
Agnes menerimanya. Tapi bukannya langsung di minum, dia justru malah menatapnya dan beralih menatap Afgan sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
" Apa? Aku tahu kau menginginkan sesuatu jika sudah menunjukkan senyuman itu. " Ucap Afgan sambil menatap Agnes sinis.
" Hehe..Tahu saja kamu. " Balas Agnes sambil cengengesan.
" Ekhm, oke. Langsung saja, aku mau keluar malam ini bersama Regata. " Lanjut Agnes sambil menatap Afgan dengan wajah antusiasnya.
" Tidak. " Ucap Afgan sambil menatap Agnes tajam penuh peringatan.
" Oh ayolah! Hanya malam ini saja, aku ingin menikmati waktu bersama dengan Regata di malam hari saja kak. Boleh yah, ya..ya..ya? " Ucap Agnes berusaha membujuk Afgan dengan mengeluarkan puppy eyesnya.
Afgan tetap berwajah dingin dengan mata yang tak lepas menatap Agnes tajam.
" Mau kemana kau? Biar aku yang mengantarmu! Tidak usah bersama pria lain selama suamimu ini masih hidup. " Tegas Afgan.
Agnes sudah kehilangan kesabarannya, dia naik pitam seketika. Apa suaminya itu tidak tahu jika dia pusing sendiri memikirkan tentang ayahnya itu.
Alasannya ingin menemui Regata karna hanya pria itulah yang tahu dan mengerti akan dirinya.
Setidaknya dengan berbagi beban dengan Regata, dia bisa mengurangi beban pikirannya walaupun sedikit.
Tapi suamininya? Hah, seakan dia secara terang-terangan saja meminta izin untuk berselingkuh. Sungguh gila!
" Aku tidak peduli. Mau kau mengizinkanku atau tidak, aku akan tetap pergi malam ini. " Ucap Agnes final yang langsung menghabiskan susu hamilnya dalam sekali tegukan.
Agnes berbalik hendak menyambar jaket dan dompetnya namun dengan gerakan cepat Afgan menahan lengannya.
" Apa kau lupa jika kau sudah bersuami, apa kau akan membantah suamimu sendiri hanya untuk bisa bertemu pria lain di malam hari, hah! " Bentak Afgan sambil mencengkram kuat lengan Agnes.
" Iya akan ku lakukan! " Teriak Agnes yang langsung menghempas kasar tangan Afgan dari lengannya.
" Akan aku lakukan apapun itu supaya aku bisa menemuinya malam ini. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang, termasuk kau! " Tunjuk Agnes pada Afgan dengan dada yang naik turun menandakan jika dirinya tengah emosi.
Agnes berbalik dan menyambar jaket serta dompetnya dengan terburu-buru. Sementara Afgan hanya mampu diam dengan tangan yang sudah terkepal sangat kuat.
Saat sudah berada di ambang pintu, Agnes berhenti sejenak dan berbalik menatap Afgan sambil menghela nafasnya pelan.
Memang, dia tahu bahwa pergi di malam hari tanpa izin dari suaminya itu salah. Tapi, cobalah untuk mengerti. Dia tidak mungkin keluar di malam hari dengan seorang pria jika dia tidak memiliki alasan untuk menemuinya.
Agnes memejamkan matanya dan kembali berbalik menatap depan. Dia harus membulatkan tekatnya untuk menemui Regata tanpa menghiraukan Afgan.
Mungkin ini tidak baik, tapi menemui Regata sangatlah penting untuk saat ini.
" Maaf kak, aku akan kembali nanti pagi. " Ucap Agnes dan langsung melangkah pergi dari kamarnya.
" Tidak! Kau- " Ucapan Afgan menggantung kala melihat Agnes yang tidak lagi berada di sana.
Afgan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lagi-lagi dia merasa Agnes tidak menganggapnya sebagai suami dan lebih mementingkan Regata, mantan tunangannya.
" Kau tidak bisa pergi dariku Agnes. Lihat saja apa yang akan aku lakukan saat kau kembali nanti. " Gumam Afgan dengan mata merah yang mulai berairnya.
**
Regata segera menyambar kunci motornya saat mendapatkan pesan dari Agnes yang menyuruhnya menjemput perempuan itu sedikit lebih jauh dari kediaman Afriansyah.
Untung saat itu Afra sudah tertidur lelap dan Veyna yang pengertian mengizinkannya untuk pergi saat dia mengatakan ada urusan penting bersama Agnes.
Veyna memang sudah tidak ada rasa khawatir lagi jika sampai Agnes merebut suaminya.
Karna Veyna tahu, di mata Agnes mulai terlihat bercak-bercak cinta walaupun sangat tipis untuk Afgan.
Maka dari itu Veyna mengizinkan suaminya pergi dengan mudah.
Dan disinilah Regata dan Agnes sekarang. Di sebuah gedung tinggi bernuansa serba hitam dengan mereka yang terduduk di balkon menikmati keindahan langit malam.
" Kau mengajakku bertemu, apa kau sudah tahu kenyataannya? " Tanya Regata.
" Apa maksudmu? "
Agnes menghembuskan nafasnya pelan, kemudian dia berbalik menatap Regata.
" Kau bilang gold prince itu memiliki tato permanen yang bergambar dua pedang berlumuran darah bukan? " Tanya Agnes sambil memandang Regata serius.
" I-iya. "
" Dia tidak memilikinya. " Ucap Agnes sambil kembali menatap depan.
" Apa? " Pekik Regata dengan membulatkan matanya.
" Tidak mungkin. Jika memang Tuan Ryan tidak memiliki tatonya, berarti leader mafia itu bukan dia. " Ucap Regata.
" Dia memang tidak memiliki tatonya, tapi itu memang dia Gata. " Sangkal Agnes.
" Tidak! Jika- "
" Itu dia Gata! Dia bahkan mengatakan padaku ' Kau kalah cerdik dariku, gadis kecil' " Potong Agnes yang membuat Regata berfikir seketika.
" Ada dua kemungkinan. " Ucap Regata tiba-tiba setelah hening cukup lama.
" Apa? "
" Pertama, memang dia bukan mafia itu tapi dia tahu siapa mafia itu. Dan kedua, dia memang mafia itu tapi dia menghapus tato atau menutupinya dengan foundation. "
Peletak.
" Dasar gila! Kau pikir mertuaku apaan sampai memakai foundation segala, cih! " Ucap Agnes yang seketika menaikkan volume bicaranya.
" Hey sakit tahu. Lagian aku hanya berandai-andai saja tadi. " Ucap Regata sambil mengelus kepalanya yang mendapatkan jitakan geratis dari tangan mulus Agnes tadi.
Agnes memutar bola matanya malas.
" Ck, sudahlah. Aku ke sini untuk meringankan beban pikiranku, tapi bukannya ringan malah beban ini semakin menumpuk gara-gara kau. " Gerutu Agnes.
Agnes menatap perutnya yang datar. " Oho baby, maafkan bunda yang membuatmu pusing yah. Ini semua karna ayahmu yang memiliki ayah seperti kakekmu. " Adu Agnes pada bayinya yang bahkan belum terbentuk sempurna.
" Cih, dasar gila. Kau berusaha memprovokasi bayimu untuk membenci kakeknya sendiri. " Ucap Regata sambil menatap Agnes sinis.
Agnes hanya mendelik dan kembali menatap indahnya langit di malam hari.
" Ha..aku jadi merasa bersalah pada kak Afgan. " Ucap Agnes tiba-tiba.
" Kenapa? Apa kau berontak saat dia melarangmu bertemu denganku malam-malam? Hahaha...sungguh istri yang tidak patut di contoh. " Ejek Regata yang membuat Agnes menatapnya sinis.
" Hey diamlah! Aku ke sini juga karna ingin membicarakan hal penting padamu. Dianya saja yang cemburuan menganggapku hendak selingkuh denganmu. " Ucap Agnes sambil mendengus malas.
Regata menghentikan tawanya, dia menatap Agnes lekat.
" Agnes dengar. Sekarang kau sudah menikah, kau memiliki suami yang harus kau patuhi perkatanya. Jika dia melarangmu, maka kau harus menurut dan tidak berontak seperti ini. Apa kau mau membuat bundamu bersedih karna gagal mendidik putrinya yang membantah perkataan suaminya sendiri, hah? " Ucap Regata sambil menatap Agnes.
" Huftt. Aku tahu aku salah, tapi aku juga tadi tersulut emosi Gata. Kau tahu kan aku sedang hamil, jadi aku bisa saja tersulut amarah dengan mudah. " Bela Agnes.
" Aku tahu. Aku tahu kau seperti apa dan aku juga tahu kau masih belum menerimanya sebagai suamimu sepenuh hati. " Ucap Regata yang membuat Agnes menundukkan kepalanya.
" Tapi Agnes, saranku. Berusahalah menerimanya dan berusahalah membuka hatimu untuknya. Jika kau terlambat, aku yakin kau hanya akan menyadari arti dirinya dalam kehidupanmu jika dia sudah pergi meninggalkanmu. "
" Hey apa maksudmu! " Pekik Agnes seolah tidak senang dengan perkataan Regata.
" Teman macam apa kau ini, kau menyumpahiku agar di tinggalkan oleh suamiku sendiri yah. " Ucap Agnes sambil menatap Regata berapi-api.
" Aku hanya mengingatkanmu. " Elak Regata. " Jika kau tidak ingin apa yang aku katakan tadi terjadi, maka segeralah menjadikannya suamimu seutuhnya. " Lanjutnya sambil menatap Agnes serius.
" Cih, dasar gila. Dia kan sudah menjadi sumiku. " Balas Agnes kesal.
" Suamimu seutuhnya, Agnes. Apa kau tidak mengerti apa itu kata ' seutuhnya' ? " Tanya Regata geram.
" Eum, tidak. " Jawab Agnes polos.
" Hah dasar bocah. " Ejek Regata yang di hadiahi tatapan sinis dari Agnes.
" Enak saja. Sekarang katakan padaku! Bagaimana caraku untuk menjadikannya suamiku seutuhnya seperti yang kau katakan. " Ucap Agnes penasaran.
" Berikan dia haknya sebagai suamimu! " Ucap Regata sambil menatap Agnes lekat.
Jujur, hatinya sedikit sakit mengatakan itu. Tapi dia juga tidak mau terkalahkan oleh perasaan jika kenyataan membuatnya sadar akan takdir yang sesungguhnya.
Deg.
Agnes reflek melangkah mundur dengan langkah pelan saat mendengar ucapan Regata.
" A-apa, h-haknya? " .
_-_
Tbc!