
Setelah berpelukan cukup lama, akhirnya Agnes melepaskan pelukannya dari Afgan dan menatap suami tampannya lekat.
Sebenarnya Agnes hendak mengatakan sesuatu, tapi ia sedikit ragu untuk mengatakannya. Apalagi saat mengetahui segila apa Afgan jika marah, apalagi cemburu.
Afgan mengelus pipi mulus Agnes. Dia tahu ada yang ingin istrinya itu bicarakan, tapi sepertinya dia ragu. Maka dari itu, Afgan pun berbicara:
" Katan jika ada yang ingin kau katakan! " Ucap Afgan sambil tersenyum.
" Tapi, kau jangan marah yah? "
" Tergantung. " Ucap Afgan sambil mengangkat kedua bahunya yang membuat Agnes mendengus kesal.
Afgan tertawa saat melihat wajah kesal istrinya. Kemudian pria itu menyentuh wajah Agnes dan di arahkannya wajah cantik itu padanya.
" Ayo katakan! Aku janji tidak akan marah. " Ucap Afgan.
Agnes terdiam sejenak. Dengan agak ragu, dia pun berucap:
" Boleh aku datang ke apartement Regata? " Tanya Agnes hati-hati.
Seketika Afgan melepaskan tangannya yang berada di wajah Agnes. Ekspresi bahagianannya luntur dengan kembali memasang wajah dinginnya.
Tanpa berkata, Afgan berbalik hendak meninggalkan Agnes.
Agnes memutar bola matanya malas. Belum juga menjelaskan main pergi saja, pikirnya.
Dengan segera Agnes bangkit dan menahan lengan Afgan supaya tidak pergi.
" Hei tunggu, kau bilang tidak akan marah? " Ucap Agnes sambil cemberut.
Afgan membalikkan badannya dan menatap Agnes.
" Mau apa? "
" Apanya yang mau apa? " Tanya Agnes kurang peka.
Afgan menghembuskan nafasnya pelan.
" Mau apa kau datang ke apartement Regata, hem? " Tanya Afgan lebih detail.
Dengan polosnya Agnes menjawab:
" Mau bertemu si tampan. "
" Apa!! " Pekik Afgan dengan menatap Agnes tajam.
Agnes mengerutkan alisnya bingung dengan Afgan yang sepertinya marah. Seketika mata dan bibirnya terbuka mengingat apa yang baru saja dia ucapkan.
" Eh, bukan itu. Maksudku si tampan bukan Regata, tapi putranya. " Ralat Agnes.
" Iya, hehe..Putranya, bukan Regata kok. " Lanjut Agnes sambil cengengesan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Putra? " Ulang Afgan bingung.
" Ah,, nanti saja aku jelaskan. Yang penting sekarang, antar aku ke apartement Regata setelah itu kita pergi ke rumah lama ku! " Balas Agnes dengan menggusur Afgan ke luar.
" Tunggu! " Ucap Afgan sambil melepaskan tangan Agnes yang menarik lengannya.
Agnes berhenti melangkah, dia menengok ke arah suaminya.
" Apa? "
" Mau apa kau ke rumah lamamu? Jangan bilang kau merindukan Kevin? " Ucap Afgan penuh selidik.
Agnes berdecak sebal.
" Ayolah! Apa kau juga akan cemburu pada kakak iparmu sendiri? " Tanya Agnes tidak habis pikir.
" Aku tidak rindu bang Kevin, aku hanya ingin menanyakan baby El. " Lanjut Agnes yang membuat Afgan tenang dan berjalan mendahului Agnes.
Agnes membuka mulutnya syok dengan sikap Afgan. Apalagi dengan Afgan yang langsung meninggalkannya sendiri saat mengetahui alasannya untuk pergi ke rumah lamanya.
Tatapan Agnes turun pada perut datarnya. Dia mengelus pelan sambil berkata:
" Baby. Jika kau laki-laki, maka kau tidak usah menuruni sifat cemburuan ayahmu. Oke? "
**
Ting..Nong..
Ting...Nong..
Ting...Nong...
" Sebentar! "
Cekrek..
" Apa si, gak sabaran banget lo ja-di. Agnes? " Ucap Regata saat melihat wajah Agnes dengan senyuman cantik yang terpasang di bibir wanita itu.
" Hello Re, minggir gue mau ketemu si tampan! " Balas Agnes yang langsung mendorong tubuh Regata.
Afgan yang melihat istrinya masuk pun ikut masuk. Tapi sebelum itu, dia sempat menepuk pundak Regata dan tersenyum pada mantan tunangan istrinya.
Regata seperti orang ling-lung. Dia mengedip-ngedipkan matanya berulang kali, baru lah dia sadar bahwa orang-orang yang bertamu ke apartementnya adalah orang yang tidak tahu malu.
" Ck, belum di suruh masuk udah maen nyelono masuk aja. Dasar, kalo kata si Sonya mah teu boga ka era! " Gerutu Regata yang langsung menutup pintunya.
**
Sementara di dalam sana, Agnes berteriak-teriak gak jelas yang membuat Regata dan Afgan menutup telinganya.
" Agnes? "
Seketika Agnes berhenti berteriak memanggil anak Regata dan menoleh ke asal suara yang memanggil namanya.
" Veyna, kamu Veyna kan? " Tanya Agnes pada seorang wanita cantik yang sedang menggendong anak kecil dengan wajah yang sungguh mirip dengan Regata.
Veyna mengangguk. Sementara Afra, dia menatap Agnes dengan teliti. Seketika anak kecil itu turun dari pangkuan sang ibu dan berlari menuju Agnes.
" Aunty..Aunty, aunty itu aunty beautifull yang ada di ponsel dady kan? " Tanya Afra polos sambil menarik-narik rok Agnes.
Saat mendengar ucapan pria kecil yang menarik roknya, Agnes pun tersenyum dan berjongkok.
" Yes handsome. It's me! "
Bugh.
" Hua..Akhirnya aunty datang, hua..!! " Ucap Afra yang langsung memeluk Agnes dan menangis di sana.
Agnes menatap Regata bingung, kemudian Regata mengangguk yang membuat Agnes tersenyum canggung.
" Hei boy, why? Kenapa kau menangis hem? " Tanya Agnes sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Afra.
" Dady bilang aunty sedang hamil baby. " Ucap Afra.
" Y-yes. " Balas Agnes agak bingung.
" Terus dady bilang aunty sudah punya suami. "
" Yes. "
" Terus dady bilang suami aunty jahat karena ngelarang aunty buat ketemu Afra Hua.....!! " Tangis Afra yang kembali meledak.
Seketika Afgan menatap Regata tajam. Sementara Regata hanya gelagapan sambil menggaruk tengkuknya dan menyengir ke arah Afgan.
" Putra siapa itu, perasaan aku tidak pernah berbicara suami Agnes jahat. Shit, dasar bocah licik! " Batin Regata saat melihat anaknya yang menjulurkan lidahnya seperti mengejek padanya.
" Benarkah? "
" Sure. "
" Oke lah, asalkan nanti uncle juga jangan jahat dengan melarang baby buat manggil Afra suamiku. " Celetuk Afra.
" What!! "
**
" Bicaralah! Aku yakin ada yang ingin kau katakan. " Ucap Agnes pada Veyna yang sedang terduduk sambil tersenyum canggung padanya.
Saat ini, mereka berdua sedang terduduk tidak jauh dari Afgan, Regata dan Afra yang sedang bermain di taman belakang.
" Eum, anu. Aku hanya ingin bertanya tentang- "
" Kembalinya Regata, bukan? " Potong Agnes.
Dengan agak ragu, Veyna mengangguk.
" Iya, memang aku yang menyuruhnya untuk kembali padamu. " Ucap Agnes sambil menatap ke depan.
" Kenapa, bukankah kalian sebentar lagi akan menikah? " Tanya Veyna yang penasaran akan hal itu.
Agnes tersenyum kecil. " Aku tidak bisa. Jika kita menikah, maka akan ada tiga kehidupan yang hancur. Aku juga tidak mungkin akan bahagia di atas penderitaan orang lain. " Ucap Agnes tanpa memandang Veyna.
" Tiga, kau bilang tiga kehidupan? " Ulang Veyna sambil menatap Agnes.
Agnes mengangguk kecil. Dia pun menoleh menatap Veyna.
" Tiga kehidupan. Kau, Afra, dan suamiku. Afgan! " Balas Agnes.
Veyna terdiam. Sebenarnya dia juga ingin bertanya tentang mengapa Agnes dengan cepat menikah dan memiliki anak dari Afgan. Sementara pembatalan pernikahan dengan Regata saja belum berlangsung lama.
Tapi dia tidak punya keberanian untuk bertanya hal itu. Dia sadar, dia tidak mempunyai hak untuk mengetahui semua tentang kehidupan Agnes.
Dan sepertinya sekarang dia harus mengubur rasa penasarannya itu dalam-dalam.
Agnes lagi-lagi tersenyum kecil saat melihat wajah bingung Veyna. Tanpa Veyna duga, justru Agnes malah menjawab tanpa perlu dia tanyakan.
" Aku memilih Afgan karna aku tahu dia yang terbaik. Mengingat anakku yang membutuhkan ayah kandung, dan Afra yang juga membutuhkan ayah kandungnya. Akhirnya aku pun memutuskan hubungan dengan Regata dan memilih Afgan sebagai masa depanku. " Ucap Agnes.
" A-ayah kandungnya, maksudmu kau dan Afgan- "
" Ya, anak ini ada karna sebuah kecelakaan. Tapi aku sama sekali tidak membencinya, mungkin memang Tuhan mengirimkannya untuk mengakhiri cinta segitiga yang terjadi di antara kami. " Potong Agnes.
" A-apa maksudmu? "
" Aku, Afgan dan Regata adalah alumni dari SMA yang sama. Aku sama sekali tidak tahu bahwa mereka menyimpan rasa padaku, terutama Regata. Karena sedari dulu, aku hanya menganggap Regata sebagai teman rasa saudaraku, tidak lebih. " Ucap Agnes.
" Dan Afgan. Dia adalah kakak kelas beda satu tahun denganku dan Regata. Aku juga tidak menyangka dia menyukaiku dari dulu, dari SMA, sama dengan Regata. Karna waktu itu, Afgan sangatlah dingin padaku dan yah...memang semakin mengenal dia juga bisa bersikap hangat padaku. "
" Saat baru kelas 11, aku memutuskan untuk pindah ke Amerika bersama saudara dan pamanku yang waktu itu sengaja menjemputku. Hingga kami berpisah dan di pertemukan kembali di Amerika ketika kami sudah dewasa. Singkat cerita di Amerika aku di jebak oleh seseorang yang membuatku berakhir dengan Afgan saat pria itu berusaha membantuku. Tapi bukannya membantu, dia juga justru lepas kontrol dan terjadilah hal yang tidak di inginkan. " Ucap Agnes sambil tersenyum getir mengigat masa lalu.
" Waktu Rere ke Amerika, dia meninggalkan aku dan Afra yang baru menginjak satu tahun dengan alasan ingin mengejar hidupnya. Dan rupanya, memang kaulah kehidupannya sekaligus orang yang membuatnya frustasi mengingat dia yang sudah menikah dan minim harapan untuknya memilikimu. " Ucap Veyna.
Tanpa terasa, air mata Veyna terjatuh mengingat Regata yang dulu.
Agnes tersenyum kecil mendengar ucapan Veyna.
" Yah, aku juga tidak menyangka dia sudah menikah. Apalagi dengan sikap brengseknya yang meninggalkanmu setelah kau melahirkan darah dagingnya. " Ucap Agnes yang membuat Veyna tersenyum dan menghapus air matanya.
" Kau lihat sekarang, bagaimana takdir bisa menemukan jalannya sendiri? Aku datang dengan suamiku mengunjungi dia yang bersama anak dan istrinya. Sungguh tidak bisa di sangka bukan? Dan inilah akhir dari cerita cinta segitiga kami. Dimana dia, yang sudah memilikimu. Dan aku, yang juga sudah memiliki pendamping hidupku. " Ucap Agnes yang membuat Veyna memeluknya seketika.
" Hiks..Terima kasih. Hiks..Karnamu, anakku tidak harus hidup tanpa seorang ayah selamanya. "
" Hei, hei sudahlah! " Ucap Agnes sambil menepuk-nepuk pundak Veyna.
" Aku tahu kau terharu dengan tindakanku, tapi aku juga lebih terharu denganmu yang selama ini masih mempertahankan Afra meskipun tanpa ada Regata di sampingmu. "
Veyna melepaskan pelukannya dan menatap Agnes dengan mata yang masih berkaca-kaca.
" Terima kasih. Sungguh aku berterima kasih padamu, Agnes. " Ucap Veyna sambil tersenyum.
" Kau tidak perlu berterima kasih padaku! Tapi berterima kasihlah pada Tuhan yang sudah membuat skenario indah di akhir waktu untuk kehidupanmu dan aku. Kau sudah bahagia bersama Regata, dan aku juga sudah bahagia bersama suamiku. " Ucap Agnes sambil ikut tersenyum manis.
" Eum, boleh aku bertanya sesuatu? " Tanya Veyna ragu.
" Katakanlah! "
" Apa kau mencintai Tuan Muda Afriansyah? "
Agnes melamun sebentar, kemudian dia menggeleng kecil yang membuat Veyna syok.
" Ya, bila di katakan mencintai, aku belum bisa. Tapi sekarang, aku sedang berusaha membuka hatiku untuknya." Balas Agnes.
Veyna menunduk sedih.
" Maaf, gara-gara ada aku kau tidak bisa bersama orang yang kau cintai. "
" Memang siapa yang aku cintai? " Tanya Agnes terkekeh pelan saat melihat Veyna yang beranggapan sama seperti Afgan.
Mengira dia mencintai Regata.
Veyna mengangkat kepalanya menatap Agnes.
" Bukankah kau mencintai Rere, maksudku Regata? " Tanya Veyna bingung.
" Tidak, aku dari dulu tidak pernah mencintainya. " Jawab Agnes santai.
" A-apa? " Pekik Veyna.
" Yah, karna baru kali ini aku berusaha membuka hatiku untuk seseorang. Sejak dulu, aku tidak percaya akan yang namanya cinta. Dan alasannya, maaf aku tidak bisa mengatakannya padamu. Karna itu merupakan masa-masa yang kelam dalam kehidupanku. Bila aku menceritakannya padamu, sama saja dengan aku yang mengingat kembali peristiwa mengerikan itu. " Jelas Agnes sambil tersenyum.
" Eh, eum tidak apa. " Balas Veyna yang merasa tidak enak.
" Sudahlah kau santai saja jika berbicara denganku! " Ucap Agnes yang di angguki Veyna.
" Eum, maaf sebelumnya. Apa kau juga sama seperti Regata, Ma- "
" Ya, aku ratunya. " Potong Agnes cepat.
Deg.
Seketika Veyna sedikit menjauh duduknya dari Agnes. Karna dia tahu rumor tentang kekejaman dari Queen Of The Mafia Dark Night yang melebihi sang King atau suaminya sendiri.
Jadi, selama ini Mafia terkejam itu selain ada di bawah kendali Regata, juga ada di bawah kendali Agnes sang Queennya.
Agnes tertawa ngakak melihat Veyna yang sudah berkeringat dingin.
Apa si bodoh Regata itu tidak memberitahu istrinya sendiri tentang siapa sosok Queen yang selalu menjadi patnernya dalam menjalankan misi? Pikirnya.
" Hei tenanglah! Aku tidak akan membunuhmu kok. Tapi jika kau berani macam-macam denganku, maka jangan tanya apa yang akan aku lakukan padamu. Kau sudah tahu tentangku bukan? " Tanya Agnes sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
" I-iya. " Balas Veyna yang kelihatannya masih takut berdekatan dengan Agnes.
" Jangan takut padaku! Dan aku juga meminta padamu, tolong rahasiakan identitasku dan juga Regata dari dunia ini. Terutama dari suamiku. " Ucap Agnes.
" Apa, maksudmu- "
" Yah dia tidak mengetahui semuanya tentangku. Dan aku juga tidak akan memberitahunya siapa aku. " Potong Agnes santai.
_-_
Tbc!