
Rexi menyingkirkan beberapa helay rambut yang menghalangi wajah tenang Agnes yang kini sudah terlelap dalam dekapannya.
Saking lelahnya wanita itu menghadapi kenyataan,membuatnya dengan mudah terlelap dalam pelukan hangat sang kakak.Apalagi dengan tangan Rexi yang terus mengusap pelan rambut Agnes yang membuatnya tidak bisa membuka matanya lagi.
Rexi menatap sendu kedua mata Agnes yang tertutup.Mata itu terlihat cantik dengan bulu mata panjang yang menghiasi bagian atas dan bawahnya.Rexi memgecup pelan kening Agnes.
Dengan perlahan pria itu mengangkat kepala Agnes yang yang sedang berada di lengannya dan dipindahkannya kepala itu pada bantal empuk yang berada di sampingnya.
Setelah kepala Agnes mendarat dengan sempurna,dia pun menarik selimut dan memakaikannya pada tubuh adik cantiknya.
Rexi beranjak turun dari ranjang.Pria itu mengecup lama kening Agnes.Tak lupa dengan mengusap lembut kepalanya.
"Tidurlah sayang,kau membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi kenyataan.Aku berjanji,akanku balas orang-orang yang sudah membuatmu seperti ini!"Batin Rexi sambil menatap Agnes lekat.
Tatapannya berubah jadi tajam.Terdapat banyak amarah yang terpancar dari kedua matanya.Tangannya kembali mengepal.
Dia pun beranjak keluar dari kamar Agnes,membawa amarah yang begitu meluap.Dengan mansion mafialah yang menjadi tujuannya.
**
💥Afgan pOv!..
Afgan memarkirkan mobilnya tepat di depan kantor cabang miliknya.Pria itu sudah berpakaian lengkap dan rapi layaknya seorang pengusaha.Sebelumnya memang Afgan menyempatkan waktu untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Afgan berjalan begitu berwibawa melewati para karyawan yang bahkan tak berani menatapnya.Karna sifatnya yang terkenal dingin dan kejam,membuat siapa saja yang melihatnya langsung menundukkan kepalanya kembali.
Afgan berjalan lurus tanpa menanggapi mereka.Hingga ia sampai pada sebuah pintu yang masih tertutup,dengan langsung dia pun membukanya dan masuk begitu saja.
Cekrek..
Afgan memgangkat sebelah alisnya.Saat ia mendapatkan ketiga teman lamanya yang kini sudah berkumpul sambil tertawa bersama.
Saat melihatnya masuk,ketiganya berhenti tertawa dan menatapnya tajam.Apalagi Kevin
Ya,siapa yang bisa hanya diam dan duduk manis saat tahu sang pujaan hati meninggalkannya begitu saja.
Saat mengetahui Fani go ke Amerika,dengan segera ia pun meluncur ke sana menyusulnya bersana vano.Kebetulan,memang perjalannya kali ini untuk fani dan untuk bisnis.
Afgan berjalan mendekat dan terduduk di samping Alvin yang sedari tadi menatapnya penuh curiga.
"Apa?"Tanya Afgan seolah tak punya dosa.
"Apa kau melakukannya?"Tanya Alvin penuh selidik.
"Ya."Jawab Afgan santai.Ia sudah tahu arah pembicaraan Asisten sekaligus sahabatnya itu kemana.
Entah kenapa Kevin geram saat Afgan menjawab pertanyaan Alvin dengan santainya.Baginya,Afgan seolah tak peduli dengan adiknya yang sudah ia ambil keperawanannya.
Memang Kevin tahu,karna Alvin yang notebe-nya paling rempong di antara keempatnya,membuat bibir sexy nya itu tak tahan jika tak bercerita kisah Afgan dan Agnes yang berakhir di Apartement.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"Tanya Kevin dingin.
"Tidak ada."
Bughk..
Kevin mendaratkan satu bogeman keras di pipi Afgan.Dia sedaritadi menahan amarahnya saat Afgan bersikap biasa seolah tak terjadi apapun. Padahal,dia sudah sangat berdosa pada kehidupan adiknya yang ia yakini tengah hancur saat ini.
"Sialan.Setelah kau menginginkan apa yang kau inginkan,kau meninggalkan adikku seperti seorang jal*ang yang kau sewa!"Bentak Kevin marah.
Tangan Afgan ikut mengepal saat kevin mengatakan 'Seorang jal*ng yang kau sewa!' tentu saja ia marah.Bahkan keperjakaannya pun Agnes yang renggut,mana pernah ia membuang uang untuk hal tidak berguna seperti itu.
"Jaga ucapanmu!Aku sama sekali tidak pernah bermain dengan barang kotor!"Sentak Afgan sambil berdiri di depan Kevin yang memang sudah berdiri.
"Kau-
"Sudah sudah!kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin,oke."Lerai Vano sambil menarik tangan Kevin untuk terduduk kembali.Saat merasakan suasana sudah semakin berbahaya.
"Iya dia benar!kau tenanglah Afgan."Lanjut Alvin yang ikut menarik tangan Afgan.
Mereka pun sama-sama terduduk dengan mata yang terus menatap tajam satu sama lain.
"Tidak akan."Jawab Afgan.
"Brengsek.Kau-
"Sebelum dia mengandung anakku!"Potong Afgan segera.
"Apa maksdumu?"Tanya Kevin bingung.
"Adikmu yang menginginkannya.Dia tidak ingin aku bertanggungjawab!"Jelas Afgan.
"Bagaimana jika Agnes ham-
"Aku akan menikahinya."Potong Afgan mantap.
"Tapi tadi kau bil-
"Aku dan dia membuat sebuah perjanjian!"Potongnya lagi ketika vano angkat suara."Jika dia hamil,maka aku akan menikahinya dan mengambil anakku.Jika tidak,maka kami akan melupakan apa yang pernah kami lewatkan bersama."Lanjutnya.
"Apa kau bodoh!bagaimana dengan masadepan adikku jika dia tidak hamil?dan biarpun dia hamil,kau hanya akan mengambil anakknya dan meninggalkannya setelahnya!"Ucap Kavin geram.
"Aku masih mencintainya!".
"A-apa?"Kevin syok."Ja-jadi maksud mu-
"Ya,itu hanyalah sebuah alasan agar aku mengikatnya.Karna setelah dia menjadi milikku,maka tidak akan aku lepaskan apapun alasannya!"Ucap Afgan penuh penekanann.
Kevin terdiam.
"Bagaimana jika dia tidak hamil?"Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Kevin.Seakan dia mengharapkan Agnes agar hamil.
"Aku yakin,benihku sedang terproses di dalam rahimnya!"Ucap Afgan dengan senyuman yang jelas terpancar di wajahnya yang selalu masam.
Ketiganya syok saat melihat senyuman Afgan.Karna setelah kepergian Agnes,senyuman itu bahkan tidak pernah mereka lihat lagi.
Tak berselang lama,seringai licik terpancar dari bibir vano.Dan dia pun pada akhirnya angkat suara juga.
"Kenapa kau yakin sekali?memang seberapa banyak benih yang kau tanam dalam perutnya?"Ucapnya spontan.Dengan seringai licik yang ia tujukan pada Afgan.
"Kami bermain hampir tujuh ronde."Jawab Afgan langsung.
Bukannya malu,pria itu malah menjawab pertanyaan temannya itu apa adanya.
"Tu-tujuh?"Ulang Kevin membelalak.
"Kenpa kau sekuat itu?dan Agnes,apa dia-
"Dia yang terus memintanya."Potong Afgan lagi.
"APA!!!"Pekik ketiganya membelalak.
"Diamlah!kalian berisik sekali."Ucap Afgan kesal."Dia dalam pengaruh obat perangsang,jadi wajar jika dia terus menginginkan tubuh sispekku!"Lanjutnya narsis.
Ketiganya memutar bolamatanya malas.Tak lama,Kevin kembali angkat suara.
"Aku tidak percaya Agnes se-agresif itu.Memangnya bagaimana caranya memintanya?"Tanya Kevin penuh tanya.Dengan tampangnya yang terlihat meragukan Afgan
"Dia-
Flashback on!..
**
**Haha,,,kali-kali gantung ya gaiss!!!😌😂😂
Intinya,
🔁Jangan Lupa Like,Komen,Vote and Favorite *bagi yang belum**!!
See you,babayy I lv you♡*