Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Kecurigaan Ryan



Agnes menopang dagunya. Saat ini semua keluarga barunya akan memulai makan malam. Tapi entah kenapa dia begitu tidak berselera untuk makan.


Jennie yang tadinya sibuk mengisi nasi dan lauk pauk untuk sang suami pun lantas menghentikan aktivitasnya saat melihat si menantu cantiknya yang kelihatan murung.


" Agnes, kenapa kamu tidak makan? Apa kamu tidak suka dengan makanannya? " Tanya Jennie.


Agnes yang sedang melamun pun lantas terperanjak kaget dan membenarkan posisi duduknya menjadi tegap.


" Eh, enggak kok bunda. Aku cuma gak selera makan aja. " Balas Agnes jujur.


" Gak selera makan? Eum, mungkin kamu sedang ngidam Agnes. " Ucap Jennie yang mengerti.


" Sekarang katakan, apa yang kamu inginkan? "


Agnes diam sambil berfikir sejenak. Kemudian wajahnya berubah menjadi antusias saat mengingat apa yang dia inginkan sejak lama.


" Aha, aku ingin- "


" Tidak! " Potong Afgan yang mengira Agnes akan meminta minuman itu lagi.


Seketika wajah Agnes berubah menjadi lesu.


Sepertinya dia harus kabur dan membeli apa yang dia inginkan sendiri. Toh, Agnes juga membawa banyak kartu black and gold yang ayah dan kakeknya berikan.


Jennie menatap Afgan tajam. " Hei bodoh, istrimu ini sedang mengidam. Jadi apa yang dia inginkan, harus kau turuti! Kalau tidak, mau nanti setelah lahir anakmu ileran? " Ucap Jennie panjang lebar.


" Ileran? Ih,, ya enggak lah bun. " Balas Afgan ngeri.


Masa iya Dady dan Momy nya keren parah, anaknya ileran? Oh God No!


" Ya makannya, kalau Agnes ingin apa-apa mulai sekarang harus kau turuti! "


" Denger! " Semprot Agnes saat ada yang membelanya. " Dasar pelit! " Ejek Agnes sambil menatap Afgan sinis.


" Hei bukannya pelit, tapi apa yang kau inginkan itu tidak wajar Agnes. " Bela Afgan.


" Tidak wajar apa, aku cuma ingin gado-gado apa salahnya. Lagian apa kau sudah bangkrut, sehingga membeli gado-gado saja kau tidak mampu. "


" A-apa? Gado-gado? Bukankah kau ingin- "


" Sepertinya memang Afgan sudah bangkrut nes. Tapi kau jangan khawatir, masih ada aku yang bisa memenuhi setgala keinginanmu itu. " Potong Alfan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Agnes.


" Kau yang terbaik kak Afan! " Balas Agnes sambil mengangkat sebelah jempolnya.


Jennie dan Ryan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah pasangan suami istri baru itu. Apalagi dengan Alfan si putra sulung, yang sepertinya tidak bisa melewatkan waktu untuk membuat adiknya kebakaran jenggot.


Terbukti sekarang. Lihatlah Afgan! Calon dady tampan itu terlihat menggenggam erat garpu yang sedang dipegangnya. Dengan tatapan mematikan yang terus dipancarkannya pada Alfan.


Tapi Alfan? Ya dia cuek-cuek saja. Orang memang itu tujuannya. Membuat Afgan marah.


" Sudah sudah! Agnes, sekarang lebih baik kamu makan dulu! Soal gado-gado, bunda akan suruh pelayan buat membelinya. Kebetulan kedai yang ada di sebrang sana masih buka. " Ujar Jennie.


" Baik. " Balas Agnes singkat.


Saat Agnes hendak mengambil nasi dan lauk-pauknya, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


Agnes tidak jadi mengambil makanannya dan beralih menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama ' Drk Nght ' si penghubung.


" Eum, sebentar. " Ucap Agnes pada semuanya dan berjalan menjauh saat mendapatkan anggukan dari semua. Kecuali Afgan.


Saat sudah menjauh, Agnes pun mengangkat telpon yang tak lain adalah dari Leon yang dulu sudah dia angkat sebagai pengganti dari dirinya dan Regata dalam dunia hitamnya.


" Halo! " Ucap Agnes.


" Queen, saya dengar anda sudah kembali ke Indonesia? "


" Ya. "


" Bila berkehendak, maukah Anda-"


" Oh ayolah bang! Kau tidak usah berbicara formal padaku. " Potong Agnes dengan suara kesalnya.


Terdengar Leon yang cekikikan di seberang sana.


" Oke, oke sorry. So Agnes, kapan kau akan mulai bersenang-senang lagi? " Tanya Leon to the point.


" Eum, segera. Aku akan kesana bersama Regata. " Balas Agnes.


" Regata? King juga datang? " Tanya Leon syok.


" Oh ayolah! Ada Queen, pasti ada King. " Balas Agnes.


" Good. I like it! " Balas Leon.


Agnes dan Leon tertawa bersama.


" Oh iya, kapan King datang? " Tanya Leon.


" Dia sedang dalam perjalanan. Mungkin besok malam baru aku dan dia akan kesana. "


" Saya tunggu kehadiran kalian Couple cruel. " Ucap Leon sambil cekikikan.


" Sialan kau. " Maki Agnes.


" Oh iya, aku dengar terjadi pemberontakan akhir-akhir ini. Katakan! Siapa yang berani mengganggu macan yang sedang tidur? " Tanya Agnes serius.


" Generasi ke dua dari King Cobra yang sempat kami musnahkan itu bangkit kembali. Dan pemimpin mereka di kenal sangat kejam tanpa belas kasih. " Ucap Leon yang sama-sama menjadi serius seketika.


" Apa tujuan mereka? "


" Saya pernah mendaranginya Queen. Rupanya pemimpin mereka seorang pria, dan dia masih muda dan sangat tampan. Saat aku tanya apa maunya, dia berkata hanya ingin bertemu dengan Anda. Dan tidak bermaksud untuk melawan kita. " Jelas Leon.


" Apa dia bodoh, atau kau yang bodoh. "


" Maaf Queen, tapi saya sudah memakai topeng yang biasa King pakai sesuai perintah Anda. Dan dia tidak percaya jika saya itu King dan tetap ngotot ingin bertemu dengan Anda. " Jelas Leon kembali.


" Baik, tapi- "


" Kau tidak perlu memikirkan izin dari suamiku. Akan ku atur itu. " Potong Agnes.


" Baik, saya mengerti. "


" Oke, see you . " Ucap Agnes dan mematikan sambungan teleponnya.


Agnes terlihat membolak-balikkan ponselnya dengan bibir yang sudah memancarkan seringaian mengerikan andalannya.


" King cobra, lama tidak bertemu. Aku ingin lihat, setampan dan sekuat apa pemimpin mereka yang sekarang sehingga dia berani meminta bertemu denganku. " Gumam Agnes.


" Agnes! " Panggilan dari Afgan membuat Agnes tersadar dan menoleh seketika.


" Ah, iya. Aku segera ke sana! " Balas Agnes sambil berjalan menuju meja makan.


Afgan melihat Agnes penuh curiga. Karna dia tidak sengaja mendengar nama ' King Cobra ' saat Agnes berbicara tadi.


Apa itu king cobra? Apa Agnes ingin membeli ular? Atau-


" Ayah, apa kau tahu organisasi apa itu yang bernama ' King Cobra? ' "


Uhuk..Uhuk..


Agnes yang sudah mulai makan pun tersedak dengan pertanyaan Afgan.


" Hei pelan-pelan sayang, ini minumlah! " Ucap Jennie sambil memberikan segelas air putih pada Agnes.


" Terima kasih bun. " Balas Agnes dan mulai meminum air putih pemberian sang ibu mertua.


Afgan kembali menoleh menanti jawaban dari sang ayah saat melihat Agnes yang sudah baik-baik saja dan mulai kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


" King Cobra, aku tahu itu. Selain nama ular, itu juga merupakan nama komplotan mafia yang sangat kejam. " Balas Ryan.


" Mafia? " Ulang Afgan.


" Yah, mafia. Tapi mafia itu tidak memberontak atau merugikan negara, sama hal nya seperti mafia terkejam dengan nama ' Dark Night' , King Cobra juga sering membantu negara dengan permasalahan wilayahnya. " Ucap Ryan.


" Ayah, apa mafia itu kejam semua yah? " Kini Alfan yang bicara.


" Entahlah! Ayah juga tidak tahu masalah itu. Tapi ayah ingatkan pada kalian, jangan sampai kalian berurusan dengan mafia. Karna itu akan sangat merugikan kalian sendiri. "


" Merugikan, maksud ayah? " Tanya Afgan bingung.


" Jika kalian sampai menjadi musuh atau incaran mereka, bukan hanya nyawa kalian yang melayang, tapi keluarga dan perusahaan kalian pun akan ikut terancam. " Balas Ryan.


" Kalau begitu, mereka sungguh merugikan dong yah. Kenapa kita tidak berusaha memusnahkan mereka saja. " Usul Alfan.


Agnes memegang sendok yang berada di tangannya erat-erat.


Ingin memusnahkan? Sebelum mereka menginjakkan kaki di hadapan markas Dark Night pun nyawa mereka sudah dipastikan akan hilang seketika.


Dan ini, ingin memusnahkan? Cih, jangan harap!


" Tidak akan mudah memusnahkan mereka. Memang kalian bisa apa sehingga berniat memusnahkan mereka yang serba bisa? " Tanya Agnes sambil menatap ketiga ayah beranak itu dengan tatapan mengerikannya.


Ryan, Afgan dan Alfan merinding seketika melihat tatapan Agnes. Sementara Jennie hanya diam saja sibuk makan dengan sesekali melirik siapa yang berbicara.


Jika ada yang bertanya soal Fani? Tentu saja gadis itu sudah pulang sebelum Agnes bangun.


" Hei jangan meremehkan kami Agnes. Kami bisa saja memusnahkan mereka dalam sekejap. " Ucap Alfan so.


Agnes menyimpan sendok makannya seketika. Kemudian beralih menatap Alfan.


" Benarkah? " Ucapnya meledek. " Lalu bagaimana jika nyawa kalian sudah melayang bahkan sebelum kalian bertemu dengan pemimpin dari mereka? " Tanya Agnes.


" Mudah saja. Kita buat saja jebakan yang membuat mereka semua takluk pada kita. " Balas Alfan percaya diri.


" Jebakan ya? Eum, aku pikir kau bodoh kak. Seorang pemimpin dari organisasi besar seperti itu, mana mungkin memiiliki IQ rendah sehingga dapat terjebak begitu mudah. " Ucap Agnes.


" Dan untuk kalian yang ingin berurusan dengan mereka, sebaiknya urungkan niat kalian! Sebelum kalian hancur dan menyesal karna telah mengusik mereka. " Lanjutnya mengingatkan.


" Hancur? Mana ada yang bisa menghancurkan keluarga Afriansyah. " Ucap Alfan Songong.


" Kau tidak seharusnya merasa paling teratas kak! Karna di atas langit masih ada langit. Jika kau masih belum menghilangkan sifat sombongmu, kelak akan ada orang yang menyadarkanmu bahwa kau adalah orang yang paling bawah dari mereka. "


Alfan bungkam seketika. Sementara Ryan dan Afgan menatap Agnes curiga.


" Kenapa kau seperti membela mereka, Agnes? " Tanya Afgan sambil menatap Agnes tajam.


Bukan Queen namanya jika Agnes tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dan terintimidasinya.


" Membela? Jelas tidak. Tapi pikirkanlah! Apa yang aku katakan memang kebenarannya. " Ucap Agnes membela diri sendiri.


" Dan, ayah. Apa yang aku katakan ada yang salah? " Tanya Agnes pada Ryan dengan ekspresi polosnya.


Ryan yang sedang mengamati lekat setiap gerak-gerik dan ucapan Agnes pun terperanjak kaget saat Agnes menatap dan bertanya padanya.


" Tidak nak. Apa yang kau bilang memang benar. " Jawab Ryan. " Selama mereka tidak mengusik kehidupan kita, maka kita juga jangan pernah mengusik mereka. Jika tidak, sudah di pastikan kita yang akan rugi besar. " Jelasnya sambil menatap ke dua putranya.


Alfan dan Afgan mengangguk setuju. Sementara Agnes yang berhasil membuat mereka bungkam pun langsung menyambar segelas air untuk di minumnya.


Terlihat seringai kepuasan di balik bibir yang sedang minum itu. Agnes puas, karna berhasil membungkan orang-orang yang berniat mengganggu kehidupan hitamnya.


Sementara Ryan, dia terus menatap Agnes curiga.


" Kenapa aku merasa tidak asing dengan ucapannya saat mengatakan ' Di atas langit masih ada langit ' Ya? Apa dia- tidak. Tidak mungkin, tidak mungkin itu Agnes. " Batin Ryan menyangkal apa yang melintas dalam pikirannya.


_-_


Tbc!