
Raka dan Rey sungguh bingung bagaimana cara mengatasi Regata saat ini.Mereka sudah beberapa kali pulang pergi dari Apartement temannya itu,tapi tetap saja yang di kunjungi selalu dalam keadaan tidak sadar.Yang tentunya akibat Alkohol
Dan Lihatlah pria itu!Dia bahkan masih tak sadarkan diri sampai sekarang.Sekalinya sadar,maka minumanlah yang dicarinya terlebih dahulu.
Raka menghembuskan nafasnya pela.Seketika otak cerdasnya berputar dan mendapatkan ide cemerlang.
Raka melirik ke arah Rey yang sedang menatap Regata sendu.Dan dia pun beralih menatap Regata yang masih memejamkan mata.Seketika-
"Regata!!"Teriak Raka yang mebuat Regata terbangun seketika.
"Apa si lo?ganggu gue aja,pergi sana!"Usir Regata dan hendak menyambar kembali minuman yang berada di atas meja dekat dengannya.
Tapi sebelum tangan Regata menggapainya,dengan segera Rey menyambarnya terkelebih dahulu setelah mendapatkan kode dari Raka.
Regata berdecak sebal.Kemudian pria itu pun berkata sambil menatap Rey jengah."Sialan lo Rey!Balikin minu-
"Udah stop lo minum-minum gata!"Bentak Raka."Lihatlah diri lo sekarang!Lo bahkan lupa mencukur bulu-bulu yang udah tumbuh makin lebat di muka lo,udah kaya kakek-kakek aja tau gak sih lo.Mana mau Agnes sama orang kaya lo!Boro-boro Agnes,gue juga jyjyk liat penampilan lo yang sekarang."Lanjutnya memanas-mansi.
Seketika Regata teringat akan dia yang tidak lagi merawat dirinya seperti dahulu.Dan sudah pasti tampilannya yang selalu cool kini berubah menjadi co'oleun.
Dengan bodohnya Regata langsung ngacir menuju kamarnya.Untuk memperbaiki tampilannya sebelum Agnes melihat dan langsung menolaknya saat itu juga.
Rey dan Raka bertos ria setelah kepergian Regata disana.Mereka sama-sama tertawa melihat tingkah absurd Regata jika mendengar nama Agnes disebutkan.Kini mereka tahu.Jika ingin mengendalikan Regata yang sedang menggila,maka nama Agnes lah pawang yang ampuh untuk mengendalikannya.
"Gila lo,kenapa tu ide gak muncul dari kemarin aja sih."Ucap Rey sambil terkikik.
"Tau nih,mungkin waktu itu otak tamvannya gue lagi rehat bentar."Celetuk Raka yang membuat Rey memutar bolamatanya malas.
Sementara dikamanat mandi,Regata nampak mendekatkan wajahnya pada cermin besar yang tersedia di sana.
"Bener juga kata si Raka,mana mau Agnes sama orang yang berewokan kaya gue.Mana ketampanan gue juga ketutup sama ni kumis baplang lagi."Gerutu Regata saat memperhatikan dengan teliti wajahnya dari pantulan cermin.
"Oke,Agnes.Gue bakalan ngerubah diri gue jadi tampan lagi supaya lo mau sama gue.Revix Regata Saputra gak bakalan kalah tampannya sama si Afgan brengsek sialan itu."Lanjut Regata yang diakhiri makiannya pada Rivalnya dan mulai membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum pisau cukur mendarat di mukanya.
**
Rey dan Raka kini sedang menunggu Regata yang masih sibuk merubah penampilannya itu.Sudah lebih dari 30 menit,tapi Regata sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya sekali pun.
Mereka berdecak sebal karna bosan menunggu Regata.Seketika mata mereka berbinar melihat banyaknya bir yang berada dalam ruangan pendingin yang terdapat di sana.Dengan antusias keduanya pun mengambilnya secara berebutan dan meletakkannya di atas meja.
Dengan santainya,keduanya bermain game online sambil rebahan di atas sofa panjang dan menikmati cemilan beserta bir Regata yang mereka rampas tadi.
*Tap..
Tap..
Tap*..
Saat mereka sibuk dengan ponsel miringnya masing-masing,terdengar suara langkah kaki yang reflex membuat mereka mendongakkan pandangannya seketika.
"Agnes!!"Pekik keduanya dengan mata membulat.
Ya,si cantik datang untuk berkunjung.
Agnes tersenyum tipis dan berjalan menuju mereka.Dia terduduk di sofa single dan dengan langsung menyambar sekaleng bir yang masih belum mereka buka.
"Agnes,lo-
"Mana Gata?"Tanya Agnes to the point setelah menghabiskan sekaleng bir dalam satu kali tegukkan.
"Di-dia ma-masih ada di kamarnya."Balas Rey gelagapan karna tak menyangka Agnes akan mendatangi Apartement Regata dan menemui sang leader most wantednya itu setelah berhasil membuat pria itu gila berminggu-minggu.
Agnes mengangguk mengerti dan berdiri dari duduknya.Tanpa menunggu lagi,gadis itu pun berjalan memasuki kamar Regata.Yah,yang tentunya tanpa se-Izin sang pemilik.
Rey dan Raka saling lirik.
"Ini benerkan,gue gak lagi mimpikan?"Tanya Raka melongo.
Plak!
"Awh,sakit beg*"Umpat Raka yang mendapatkan tamparan di pipinya.
"Lah,kan gue dengan berbaik hati membuat lo sadar kalo ini bukan mimpi.Makannya gue tampar lo supaya lo terbangun dari mimpi gila lo itu."Ucap Rey dengan wajah polosnya.
Raka mendelik malas ke arah Rey."Sialan lo."
**
Agnes sampai di kamar Regata.Wanita itu terlihat menarik nafas dalam-dalam untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang dia ambil itu benar.
Ya.Setelah berbicara pada David kemarin,Agnes sadar bahwa memang Regata lah yang selalu Stay bersamanya.Bukan Afgan
Meskipun memang Afgan juga ia yakini bisa menjaganya dengan baik,tapi di bandingkan Regata?Tentu saja dia lebih memilih Regata yang sudah lama dia kenal bahkan bisa dibilang sudah lama hidup bersama dan saling melindungi di dalam dunia hitamnya saat Smp bahkan sampai sekarang.
Saat Agnes mengangkat sebelah tangannya hendak mengetuk pintu kamar yang tertutup,tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dari dalam dan terlihatlah wajah konyol Regata yang melongo menatapnya.
"Ha-hai!"Sapa Agnes agak canggung sambil melambaikan sebelah tangannya.
"Agnes."Gumam Regata.Dan dengan polos Agnes menganggukkan kepalanya.
Bug..
Regata langsung memeluk Agnes erat.Seolah memgisyaratkan kepada wanita itu untuk tidak lagi pergi dari hidupnya.
Agnes tersenyum canggung dan balas memeluk Regata dengan mengusap-usap punggung pria itu.
Regata melepaskan pelukannya dan menatap Agnes jengah.
"Gue rindu lo tau gak,hah?kemana aja lo selama ini,pake acara larang-latang gue buat menuin lo lagi."Ucap Regata kesal.
Agnes hanya menyengir saja menanggapi ucapan Regata.
"Pake bahasa Lo-Gue lagi nih?bukannya-
"Ralat!maksudnya,aku rindu kamu."Potong Regata sambil menatap Agnes sendu.
Agnes hanya tersenyum kecil tanpa membalas ucapan rindu yang keluar dari Regata.Seketika ia teringat akan tujuannya datang ke sini.
"Apa lamaranmu yang waktu itu masih berlaku?"Tanya Agnes yang membuat kedua mata bahkan mulut Regata terbuka sempurna.
"Ma-maksud kamu?Kamu mau-
"Masih berlaku tidak?"Ulang Agnes dengan nada yang sedikit ketus karna jengkel dengan respon yang Regata berikan.
Seketika senyuman dan binar bahagia nampak jelas di wajah Regata.Dengan penuh semangat pria itu mengatakan:
"Masih kok masih.Itumah gak ada kadaluarsanya kalo buat kamu."Jawabnya menggpmbal.
"Cih,dasar.Gombalan lo receh bang!"Ucap Agnes ketus sambil mendelik malas ke arah Regata.
Regata mengabaikan ucapan Agnes.Pria itu beralih berlutut dan meraih tangan Agnes untuk digenggamnya.
"So,will you-
"Yes I Will!"Potong Agnes yang membuat Regata terkikik geli.
Dengan segera pria itu bangkit dan menarik Agnes ke dalam pelukannya dengan wajah yang semula suram kini sudah kembali mencerah.Dan tentunya itu karna dunianya yang sempat hilang kini sudah kembali lagi.
"You're my world,you're my life.And you're my love, Agnes."Batin Regata bahagia.
"Aku mencintaimu!"Ucap Regata yang lagi-lagi hanya dibalas senyuman oleh Agnes.
"Ck,kenapa gak dibalas sih?ngeselin banget tau gak."Ucap Regata ketus sambil membuang pandangannya dari Agnes.
"Karna memang aku gak cinta sama kamu."Ucap Agnes polos yang membuat Regata menatapnya tak percaya.
"Lalu kenapa kau mau meni-
"Aku menerima lamaranmu karna aku merasa kaulah yang terbaik untukku."Potong Agnes.
"Jika kau tidak mencintaiku,lalu dimana tempat hatimu berlabu?Apa tempat itu adalah Af-
"Aku tidak mencintai siapapun!"Potong Agnes lagi."Bagiku,cinta hanyalah sebuah kabut lebat yang hanya akan menyesatkan manusia.Rasa cinta hanya akan membawamu kedalam penderitaan yang tak berujung.Maka dari itu,aku tidak akan mengenalnya apalagi merasakannya."Lanjutnya pasti.
Regata tertegun mendengar ucapan Agnes.Dia lupa,jika hati Agnes itu sudah membatu untuk yang namanya cinta.
Alasannya?
Tentu saja karna ayahnya,dika maksudnya.Karna Dika yang memberikan cinta palsunya pada Alexa sang ibu,membuat Agnes enggan untuk mengenal kebodohan yang dinamakan cinta.
Regata menarik kembali Agnes ke dalam pelukannya.Dia mengusap dan mencium pucuk kepala Agnes lembut.
"Aku sama sekali tidak keberatan karna kau yang tidak mencintaiku.Dengan kau yang selalu berada di sisiku saja,sudah memberikan kebahagiaan yang tak terkira padaku."Batin Regata
Regata yakin.Setelah mereka berkeluarga kelak,sedikit tapi pasti Agnes akan mulai membuka hati untuknya.
Karna Regata percaya,bahwa cinta datang karna terbiasa.
Semoga.Semoga apa yang ia pikirkan itu terwujud dengan pasti.
Saat keduanya tengah asik berpelukkan,mereka sama sekali tidak sadar jika setiap pergerakan dan ucapan mereka barusan tak pernah lepas dari titik fokus sebuah kamera yang berasal dari ponsel berlabel apel tergigit itu.
Raka menatap mereka haru.Sementara Rey kini sibuk mengotak-atik ponselnya untuk mengupload vidio yang mereka ambil barusan pada akun sosial media miliknya.Tak lupa dengan menandai akun Agnes dan Regata tentunya.
"So sweet banget sih..aaa eneng terharu."Oceh Raka sambil menyatukan kedua tangannya dan menggerak-gerakkan badannya ke kanan ke kiri.
"Cih alay!"Ucap Rey sambil memandang Raka jijik.
"Biarin.Sirik bilang bos qyu!"Balas Raka sambil mengacungkan jari tengahnya pada Rey.Yang hanya dibalas putaran bolamata oleh temanya itu.
**
Disisi Lain..
Kevin menatap Afgan jengah.Bagaimana tidak?saat ini mereka bertiga lagi-lagi berkumpul di kafe yang mereka datangi kemarin.
Kevin merutuki dirinya yang bodoh karna sudah membiarkan Afgan ikut bersama mereka saat itu.
And alhasil?pria itu sekarang malah ketagihan dengan mini cake yang tersedia di sana dan memaksa mereka untuk berkumpul kembali demi dirinya yang sudah semakin menggila dalam menikmati mini cake tersebut.
Alvin menghembuskan nafasnya pelan,kemudian beralih menatap Vano.
Vano berdecak sebal dan beralih menatap Kevin.
Kevin memutar bolamatanya malas dan beralih menatap Afgan tajam.
"Gan,lo mau habisin berapa lusin lagi hah?"Tanya Kevin kesal.
"Iya gan,sadar oi!Lo bisa ngahabisin stok mini cake yang ada di sini dodol!"Lanjut Vano geram.
"Tau lo,lo itu kerasukan demit mana sih?heran gue."Tambah Alvin tak habis pikir dengan perubahan drastis yang terjadi pada temannya itu.
Afgan hanya fokus menikmati mini cake yang nenurutnya pas di mulutnya saja, tanpa menghiraukan ocehan ketiga pria yang berada di depannya itu.
Vano kesal melihat ekspresi Afgan yang santai-santai saja dengan dia yang sudah kesal sampai kakinya kesemutan karna menunggu Afgan selesai makan sedaritadi.
Tak mau ambil pusing lagi atas tingkah Afgan yang semakin hari semaikin aneh,Vano pun memilih untuk memainkan ponselnya membuka setiap beranda yang terdapat pada sosial medianya.
Seketika matanya membulat saat melihat postingan Rey yang diberi Captions 'Baru temu,langsung ngajak married.Uhuyy!!'.
"Boys Boys Boys!Buka Ig sekarang cepet!"Rempongnya sambil memukul-mukul meja dengan mata yang tidak beralih dari ponselnya.
"Apasi lo?"tanya Kevin kesal.Udah kesal sama si perut karet,ditambah nih curut satu renpong gak jelas.'pikirnya
"Tau lo!"Sambung Alvin sama kesalnya.
"Udah cepetan buka terus liat storynya si Rey temennya si Regata itu cepett!!penting nih!"Ucap Vano kembali rempong.
Melihat Vano yang seperti itu,sontak saja mereka pun menuruti ucapan temannya si biang gosib itu.Minus Afgan tentunya.Karna pria itu masih saja sibuk dengan makanan lezat yang masih tersedia dalam stok yang banyak di depannya.
"APA!!"Pekik Alvin dan Kevin dengan mata yang membulat sempurna.
"Ini si-
"Gue pengen cendol euy!kuy bantu cari."Ucap Afgan memotong Kevin yang seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Lupain cendol-cendol gak jelas itu gan!Nih liat,Agnes udah-"Vano memggantung ucapannya ketika Kevin menatapnya tajam.
"Kenapa Agnes?"Tanya Afgan sambil mentap mereka bingung.
"Mamp*s!bilang apa gue sekarang?gimana kalo dia gila?sekarang aja dia udah gila makan,kalo dia tambah gila yang lain gimana?Bisa ketularan gila beneran nanti gue."Batin Vano yang seketika mempertimbangkan akan memberitahu Afgan atau tidak.
Vano menatap ke arah kedua sahabatnya yang sedang menggeleng kecil menendakan jangan berbicara apapun pada Afgan.
Vano pun hanya pasrah dan menundukkan pandangannya tak berani menatap Afgan.Begitupun dengan Alvin.Sementara Kevin,dia lebih memilih mengarahkan pandangannya ke arah lain pura-pura tidak tahu apapun.
Afgan menaikkan sebelah alisnya bingung melihat ketiga sahabatnya yang seperti tengah menyembunyikan hal besar darinya.
Seketika pandangan Afgan teralih pada ponsel Vano yang masih menyala,dengan segera ia pun merebutnya dari tangan Vano.
"A-Afgan jangan!"Pekik ketiganya.
"Apa si,ponsel aja pelit.Emang ada a-Apa?"Ucap Afgan tak percaya setelah melihatnya.
Seketika tangan Afgan melemas.
Prengk..
Ponsel Vano tergelincir begitu saja dari genggaman tangan Afgan.Afgan menggelengkan kepalanya tak percaya.
Sementara ketiga temannya sedang sibuk memikirkan bagaimana cara menenagkan Afgan takut-takut pria itu menggila nanti.
Seketika nafsu makan Afgan hilang.Dengan wajah yang kembali dingin pria itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari kafe tanpa menghiraukan teriakan para sahabatnya.
"Afgan!"Teriak Vano.
"Afgan lo mau kema-Afgan!!"Kini giliran Alvin yang berteriak.
Vano beralih menatap Kevin yang hanya diam melamun saja.Seketika dia kesal dengan sikap acuhnya Kevin.Sebagai kakak,seharunya Kevin bisa meyakinkan Agnes untuk mau menerima Afgan dalam hidupnya.Tapi ini?
"Vin,kok lo diem aja sih?Afgan-
"Gue bisa apa van?gue hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat adik gue.Gue gak bisa kalo harus desak adik gue supaya mau sama Afgan.Ini kehidupan Agnes,bukan kehidupan gue.Jadi disini dialah yang akan menentukan siapa pasangan hidupnya."
_-_
Tbc!