
Setelah beberapa lama mereka saling beradu, akhirnya Afgan tumbang di samping Agnes. Dia beringsut menarik selimut untuk menutupi tubuh tel*njang mereka.
Afgan menarik lengan Agnes supaya bersandar di dada bidang miliknya sementara dia menyandar di kepala ranjang. Dia tersenyum bahagia mengingat pergulatan panas yang baru saja mereka lakukan tadi.
Sementara Agnes yang masih lemas hanya menurut dan tertidur dengan dada Afgan yang dia jadikan bantal. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Afgan sementara yang lainnya menyilang di dadanya supaya dadanya itu tidak bersentuhan langsung dengan kulit Afgan.
Bisa bahaya kan kalau itu' nya bangun lagi. Mana sanggup Agnes jika harus kembali menidurkannya, tadi saja dia sudah hampir pingsan karena Afgan yang enggan berhenti dan minta terus.
" Makasih, " Ucap Afgan sambil mencium pucuk kepala Agnes.
Agnes yang mulai bisa bernafas normal hanya sedikit mengeliat tanpa membalas ucapan Afgan.
Mereka memejamkan matanya tanpa tertidur untuk menikmati waktu bersama. Karena hari yang sudah mulai petang, Afgan pun angkat suara untuk meminta persetujuan Agnes supaya mereka menginap di apartementnya malam ini.
" Agnes, bagaimana jika kita menginap satu malam di sini? " Tanya Afgan sambil mengelus punggung telanjang Agnes.
" Terserah! " Balas Agnes tanpa membuka matanya. " Eh, tapi bagaimana dengan orang-orang di rumah? " Tanya Agnes sambil mendongak menatap Afgan.
Afgan tersenyum dan melayangkan satu kecupan singkat di bibir tipis Agnes yang sudah membengkak karena ulahnya.
" Tidak apa, aku akan mengabari Alfan setelah ini. " Jawab Afgan santai dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya.
Agnes balik tersenyum dan kembali menempelkan wajahnya pada dada bidang Afgan yang tidak terhalang apapun.
Rasanya dia suka berada di posisinya yang sekarang, dengan telinga yang menempel di dada bidang Afgan membuatnya bisa merasakan detakan jantung suaminya yang sedang menggila.
" Kak, apa kau memiliki riwayat penyakit jantung? " Tanya Agnes tanpa mengubah posisinya.
" Hem? "
Seketika Afgan yang sedang memejamkan matanya kembali membuka matanya saat mendengar pertanyaan mengejutkan dari Agnes.
" Iya, sepertinya kau punya penyakit jantung, " Celetuk Agnes.
" Tidak lah! Aku masih muda loh, rata-rata yang jantungan itu yang sudah tua. Seperti ayah misalnya, " Balas Afgan sewot.
" Cih, dasar anak kurang ajar! " Maki Agnes sambil mencubit pinggang Afgan yang malah membuat pria itu tertawa.
" Kak ih! " Kesal Agnes karna suaminya itu terus saja menciuminya tanpa henti.
" Gemes aku tuh, ya kali aku punya penyakit jantung. " Ucap Afgan sambil terus mengecup kepala Agnes lembut.
" Ya karna jantung kakak berdebarnya sangat cepat, beda sama jantung aku yang biasa-biasa saja. " Celetuk Agnes polos.
Blush.
Wajah Afgan memerah. Apa istrinya itu tidak tahu arti bila jantung berdebar sangat kencang selain kena penyakit jantung?
Tentu saja jantung Afgan berdebar kencang karena dekat dengan Agnes. Apalgi jika mengingat aktivitas panas yang sempat mereka lakukan tadi, wah.. Jantungnya akan semakin menggila!
" Masa sih? " Tanya Afgan seolah tidak percaya.
" Iya, aku denger loh. " Jawab Agnes sambil terus menempelkan telinganya pada dada Afgan.
" Tuh, bunyinya: Dag, dig, dug, dag, dig, dug. Cepet banget, " Lanjut Agnes yang membuat Afgan gemas.
" Dasar. Emang debaran jantung kamu beda yah sama debaran jantung aku? " Tanya Afgan usil.
" Ya beda lah! " Jawab Agnes langsung. " Jantung aku tuh detakannya normal, gak kaya jantung kakak yang seperti habis lari maraton. " Lanjutnya.
" Masa sih, gak percaya. Mana coba denger, " Otak mesum Afgan on seketika.
" Dih, gak percaya. Ya udah nih denge- Eh enggak-enggak! " Tolak Agnes cepat saat menyadari ada benda apa yang terpasang di atas permukaan kulit dekat jantungnya.
Afgan tertawa ngakak melihat kepolosan Agnes. Lagi-lagi dia menghujani seluruh wajah istrinya itu dengan ciuman yang bertubi-tubi.
" Udah ih! " Ucap Agnes jengkel.
" Iya, iya oke. " Balas Afgan yang akhirnya berhenti dan kembali memeluk Agnes.
" Kak, aku mau tanya. Tapi kakak jangan ketawa, " Ucap Agnes tiba-tiba ketika hening melanda mereka.
" Apa? "
Agnes mendongak menatap mata Afgan. " Tadi tuh hati aku gak nyaman banget tahu gak. Rasanya, rasanya itu kaya sakit tapi aku gak tahu karena apa. Aneh kan? " Tanya Agnes penuh keheranan.
Afgan mengerutkan dahinya. " Masa sih? "
" Iya. "
Afgan berpikir sejenak. " Eum, sebelum kamu merasakan itu, apa kamu liat atau melakukan apa..gituh sebelum rasa itu muncul? " Tanya Afgan.
Afgan mematung sambil menatap Agnes lembut. Saat melihat dia bersama wanita itu, rupanya Agnes memang cemburu, sesuai keinginannya.
Jika Agnes cemburu, berarti Agnes? Ahh.. Jangan bangunkan dia jika ini mimpi!
" Kak, kok diem sih? " Tanya Agnes kesal.
Seketika lamunan Afgan butar. " E-eh, apa? " Tanya nya ling-lung.
" Tau ah kesel, " Jawab Agnes malas dan kembali memeluk Afgan.
Afgan tersenyum senang dan mengelus kepala Agnes.
" Kamu jangan khawatir, rasa itu tidak akan datang lagi kok. Karna aku tidak mungkin selingkuh, dan wanita tadi itu cuma sekretaris aku yang berusaha goda aku. Tapi aku gak ke goda kok, karna yang aku inginkan hanya kamu! Hanya kamu yang bisa membangkitkan gairah dalam diriku, hanya kamu yang mampu membuatku puas dengan yang namanya berhubungan, hanya kamu wanita yang- "
" Ih apaan sih, kok jadi ngelantur ke mana-mana. " Potong Agnes geram dengan ucapan Afgan yang semakin ke sini semakin tidak sehat.
Afgan tertawa mendengar ucapan marah bercampur malu yang istrinya katakan. Dia lagi dan lagi menghujani wajah Agnes dengan ciumannya yang berakhir dengan ciuman panjang pada bibir istrinya.
" Yang, " Panggil Afgan lembut setelah melepaskan tautan bibir mereka.
" Yang, yang, yang, kamu pikir aku kuyang! " Celetuk Agnes dengan nada ketus.
Afgan tertawa geli dan kembali berucap:
" Kamu jadi cewe gak ada romantis-romantisnya ya, heran deh aku. "
" Bodo! "
" Ya udah kalo gitu, aku akan tetap panggil kamu sayang! " Putus Afgan sebelah pihak.
" Enggak! " Tolak Agnes cepat.
" Terus maunya kamu aku panggil apa? " Tanya Afgan berusaha berkompromi.
" Gak ah! Geli aku dengernya, bukan geli lagi tapi jijik. " Balas Agnes yang membuat Afgan menggigit telinganya karena gemas.
" Ya sudah ganti, jangan sayang. Gimana kalo baby, honey, sweet heart, my girl, my life, atau my wife? Pilih salah satunya! " Cerocos Afgan.
" Enggak mau, aku merinding tahu dengernya. " Tolak Agnes lagi.
" Ya udah aku juga gak mau tahu, pokoknya tetep aku mau panggil kamu sayang! " Putus Afgan final.
" Apa sih, eng- "
" Mau lagi. " Potong Afgan cepat sambil menatap Agnes dengan seringaian mesumnya.
" Apa? " Tanya Agnes tidak mengerti.
" Itu' yang tadi. " Celetuk Afgan sambil menatap dada Agnes nakal.
Sontak Agnes menarik selimutnya sampai leher. Dia menggeleng dan berkata:
" Enggak! " Tolak Agnes keras.
Afgan berdecak sebal, " Sekali lagi aja, yah! " Bujuknya manja.
" Kamu apaan sih, kok jadi minta terus? " Ucap Agnes kesal.
Afgan tertawa mendengar ucapan Agnes.
" Gak akan terus kok sayang, cuma sekali lagi aja. Yah? " Bujuk Afgan tanpa henti.
" Enggak ih! Tadi aja di kasih sekali sekarang minta lagi. Nanti setelah di kasih lagi, tetep kamu bakalan minta tambah lagi. Gak ada! Udah sekali aja, " Omel Agnes.
Afgan cemberut, " Lagian aku yakin kamu juga suka kok yank, buktinya tadi kamu- "
" Kak ih, dasar mesum! " Potong Agnes segera sambil memukul dada Afgan.
" Ha..Ha..Ha.. " Afgan tertawa bahagia sambil mengangkat tangan kanannya untuk memeluk Agnes.
Agnes tersenyum dan menyambut tangan Afgan yang hendak memeluknya. Saat Agnes mengelus lengan Afgan yang berada di pingganya, secara tidak sengaja dia merasakan ada sesuatu yang aneh di lengan Afgan.
Dia menunduk dan sedikit membalikkan lengan Afgan. Seketika matanya membulat, mulutnya mengaga tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
" Go-gold prince leader, ".
_-_
Tbc!