Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Terluka



Agnes memalingkan wajahnya dari Afgan. Dia sungguh marah pada suaminya. Saat ditanya ingin apa dan menjawab bir, dia melarang. Saat disuruh memilih yang lain dan menyebut cincau sebagai gantinya, dia juga tidak mampu membelikannya.


Dan sekarang lihatlah! Pria itu malah asik makan saat berhasil mengajaknya ke salah satu restaurant yang sengaja dia bookig


untuk Agnes. Bukannya tersanjung, Agnes justu meresa semakin marah pada suaminya itu. Apa benar di Amerika tidak ada penjual ice cream cincau? Jika memang tidak ada, maka dia sendirilah yang akan berjualan ice cream cincau menggunakan sepeda motor! Waahh..pasti untung banyak dia karena tidak ada saingannya!


Tapi, apakan suaminya itu akan mengizinkannya kalau berjualan? Ya jelas tidaklah! Yakali istri sekaligus cucu pengusaha kaya berjualan ice cream cincau yang pendapatannya jauh di bawah suami dan kakeknya itu. Apalagi kan Agnes juga masih memegang Algs company, perusahaannya di Indonesia.


Afgan yang sedang mengunyah makanannya lantas menengok ke arah Agnes yang bahkan melipat kedua tangannya di dada tanpa mau menyentuh pisau dan garpu untuk makan.


Afgan menghela nafas pelan. Dia tahu istrinya itu marah, dan dia bisa mengerti itu. Tapi jika di pikir-pikir, Agnes semenjak dinyatakan mengandung sangat sensitif dan mudah marah. Apa ini yang dinamakan hormon kehamilan?


Jika ia, ha..maka perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi sikap istrinya yang angin-anginan itu.


Agnes yang sadar di perhatikan oleh sang suami lantas menengok sambil mendelik malas dan kembali membuang pandangannya dari Afgan.


Dan hal itu membuat Afgan kesal. Delikkan mata Agnes sungguh membuatnya hendak menerkam istrinya itu disini juga. Tapi, apa dia berani? Jelas tidaklah!


" Makan! " Titah Afgan dingin saat melihat Agnes yang lagi-lagi menengok dan langsung membuang muka darinya.


"Apasi, gak mau! Makan aja sendiri. " Balas Agnes ketus tanpa melihat Afgan.


Lagi-lagi Afgan menghela nafas pelan dan menyimpan garpu dan pisau yang di genggamnya seketika.


" Dengar, kau belum makan apapun sejak tadi. Jadi sekarang makanlah! Nanti aku akan mebelikan apapun yang kau inginkan. " Bujuk Afgan.


" Benarkah? " Tanya Agnes sambil memandang Afgan antusias. " Kalau begitu setelah ini, aku mau nasi uduk! " Lanjutnya semangat.


Mata Afgan membelalak. Nasi uduk? Sepertinya anaknya itu sudah tidak sabar untuk pergi ke Indonesia, dan tentunya untuk menikmati makanan yang berada di sana.


" Baiklah! Aku akan membelikanmu es cream cincau dan nasi uduk setelah kita sampai di indonesia. "


**


Setelah selesai mengisi perut, Afgan kembali menjalankan mobilnya dan sampailah mereka di kediaman Drexy.


Dengan segera Afgan turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Agnes. Agnes keluar dan lagi-lagi menggandeng mesra lengan Afgan untuk kembali bersandiwara.


Tanpa menunggu lama, mereka pun segera masuk karna pintu yang memang tidak tertutup alias terbuka lebar.


Saat Agnes berjalan melewati para bodyguard yang diam berjaga di sana, mereka dengan segera menunduk hormat karna tahu jika perempuan yang berjalan masuk itu adalah nona mudanya.


Sesampainya di ruang tengah, Afgan tiba-tiba saja menarik tangan Agnes hingga perempaun itu sedik terhuyung ke belakang dan-


Preng..


Satu botol kaca bekas alkohol mendarat dengan sempurna di dahi Afgan. Yang membuat darah segar keluar dari sana.


Afgan meringis dan memegang dahinya. Pandangannya memburam dan-


Brung...


" Kak Afgan!! " Teriak Agnes kaget melihat Afgan yang sudah tergeletak di atas lantai.


Dengan segera Agnes berjongkok dan menaruh kepala Afgan di pahanya. Dia menepuk-nepuk pipi suaminya itu supaya terbangun.


" Kak..kak.. Kak buka matamu kak! " Ucap Agnes khawatir sambil sesekali menyeka darah yang keluar semakin deras dari kening suami tampannya.


Rexi mengangguk mengerti. Dengan segera dia mencengkram lengan Haley dan menyeretnya paksa.


" Hahaha...Mam*us kamu! Hahaha..Aku benci kamu, hihi..hoho..hohohoo!! " Teriak Haley sambil meloncat-loncat kecil dalam cengkraman Rexi.


" Diam kau! " Bentak Rexi dan lebih menyeret Haley supaya segera pergi dari sana.


Ya, dia Haley. Haley Drax yang sudah terguncang jiwanya dan menggila setiap harinya. Saat dia kembali menggila dengan melempar dan meracau tidak jelas, kebetulan Agnes datang dan dengan penuh amarah wanita gila itu meraih botol minuman terdekatnya dan dilemparkannya pada Agnes.


Afgan yang melihat tindakan Haley lantas menarik Agnes hingga dialah yang terkena.


" Hei kau, bantu pria itu dan letakkan dia di kamar tamu! " Titah Drexy kembali pada dua orang Bodyguardnya yang sedang berjaga.


" Yes sir. " Balas mereka serempak dan berjalan mendekat ke arah Agnes untuk mengangkat tubuh Afgan.


" Tunggu! " Ucap Agnes saat mereka hendak melangkah pergi dengan membawa Afgan. " Letakkan saja dia di kamarku. " Lanjutnya.


Kedua bodyguard itu saling lirik. Kemudian mereka mengangguk mengerti dan kembali berjalan setelah mendapat anggukan dari Drexy.


" Kenapa kau datang bersama Tuan Afriansyah, girl? " Tanya Drexy yang membuat langkah Agnes untuk menyusul Afgan terhenti.


" He is my husband, dad! " Balas Agnes yang membuat kedua mata Drexy terbuka lebat.


" W-What? "


**


Afgan membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dapat di lihatnya adalah wajah cantik Agnes yang sedang terlelap di sampingnya.


Istrinya itu bukan berbaring di atas ranjang, melainkan terduduk di atas kursi kecil dengan menyandarkan kepalanya pada ranjang yang ia tiduri.


Afgan teringat akan kejadian tadi. Pria itu pun mengangkat sebelah tangannya untuk memegang kepalanya yang ia rasa sudah di perban. Dan tentunya oleh Agnes.


Afgan tersenyum dan mengusap lembut kepala istrinya yang masih terlelap. Tidak di sangka, ternyata istrinya yang kadang dingin kadang absurd itu sangat perhatian. Sampai-sampai mengobati lukanya dan mengompres lukanya terlebih dahulu.


Terbukti dengan adanya seember kecil air yang isinya sudah merah seperti darah. Tak lupa dengan satu handuk kecil di dalamnya.


" Eum, kau sudah bangun? " Tanya Afgan ketika melihat Agnes yang mengangkat kepalanya. " Apa aku mengganggumu? " Lanjutnya.


Agnes menggeleng pelan sambil mengucek matanya. Yang mana membuat Afgan menggigit bibir bawahnya sendiri karna gemas dengan apa yang Agnes lakukan.


" Kak! "


" Hem. "


" Mau gado-gado. "


" What!! " Pekik Afgan dengan mata membulat. " Sepertinya kita harus cepat-cepat terbang ke Indonesia, aku rasa anakku sudah tidak sabaran. " Usul Afgan sambil cekikikan yang membuat Agnes sedikit berfikir.


" Heum, benar juga yah. Apalagi aku sangat ingin pempek yang letak kedainya dekat restaurant kak Afan itu loh. Aaahh..aku benar-benar menginginkannya sekarang!!! " Ucap Agnes sambil membayangkan makanan yang dia sebut tadi.


Mata Afgan kembali membelalak. Pertama cincau, berlanjut ke nasi uduk, dan sekarang gado-gado dan pempek. Sepertinya anaknya itu sungguh sangat mencintai Indonesia.


**


Tbc!