Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Where Is It Cincau?



" Tuan, di depan ada Nona Agnes dan Tuan muda Afriansyah." Ucap salah satu bodyguard yang bertugas menjaga pintu masuk kediaman Filex.


"Agnes? Kenapa kau suruh mereka menunggu hah? Dasar bodoh! Biarkan cucu cantikku masuk!" Titah Filex yang di angguki bodyguardnya.


Beberapa saat kemudian setelah kepergian sang bodyguard, datanglah Agnes dengan menggandeng lengan Afgan mesra. Begitupun dengan Afgan, pria itu terlihat memeluk pinggang ramping Agnes erat.


Siapapun yang melihatnya, pasti akan mengira jika mereka sepasang kekasih yang saling mencintai dan tengah memamerkan kemesraannya. Tapi itu salah! Yang sebenarnya adalah mereka hanya berakting agar keluarganya itu menyangka jika mereka memang saling mencintai, makanya mereka menikah! Dengan begitu, akan mudah untuk mendapatkan restu dari mereka. Terutama restu dari sang Tuan rumah, Filex.


Filex memandang cucunya itu dengan alis berkerut. Pasalnya sejak Agnes pindah ke Amerika sampai saat ini, baru kali ini cucu cantiknya itu membawa laki-laki. Yang lebih anehnya, bukankah cucunya itu sudah di lamar oleh pria yang bernama Regata? Tapi kenapa justru Afganlah yang di gandengnya?


Agnes tersenyum manis saat mendapatkan tatapan heran dari sang kakek. Saat dia hendak angkat suara, tiba-tiba saja Louis datang tiba-tiba sambil berucap:


"Wow Baby, sejak kapan kau suka bermain pria?" Celetuk Louis yang membuat Agnes melotot ke arah paman tampannya itu.


"Mr. Handsome!" Rengek Agnes tak terima.


"Haha..Just kidding baby!" Balas Louis sambil mendekat dan memeluk Agnes.


Agnes tersenyum dan balas memeluk Louis. Sebelah tangannya yang berada di lengan Afgan pun sudah terlepas saat mereka berdiri di hadapan Filex tadi.


"Ekhm. So, kenapa kau kemari girl?" Tanya Filex to the point sambil menatap Afgan sekilas dan beralih menatap Agnes penuh tanya.


Agnes lantas melepaskan pelukannya dari Louis dan menatap Filex sambil cengengesan.


"Eum, he is my husband grandpa!" Jawab Agnes sambil mengusap tekuknya.


"WHAT!!"


**


"Kenapa, apa kau sakit?" Tanya Afgan perhatian.


Setelah perdebatan panjang yang diakhiri tangis haru karna kepergian Agnes, akhirnya mereka berdua pun beranjak dari mansion mewah keluarga Filex Alexander menuju kediaman terakhir untuk meminta restu alias mansion mewah Drexy.


Agnes menggeleng sambil menyandarkan punggungnya di kursi, dengan Afgan yang sesekali menatapnya karna memang dirinya saat ini tengah mengemudi. Jadi tidak baik jika dalam kondisi seperti ini Afgan masih terus saja memandangi wajah cantik istrinya itu. Bisa bahaya entar!


"Kau lapar?" Tanya Afgan lagi karna khawatir melihat wajah Agnes yang semakin lama semakin memucat.


"Tidak." Balas Agnes tanpa membuka mata.


"Kau ingin apa?"


"Tidak ada."


"Kau mual?" Tanya Afgan saat melihat pergerakan bibir Agnes yang terus dilipat ke dalam.


"Tidak."


"Pusing?"


"Tidak."


"Kau ingin mun-


Seketika Agnes membuka matanya dan menatap Afgan dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.


"Arghkk...Diamlah!" Bentak Agnes kesal sambil meremas rambutnya. "Aku hanya lelah kau tahu, jadi diamlah! Kau cerewet sekali ih. Ganggu orang aja!" Lanjutnya marah dan kembali menyandarkan punggungnya sambil menutup kedua matanya.


"Eh,,aku kan hanya bertanya. Apa salahnya coba?" Balas Afgan tidak terima di sebut cerewet.


"Sudah diam."


"Iya-iya aku diam, lagian buka-


"Stop...Stop..!" Potong Agnes seketika sambil membuka kedua matanya dan memukul-mukul kecil paha Afgan.


Cekik..


"Apa sih? Kamu mau kita nabrak orang, terus-


"Mau itu!" Potong Agnes sambil menunjuk pada apa yang ia inginkan.


Lantas mata Afgan pun mengikuti arah jari telunjuk Agnes. Matanya membelalak saat mendapati toko yang berada di samping restaurant yang ia ketahui tempat itu adalah tempat penjualan minuman memabukkan seperti vodka, anggur, bir, wine dan lain sebagainya.


Afgan berusaha positive thingking. Mungkin saja maksud Agnes memang restaurant itu, dan bukan tempat yang berada di sebelahnya.


"Kau mau makan di restaurant itu? oke baiklah, ayo!" Ajak Afgan sambil membuka sabuk pengamannya dan hendak beranjak turun dari mobil.


Tapi niatnya itu ia urungkan saat merasakan tarikan pelan pada ujung bajunya.


"Tunggu!" Ucap Agnes sambil menatap Afgan kesal. Karna bukan itu yang ia inginkan.


"Apa? Bukankah kau mau ma-


"Bir." Potong Agnes sambil menatap Afgan antusias. "Aku mau bir, bukan mau makan!" Lanjutnya yang membuat kedua mata Afgan membelalak.


Bir? Istrinya menginginkan minuman seperti itu saat sedang mengandung? Apalagi itu anaknya. Oh jelas tidak bisa! Enak saja, bagaimana jika terjadi sesuatu di dalam sana? Apa istrinya itu akan bertanggung jawab, eoh? Tidak akan! Tidak akan dia berikan!


"Tidak!" Balas Afgan cepat.


Seketika wajah antusias Agnes berubah menjadi murung. Dia sangat ingin minum minuman yang sering dia dan Regata minum itu. Rasanya sangat enak, dan sekarang dia sangat ingin merasakannya. Oh ayolah, suaminya itu memang payah! Membelikan sekaleng bir saja dia tidak mampu. Cih dasar pelit!


"Katanya kaya tapi membeli sebuah bir saja tidak mampu, cih!" Ucap Agnes sambil mengalihkan pandangannya ke kaca samping.


Afgan menghela nafas pelan dan meraih kedua pipi Agnes agar istrinya itu menatapnya.


"Agnes dengar. Kau ini sedang hamil, tidak baik jika kau mengonsumsi minuman seperti itu. Yah, kau minta apapun saja! Aku akan berikan padamu selain-


"Bir!" Kekeh Agnes.


"Tidak! Sudah ku katakan kau tidak boleh meminumnya sampai kau melahirkan!" Balas Afgan setengah membentak sambil melepaskan kedua pipi Agnes dan menatap istrinya itu tajam.


"Kalau begitu, vodka saja." Nego Agnes sambil memiringkan kepalanya menatap Afgan.


"Tidak!"


"Wine?" Ucap Agnes sambil tersenyum manis berusaha menggoda Afgan.


"Tidak!"


"Eum,, Anggur?"


"Tidak!" Bentak Afgan dengan tatapan tajam penuh peringatan yang tak lepas dari wajah cantik Agnes.


"Baiklah baiklah, bagaimana jika sekaleng soda saja." Ucap Agnes mengalah.


"Tidak! Soda tidak baik untuk kandunganmu Agnes." Balas Afgan geram.


Apa minuman yang Agnes suka seperti itu semuanya? Apa tidak ada yang normal seperti jus atau apa kek selain minuman yang mengandung soda dan alkohol?


"Yaudah es cream cincau saja kalau begitu." Ucap Agnes jengkel.


"Baiklah!" Jawab Afgan tanpa berfikir.


"Yey!! Ayo kita mencari penjual ice cream cincau di setiap penjuru Amerika!!" Girang Agnes.


Seketika Afgan berfikir. Wait, ice cream cin- What!! Cincau? Apa ada yang menjual ice cream cincau di Amerika? Jika iya, maka beritahukanlah dia sekarang juga!!


**


Tbc!