
Afgan ambruk di samping Agnes dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuh mereka berdua.
Agnes menarik selimut menutupi tubuh telanjang mereka dan bergeser memeluk Afgan dengan kepala yang dia sandarkan pada dada bidang Afgan seperti biasa.
" Terima kasih, "
Cup.
Afgan mengecup kening Agnes agak lama, kemudian dia melepaskannya dan menarik tubuh Agnes memeluknya lebih erat.
" Kau keterlaluan kak, badanku rasanya remuk semua. " Keluh Agnes dengan nada kesal.
Afgan terkekeh dan menggigit telinga istrinya gemas.
" Habisnya kamu enak si! " Bisik Afgan yang membuat tubuh Agnes merinding seketika.
Agnes memilih diam dari pada harus berdebat hal yang tidak masuk akal dengan suami mesumnya itu.
Saat mereka sama-sama memejamkan mata tanpa tertidur, tiba-tiba terdengar suara ringisan yang keluar dari mulut Agnes yang membuat Afgan membuka matanya seketika.
" Sayang, kenapa? " Tanya Afgan panik.
" Stt...Ah, perutku keram kak. " Jawab Agnes sambil meremas perutnya.
Sontak Afgan langsung bangkit dan memakai boxernya yang tergeletak di atas lantai, dia melilit tubuh telanjang Agnes menggunakan selimut dan di gendongnya tubuh kecil istrinya itu menuju kamar mandi.
Afgan menyalakan sower dan menambahkan air dingin di bath up untuk Agnes berendam.
" Sayang, sepertinya aku terlalu kasar tadi. Lebih baik kau berendam saja yah! Siapa tahu keram di perutmu akan mulai menghilang, " Ucap Afgan sambil merebahkan tubuh telanjang Agnes pada bath up dengan perlahan.
Agnes mengangguk mengerti. Afgan mengecup pelan kening Agnes dan beranjak pergi meninggalkan istrinya.
" Tunggu! " Ucap Agnes sambil memegang tangan Afgan yang hendak meninggalkannya.
" Kenapa? "
" Eum, kau berendamlah bersamaku! Entah kenapa aku- "
" Ah baiklah! " Potong Afgan penuh semangat.
" Tapi jangan macam-macam! Tadi saja kau melakukannya lebih dari 3 jam, " Ucap Agnes yang membuat Afgan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Baiklah baiklah, aku berjanji tidak akan macam-macam. "
" Awas saja! "
Afgan mengangguk. Dengan segera dia melepaskan penghalang satu-satunya yang menempel di tubuhnya dan ikut masuk ke dalam bath up bersama Agnes.
Agnes duduk di pangkuan Afgan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Afgan, sementara tangan Afgan terangkat mengelus pelan perut Agnes yang tadi sempat mengeluh keram.
" Sayang, apa bayiku sehat ya? " Tanya Afgan khawatir.
" Aku tidak tahu, mungkin ini karena kau yang sering bermain. " Jawab Agnes tanpa membuka matanya.
" Benarkah? "
" Menurut medis, usia kandunganku masih terlalu muda. Dan hal ini sangat rentang keguguran jika kau terus-menerus menyempiti tempat bayinya. " Jelas Agnes yang membuat Afgan menyesali perbuatannya.
" Baiklah, mulai sekarang Ayah tidak akan lagi menengokmu baby. " Ucap Afgan sambil mengusap pelan perut datar Agnes.
Agnes tersenyum dan mengelus tangan Afgan yang berada di perutnya.
Saat mereka sedang asik memejamkan matanya menikmati waktu berdua di kamar mandi dengan berendam bersama, tiba-tiba Afgan mengingat sesuatu yang membuatnya kembali membuka matanya.
" Agnes, aku lupa ingin menanyakan hal ini sejak lama. "
" Apa? "
" Ini tentang Regata, "
" Regata? " Ulang Agnes sambil mengadahkan kepalanya menatap Afgan.
" Apa yang ingin kau tanyakan tentang Regata? " Tanya Agnes penasaran.
" Apa benar anak kecil yang waktu itu adalah anak kandungnya? Dan wanita itu, siapa namanya? "
" Veyna? "
" Iya, Veyna. Apa benar dia juga adalah istrinya? " Tanya Afgan penasaran.
Agnes mengangguk membenarkan.
" Tapi, tapi bagaimana mungkin? Anaknya sudah besar tapi tunanganmu dan Regata waktu itu- "
" A-apa? Jadi- "
" Ya, Regata sudah menikah. Dia di jodohkan oleh bibinya waktu di Milan, dan Afra ada karena kesalahannya yang waktu itu sudah mabuk berat. " Potong Agnes.
" Begitu pengakuannya padaku, " Lanjut Agnes sambil menatap Afgan.
Afgan melongo mendengarnya, tidak lama calon dady tampan itu terlihat tersenyum bahagia.
Agnes yang melihat perubahan ekspresi suaminya lantas mengerutkan keningnya heran.
" Hey ada apa denganmu? "
" Tidak ada, aku hanya bahagia saja mengetahui jika dia sudah berkeluarga. " Jawab Afgan sambil tersenyum senang.
" Kenapa? " Tanya Agnes bingung.
" Karena dengan dia yang sudah berkeluarga, membuatnya kembali merebutmu dariku adalah sesuatu yang tidak mungkin. " Jawab Afgan santai.
Agnes membelalak, kemudian wanita itu mendesis sinis ke arah suaminya.
" Dasar kau, sudahlah aku kedinginan. " Ucap Agnes yang hendak bangkit dari bath up.
" Tunggu tunggu, biar aku yang menggendongmu. " Ucap Afgan yang langsung bangkit dan menyambar dua kimono secepat kilat.
Afgan memakai kimononya sendiri kemudian dia berbalik memakaikan kimono pada tubuh Agnes.
Agnes yang di perlakukan demikian agak risih, tapi dia berusaha menutupinya dengan berpikiran ' Kenapa malu? Toh suaminya juga sudah melihat semuanya '.
Setelah memakaikan komono pada tubuh Agnes, dengan segera Afgan menggendong tubuh Agnes dan membawanya ke tempat tidur.
---
Sementara di tempat lain, terlihat seorang paruh baya yang sedang membolak-balikan pistol yang berada di tangannya.
Dia mengarahkan pistol itu ke sasarannya dan-
Dor!
Satu peluru berhasil merobek gambar yang menjadi sasarannya tepat pada kening pria yang fotonya sengaja dia tempel jauh di depannya.
" Huh! "
Paruh baya itu meniup pistolnya yang masih mengeluarkan asap.
Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju foto seorang pria yang tadi menjadi sasaran pelurunya.
" ****** juga kau, Ryan. " Ucapnya yang tidak lain adalah Marcus, kakak kandung Ryan.
Marcus melihat pistol yang masih berada di genggamnya, kemudian dia membelai foto wajah Ryan menggunakan pistolnya itu.
" Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu em? " Tanya Marcus tanpa dosa.
Seringaian mengerikan pun mulai muncul di bibirnya, dengan segera dia menarik dan merobek hingga robekan paling kecil foto adiknya itu.
" Musnahlah kau! " Teriak Marcus seperti orang gila.
Byur!
Dia melemparkan potongan kertas itu ke atas dan mulai turun berserakan di atas laintai.
" Ha, ha, Ha ha ha ha ha.....! "
Marcus tertawa puas, dia bahkan merentangkan kedua tangannya di udara menyambut potongan-potongan foto adiknya yang perlahan turun ke bawah.
" Hancurlah kau Ryan! Dengan kehancuranmu, akan ku bawa kembali anakmu yang selalu menjadi tamengmu itu! " Teriak Marcus seperti orang kesetanan.
Marcus berjongkok dan kembali membawa pistol yang sempat dia jatuhkan.
Kemudian dia melirik ke samping. Dia tersenyum hangat melihat foto wanita cantik yang sedang tersenyum ke arahnya.
" Honey, aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu, hem? Apa aku begitu sangat buruk sehingga kau meninggalkanku dan memilih adikku? " Ucap Marcus lirih.
Dor.
" Tidak lagi, tidak ada cinta lagi di hatiku untukmu. " Ucap Marcus penuh penekanan setelah dia menembak foto wanita itu.
" Kau salah dengan lebih memilihnya dari pada aku. Maka dari itu, kau juga harus pergi bersamanya ke neraka, Jennie. " Ucap Marcus dengan sorot maja tajam penuh kebenciannya.
_-_
Tbc!