
Flashback on!
Setelah menemui dan berbicara dengan Regata, harapan Veyna hancur seketika. Dia menceritakan keadaan putranya pada suaminya tapi suaminya itu malah mengatainya berbohong dan wanita ular di depan banyak orang.
Karna tak kuat lagi mendengar ucapan buruk yang selalu Regata ucapkan padanya, akhirnya Veyna berlari sekencang mungkin menuju toilet. Dia terus mengusap airmata yang jatuh begitu deras di pipinya.
Hatinya dangat sakit saat melihat tatapan rendahan yang Regata berikan padanya. Seolah Regata itu menganggap dirinya wanta hina dan dia sangat benci dengan itu!
Saat hampir sampai di salah satu toilet wanita, tiba-tiba saja-
Bughkk..
Veyna menabrak seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi sehingga membuat tubuh kecilnya itu terdorong dan terjatuh di atas lantai.
"Eh maaf. Saya tidak sengaja!" Ucap seseorang yang Veyna tabrak tadi.
"Tidak apa." Balas Veyna sambil berusaha berdiri. "Saya juga yang-" Ucapannya tergantung saat kepalanya mendongak dan melihat siapa orang yang ia tabrak tadi.
"Di-dia!" Batin Veyna kaget.
Orang yang tak lain adalah Agnes itu menatap Veyna bingung. Sadar akan tatapan Agnes, Veyna dengan segera merubah raut wajah terkejutnya menjadi sebiasa mungkin walaupun nyatanya dia malah gelagapan saat berbicara lagi pada Agnes.
"A-ahh..maksudku ti-tidak apa! Lagian tadi aku juga yang salah Nona,hehe.." Ucap Veyna sambil tersenyum canggung.
Agnes nampak tersenyum tipis. Saat mendapati wanita yang dicarinya itu hendak pergi, dengan cepat Veyna mencegahnya.
"Tunggu!" Ucap Veyna setengah berteriak yang mana membuat langkah Agnes terhenti dan berbalik menatapnya.
"Ya." Ucap Agnes dengan wajah bingung.
"K-kau, kau Agnes Anfilex?" Tanya Veyna agak ragu.
"Ya, kau mengenalku?" Tanya balik Agnes dan Veyna pun mengangguk. "Siapa kau?" Lanjutnya yang membuat Veyna kembali gelagapan.
"Aku-aku." Ucap Veyna ragu.
Agnes semakin menatap wanita itu aneh. "Katakan!" Titahnya. "Jika kau hanya membuang waktuku, maka lebih baik aku per-
"Aku istri sah calon suamimu!" Ucap Veyna lantang dalam satu kali tarikan nafas.
Agnes kaget mendengarnya. Perempuan itu bahkan membuka mulutnya tak percaya. Sedetik kemudian Agnes menatap Veyna lagi.
"Are you kidding me,Ms?" Ucap Agnes sambil memiringkan kepalanya menatap Veyna.
Veyna menggeleng dengan cepat. "Tidak tidak! Aku sama sekali tidak bercanda ataupun membohongimu Nona Anfilex." Ucap Veyna jujur.
"Apa yang bisa membuatku mempercayai ucapanmu itu, hah? Apa kau mempunyai bukti yang-
'Ini!" Potong Veyna sambil menunjukkan handphonenya.
Agnes menatap Veyna sekilas, kemudian dia beralih menatap ponsel itu dan mengambilnya dari Veyna.
Seketika mata Agnes membelalak setelah melihat beberapa foto pernikahan Regata dan anak laki-laki yang sangat mirip dengan Regata.
Agnes mendongak menatap Veyna penuh tanya. Apa sebenarnya maksud wanita itu? Dan, harus bagaimana ia sekarang?
"Yah, aku dan calon suamimu itu sudah menikah dua tahun yang lalu."
"Apa!!" Pekik Agnes tak percaya.
"Dan kami sudah mempunyai seorang anak yang sudah pasti adalah darah dagingnya sendiri." Ucap Veyna.
"Sekarang aku sangat memohon padamu, tinggalkan Regata! Putraku akan sangat membencinya jika tahu ayahnya menikah lagi dan tidak peduli dengan kondisinya yang sedang sakit saat ini. Jadi aku mohon, sebaiknya kau tinggalkan dia!" Lanjutnya sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan Agnes.
Agnes nampak merenung. Bagaimana sekarang? Jika ia terus terang pada Regata, Agnes yakin Regata akan menggila saat dirinya memutuskan untuk tidak menikah dengan pria itu.
Tapi jika tidak, bagaimana dengan wanita dan anak yang katanya keluarga kecil Regata? Agnes sungguh bingung dengan keadaan ini.
Seketika dia memegang perutnya. Entah kenapa, dia meresa dalam perutnya itu sudah ada sebuah kehidupan kecil. Dan mungkin kehidupan itulah yang akan menyelesaikan cerita cinta segitiga yang rumit ini.
Agnes menarik nafasnya dalam. Kemudian dia menatap Veyna lekat.
"Dengar, aku tidak bisa meninggalkannya. Apalagi hari pernikahan kita akan segera di adakan beberapa minggu lagi. Jadi aku juga memohon padamu, pergi dan jangan mengganggu kehidupan kami!" Ucap Agnes jahat.
"Dan lagi, aku yakin jika disuruh memilih antara kau dan aku, Regata akan lebih memilihku. Jadi sebaiknya kau pergi dan tidak usah memohon padaku! Karna sampai kapanpun, aku hanya akan mengikuti jalannya takdir dan tidak akan mengambil keputusan dengan gegabah." Lanjutnya.
Agnes sengaja sedikit kejam pada istri calon
suaminya itu. Karna dari penampilan dan wajahnya saja, Agnes bisa tahu jika wanita itu wanita baik-baik. Dan tidak mungkin dia menipu Agnes dengan memalsukan foto-foto yang di tunjukannya tadi. Jadi yeah, dia hanya sedikit memancing saja. Siapa tahu sifat aslinya keluar jika dia berkata pedas seperti tadi.
Bukannya marah, mata Veyna justru berkaca-kaca mendengar ucapan Agnes. Dia tahu, dia bukan apa-apa jika harus bertanding dengan Agnes. Apalagi dengan ucapan Regata barusan yang mengatakan jika dia tidak pantas bahkan jadi debu di kaki pria itu sekali pun.
Dia juga tidak ingin terus berusaha membujuk suaminya agar kembali padanya. Jika bukan karna anaknya yang sakit dan terus menanyakan ayahnya, mungkin Veyna sudah membenci dan tidak sudi jika harus bertemu drngan pria baj*ngan seperti Regata lagi. Jadi dia bisa apa selain berjuang sendirian? Berharap Regata sadar dan berjuang bersamanya walaupun itu tidak mungkin.
Agnes merasa iba melihat Veyna yang menundukkan kepalanya dengan airmata yang sudah turun semakin deras. Dia tahu, situasi ini sangatlah menyakitkan untuk wanita yang mengaku istrinya Regata itu.
Agnes memejamkan kedua matanya dan menghela nafas panjang. Kemudian dia menghembuskannya secara perlahan dan kembali menatap Veyna.
"Dengarkan aku! Jika dalam dua minggu Regata tidak menemuimu bahkan mencarimu, maka lanjutkanlah hidupmu tampanya!" Ucap Agnes. "Jika anakmu ingin menemuinya, maka datanglah ke rumahku! Karna Regata pasti sudah bahagia dengan menjadi suamiku di sana." Lanjutnya amat kejam.
Veyna menatap Agnes dengan airmata yang masih mengalir dari kedua mata indahnya.
"Kau begitu jahat! Sesama perempaun, kenapa kau tidak mengerti perasaanku?" Bentak Veyna marah.
"Aku bukan wanita lemah dan mudah kasihan pada orang sepertimu! Jadi pergilah, Karna Regata hanya milikku. Dan perlu kau ingat! Jikapun suatu hari nanti Regata datang menemuimu, maka dia akan segera kembali padaku! And so, see you again.Bye!"Ucap Agnes acuh dan pergi begitu saja meninggalkan Veyna yang sudah ambruk di atas lantai.
Bukannya Agnes tidak kasihan melihat keadaan Veyna, tapi dia juga bisa apa? Jika dia menolak Regata begitu saja, maka kehidupan Regata akan kembali hancur melebihi saat dia meminta waktu saat itu.
Maka dari itu, Agnes berbicara pedas pada Veyna karna dia tidak ingin perempuan itu mengharapkan kembalinya Regata. Dia juga sangat khawatir pada si kecil tampan yang katanya sakit, tapi-ahkkk...sudahlah! Biarkan saja takdir yang bekerja dan membuka jalan terang untuk mereka. Yang tentunya untuk kebaikan mereka juga!
_-_
Flashback off!
" Mom-Momy!"
"Ahk, iya?" Jawab Veyna yang sedang melamun dan terperanjak kaget karna putranya itu memanggilnya.
"Apa yang kau lakukan hem? Kemarilah!" Seru Regata yang di angguki Veyna sambil tersenyum cantik.
Saat Veyna sudah terduduk di samping Regata, mereka bertiga pun mulai mengobrol hangat dan bercanda dengan tawa yang selalu lepas dari bibir ketiganya.
Veyna menatap Regata dan putranya dengan tatapan sendu. Dia tidak menyangka jika keluarganya yang hancur kini telah utuh kembali. Tapi satu yang mengganjal di hati dan pikirannya, wanita itu. Agnes!
**
Agnes menatap Afgan dengan tangan yang di lipat di dada dan alis yang terangkat satu.
Pasalnya, suaminya itu memakai baju santai dan sibuk membereskan pakaiannya sendiri ke dalam koper. Ada apa ini? Apa Afgan akan pindah? Tanpa memberitahunya? Eumm sungguh si cinta yang membuat tangannya gatal ingin membunuhnya jika tebakannya itu benar. Eh
"Hei kak, apa yang kau lakukan?" Tanya Agnes yang sedaritadi berusaha diam tapi entah kenapa mulutnya itu sangat gatal jika tidak angkat suara.
"Apa kau tidak melihat apa yang sedang aku lakukan?" Balas Afgan tanpa melihat Agnes dan terus sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper dengan asal.
"Ck!" Agnes berdecak sebal dan memutar bolamatanya malas. "Aku tahu kau sedang mengemas pakaian. Maksudku, mau kemana kau? Apa kau akan pergi jauh? Dan meninggalkanku? Sungguh suami yang patut di contoh!" Sindir Agnes sambil bertepuk tangan.
Afgan seketika menghentikan aktivitasnya. Dia terlihat tersenyum kecil dan berbalik menatap Agnes.
"Jika ia, lalu kau mau apa?"
"Tidak ada! Aku akan pulang saja ke rumah Grandpa." Balas Agnes.
"Benarkah? Bagaimana jika aku pergi dan tidak kembali?"
"Aku tidak peduli!" Balas Agnes sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kau tidak peduli yah? Lalu bagaimana pandangan masyarakat jika perutmu itu sudah semakin membesar? Mereka kan tidak mengetahui bahwa kau sudah menikah. Apa yang akan kau lakukan eoh?" Goda Afgan semakin menjadi.
"Simple saja. Jika kau meninggalkanku selama dua minggu, maka di hari kau kembali aku sudah menggandeng papi baru untuk anakku." Balas Agnes santai sambil menundukkan kepalanya menatap dan mengelus perut datarnya.
"Yakan sayang? Tuh kan dia bilang Yes." Lanjutnya sambil tersenyum ke arah Afgan.
"Hei...hei..apa yang kau katakan? Tidak ada! Tidak akan aku biarkan anakmu memanggil pria lain dengan sebutan Ayah." Ucap Afgan penuh penekanan.
"Lagian aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu, jadi kau tidak perlu mencari penggantiku!" Lanjutnya.
"Oh ya? Lalu koper itu?"
"Aku sedang berkemas untuk kita terbang ke Indonesia malam ini. Setelah kita berkunjung dan meminta restu pada kakek dan ayahmu, kita akan segera terbang ke Indonesia menemui keluargaku." Jawab Afgan.
"Apa?" Ucap Agnes dengan mata membulat. "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Lanjutnya marah.
"Aku lupa. Jadi siapkanlah fisikmu dari selarang! Karna kita dalam pesawat sangat lama. Aku tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku nanti." Ucap Afgan yang sudah kembali sibuk dengan pakaiannya.
"Huft..baiklah!"
"Bagus. Sebelum ke bandara, aku akan mengajakmu ke dokter kandungan terlebih dahulu. Kau butuh vitamin dan obat penguat kandungan supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan selama di pesawat nanti."
"Baiklah baiklah. Terserah padamu saja lah!" Ucap Agnes kesal.
Wanita itu lebih memilih duduk manis dan menikmati secangkit teh yang suaminya itu buatkan untuknya.
Saat sedang menyeruput teh hangat itu, dia jadi membayangkan bagaimana reaksi keluarganya dan keluarga Afgan daat tahu mereka sudah menikah nantinya. Apalagi Video Viralnya saat dilamar Regata masih menjadi trending berita nomer satu di berbagai dunia. Sungguh, rasanya Agnes sudah tidak sabar melihat wajah syok mereka semua. Aahh..membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan!
_-_
Tbc!