Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Kesal



Agnes terduduk di tengah-tengah keluarga suaminya. Dia mengetuk-ngetuk dagunya dengan mata yang melirik siapa yang berbicara.


Dalam pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan tentang kenapa Jennie dan Ryan menyembunyikan fakta tato itu dari Afgan.


" Heum...Kata Regata, jika jawaban dari kak Afgan masih belum memecahkan teka-teki ini, maka sasaranku berikutnya adalah Bunda. " Batin Agnes.


" Yah, aku akan menanyakannya langsung pada Bunda. " Gumam Agnes sambil memgangguk semangat.


Ryan menaikkan sebelah alisnya bingung, sejak tadi dia memang terus memperhatikan setiap gerak gerik dari Agnes.


Dan tentu saja dia menyadari perubahan Agnes yang berubah menjadi semangat seketika.


" Ada apa dengan anak itu, apa dia merencanakan sesuatu? " Batin Ryan penuh tanya.


Secara tidak sengaja bola mata Agnes bertemu dengan bola mata Ryan yang sedang menatapnya dengan mata memicin.


Agnes tidak mau kalah, dia balik memicinkan kedua matanya menatap Ryan dengan raut wajah garangnya.


" Apa masalah Ayah, kenapa dia terus menatapku seperti itu? Tapi aku tidak mau kalah! Kau salah memilih lawan Ayah merutua, " Batin Agnes sambil menyeringai menatap Ryan.


Ryan sedikit bergidik ngeri melihat seringaian mengerikan yang tercetak jelas dari bibir Agnes. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti terus menatap menantu cantiknya itu tajam.


" Aku tidak akan membiarkan anak kecil ini mempermainkan putraku, kau lihat saja Agnes. Mau kau suka atau tidak suka, aku akan tetap mengurungmu disini bersama putraku! " Batin Ryan yang terus menatap Agnes tajam.


Tanpa mereka berdua sadari, ketiga orang yang berada di sana terus menatap mereka secara bergantian. Siapa lagi jika bukan Afgan, Jennie dan Alfan.


Mereka menatap ayah dan menantu yang sedang saling melemparkan tatapan tajam itu dengan tatapan bingung, terutama Afgan.


" Hey, ada apa dengan kalian? " Tanya Afgan yang akhirnya angkat suara karena penasaran sambil menatap Agnes dan Ryan secara bergantian.


Ryan dan Agnes sontak langsung melemparkan pandangannya ke arah lain, mereka sama-sama menggaruk tekuknya karena tercyduk.


" A-apa kak? Ah, tidak ada apa-apa kok. Kami, kami hanya- "


" Aku sedang mengamati istrimu itu boy, ayah rasa ada yang sedang di pikirkan oleh istrimu. " Potong Ryan sambil menyeringai penuh kemenangan kepada Agnes.


Agnes menatap Ryan tajam.


" Sial, dia berani menjebakku. Awas saja, bukan Queen namanya jika tidak berhasil mengambil alih permainan yang sudah kau mulai. " Batin Agnes geram.


" Agnes, memang apa yang kau cemaskan? " Tanya Alfan sambil menatap adik iparnya dengan raut wajah bingung.


Agnes sedikit gelagapan karena belum memikirkan apa yang mesti dia jawab untuk mengatasi jebakan Ryan.


Tapi saat kedua matanya melirik pada Jennie, dia tersenyum cantik karena otak cerdiknya bisa bekerja di waktu yang tepat.


" Ah, aku hanya ingin mengobrol berdua bersama bunda. Tapi aku rasa tidak bisa kerena kalian sedang berbincang ria, jadi aku menunggu saja kalian selesai berbincangnya. " Alasan Agnes sambil menyeringai licik melirik Ryan.


" Dasar rubah kecil, " Batin Ryan sambil menatap Agnes malas.


" Oh, kau ingin berbincang dengan Bunda, Agnes? Kalau begitu ayo! " Ucap Jennie semangat sambil berdiri dengan kasar dari duduknya.


" Tapi sayang, kita kan- "


" Nanti kita bahas lagi tentang resepsinya Afgan, sekarang aku mau menemani menantuku mengobrol dulu! " Potong Jennie saat Ryan hendak protes.


" Huh, baiklah baiklah! Terserah kau saja, " Ucap Ryan mengalah.


" Resepsi apa Bun? Jangan bilang kita- " Agnes menganggantungkan ucapannya sambil menatap Afgan curiga.


" Iya, kita akan merayakan resepsi pernikahan besar-besaran. Dan tentu saja aku akan menyuruh banyak media untuk meliput setiap detik pernikahan kita, " Ucap Afgan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi dengan santai.


" Apa!! " Teriak Agnes. " Kenapa kau baru bilang sekarang kak? Aku tidak ma- "


" Tidak ada penolakan! " Potong Afgan cepat.


Agnes menyatukan gigi atas dan gigi bawahnya karena kesal dengan tingkah suaminya yang seenaknya.


" Ya sudah, lakukan saja sesuka hatimu kak! Lagian aku tidak akan datang apalagi mendampingimu menerima semua ucapan dari banyaknya orang-orang yang akan datang nanti. Malas! " Putus Agnes keras dan bangkit dengan kasar.


" Ayo bun, " Ucap Agnes yang langsung di angguki Jennie.


Tanpa banyak bicara, Agnes meraih tangan Jennie dan pergi dari sana dengan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal dan langsung di tiru oleh Jennie.


Ryan, Alfan dan Afgan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Jennie dan Agnes.


" Afgan, apa kau yakin akan melangsungkan resepsinya? Bagaimana jika Agnes- "


" Dia istriku, tentu saja dia akan hadir berdiri di pelaminan bersamaku! " Potong Afgan cepat.


" Entahlah boy, ayah rasa kau perlu usaha untuk itu. " Ucap Ryan yang di angguki oleh Alfan.


" Kita lihat saja nanti, apakah bisa dia menolak permintaan suaminya ini? " Ucap Afgan sambil tersenyum kecil.


Ryan dan Alfin saling lirik, kemudiam keduanya mengangkat kedua bahunya dengan kompak.


_-_


Tbc!


_____________________


**Hallo guys, gimana kabarnya? Sehat, oh jelas!! Hehe..Wkwk


Intinya Author mau berterima kasih dan meminta maaf karena untuk novel ' My Obsession Model ' dan ' Cold Woman' tidak bisa di lanjut untuk saat ini.


Readers: Loh kok gak bisa si thor? Si Agnes aja bisa.


Me: Itu aku teh maksaken tauuu loba tugas yeuh😑


Readers: Yah, padahal aku nunggu banget kelanjutannya si Mikhael & Mikhayla apalagi si Rendy yang sering bertingkah licik.


Me: Ya maaf, kan Author juga maunya mereka selalu nemani hari-hari kalian layaknya si Agnes, tapi aku bisa apa? Tugasnya Allahu akbar banyakk, gak bisa lah Author ngurus tiga Novel sekaligus kalo lagi gini, sorry!😑


Readers: Oke deh, kapan up?


Me: Gak usah tanya kapan-kapan, ntar kalo ada waktu juga aku up. Okehhh!!


Readers: Yah, oke deh jangan kelamaan. Semangat!!


Me: Oke... Thanks yah. Lv you♡**