
Agnes turun dari motor Regata, dia sedikit berbincang terlebih dahulu sebelum akhirnya dia melangkah masuk ke dalam rumah suaminya.
Saat Agnes baru saja nongol di ambang pintu, alisnya berkerut melihat rumah yang terlihat sangat ramai dengan para pelayan yang berjalan kesana kemari dengan terburu-buru.
Dengan sang ibu mertua yang sedang berdiri membelakanginya sambil menyuruh ini-itu pada para pelayan yang ada.
" Agnes, kau baru pulang sayang? " Tanya Jennie yang baru menyadari kehadiran Agnes.
Agnes tersenyum kaku dan berjalan menuju ibu mertuanya.
" Bun, kok pada rame gini. Ada apa? " Tanya Agnes bingung sambil mengedarkan pandangannya.
Disana, banyak terdapat buah-buahan segar, perhiasan, baju, alat make up, dan lain sebagainya yang sedang di bungkus oleh para pelayan.
Jika di hitung mungkin ada 15-20 orang pelayan yang saat ini sedang bekerja.
" Ah, kamu. Masa pengantinnya gak tahu, kita kan sedang berkemas untuk nanti resepsi kamu. " Jawab Jennie sambil tersenyum manis.
Agnes membelalak, dia menatap ibu mertuanya tidak percaya.
" Loh, bun. Kok pake ada acara di bungkus-bungkus gitu si makanan sama yang lainnya? Kalau mau resepsi ya resepsi aja, ngapain pake bungkus-bungkus segala. " Ucap Agnes tidak habis pikir.
Jennie terkekeh pelan, " Masa kamu gak ngerti juga si, kan kita bungkusin semuanya untuk di bawa ke rumah baru kalian. " Ucap Jennie.
" Hah, rumah baru apanya? Emang Agnes mau pindah ke mana? " Tanya Agnes syok.
" Loh, emang Afgan belum ngasih tahu kamu kalo kalian akan pindah ke rumah kalian sendiri? " Tanya balik Jennie.
" Enggak, " Ucap Agnes sambil menggeleng kecil.
" Ck, dasar anak itu. " Ucap Jennie sambil berdecak sebal.
" Sudah lah sayang, jangan terlalu di pikirkan. Sekarang kamu istirahat dulu saja yah, pasti kamu cape karena baru pulang. " Ucap Jennie sambil menepuk pelan pundak Agnes.
" I-iya, " Ucap Agnes dan berlalu pergi dengan alis yang masih berkerut bingung.
" Apa-apaan ini, kenapa kak Afgan tidak bilang jika kami akan pindah ke rumah baru? " Gumam Agnes bingung.
Saat Agnes membuka pintu kamarnya dan hendak masuk, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang.
" A- hmpp! " Pekik Agnes yang tidak jadi berteriak karena bibirnya di bungkam oleh sebuah tangan kekar.
" Stt.. Diamlah, ini aku. " Ucap seseorang yang tidak lain adalah Alfan.
" Agnes, sebaiknya kau ikut denganku ke ruangan bawah tanah. Ayah ingin membahas sesuatu denganmu di sana, " Lanjut Alfan yang di angguki Agnes.
Mendapat anggukan dari Agnes, dengan segera Alfan menarik tangannya yang berada di bibir Agnes dan beralih menarik tangan Agnes dengan mata yang melirik kanan kiri seperti seseorang yang hendak mencuri.
Agnes hanya diam dan mengikuti kemana Alfan menariknya. Sampai beberapa saat, mereka sampai di ruangan bawah tanah yang sudah terdapat Ryan di dalamnya.
" Duduk girl! " Titah Ryan yang di turuti Agnes.
Begitupun dengan Alfan, dia terduduk di samping Agnes yang berhadapan dengan Ryan.
" Ayah ingin berbicara padamu. Ini tentang- "
" Tentang penyerangan yang akan kakak Ayah lakukan di resepsiku, bukan? " Tebak Agnes.
" Tenang saja Ayah, Regata juga sudah mengatakan dan menyiapkan semuanya. Dan kau hanya perlu menyiapkan mental untuk bertemu langsung dengan saudramu itu, " Ucap Agnes santai.
" Agnes, bagaimana jika rencana yang Regata buat itu gagal? Aku tahu seperti apa kakakku dan- "
" Dan kita harus mempunyai rencana cadangan untuk itu. " Potong Agnes yang membuat Ryan dan Alfan menatapnya bingung.
" Rencana cadangan? Apa kau sudah membuat Rencana cadangan? " Tanya Ryan yang di angguki Alfan.
" Iya Agnes. Tapi menurutku, kau sebaiknya serahkan semuanya pada kami. Karena kau sedang hamil dan aku tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan nantinya. " Ucap Alfan yang membuat Ryan sedikit berpikir.
" Benar apa kata Alfan, sebaiknya kau serahkan saja semuanya pada kami dan Regata, Agnes. Kau hanya perlu diam dan menjaga Afgan agar tidak berdekatan dengan Marcus. " Tambah Ryan.
Marcus, ya. Dialah kakak kandung Ryan yang berjiwa psikopat. Sejak kecil Marcus selalu menganiaya hewan di sekitarnya untuk penelitian tidak penting yang selalu dia lakukan.
Sampai usianya menginjak 26 tahun, dia memutuskan tidak pernah mau menikah dan bergabung bersama mafia hanya untuk memuaskan nafsunya akan darah dan kekerasan.
" Aku tentu akan ikut campur Ayah. Jika kalian mengkhawatirkan kandunganku, maka tenang saja! Ibunya seorang mafia, yang tentunya anaknya juga akan memiliki fisik sekuat ibunya. " Ucap Agnes yang membuat Ryan dan Alfan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
" Baiklah terserah padamu Agnes. So, apa rencana cadangan yang kau buat? " Tanya Ryan sambil menatap Agnes serius.
Agnes menyeringai kecil. Kemudian dia memajukan wajahnya yang membuat Ryan dan Alfan ikut memajukan wajahnya.
" Rencananya, kita hanya perlu- " Ucap Agnes mulai membicarakan rencananya pada Alfan dan Ryan.
Alfan dan Ryan menangkap semua kata yang Agnes ucapkan dengan serius. Mereka mengangguk mengerti dan menyeringai saat Agnes selesai berbicara.
" Bagaimana? " Tanya Agnes meminta pendapat.
" Sungguh cerdas menantuku, " Puji Ryan sambil menyeringai.
" Kenapa tidak aku saja yang mendapatkanmu Agnes? Menyesal aku telah mengalah dari Afgan, " Celetuk Alfan sambil tertawa kecil.
Agnes ikut tertawa, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alfan. Tak lama, dia mengangkat kepalanya menatap Alfan.
" Kak, mau cireng. " Ucap Agnes tiba-tiba.
" Hah? " Beo Alfan.
" Aku mau cireng, cimol, ciwet, cilub, cilok dan- "
" Stop! Agnes makanan aneh apa yang kau minta? " Potong Alfan sambil menatap Agnes heran.
Agnes mengerucutkan bibirnya, " Ih, itu makanan enak tahu. Entah kenapa aku ingin itu sekarang, dan aku ingin kau yang membelikannya untukku! " Titah Agnes sambil menunjuk Alfan.
" Hah, Ayah? " Ucap Alfan sambil menengok menatap Ryan yang sedang cekikikan.
" Belikan saja boy! Adik iparmu itu sedang mengidam, " Ucap Ryan yang paham dengan keinginan aneh Agnes.
Kedua mata Alfan membelalak, seketika dia menepuk jidatnya.
" Oh astaga, Ayahnya siapa yang di repotkannya siapa. " Gumam Alfan tidak habis pikir.
_-_
Tbc!