Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Memang Dia



Tid...Tid..


Dengan segera satpam membuka gerbang masuk saat mendengar suara klakson yang berbunyi dari mobil Tuan Mudanya.


Satpam itu tersenyum dan sedikit membungkuk ramah saat mobil Afgan melewatinya.


" Ck ck, ternyata Tuan Afgan masih belum berubah. Padahal Nona Muda sudah hadir dalam hidupnya. " Gumam pak satpam yang memang mengetahui cerita hidup sang Tuan Mudanya.


Cekik..


Afgan memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dia keluar dari dalamnya dan disusul oleh Agnes.


Saat Afgan sudah berjalan masuk ke dalam rumah, entah kenapa Agnes malah diam mematung dengan tubuh yang menyandar pada mobil.


Sadar akan ketidak hadiran Agnes disisinya, Afgan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap sang istri.


" Masuk! " Titahnya.


Agnes hanya memandang Afgan jengah. Entah kenapa dia tidak ingin masuk, rasanya dia hanya ingin diam saja di luar.


" Ayo masuk. " Ulang Afgan.


" Enggak. Kakak duluan aja! " Balas Agnes sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.


Afgan menghela nafasnya pelan. Kemudian pria itu berjalan mendekat dan menarik lengan Agnes hingga tubuh istrinya menabrak dada bidang miliknya.


" Kau ingin menungguku masuk setelah itu kabur untuk menemui Regata, eum? " Tanya Afgan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Agnes.


Agnes menatap kedua bola mata Afgan. Entah kenapa dia malah salah pokus dengan wajah tampan suaminya jika di lihat sedekat ini.


" Hei jawab! " Ucap Afgan sedikit membentak.


Seketika Agnes tersadar dan terperanjak kaget. Dia menatap Afgan dengan ekspresi konyolnya.


" Apa, kakak bilang apa? " Tanya Agnes.


Afgan memutar bola matanya malas.


" Sudah, sekarang masuk saja! " Titah Afgan sambil melepaskan lengan Agnes dan mempersilahkan istrinya untuk jalan duluan.


Agnes melamum. Dia seperti tengah mengingat-ingat apa yang Afgan ucapan tadi.


" Regata? " Beonya. " Ah, iya Regata. Kak aku- "


" Tidak aku izinkan! " Potong Afgan. " Ayo! " Lanjutnya sambil menarik tangan Agnes.


" Ih nggak mau. Aku- Ahhh!! " Pekik Agnes saat tubuhnya sudah di angkat oleh Afgan.


" Diam kalau tidak akanku jatuhkan kau sekarang juga. " Ancam Afgan dengan mengangkat tubuh Agnes lebih tinggi berusaha menakut-nakuti istrinya.


" Jangan-jangan! " Ucap Agnes panik yang seketika mengalungkan kedua tangannya di leher Afgan.


" Good girl. " Ucap Afgan yang tersenyum tipis.


Kemudian pria itu pun menggendong istrinya ke dalam rumah. Agnes yang malu akan reaksi orang-orang di sana hanya bisa menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya tanpa banyak bicara.


**


" Afgan, hey ada apa dengan menantuku? " Ucap Jennie yang langsung mendekati Afgan yang baru datang dengan menggendong Agnes.


" Dia- "


" Aku gak papa kok bun. Hey turunin! " Potong Agnes sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.


Afgan mengangguk nurut dan menurunkan tubuh Agnes dengan hati-hati.


" Bun, coffe. " Ucap Afgan seenaknya sambil melangkah pergi bergabung dengan ayah dan kakaknya yang sedang berbincang di sofa.


" O- "


" Biar Agnes aja bun, sekalian Agnes mau buatin buat ayah dan kak Afan. " Potong Agnes sambil tersenyum.


" Tapi sayang, kamu kan- "


" Tidak apa lah! Lagian ayah juga mau merasakan coffe buatan Agnes. Ya kan boy? " Potong Ryan sambil melirik putra sulungnya.


" Iya. Nes, yang kakak jangan pake gula yah, karna yang bikinnya juga udah terlalu manis. " Celetuk Alfan yang di hadiahi tatapan tajam dari Afgan.


Alfan hanya cuek saja dengan mendelik sinis ke arah adiknya dan terus menatap Agnes sambil tersenyum tampan.


" Oke kak siap! " Balas Agnes sambil mengacungkan jempolnya yang membuat Afgan kembali menghela nafas pelan.


" Ayo sayang, biar bunda bantu. " Ucap Jennie yang langsung di angguki oleh Agnes.


Setelah kepergian Agnes, Ryan nampak menatap putranya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Alfan yang menyadari itu hanya menggangguk kecil.


" Afgan, apa kamu tidak curiga pada istrimu? " Tanya Alfan to the point.


Afgan menaikkan sebelah alisnya. " Apa maksudmu? "


" Cih. " Afgan hanya berdecis sinis. " Apa maksud kalian, hem? Apa kalian mengira jika Agnes adalah makhluk jadi-jadian, mermaid, manusia serigala, atau titisan dewi ular? " Tanya Afgan ngelantur dengan menatap ayah dan kakaknya secara bergantian.


" Hah, asal usul. Sungguh tidak masuk akal! " Lanjutnya sambil membuang pandang dari keduanya.


" Bukan begitu, maksud kami- "


" Ini coffe kalian! " Seru Jennie yang membawa nampan berisi tiga cangkir coffe di tangannya.


" A-ah, sudah datang rupanya. " Ucap Ryan sambil tersenyum canggung.


Agnes menayadari gelagatan Ryan. Seketika dia mengingat ucapan Regata yang menyuruhnya untuk membuktikannya sendiri dengan melihat tato permanen itu secara langsung.


Dengan cerdiknya Agnes mendekati Jennie dan agak menyenggol ibu mertuanya sehingga coffe yang di bawa oleh Jennie agak tumpah tepat pada lengan Ryan.


" Ahh! " Teriak Ryan yang kepanasan.


" Ah, suamiku. Maaf, aku tidak sengaja. " Ucap Jennie khawatir sambil menggulungkan lengan baju kedua tangannya.


" Ayah, ya ampun semuanya salahku. Aku tidak sengaja menyenggol bunda saat ingin memberikan coffenya pada kak Afan tadi. " Ucap Agnes pura-pura merasa bersalah sambil menunduk menatap coffe yang sempat dia bawa dari atas nampan tadi.


" Hey kenapa kau bersedih, lagian itu hanya air panas. Dan tumpahnya pun sedikit, tidak akan membuat ayah mati. " Canda Ryan sambil tertawa saat melihat raut wajah bersalah menantunya.


" Maaf. " Ucap Agnes lirih.


" Sudah Agnes, cepat mana coffeku? Aku sudah tidak sabar merasakan manisnya coffe ini, apalagi yang membuatnya juga sudah membuatku diabetes. " Canda Alfan sambil menyodorkan tangannya meminta coffe miliknya yang masih di pegang oleh Agnes.


" A-ah, iya kak. Ini! " Balas Agnes yang langsung memberikan coffenya pada Alfan.


Afgan yang melihatnya mendadak muak seketika.


" Cih, dasar modus. Ingin merasakan manisnya, orang coffenya juga tanpa gula. Stupid! " Ejek Afgan tanpa melihat Alfan.


" Sirik bilang boss qyuu! " Ejek balik Alfan yang membuat Ryan menggeleng-gekengkan kepalanya.


" Aghk, panas sayang. " Ucap Ryan manja tapi membuat Jennie khawatir mendengar ringisan suaminya.


" Agnes tolong jaga ayahmu sebentar yah, tiupi lukanya! Bunda mau ambil kotak P3K dulu. " Ujar Jennie sambil berdiri dari duduknya.


Agnes tersenyum tipis mendengar permintaan Jennie.


" Sungguh ibu mertua idaman, tanpa diminta pun dia sudah mempermudah jalanku. " Batin Agnes.


" Oh, baik bunda. " Balas Agnes sambil terduduk di samping Ryan.


" Ayah, aku ke ataskan dulu lengan bajunya yah. " Ucap Agnes yang di angguki Ryan.


Agnes tersenyum penuh kemenanngan. Perlahan dia lebih mengangkat lengan baju Ryan ke atas hingga lengannya terlihat sempurna.


Mata Agnes membelalak. " Tidak ada, kenapa tidak ada tandanya? Regata bilang ada tato di lengannya, tapi ini? " Batin Agnes saat melihat tidak ada tanda apa-apa di lengan Ryan.


" Tunggu, Regata bilang lengan yang mana? Kanan, apa kiri? Akanku periksa keduanya. " Lanjutnya dalam hati.


" Ayah, apa hanya tangan ini yang terkena tumpahan coffenya? Biar aku periksa yang satunya lagi yah, siapa tahu justru yang itulah yang paling parah. " Dusta Agnes.


" Iya nak, lakukan saja. " Balas Ryan sambil menyodorkan sebelah tangannya lagi.


Agnes kembali tersenyum. Kemudian dia pun mulai menarik ke atas lengan baju Ryan.


Matanya kembali membelalak.


" Apa ini, tidak ada tato apapun di kedua lengan ayah. Sial, apa Regata menipuku? Tapi tidak mungkin, informasi yang dia dapatkan selalu benar. Jangan-jangan- " Batin Agnes menggantung sambil mengangkat kepalanya menatap Ryan yang sedang menyeringai kecil ke arahnya.


" Kau, kalah cerdik denganku. Gadis kecil! " Bisik Ryan tiba-tiba yang membuat Agnes membelalak.


Agnes menjauhkan duduknya dari Ryan dengan ekspresi terkejutnya. Berbeda dengan Ryan, dia malah bersikap biasa-biasa saja seolah tidak ada yang terjadi barusan.


" Itu dia, berarti itu memang dia. " Batin Agnes sambil menatap Ryan tajam.


" Agnes, ada apa? " Tanya Jennie yang baru saja datang dengan membawa kotak P3K.


" Ah, tidak bun. Silahkan! " Ucap Agnes yang langsung berdiri dari duduknya mempersilahkan Jennie untuk terduduk kembali dan mengobati lengan Ryan yang sedikit merah.


" Agnes, Afgan kalian istirahatlah! Ayah tahu kalian lelah, terutama kamu Agnes. Kamu pasti banyak pikiran bukan? Jangan terlalu di pikirkan! Itu tidak baik untuk cucuku. " Ucap Ryan sambil tersenyum tanpa dosa yang membuat Agnes geram serasa ingin memenggal kepalanya sekarang juga.


" Benar. Ayo Agnes! Kau lelah, kau perlu istirahat. " Ucap Afgan yang sudah berdiri dari duduknya dan meraih pundak Agnes untuk di bawanya pergi.


Agnes hanya menurut dengan mata yang tidak lepas menatap Ryan tajam penuh peringatan.


" Kau benar Gata, memang dia orangnya. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan jika kau berani macam-macam denganku, gold prince leader. " Batin Agnes.


Ryan menyeringai melihat tatapan permusuhan yang terpancar dari kedua mata menantunya.


" Kau baik Agnes. Tapi aku tidak tahu maksudmu datang ke dalam keluargaku. Jika kau berniat menghancurkannya, maka kau yang akan hancur terlebih dahulu! Meskipun mustahil bagiku menghancurkan wanita tangguh sepertimu. " Batin Ryan.


_-_


Tbc!