Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Makin Aneh



Mobil yang di dalamnya berisi sepasang pengantin baru telah terparkir cantik di luar bandara.


Dengan segera sang sopir turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk sang majikan.


Afgan turun dari mobilnya ketika pintu sudah terlebih dahulu di bukakan oleh sang sopir. Begitupun dengan Agnes. Gadis itu turun dengan mata yang tidak lepas dari layar ponsel yang di genggamnya.


Afgan berbalik dan menatap istrinya yang ceroboh karna terus sibuk pada ponsel tanpa memperhatikan jalan.


Saat melihat High heels yang di kenakan oleh Agnes, dia jadi merasa takut dan was-was jika sampai istrinya itu salah pijak dan terjatuh akibat kecerobohannya.


" Agnes, lihat jalan! Apa kau tidak takut ter-


" Ahh..! " Teriak Agnes saat merasakan tubuhnya hendak menyentuh tanah.


Dengan sigap Afgan menarik tangan sang istri dan membawanya ke dalam pelukannya. Jantungnya berdetak kencang sehingga lebih mengeratkan pelukannya pada Agnes.


Dia sangat takut. Bagaimana tidak? Agnes sedang mengandung anaknya dan bagaimana jika tadi Agnes terjatuh? Apakah anaknya yang masih belum berbentuk manusia itu akan gugur begitu saja? Tidak! Tidak akan dia biarkan!


Afgan mendorong pelan bahu Agnes dan mencengkramnya kuat. Dia menatap istrinya penuh emosi.


" Apa kau sudah gila hah? Sudah ku bilang hati-hati dan kau masih saja sibuk dengan ponselmu. Kalau anakku sampai celaka bagaimana hah? " Bentak Afgan dengan mata yang sudah memerah.


Agnes menatap Afgan tanpa berkedip. Baru kali ini dia melihat suaminya itu marah, dan eum..Sedikit menyeramkan si.


" Kau mendengarkanku tidak! " Teriak Afgan semakin menggila dan mengguncang bahu Agnes pelan.


Agnes malah tersenyum tanpa memperdulikan kemarahan Afgan. Dia kembali mendekatkan dirinya dan memeluk suaminya erat.


" Sudahlah! Iya, aku salah. Jadi maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi kok. " Ucap Agnes lembut.


Afgan memejamkan matanya dan balik memeluk Agnes.


Entahlah! Dia sangat takut jika terjadi apa-apa pada anak kecilnya. Apa tidak bisa dia saja yang hamil? Dari pada Agnes yang ceroboh itu. Bisa-bisa anaknya gugur sebelum terbentuk!


Agnes melepaskan pelukannya dan menatap Afgan sambil tersenyum. Afgan menghela nafas dengan sebelah tangan yang terangkat mengelus pipi mulus Agnes.


" Jangan lakukan hal-hal konyol lagi Agnes! Ingat, kau sekarang berbadan dua. Jadi apapun yang kau lakukan, akan berpengaruh juga pada anakku! "


" Iya, iya. Kau tenang saja. " Balas Agnes.


Afgan mengusap rambut Agnes lembut. Kemudian dia melepaskan Agnes dan beralih membantu supirnya yang tengah sibuk menurunkan barang-barang yang mereka bawa.


Diam-diam Agnes melirik Afgan dengan sudut matanya. Dia tersenyum mengingat perhatian yang suaminya itu berikan. Entahlah! Rasanya bahagia saja mendapatkan perhatian dari pria itu.


Mungkin ini bawaan si kecil. Dan, sepertinya si jabang bayi ingin dekat dengan Ayahnya. Sehingga membuat Ibunya terus ketagihan ingin dekat dan di perhatikan oleh suaminya.


Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya. Mana mungkin dia melakukan hal aneh seperti mepet-mepet pada Afgan karna keinginan yang tiba-tibanya itu. Bisa malu dia!


Saat sedang sibuk bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba ponsel yang di genggamnya itu bergetar menandakan panggilan masuk.


" Regata? " Gumam Agnes saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Dengan segera Agnes menekan tombol hijau dan menempelkan benda kotak itu pada sebelah telinganya.


" Hallo! "


" Yo, pengantin baru. How are you baby? Apa setiap malammu menyenangkan seperti malamku? " Goda Regata di seberang sana.


" Ck, apa kau menghubungiku hanya untuk menggodaku hah? Menyebalkan! "


" Oh ayolah! Aku hanya ingin tahu saja, apa Afgan sangat hebat berada di atas sa-


" Regata!! " Bentak Agnes kesal.


" Hahahaha... Kau sungguh emosional saat mengandung yah. "


" Diam kau! "


" Oke ampun ampun! "


" Kenapa kau menghubungiku, hah? Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, maka akanku tutup sekarang juga! " Ancam Agnes.


" Ck, kenapa tidak kemarin-kemarin saja si? Aku sedang tidak ada di rumah sekarang. " Balas Agnes.


" Tidak di rumah? lalu kau dimana? "


" Aku di bandara, beberapa jam lagi aku dan kak Afgan akan terbang ke Indoneia. "


" What!! " Pekik Regata.


" Agnes, kenapa kau tidak mengabariku sebelumnya? " Tanya Regata marah.


Agnes memutar bola matanya malas. " Oh ayolah Regata! Apa kau tidak sadar jika nomormu itu sulit untuk di hubungi? " Balas Agnes kesal.


" Hehe.. aku menonaktifkan ponselku sementara. Anakku itu akan marah jika melihat Ayahnya yang tampan ini sibuk sendiri! " Curhat Regata.


" Tapi aku tidak peduli! " Balas Agnes cuek.


" Kau- " Geram Regata.


" Kapan kau akan kembali lagi ke Amerika? " Tanya Regata.


" Entahlah! Tapi sepertinya aku akan menetap lama di sana. Karna anakku dari kemarin terus menginginkan makanan Indonesia. " Jawab Agnes.


" Kau ngidam? Wah..itu bagus! Apalagi jika anakmu itu ngidam untuk membunuh orang. Apa Afgan akan bisa mewujudkannya? Hahaha.. " Ucap Regata sambil tertawa.


" Sialan kau! Mana mungkin anakku menginginkan hal-hal aneh seperti itu. "


" Ya mungkin saja lah! Secara, Ibunya kan seorang Que- "


Tut..tut..tut..


Agnes menutup sambungan ponselnya secara sepihak. Dia tidak ingin jika anaknya terpengaruh oleh ucapan laknat yang Regata lontarkan seperti tadi.


Tapi sial, sepertinya anaknya itu sudah terpengaruh sekarang. Dan benar kata Regata, sepertinya darah Mafianya turuh pada anaknya.


Dia jadi ingin menghabisi seseorang saat ini juga. Oh shit! Harus bagaimana sekarang? Apa dia habisi saja Afgan di pesawat yah?


" Agnes! " Panggil Afgan sambil mendekat.


Agnes mengepalkan kedua tangannya saat melihat Afgan berjalan mendekat. Oh ayolah! Ngidam macam apa ini? Masa iya anaknya itu mau membunuh Ayahnya sendiri?


Tapi tangannya terasa gatal jika tidak memukul Afgan.


Afgan yang sudah berada di depan Agnes mengerutkan keningnya bingung. Dia mengangkat sebelah tangannya dan mengusap keringat dingin yang keluar dari kening Agnes.


Wajah istrinya itu sangat pucat dan seperti menegang menahan sesuatu. Karna penasaran, dia pun akhirnya bertanya:


" Agnes, apa kau baik-baik saja? " Tanya Afgan disertai ekspresi khawatirnya.


Agnes melipat-lipatkan bibirnya ke dalam. Apa dia katakan saja yah? Ahh.. entahlah! Jika Regata ada di sampingnya saat ini, mungkin dia akan menyuruh si King itu untuk membawa salah satu tahanan Mafianya dan akan dia habisi saat itu juga tanpa sisa.


Tapi ini suaminya, Afgan. Yang bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya. Arghkkk sial! Kenapa nasibnya harus seperti ini?


" Eum, kak. Aku ingin- " Ucap Agnes ragu.


Afgan semakin menatap Agnes bingung.


" Ingin apa hem? Katakan saja jika kau menginginkan sesuatu! " Ucap Afgan.


" Apa kau bisa mewujudkannya? " Tanya Agnes sambil menatap Afgan serius.


" Eum, mungkin iya. Jadi katakan! Apa yang kau inginkan? "


" Aku ingin membunuhmu! "


" Apa? "


_-_


Tbc!