
Pagi-pagi, Afgan sudah berkumpul bersama keluarga besarnya di meja makan.
Jennie dan yang lainnya menatapnya bingung. Karna lagi-lagi Afgan lebih banyak diam dan kembali bersikap dingin pada keluarganya.
Ketika sadar akan ketidak hadirannya sang menantu, Jennie pun menatap Afgan sambil berkata:
" Afgan, dimana Agnes? " Tanya Jennie penasaran.
" Dia pergi. " Ucap Afgan singkat tanpa menatap sang ibu.
" Apa?! " Pekik semua orang dengan memandang Afgan tidak percaya.
" Afgan, apa yang kau katakan? Kenapa dia bisa pergi dan kenapa kau membiarkan menantuku pergi, hah? " Bentak Jennie.
Afgan tetap santai dengan mengolesi roti dengan selai coklat. Kemudian dia memakannya dengan tenang tanpa menjawab ucapan ibunya.
" Afgan! " Bentak Alfan yang tidak suka dengan sikap adiknya.
Afgan mendongak menatap Alfan datar.
" Aku tidak tahu. " Lagi-lagi Afgan menjawab dengan singkat yang membuat Alfan naik pitam.
Brak.
" Kau tidak becus menjaganya, dan sepertinya kau juga tidak layak untuknya. Jadi sekarang, biar aku yang menjagnya! " Ucap Alfan marah dengan menggebrak meja.
Afgan menatap Alfan tajam, begitu pun dengan Alfan. Ketika kedua adik kakak itu sedang melemparkan tatapan permusuhannya, tiba-tiba terdengar suara-
" Ada apa ini? " Tanya Agnes yang baru datang di antar Regata sambil menatap Alfan dan Afgan secara bergantian.
Jennie langsung menoleh dan tersenyum bahagia melihat kehadiran menantunya.
" Agnes, oh my god. Kemana saja kamu, hah! " Ucap Jennie sambil berjalan dan menarik Agnes untuk bergabung.
" Bun, ada apa? " Ulang Agnes sambil menatap Alfan dan Afgan yang sedang sama-sama membuang muka satu sama lain.
" Eh. Itu, tadi mereka- "
" Aku pergi. " Potong Afgan yang langsung berdiri dan pergi dari rumah tanpa menatap Agnes.
" Afgan! Hey, dasar anak tidak perhatian kamu! Istri baru pulang bukannya, Afgan!! " Teriak Jennie kesal karena ucapannya tidak di hiraukan sama sekali oleh Afgan.
Agnes menatap punggung Afgan yang sudah semakin tak terlihat. Dia menunduk menyadari jika suaminya itu sedang marah karna ulahnya semalam.
" Ha..Seharusnya aku tidak melakukan itu tadi malam. " Ucap Agnes pelan.
" Apa, memang apa yang kau lakukan? " Tanya Ryan yang masih bisa mendengar ucapan Agnes.
Agnes mendongak menatap Ryan, kemudian dia menatap Jennie dan Alfan yang sedang menatapnya seperti menunggu jawaban darinya.
" Eum, itu. Semalam aku pergi bersama Regata. " Jawab Agnes jujur.
Mata Alfan membulat. Regata? Bukankah itu si mantan most wanted sekolah sekaligus mantan tunangan Agnes?
Bagaimana bisa adik iparnya itu bertemu malam-malam bersama Regata?
" Heum, pantas saja Afgan kembali bersikap dingin. Rupanya ini alasannya. " Gumam Alfan.
" Regata, siapa Regata? " Tanya Ryan.
" Dia, dia temanku. " Jawab Agnes sambil menatap Ryan biasa.
" Benarkah? " Tanya Ryan penuh selidik.
Agnes menghembuskan nafasnya pelan. " Haa..Sekaligus mantan tunanganku. " Lanjut Agnes yang membuat Ryan dan Jennie tercengang mendengar jawabannya.
" Agnes, astaga. Kau ini apa-apaan, pantas saja suamimu bersikap dingin lagi. " Ucap Jennie sambil menepuk jidatnya.
" Dingin, memang kak Afgan itu dingin kok bun. Kapan dia bersikap hangat? " Tanya Agnes polos.
" Oh, ya ampun. Sudahlah! Kau tidak akan mengerti nak. Yang bunda minta, jangan membuat dia marah terutama meninggalkannya. Jika tidak, maka dia akan semakin mendingin melebihi es batu. " Ucap Jennie memperingati.
Agnes merenung sebentar. Mungkin benar, kemarahan Afgan adalah dengan kembali bersikap dingin kepada semua orang, termasuk keluarganya.
" Iya, maaf. " Ucap Agnes menyesal.
" Sudah tidak apa. Sekarang kau mandi dan bersiaplah untuk pergi ke kantor Afgan, antarkan makan siang untuknya! Karna dia tidak akan makan jika sedang banyak pikiran. " Titah Jennie yang di angguki Agnes.
" Baik bun. Kalo begitu, Agnes permisi. " Ucap Agnes yang di angguki semuanya kecuali Ryan.
Ryan menatap Agnes dengan penuh selidik.
" Kenapa aku merasa dia tidak sungguh-sungguh mencintai putraku ya? Ah, semoga aku salah. Karna jika benar, maka akan di pastikan putraku akan jatuh sejatuh jatuhnya jika harus kehilangan dia lagi. " Batin Ryan.
" Aku harap dia tidak akan meninggalkan Afgan suatu hari nanti. " Gumam Ryan yang dapat terdengar jelas oleh Jennie.
" Tidak akan! Aku akan melakukan apa saja supaya Agnes selalu berada di sisi Afgan. Apa saja! " Tekat Jennie sambil mengepalkan sebelah tangannya di udara dan mengangguk semangat.
Ryan yang melihat tingkah antusias istrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Berbeda dengan Alfan yang sudah cekikikan melihatnya.
" Bun, kau sungguh aneh. Bagaimana mungkin kau bisa tetap menyatukan mereka jika Afgan dan Agnes tidak di takdirkan untuk berjodoh. " Goda Alfan yang justru mendapatkan pelototan dari Jennie.
" Enak saja, mereka jodoh tahu! " Seru Jennie. " Lagian jika pun mereka bukan jodoh, maka aku akan memaksa Tuhan supaya menjodohkan mereka. Simple kan? " Tanya Jennie percaya diri.
" Andaikan hidup memang se-simple itu. " Gumam Alfan sambil berdecak dan menggeleng satu kali.
**
Siang harinya, Agnes sedang berdiri dalam lift yang berada di kantor Afgan dengan membawa satu kotak makanan yang khusus dia buat sendiri sebagai tanda permintaan maafnya.
Yah, Agnes memang mengakui kesalahannya. Maka dari itu dia akan meminta maaf dengan cara membawakan makanan yang ia buat sendiri khusus untuk suaminya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Dengan segera Agnes keluar dan berjalan menuju ruangan Afgan.
Di tengah perjalanan, Agnes berpapasan dengan Vano yang membuatnya langsung menyapa teman suaminya.
" Kak Vano! " Panggil Agnes.
" Agnes. " Ucap Vano.
Dia tersenyum ke arah Agnes dan berjalan mendekati istri bos sekaligus temannya.
" Hey tumben kau datang ke kantor. " Ucap Vano.
" Ah, aku membawakan ini! Kak Afgan tidak sarapan banyak tadi pagi, jadi aku datang untuk membawakannya makan siang. " Jawab Agnes sambil mengangkat kotak makan siang yang dibawanya.
" Oh, begitu rupanya. Sungguh istri yang perhatian. " Goda Vano yang membuat Agnes tersenyum kikuk.
" Ya sudah, biar ku antar saja kau ke ruangannya! Karna pegawai di sini akan sedikit mempersulitmu menemui suamimu karna mereka tidak tahu kau istrinya direktur dingin itu. " Canda Vano yang membuat Agnes tertawa.
" Aha..Ada-ada saja. Ya sudah ayo! " Ucap Agnes yang akhirnya berjalan bersama Vano.
Saat sudah sampai depan pintu ruangan Afgan, Vano mempersilahkan Agnes untuk masuk sementara dirinya pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum tuntas.
Agnes tersenyum dan berterima kasih sebelum akhirnya dia membuka ruang kerja Afgan.
Cekrek.
" Kak, aku- "
Brak.
Agnes menjatuhkan kotak makan siangnya dengan sebelah tangan yang menutupi mulutnya yang menganga.
Matanya membulat melihat Afgan yang sedang terduduk dengan seorang wanita berpakaian super sexy yang berdiri bahkan merapat dengan tubuhnya.
Bila di pandang dari posisi Agnes yang sedang berada di ambang pintu saat ini, keduanya seperti tengah bercumbu satu sama lain.
Apalagi dengan wanitanya yang menunduk sungguh terlihat seperti tengah mencium Afgan.
Afgan melotot melihat Agnes, dengan segera dia mendorong wanita itu dan menatap Agnes panik. Dia takut istrinya salah faham.
Tapi saat melihat raut wajah tidak sedap dari Agnes, sebisa mungkin Afgan mengubah raut wajahnya menjadi kembali dingin. Seakan apa yang di lihat Agnes itu benar adanya.
Dia ingin lihat, apa yang akan istrinya lakukan saat suaminya kepergok selingkuh bulat-bulat seperti ini. Walaupun sebenarnya Afgan tidaklah bermain di belakang Agnes.
Dia hanya ingin mengetes istrinya saja.
Melihat raut wajah Afgan yang seakan tidak peduli membuat Agnes tersenyum masam seketika.
Dia lupa, dia hanyalah wanita yang mengandung anaknya saja. Mungkin bagi pria itu dia tidaklah terlalu berarti sehingga bisa melakukan hal serendah ini.
Agnes menunduk dan melihat kotak makan siang yang sempat dia jatuhkan tadi. Karna kotak itu masih utuh dan tidak berantakan, Agnes pun berjongkok dan memungutnya.
Setelah kotak itu berada dalam tangannya, dia kembali menatap Afgan sambil tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan rasa yang sedikit sedih dalam hatinya.
" Eh, maaf mengganggu kak. Aku hanya di suruh bunda untuk mengantarkan makanan untukmu. " Ucap Agnes dengan wajah biasanya.
Kemudian wanita itu berjalan dan menyimpan kotak makan siangnya di atas meja yang tersedia di ruangan Afgan.
" Aku simpan di sini yah, jangan lupa di makan! " Titah Agnes.
" Kalau begitu, aku permisi. Maaf menggangu kesenangan kalian. " Lanjut Agnes sambil melirik tidak suka pada wanita berlipstik merah menyala itu.
Agnes tersenyum ke arah Afgan dan berbalik pergi dari ruangan Afgan dengan langkah terburu-buru.
" Cih, kenapa hatiku serasa tidak enak begini. Jangan bilang aku cemburu? Hah tidak mungkin, arghkk sial! " Gumam Agnes dengan tangan yang terkepal kuat.
Afgan yang tadinya mengharapkan Agnes marah-marah tertampar oleh kenyataan.
Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat dengan emosi yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun.
Dia pikir istrinya cemburu dan akan menghajar wanita yang berusaha merebutnya habis-habisan. Tapi ini?
" Huh, dia bahkan tidak peduli apa yang aku lakukan dengan wanita ini. " Batin Afgan kecewa.
Afgan bangkit dengan kasar, dia menoleh pada wanita yang tak lain adalah sekertarisnya sendiri.
" Kau di pecat! " Ucap Afgan dingin dan berlalu berjalan setengah berlari menyusul Agnes.
_-_
Tbc!