Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Tentang Ryan



Agnes masih berada di apartement keluarga kecil Regata.


Saat ini, Veyna yang sibuk berkutik di dapur mempersiapkan makan siang mereka, Afgan yang asik bermain dengan Afra, dan Agnes di dampingi Regata yang terduduk di sofa memperhatikan interaksi keduanya sambil tersenyum.


" Yakin ingin melanjutkan taruhannya, Nona? " Ucap Regata sambil menatap Agnes.


" Taruhan apa, perasaan aku tidak mengikuti taruhan manapun denganmu, Tuan Muda Revix. " Balas Agnes sinis.


Regata tertawa mengejek. " Cih, dasar pelupa. Bukankah kita membuat taruhan siapa yang paling unggul di antara putra kita nantinya? Dan sekarang kau lihatlah! Afra putraku sangat tampan, jadi mustahil bagi putramu untuk mengalahkan ketampanannya. " Ucap Regata songong.


Agnes mendelik malas. " Sudah ku bilang, dengan tidak melakukan taruhan pun sudah di pastikan putaku yang paling unggul! " Balas Agnes sengit.


" Lagian lihatlah gen-nya terlebih dahulu! Ibunya cantik, ayahnya juga sangat tampan. Sudah di pastikan bukan hasil dari buah penyatuannya seperti apa. " Lanjut Agnes yang membuat Regata berdecis sebal.


" Sialan kau. Lebih baik anakmu perempuan saja kalau begitu. Karna jika dia laki-laki, dan sama tampannya dengan putraku, sudah pasti kelak keduanya akan bertarung memperebutkan satu hati seperti ayah-ayah mereka nantinya! " Ucap Regata ngaco.


" Hei jaga ucapanmu yah! " Semprot Agnes.


" Anakku tidak mungkin mengejar hati yang salah. Dan ingatlah! Jika dia laki-laki, lebih baik kita pertemankan mereka terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan kisah ayah-ayahnya yang sudah berakhir. " Lanjut Agnes yang membuat Regata merenung.


" Kau benar. Tapi aku tidak mengejar cinta yang salah. " Ucap Regata lirih.


Seketika Agnes menatap Regata. Dia memejamkan matanya sambil menghela nafas pelan.


" Aku tahu, tidak ada cinta yang salah di dunia ini, termasuk cintamu. Tapi keadaanlah yang salah sehingga membuat cinta itu ikut tersalahkan. "


" Yah, aku tahu. " Balas Regata sambil memaksakan senyumannya pada Agnes.


Agnes balik tersenyum dan memegang tangan Regata.


" Percayalah! Semua ini memang yang terbaik untuk semuanya Gata. Jika di kehidupan ini kau tidak mendapatkan cintamu, maka mungkin di kehidupan selanjutnya dia akan di ciptakan hanya untukmu. " Ucap Agnes berusaha mengambalikan mood sahabatnya.


Regata memandang Agnes lekat. Mungkin benar, di kehidupan ini Agnes bukan tercipta untuknya, melainkan untuk Afgan.


" Jika boleh berharap, aku ingin di kehidupan ku selanjutnya Tuhan hanya akan menciptakanmu untukku seorang. Tanpa keadaan yang salah, dan tanpa melalui orang yang membuatnya harus kembali mengalah. " Batin Regata.


Regata mengusap wajah sampai rambut bagian belakangnya. Kemudian dia tersenyum pada Agnes sambil berkata:


" Oke fiks kita bahas topik lain. " Ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Bagaimana dengan ajakanku tadi pagi, apa malam nanti kau akan datang? " Tanya Regata.


Agnes mengerutkan dahinya, kapan dia mendapatkan telepon dari Regata? Seketika dia ingat akan kemarahan Afgan tadi pagi.


" Sialan. Jangan menelponku dengan langsung to the point ke inti pembicaraan Gata! Gara-gara kecerobohanmu, aku yang harus menanggung konsekuensinya. " Cerocos Agnes emosi.


" Apa maksudmu? "


" Yang menjawab panggilan darimu itu bukan aku, tapi kak Afgan tahu! Dasar bodoh, seharusnya kau mendengarkan dulu suaraku baru kau mengatakan tujuanmu menghubungiku. Jika kau keceplosan dengan mengatakan urusan dunia hitam kita padanya bagaimana heh? " Cerocos Agnes lagi.


" Ya aku mana tahu. Lagian seharusnya kau kunci ponselmu itu, itu kesalahanmu sendiri. " Balas Regata santai.


" Eh tunggu, apa kau tidak memberitahu tentang rahasia itu pada dia? " Tanya Regata penuh selidik.


" Sepertinya tidak. Aku sudah mengatakannya di malam pertama kami kalau tidak salah, tapi dia tidak percaya. Ya aku si masa bodo, yang penting aku sudah mengatakan siapa aku sebenarnya. " Balas Agnes santai.


Regata membulatkan matanya. " Dasar bodoh! Bagaimana jika Tuan Ryan membongkar siapa dirimu pada Afgan? Apa kau tidak takut kehilangannya jika dia tahu siapa kau sebenarnya? " Tanya Regata sambil menyentil pelan kening Agnes.


" Aws, sakit tahu. Lagian apa urusannya dengan ayah mertuaku? Aku juga tidak pernah memberitahunya siapa aku. " Balas Agnes sambil mengusap keningnya yang agak memerah.


Regata mengusap wajahnya kasar. Sepertinya dia harus lebih detail berbicara dengan Agnes.


" Agnes, dengarkan aku baik-baik! Apa kau tidak tahu siapa Tuan Ryan sebenarnya? " Tanya Regata yang mulai serius.


" Ti-tidak. Apa maksudmu Regata? " Tanya Agnes penasaran.


" Dia sama seperti kita, mafia. "


" Kau ingat mantan leader mafia yang sempat kita selamatkan dulu? Itu dia. Dialah orang yang mendapatkan gelar the prince gold leader dalam sejarah permafiaan sebelumnya. " Jelas Regata yang membuat Agnes menutup mulutnya yang menganga.


" Ba-bagaimana kau bisa tahu jika itu dia? Aku ingat ketua mafia yang sempat kita selamatkan beberapa hari setelah ibuku meninggal dulu, tapi orang itu menggunakan masker Gata. Bagaimana bisa kau beranggapan jika itu ayah mertuaku? Hah, ini tidak mungkin. " Ucap Agnes menyangkal fakta.


" Ini faktanya Agnes. Jika kau tidak percaya, maka lihatlah di lengan kiri Tuan Ryan ada tato permanen yang bergambarkan dua pedang penuh darah. Itulah bukti jika dia adalah mafia yang pernah kita selamatkan dulu, lebih tepatnya kau yang menyelamatkannya. " Ucap Regata yang membuat Agnes terdiam seketika.


" Jika ayah mafia, berarti kak Af- "


" Agnes! " Panggil Afgan dengan menggendong Afra.


" Ah, i-iya? " Balas Agnes sambil tersenyum kik-kuk pada Afgan yang sudah berada di hadapannya.


" Ayo kita pulang! Kau tidak lupa jika setelah ini kita akan mengunjungi rumah lamamu bukan? " Tanya Afgan yang di angguki oleh Agnes.


**


Sebelum pergi, Agnes menyempatkan waktu makan siang bersama keluarga Regata. Karna saat tadi dia izin pulang, Veyna melarangnya dan menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu.


Karna merasa tidak enak pada Veyna yang sudah menyiapkan makan siang, akhirnya Agnes pun menyetujuinya dan akan pulang setelah makan siang bersama.


Dan di sinilah mereka sekarang. Regata, Veyna serta Afra sedang berada di ambang pintu menyaksikan kepergian Agnes beserta suaminya tentunya.


" Veyna, terima kasih atas makan siangnya. Aku jadi merasa tidak enak karna merepotkan. " Basa-basi Agnes.


" Ah tidak apa, itu sama sekali tidak merepotkan kok. Lain kali jangan lupa mampir lagi yah, jangan kapok berkunjung kemari loh! " Canda Veyna sambil tersenyum.


" Pasti. " Ucap Agnes sambil balik tersenyum ramah.


Agnes berjalan menuju Regata.


" Bye Gata, lain kali kau yang berkunjung ke rumahku yah. " Ucap Agnes ceria.


Regata tersenyum. " Baiklah, tapi sini peluk dulu! " Celetuk Regata sambil merentangkan kedua tangannya.


Agnes tersenyum kik-kuk ke arah Afgan dan Veyna yang malah mengangguk mengizinkan.


Dan dengan langsung Agnes pun memeluk Regata. Tapi siapa sangka, justru Regata melakukan itu karena ada niat terselubung di dalamnya.


Dia memeluk Agnes erat sambil berbisik:


" Jika kau ingin tahu detailnya, cari tahulah malam ini juga tentang tanda pada lengan mertuamu! Setelah itu, langsung temui aku di markas. "


Agnes mengangguk. Kemudian dia tersenyum canggung ke arah Veyna karna tidak enak memeluk Regata di hadapan istrinya.


" Aunty, aunty. Kapan babynya lahir? " Ucap Afra tiba-tiba.


" Eum, aunty juga tidak tahu sayang. Mungkin sekitar delapan bulan lagi. " Jawab Agnes sambil tersenyum manis pada Afra yang sedang berada di gendongan Veyna.


" Yah, kok lama. " Ucap Afra yang seketika murung.


" Loh kok mukanya gituh si? Emangnya kenapa sayang, kamu sudah gak sabar yah pengen main sama baby nya? " Goda Agnes.


" Iya. Afra ingin baby nya cepet-cepet datang buat Afra. Kalau baby nya telat datang, gimana kalo Afra di rebut sama tetangga sebelah? " Celetuk Afra.


" Hah? Hufftt..Hahahaha...!! "


Seketika semua orang tertawa oleh ocehan bocah ingusan itu. Yang mana membuat Afra merasa di olok-olok hingga akhirnya dia pun menangis.


" Hua....Kalian jahat! "


_-_


Tbc!