Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Ancaman Seorang Ayah



Matahari mulai naik menyinari bumi dengan penghuninya yang mulai sibuk beranjak dari tempat tidur dan melakukan aktivitasnya masing-masing.


Begitupun dengan sepasang pengantin baru yang sibuk berkemas untuk mempersiapkan keberangkatannya siang ini.


Siapa lagi kalau bukan Agnes dan Afgan.


Ralat! Hanya Afgan. Karna Agnes hanya terduduk manis dan membiarkan suaminya yang mengemas beberapa pakaian yang akan dia bawa selama dia tinggal di Indonesia. Sebutlah dia kejam atau apalah itu karna menyuruh suaminya yang melakukan tugasnya! Tapi ,ya mau bagaimana lagi coba? Orang dia sungguh malas melakukan ini itu dan bawaannnya sangat ingin terduduk atau tertidur manis saja.


" Selesai? " Tanya Agnes ketika melihat Afgan yang berdiri sambil berdecak pinggang. Dengan koper yang sudah di tutup siap untuk di seret kemanapun sang pemilik mau.


" Menurutmu? " Ketus Afgan.


" Oh ayolah! Kau bekerja sedikit untukku saja sudah mengeluh seperti itu. Apa kau tidak sayang pada anakmu yang hanya ingin diam tanpa bekerja ini, hem? Yakan sayang. " Ucap Agnes sambil mengelus perut datarnya.


" Cih, alasan! "


" Hey kau mau kemana? " Tanya Agnes ketika Afgan melangkah pergi.


" Mandilah! Yakali kita pergi dengan keadaanku yang seperti ini! " Ucap Afgan kesal dan melangkah menuju kamar mandi dengan membanting pintunya keras.


Brug..


Suara pintu yang di banting keras oleh Afgan justru membuat Agnes tertawa lebar. Dia tahu suaminya itu sedang kesal padanya. Bagaimana tidak? Agnes sudah cantik sedaritadi dan Afgan masih kusut karna baru bangun tidur.


Saat hendak melangkah menuju kamar mandi, Agnes menahan lengan suaminya dan menyuruhnya untuk membereskan pakaian yang akan dia bawa dengan alasan dia malas dan menjadikan bayinya itu sebagai alasan kemalasannya.


Dan pada akhirnya, Afgan tetap melakukan apa yang istrinya minta walaupun dengan menggerutu tanpa henti. Agnes? Tentu saja dia santai dan tidak menanggapi gerutuan suaminya itu! Cup..cup..cup.. sungguh kasihan Afgan!


**


" Ingat! Jika kau berani menyakiti anakku walau hanya seujung jari saja, maka aku akan membawanya dan menghabisimu tanpa ampun! " Ancam Drexy pada sang menantu.


Yeah, saat ini mereka tengah berdiri di luar rumah untuk melepas kepergian Agnes. Rexi dan Drexi terus saja memberikan ancaman pembunuhan pada Afgan jika suami adik dan anak cantiknya itu sampai melukai Agnes nantinya.


Afgan hanya bisa mengangguk sedaritadi. Dia bahkan sudah merasakan pegal di lehernya karna mengangguk terus menerus.


Sementara Agnes, gadis itu hanya melihat siapa yang berbicara saja. Tanpa ikut membuka suara sedikitpun. Bahkan perempuan itu sesekali menendang-mendang kakinya ke udara karna kakinya itu mulai kesemutan akibat berdiri terlalu lama.


" Dengar! Meskipun kau suami adikku, tapi kau tidak boleh melarang adikku ini-itu selama yang di lakukannya bisa membuatnya bahagia. Kau mengerti? Ingat baik-baik ucapanku. " Kini giliran Rexi yang berbicara.


Agnes tersenyum ke arah Rexi. Dia tahu maksud dari ucapan kakaknya. Yah, Rexi berbicara tentang Agnes yang adalah seorang Mafia. Dan memperingati Afgan supaya tidak menghalangi jalannya dengan melarangnya untuk masuk ke dalam dunia hitamnya lagi.


" Kau tenang saja kak. Selama itu tidak membahayakan anak dan istriku, maka aku tidak akan melarangnya. " Balas Afgan serius.


Agnes melipat kedua bibirnya ke dalam dan mengusap tengkuknya. Dia jadi merasa was-was. Dan niatnya untuk memberitahu siapa dirinya sebenarnya pada Afgan, mungkin akan dia urungkan setelah mendengar ucapan suaminya barusan.


Rexi tersenyum mengejek ke arah Agnes. Dia tahu adik yang sempat ia cintai itu sedang merasa gelisah akan nasibnya kelak jika suaminya itu tahu siapa dirinya sebenarnya. Mungkin Agnes akan langsung kehilangan jabatannya sebagai Queen Of Mafia jika Afgan sampai tahu.


" Baiklah, aku percaya padamu. " Ucap Drexy sambil menepuk pundak Afgan. " Jaga dia baik-baik! Dan segeralah kembali ke New york jika urusan kalian di Indonesia sudah selesai! " Lanjutnya.


" Hei aku tidak mau yah! Aku akan menetap di Indonesia dan tidak akan kembali lagi ke Amerika! " Semprot Agnes langsung.


Drexy dan Rexi saling pandang. Kemudian mereka beralih menatap Agnes dengan alis yang terangkat satu.


" Girl, maksudmu kau akan meninggalkan ayahmu ini untuk selamanya hem? " Tanya Drexy.


" Yah tentu saja i-


" Tidak seperti itu dad! " Potong Afgan. " Kami hanya akan beberapa bulan di sana dan akan segera datang kembali ke Amerika untuk mengunjungi kalian. " Lanjutnya sambil tersenyum.


" Berkunjung? Jadi kau akan membuat adikku menetap di sana hah? " Pekik Rexi sambil melotot pada Afgan.


" Bukan begitu, eum.. bagaimana yah. " Ucap Afgan bingung.


Jika di depan Rexi saja dia akan langsung mengucapkan alasannya! Karna memang Rexi sudah tahu pasal kehamilan Agnes. Tapi di sana juga ada sang ayah mertua, yang membuat Afgan bingung harus bagaimana caranya menjelaskan.


Tidak mungkinkan dia memberitahu tentang bayinya itu. Bisa-bisa langsung terkena serangan jantung mertuanya sata itu juga. Karna memang Drexy tidak di beritahu tentang penjebakan Haley yang membuat Agnes sampai hamil.


Yang dia tahu, hanyalah Haley yang mencelakai Agnes dan karma datang padanya dengan tersebarnya video laknat itu.


Tentang kehormatannya? Drexy dan Rexi sudah melakukan konperensi pers dan menyatakan jika Haley hanya anak angkatnya dan Agneslah anak kandungnya!


Filex juga awalnya terkejut, karna setaunya Agnes adalah anak dari suami putrinya alias Dika. Tapi di sisi lain dia juga merasa lega, jika Drexylah ayah kandung Agnes. Dan bukan pria brengsek seperti Dika.


" Oh ayolah! Kami kan pengantin baru, jelas dong suamiku ini mau membawaku honeymoon." Ucap Agnes tiba-tiba.


" Hah? " Beo ketiganya.


" Kalian apaan si, gitu aja gak ngerti. Dahlah males! Bye kak, bye ayah, Agnes pamit yah. See u next time. " Ucap Agnes sambil memeluk kakak dan ayahnya secara bergantian.


Setelah itu, dia berlalu pergi dan naik ke dalam mobil tanpa menunggu Afgan alias meninggakkan suaminya di sana.


Afgan, Rexi dan Drexy hanya bisa melihat kepergian Agnes tanpa bisa menghentikannya. Mereka masih mencerna ucapan Agnes, dan sepertinya otak mereka sedang tidak berfungsi alias nge- Blank!


Afgan merenungkan ucapan Agnes. Seketika otak lambatnya itu bisa menangkap apa yang istrinya maksud dalam ucapannya itu.


"Ekhm, begini Ayah, kak. Maksud Agnes adalah dia kemungkinan akan lama di Indonesia karna aku akan mengajaknya Honeymoon ke pulau Bali yang terdapat di Indonesia. " Ucap Afgan menjelaskan.


Rexi dan Drexy hanya bisa mengangguk dengan mulut yang terbuka mengeluarkan kata 'Oh' .


**


" Bukannya bandara belok kanan yah, kok belok kiri sih pak? " Protes Agnes pada sopir yang mengendarai mobilnya.


" Sudahku bilang, kita akan pergi ke dokter kandungan terlebih dahulu sebelum kita terbang nanti. " Ucap Afgan mendahului si sopir yang hendak angkat suara.


" Oh, tapi aku rasa itu tidak perlu kak! Aku malas ke rumah sakit. Jadi langsung saja ke bandara pak! "


" Tidak bisa! " Tolak Afgan. " Dengar, aku tidak mau terja-


" Tidak akan terjadi apa-apa! Kita periksa saja setelah kita tiba di Indoneia nanti. " Potong Agnes.


" Tapi-


" Nanti atau tidak sama sekali! " Potong Agnes lagi sambil melotot ke arah Afgan.


Afgan hanya bisa memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam. Jika sudah begini, maka dia tidak bisa lagi menentang ucapan istrinya.


Melihat Afgan yang tidak membantah, membuat Agnes senang dan menengok ke arah sopir sambil berkata:


" Belok lagi pak! Kita langsung menuju bandara saja. " Ucap Agnes antusias. Entah kenapa, dia sungguh sudah tidak sabar untuk pergi ke Indonesia.


" Siap non! " Balas pak supir itu sambil tertawa tanpa suara melihat Tuannya yang tidak bisa berkutik terhadap Nona cantiknya itu.


Agnes membalikkan kepalanya menengok ke samping yang memperlihatkan jalanan kota New york. Dia membatin sambil menatap kota yang sebentar lagi akan di tinggalkannya itu.


Seketika Agnes mengingat Regata. Bagaimana kabar pria itu yah, sudah beberapa hari ini Regata tidak menemuinya. Bahkan menghubunginya pun tidak.


Apa pria itu berhasil meminta maaf pada istri dan anak tampannya itu? Hem, Agnes jadi sedikit penasaran akan kabar Regata.


" Ah, nantin setelah sampai di bandara saja lah aku menghubungi pria payah itu. " Batin Agnes.


_-_


Tbc!