Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Rencana Yang di urungkan



!Budayakan LIKE Sebelum membaca!


_______________


Saat ketiga pemuda tampan yang tak lain adalah Alvin,Vano dan Kevin sedang berbincang hangat di kafe dekat kantor Afgan,tiba-tiba terlihatlah pintu kafe yang terbuka dan mengundang sorak ricuh yang berasal dari para pengunjung disana.


Karna penasaran siapa yang datang hingga menjadi sorot perhatian publik,akhirnya ketiga pria tampan itu pun menengok ke arah pintu.


Dan terlihatlah disana Jennie sang tante rempong dan Fani yang sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang celengak-celinguk seperti mencari seseorang.


Tampilan mereka berdua sungguh tak kalah dengan para bule disini.Bahkan Fani,kekasih Kevin itu sungguh nampak berbeda dan cantik saat mengenakan mini dres di atas lutut dan high heels yang dipakainnya saat ini.Tak lupa dengan wajah yang sedikit dipoles makeUp dan aksesoris simple yang melekat pada dirinya.


Dan hal itulah yang membuat para bule disana melongo dengan mulut yang tak henti-hentinya mengeluarkan gombalan maut untuk Fani.Tentu saja Kevin yang melihatnya sudah mengepalkan kedua tangannya marah.Saar hendak bangkit dari duduknya untuk menghampiri sang kekasih,tiba-tiba saja Alvin berteriak.


"Tante!"Teriak Alvin disertai lambaiannya pada Jennie untuk mengisyaratkan keberadaannya.


"Eh,disitu kau rupanya bocah laknat.Ayo sayang."Ucap Jennie dan menarik tangan Fani menemui mereka.


Fani hanya pasrah dan menerima semua yang Jennie lakukan padanya.Karna sudah tidak asing lagi jika tangan imutnya itu ditarik paksa oleh tante rempong satu ini.


Setelah sampai di depan mereka,dengan segera Fani dan Jennie pun terduduk.Yang sialnya,Fani justru malah berhadapan langsung dengan Kevin yang sedang menatapnya lekat penuh rindu.


"Baiklah,ayo kita mulai meetingnya!"Ujar Jennie antusias.


Bagaimana tidak?karna meetingnya dengan para bocah laknat itu mengenai kehidupan putra bungsunya yang bodoh karna tidak tertarik untuk menikah dan berkeluarga.


Kevin menatap dalam sang kekasih yang berada dihadapannya tanpa menghiraukan ocehan dan kehadiran Jennie disana.


Sementara Fani hanya acuh saja dengan menghadap ke arah lain.Enggan untuk menatap Kevin yang dengan teganya tidak memberitahukan kedatangannya kemari.


Alvin memberi kode pada Vano dengan menunjuk Kevin dan Fani dengan ekor matanya.Seketika jiwa perusak hubungan orang milik Vano bangkit dari tidurnya.


"Ekhem."Dehem Vano sebelum mengatakan hal-hal pedas yang akan membuat Kevin kebakaran jenggot.


"Tidak perlu menatap Fani lagi Kevin!karna tante sudah mempunyai calon bule tampan untuk keponakanku yang cantik ini." Bukan Vano,tapi Jennielah yang berbicara.


Karna memang tante cantik itu sudah merasakan hawa pertengkarah disana.Sementara Vano?dia hanya menghela nafas panjang dan mengusap-usap dadanya saja untuk menidurkan kembali jiwa pelakornya yang sudah bangkit.Eh Ralat!bukan pelakor,tapi apa ya-aah eta w intinama!


"Apa!!pria bule!!"Pekik Kevin sambil berdiri seketika."Ikut aku."Lanjutnya dan langsung menggusur tangan Fani secara paksa.


Tentu saja hal itu membuat Fani terperanjak kaget.Mau tidak mau,dia hanya pasrah mengikuti kemana pacarnya itu membawanya saja.


"Udah tadi di gusur tante,sekarang digusur Kevin.Emang tangan gue lopada kira apaan hah?main gusur-gusur aja kaya karung beras.Patah ntar tangan ices!"Gerutu Fani yang sayangnya hanya bisa dalam hati karna melihat wajah Kevin yang sudah dipenuhi dengan amarah karna kecemburuannya yang gak jelas menurut Fani.


Sementara disana,mereka bertiga nampak tertawa bahagia bisa membuat seorang Kevin Anandika sang pengusaha muda itu terbakar api cemburu.Bahkan diantara mereka tidak ada yang berniat melerai perkelahian yang sebentar lagi akan terjadi antara sepasang kekasih yang sudah minggat dari sana itu.


"Sudah sudah,hentikan tawa kalian bocah bodoh!"Seru Jennie."Sekarang cepat katakan,apa yang kau bilang tadi pagi tentang anakku Afgan?"Lanjutnya sambil menunjuk Alvin dan menatap keduanya serius.


Vano melirik Alvin.Dan Alvin menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda persetujuannya.


"Begini tante,Afgan sudah bertemu bersama Agnes."


"Apa!!"Pekik Jennie yang seketika berdiri dengan kasar.


Sontak mereka menjadi pusat perhatian disana.Dengan segera jennie pun membungkuk hormat sebagai tanda permintaan maafnya dan kembali terduduk dengan anggun.


"Lanjutkan!"Titah Jennie pada kedua pemuda yang tengah memutar bolamatanya tanpa dosa.


"Kami membutuhkan bantuan tante untuk mrnyatukan mereka berdua.Apalagi Afgan dan Agnes sudah me-


"Aku tidak yakin Agnes akan menerimanya dengan mudah!"Potong Jennie langsung."Kalian tahu sendirikan seperti apa Agnes?bahkan tante mendengar saat Afgan mengigo dalam tidurnya,dia bilang 'Kenapa kau memilihnya,apa kurangnya aku'. "Lanjut Jennie."Apa perkataannya itu masih tidak jelas?kalau Agnes memang sudah bahagia dengan pilihannya saat ini."Lanjutnya memberi pengertian kapada kedua teman anaknya.


"Maksud tante Regata?"Tanya Alvin dengan alis yang terangkat sebelah.


"Entahlah!"Balas Jennie acuh.


"Tante,dengar.Apa tante tidak menginginkan kebahagiaan untuk Afgan?apa tante tidak ingin membuat Afgan menjadi Afgan kita yang dulu?yang ramah dan periang,tidak seperti Afgan yang dingin dan kaku seperti sekarang."Ucap Alvin kembali serius.


"Bodoh,tentu saja sebagai seorang ibu aku menginginkan kebahagiaan untuk anakku."Balas Jennie kesal.


"Maka dari itu,bantu kami menyatukan mereka berdua.Because Agnes is he's happiness!"Sambung Vano yang membuat Jennie melamun seketika.


"Mungkin benar apa kata mereka.Tapi,haruskah aku egois dengan memisahkan sepasang kekasih itu demi membuat sang wanitanya menjadi milik putraku?demi kebahagiaannya?"Batin Jennie bingung.


"Ba-


Tring...


Suara dring panggilan dari ponsel Vano membuat Jennie menggantung ucapannya seketika.Tertera nama Kevin disana,dengan segera Vano pun mengangkatnya.


"Baiklah,aku tidak akan melakukannya."


Ucapan terakhir dari Vano sebelum ia memutuskan sambungan telponnya dengan Kevin disebrang sana.


"Kenapa,ada apa?"Tanya Alvin penasaran.


"Sepertinya kita harus menunda semua ini."Balas Vano dengan wajah lesunya.


"Kenapa?"Tanya Jennie bingung.


"Kevin mendapatkan kabar dari David,katanya Agnes akan menetap disana untuk beberapa hari.Dan dia meminta agar kita tidak bertindak dulu untuk sekarang.Agnes banyak pikiran,dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya dulu."Jelas Vano sambil menatap Jennie dan Alvin secara bersamaan.


"Lalu bagaimana sekarang?jika menantu cantilku itu tidak ingin di ganggu,maka tidak akan mudah bagi kita untuk menemuinya."Ucap Jennie sedih."Apalagi dia dinggal di kediaman Filex,yang pastinya akan sangat mustahil untuk kita kunjungi.Saat dia sudah bilang tidak ingin di ganggu."Lanjutnya lesu.


Vano dan Alvin hanya diam saja.Mereka juga bingung harus melakukan apa jika sudah begini.


Seketika Jennie teringat sesuatu.


"Tunggu,aku bingung dengan kalian berdua.Memang kenapa kalian meminta bantuanku segala?kalau Afgan dan Agnes memang saling mencintai,maka langsung saja menikah!Tidak perlu meminta bantuanku segala.Ada apa memang sebenarnya?hingga kalian menyuruhku untuk memaksa Agnes agar mau menikah dengan Afgan segala."Tanya Jennie heran.


"Arghk..tante ini bagaimana.Apa tante tidak tahu,jika Afgan dan Agnes sudah-


"Sebaiknya kalian menghentikan aksi konyol yang akan kalian lakukan!"


Sura bariton dari samping sukses membuat Vano menghentikan ucapannya dan menoleh kearahnya.


"A-afgan."Ucap Jennie syok melihat putranya.


Afgan hanya menatap mereka datar.Kemudian beralih menatap Alvin dan Vano tajam penuh peringatan.


"Bun,aku memang akan membutuhkanmu untuk membantuku mendapatkan Agnes."Ucap Afgan pada Jennie.


"Tapi tidak sekarang.Biarkan dia sendiri untuk beberapa saat,jangan ada yang berani mengganggunya sekarang!"Lanjutnya sambil menatap tajam ke arah kedua temannya yang sedang mengalihkan arah pandangnya dari Afgan.


Jennie menghela nafas dalam."Baiklah.Jika saat itu tiba,maka kau beritahu bunda!Karna bunda akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia."Ucap Jennie sambil berdiri dan mengusap lengan Afgan.


Wanita paruh baya tapi masih cantik itupun pergi berlalu dari sana.Meninggalkan kedua pemuda tampan yang sedang menegang akibat kehadiran putranya yang mendadak itu.


Setelah kepergian sang ibu,Afgan pun beralih menatap kedua temannya dingin.


"Vano,sebaiknya kau kembali ke kantormu!karna jam istirahat sudah selesai sejak tadi."Ucapnya pada Vano."Dan kau,ikut aku!setengah jam lagi kita akan mengadakan rapat dan kau yang akan berpresentasi dihadapan para klient nanti."Lanjutnya pada Alvin dan berlalu meninggalkan keduanya yang sedang mengusap wajahnya kasar.


"Sial.Presentasi,aku?berkasnya saja belum aku sentuh sama sekali,bagaimana bisa aku berpresentasi didepan para klient?Dasar Afgan brengsek!"


**


**Tbc!


🔁Jangan lupa LIKE,KOMEN and VOTE-nya ya Gaiss!!See you♡**