Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Cemburu Buta



Cekrek..


Agnes membuka pintu kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap melekat di tubuh kecilnya.


Dengan kandungan yang masih muda, membuat perut Agnes masih datar dan langsing seperti seseorang yang tidak sedang mengandung.


Agnes berjalan mendekati cermin dan mulai mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Tanpa sengaja kedua bola matanya bertatapan dengan iris hitam milik Afgan dari pantulan cermin. Agnes menatap Afgan dengan alis yang terangkat satu.


Pasalnya, kini sikap Afgan kembali dingin dan dia menyadarinya. Apalagi dengan tatapan Afgan yang tidak sehangat biasanya.


" Kenapa? " Tanya Agnes yang akhirnya angkat suara.


Afgan yang sedang terduduk di atas sofa hanya melirik Agnes sekilas, kemudian dia kembali fokus pada majalah yang ada di tangannya.


Agnes menarik nafas saat melihat tingkah cuek suaminya. Dia menyimpan handuk kecil yang di pegangnya dan berjalan menuju suaminya.


" Kau kenapa? Bila ada yang salah atau masalah, lebih baik terus terang saja! Aku paling beci jika-"


" Katakan yang sebenarnya padaku. " Potong Afgan sambil menatap dingin kedua bika mata istrinya yang sudah terduduk di sampingnya.


Agnes mengerutkan keningnya. " Apa maksudmu? "


" Regata. " Jawab Afgan sambil menyerahkan ponsel Agnes. " Dia tadi menelpon dan menyuruhmu menunggunya di tempat biasa, malam-malam. Karna kau yang sedang mandi, akhirnya aku yang menjawab panggilannya. "


" Apa! Kau- "


" Tidak akan ku izinkan kau keluar malam-malam. Apalagi bersama seorang pria. " Tegas Afgan.


" Hei, tapi- "


" Cepat bersiaplah! Kevin sudah nemberitahuku tentang kau yang akan datang ke rumah lamamu hari ini. Aku akan mengantarmu. " Potong Afgan sambil bangkit dan berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Agnes yang sedang menganga menyaksikan kepergiannya.


Agnes menunduk menatap ponselnya. Seketika dia menarik nafasnya kasar dan menggerutu tidak jelas.


" Regata sialan. " Maki Agnes yang langsung membanting ponselnya ke atas kasur.


**


Sementara di kamar mandi, Afgan menyalakan shower dan menempelkan kedua tangannya pada dinding kamar mandi dengan tubuh yang telah basah kuyup oleh air.


" Untuk apa Regata mengajak Agnes bertemu malam-malam, apa mereka diam-diam masih berhubungan walaupun dengan status Agnes yang sekarang? " Gumam Afgan.


" Aaaghkkk..Sialan!! " Teriak Afgan sambil memukul dinding kuat-kuat.


Bug.


Bug.


Bug.


" Huh, jika memang mereka masih berhubungan di belakangku, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan. " Ucap Afgan.


Seketika Afgan tersenyum licik kala di otak piciknya terlintas sesuatu yang menurutnya bravo untuk di lakukan.


" Dia istriku. Yah, dia istri sah ku. Maka dari itu, tidak akan ada yang melarangku jika aku makukan sesuatu padanya. " Gumam Afgan yang kini di kedua matanya terpancar api kecemburuan.


" Agnes, berani kau main-main denganku rupanya. Maka tunggu apa yang kau dapatkan dari hasil permainanmu itu. "


**


Di dalam mobil, hanya ada keheningan yang dirasakan oleh Agnes.


Yah. Setelah berpamitan pada mertuanya, Agnes yang di temani Afgan langsung meluncur ke rumah lamanya ketika Fani mengabari sudah lama menunggunya di sana.


Tapi yang membuat Agnes merasa tidak nyaman, ya ini, suaminya.


Afgan sedari tadi hanya memasang wajah datar bahkan Afgan tidak pernah melihatnya walau hanya sekilas.


" Tidak. "


" Kau bohong ya, lalu kenapa kau mengabaikanku? " Tanya Agnes lagi sambil memiringkan kepalanya menatap Afgan.


Afgan tidak menjawab ucapan Agnes. Dia terus saja memfokuskan pandangannya pada jalanan yang akan mereka lewati di depan sana.


Agnes menghela nafas pelan. Kemudian perempuan itu pun membenarkan posisi duduknya dengan mata yang tidak lagi menatap Afgan.


" Jika ada sesuatu yang mengganggu hati dan pikiranmu tentangku, maka katakan saja! Diam tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. " Ucap Agnes tanpa melihat Afgan.


Saat Agnes merasa Afgan melirik ke arahnya, dengan segera dia berpaling ke samping enggan untuk memandang suaminya.


Moodnya kini sudah tidak baik lagi.


Sebenarnya jika dia Agnes yang dulu, mungkin dia tidak akan menghiraukan sikap Afgan yang berubah-ubah seperti saat ini.


Tapi sekarang? Entahlah! Mungkin karna dia sedang mengandung anak dari pria itu, membuatnya merasa tidak nyaman jika di cuekkan dan tidak di perhatikan oleh Afgan.


Afgan hanya bungkam dan kembali fokus ke jalanan saat melihat Agnes yang membuang muka darinya.


Dia tahu, apa yang Agnes katakan itu memang benar. Diam tidak akan menyelesaikan masalah, tapi diam hanya akan menambah masalah yang ada.


Tapi Afgan juga harus apa? Apa dia harus blak-blakan saja bicara pada Agnes jika dia cemburu dengan Regata yang menyuruh Agnes menemuinya malam-malam? Atau lebih tepatnya dia tidak suka jika Agnes masih berhubungan dengan Regata?


Tapi, ya sudahlah! Karna sekarang Agnes berada bersamanya, membuat Afgan sedikit tenang dan tidak lagi terbakar api cemburu buta seperti pagi tadi.


Jika nanti malam Agnes ngotot ingin menemui Regata, maka no! Tidak akan dia biarkan Agnes pergi walau selangkah pun darinya. Apalagi untuk menemui mantan tunangannya itu.


Saat keheningan kembali menerpa kedua pasangan itu, tiba-tiba ponsel milik Agnes berbunyi yang membuat keduanya reflex menoleh ke sumber suara.


" Hallo! " Ucap Agnes yang sudah menempelkan benda pipih itu di telinganya.


" Aku sudah berada di apartement. Apa kau tidak akan datang ke sini eoh? " Goda Regata si biang kerok di seberang sana.


" Ck, kau pikir aku merindukanmu? Sehingga harus datang menemuimu. No! " Balas Agnes ketus.


Dia sadar, di sampingnya ada suaminya yang sedang memasang telinga tajam-tajam.


" Owh baby, ayolah! Kau tidak mau melihat si gantengku hah? "


Seketika kedua mata Agnes berbinar dan dengan antusias dia berkata:


" Aku akan datang..Aku akan datang sekarang juga! " Pekik Agnes senang.


Maksud Regata si ganteng itu Afra, putranya. Tetapi Afgan yang menyalah artikan itu sudah kembali di kerumuni oleh api kecemburuan sehingga dia memutar arah mobil dan membawa Agnes entah kemana.


Agnes yang terus sibuk berbicara dengan Regata tentu saja tidak menyadari jika mobil yang di tumpanginya itu berjalan tidak sesuai dengan arah tujuan perta mereka.


" Oke gata, see you. Aku akan segera datang ke apartemenmu. " Ucap Agnes yang langsung mematikan telponnya.


" Kak, kita- Hah, dimana ini? Kemana kau membawaku? " Pekik Agnes yang sadar dengan jalan yang di lewatinya saat ini.


Afgan hanya diam yang mana membuat Agnes makin was-was.


" Kak, jangan bilang kau akan menculikku? " Ucap Agnes yang lagi-lagi di anggap angin lalu oleh Afgan.


" Kak!! "


Afgan semakin menambah kecepatan mobilnya. Dia tidak menghiraukan teriakan Agnes yang kaget karna ulahnya.


Agnes melirik ke arah Afgan. Seketika dia menyadari apa yang membuat suaminya itu kembali dingin dan dia pikir sebentar lagi Afgan akan menggila.


" Shit! Semuanya gara-gara si Gata. Regata, awas lo!!! " Batin Agnes.


_-_


Tbc!