Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Berikan Hak ku



Cekik..


Afgan yang sudah memarkirkan mobilnya di sebuah apartement kecil di tengah hutan itu langsung saja turun dan menggusur Agnes dengan tidak sabaran.


Agnes yang di tarik-tarik hanya bisa diam menurut sambil sesekali meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya yang di cengkram kuat oleh Afgan.


Brak..


Afgan membanting pintu kamar dengan kuat saat dirinya sudah membawa Agnes masuk ke dalamnya.


" K-kak, k-kamu mau a-apa? " Tanya Agnes was-was saat melihat Afgan yang mulai membuka jaket yang di kenakan oleh suaminya.


Afgan tidak menjawab. Dia terus membuka jaket miliknya sambil berjalan maju ke arah Agnes yang sudah mundur bahkan sebelum dia maju.


" Kenapa, lo takut? " Tanya Afgan yang tidak hentinya berjalan mendekat.


Agnes memandang Afgan dengan ekspresi takutnya. Apalagi suaminya itu sudah memakai bahasa Elo-Gue saat berbicara dengannya.


" K-kak dengar. K-kalo ada yang mau ka-kamu bicarakan, ki-kita bicarain baik-baik a-aja okay. " Tawar Agnes dengan kaki yang terus melangkah mundur.


" Terlambat baby! "


Bugh..


Afgan mendorong Agnes hingga gadis itu terlentang di atas kasur. Saat Agnes hendak bangun, dengan segera Afgan menjatuhkan dirinya di atas Agnes.


Tapi Afgan juga tidak segila itu, hingga akan menyelakakan anaknya. Dia menyimpan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepala Agnes supaya tubuhnya tidak benar-benar menindih istrinya yang sedang mengandung.


Agnes membelalak, dengan sigap dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat Afgan memajukan wajahnya seperti hendak menciumnya.


Afgan mengerang marah, dia menarik tangan Agnes tapi tidak bisa dengan Agnes yang begitu kuat menempelkan kedua tangannya pada wajahnya.


" Agnes! " Bentak Afgan yang merasa kesal dengan penolakan istrinya.


" A-aku gak mau. Ki-kita bicara dulu, oke. "


Lagi-lagi Agnes berusaha bernegosiasi agar dia bisa terbebas dari cengkraman si pria cemburuan yang sialnya adalah suaminya.


Cukup! Emosi Afgan sudah tidak bisa lagi tertahankan saat ini.


Apa istrinya begitu jijik padanya sehingga di sentuh olehnya saja tidak ingin? Apa sebegitu cintanya istrinya itu pada mantan tunangannya sehingga menjaga dirinya agar tidak tersentuh oleh pria lain bahkan suaminya sendiri?


Apa status Afgan yang merupakan suami Agnes hanyalah berlaku di atas kertas saja? Apa tidak ada rasa hormat dan mengakui sedikit pun dari Agnes pada dia yang merupakan suami dari wanita itu?


Wajah Afgan sudah merah padam. Dengan segera dia bangkit dari atas Agnes yang masih menutup wajah dengan kedua tangannya.


Brak.


Preng.


Preng.


" Arghkkk!! " Teriak Afgan marah.


Agnes seketika membuka matanya dan terduduk di atas ranjang saat mendengar suara Afgan dan suara barang pecah.


Seketika Agnes menutup mulutnya yang menganga dengan sebelah tangannya saat melihat banyaknya serpihan kaca dengan darah yang mengalir dari sebelah tangan Afgan.


" Kak, tanganmu- "


" Diam! " Bentak Afgan sambil menatap Agnes penuh amarah.


" Tapi kak, tanganmu ber- "


" Aku bilang diam di sana Agnes! " Bentak Afgan lagi saat melihat Agnes yang hendak turun dari ranjang dan menghampirinya.


" Apa yang ingin kau lakukan, hah? Apa kau akan pura-pura peduli padaku dengan mengobati lukaku? Huh, tidak usah so baik padaku Agnes! Karna aku tahu sampai kapanpun hanya dia yang kau pedulikan! Bukan aku. " Ucap Afgan sambil tersenyum miris.


Agnes menatap Afgan sambil menggeleng pelan.


Apa yang suaminya itu katakan? Apa Afgan masih mengira jika dia mencintai Regata dan akan meninggalkan Afgan setelah bayi mereka lahir? Atau bahkan lebih parahnya dia mengira kalau Agnes tidak akan menerima kehadirannya sampai kapanpun?


" Kak dengar! Apa yang kau pikirkan itu tidak benar kak, aku-"


" Apa? Kau mau mengatakan jika kau masih menyukainya, iya? " Potong Afgan. " Hah come on! Jikapun iya juga aku tidak keberatan. Karna memang hubungan kita hanyalah keterpaksaan semata. " Lanjutnya sambil tersenyum tipis.


Agnes mengaga seketika.


Sungguh, suaminya ini?


" Hah. Bukan begitu kak, aku- "


" Aku apalagi hah? Apa kau- "


" Aku tidak mencintainya!! " Teriak Agnes yang sudah mulai tersulut emosi.


" Aku tidak mencuntainya, aku sama sekali tidak mencintai Regata. Kau tahu itu! " Lanjut Agnes sambil menatap Afgan dengan dada yang naik turun.


" Aku tidak mencintai Regata kak, jadi tolong hentikan kegilaan mu ini! Kau cemburu tanpa alasan apa kau tahu itu! "


Afgan menatap Agnes. Entah kenapa, pengakuan Agnes tadi bisa membuat emosinya turun seketika.


Afgan jadi merasa lega, dengan Agnes yang mengatakan jika dia tidak lagi mencintai Regata. Tapi dia juga tidak akan mempercayainya begitu saja.


Hanya satu hal yang akan memastikan semuanya, yaitu-


" Jadi kau tidak lagi mencintainya? " Tanya Afgan sambil menatap kedua bola mata Agnes lekat.


Agnes mengangguk.


" Dan aku, apa kau mencintaiku? " Tanya Afgan.


Agnes menunduk.


Dan senyuman getir pun kembali menghadiri bibir sexy Afgan.


" Hah, kenapa nasib ku sungguh sial. Aku sangat mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintaiku sama sekali. " Ucap Afgan sambil membuang mukanya dari Agnes.


Agnes mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan suaminya. Kemudian dia kembali menatap suaminya yang tidak lagi memandangnya.


" Maaf. Aku mungkin belum mencintaimu untuk sekarang, tapi aku akan berusaha mencintaimu karna kau suamiku. " Ucap Agnes yang membuat Afgan kembali menatapnya.


" Kau akan berusaha mencintaiku, begitu? " Tanya Afgan sambil memiringkan kepalanya.


" Iya. "


" Dan kau bilang tadi apa? Kau akan berusaha mencintaiku karna aku ini apa? " Tanya Afgan pura-pura tidak mendengar ucapan akhir dari Agnes.


" Suami. " Balas Agnes cepat.


" Suami ya, apa kau sungguh menganggapku sebagai suamimu? " Tanya Afgan memancing.


" Iya. " Balas Agnes pasti.


" Maka berikan hak ku sekarang juga! "


Deg.


" A-apa? "


_-_


**Tbc!


______________


Duh,, bang Afgan kalo jealous gini amat yah. Hua...Kalo gini mah aku gak janji yah bisa Up episode selanjutnya kapan. Soalnya hariku yang masih polos ini masih dag-dig-dug serr di part ini. Apalagi part selanjutnya-


Huaaaaa


Oke bye! See you guys, gue sayang elo. Asekkkhhh**